
Pagi pagi steven telp aku menanyakan apakah aku ada jadwal di kampus, karena hari ini ada bimbingan jadi aku kekampus, dia memintak waktu untuk bertemu berdua, katanya dia ingin cerita, lalu aku setuju jam 1 siang dia akan menjemputku di kampus.
sebelumnya 2 hari yang lalu dia juga sudah bilang kalau akan mengajakku bertemu, apa ada hal penting sehingga pagi pagi sudah mengingatkanku.
agar putra tidak salah paham aku meminta izin padanya karena dia calon suamiku, kini di jariku melingkar cincin yang mengikatku menjadi miliknya dan tak lama lagi aku menjadi miliknya seutuhnya, aku akan terbuka padanya, aku yakin dia mengerti dan percaya padaku.
"assalamualaikum pak putra" wa ku kirim kepadanya
"walaikumsalam salam bu putra" jawaban wa beserta emoticon penuh cinta ku terima
"kan belum nikah kok uda di panggil bu putra " jawabku
"iya gak papa agap aja latihan" jawaban wa putra
"latihan segala, kyk mau upacara aja" jawabku mengodanya
"aku boleh izin ketemu steven" tanyaku
"steven ? dalam rangka apa?" tanya putra
"sepertinya dia ada masalah hingga ingin cerita denganku" aku menjelaskan pada putra
"baiklah, tapi jangan jatuh cinta lagi ya" jawab putra mengodaku
"ya bisa jadi, karena calon suamiku curigaan bisa bisa aku kabur sama steven" aku ganti mengodanya
"egk kok aku percaya sama kamu, tp jangan lama lama" jawab putra mungkin dia merasa cemburu karena steven adalah cinta pertamaku
"gak janji ya kalau masalah waktu, biasanya kalau uda ngobrol sama teman lama suka lupa waktu" aku terus mengodanya, gemas sekali mengodanya membuatku tertawa sendiri
"hmmm ya uda gpp" jawab putra
"makasih ya" jawabku
"kamu gk perlu izin aku untuk ketemu sahabatmu, aku tak ingin membatasi kamu" ucap putra
"kan kamu calon suamiku aku tak mau kamu salah paham" jawabku membuat dia GR karena dia sangat lucu kalau malu dan manja
__ADS_1
"gak papa kok, nanti kalau uda jadi istri nanti kamu jarang lagi ketemu sahabat sahabatmu" emoticon senyum terselip di jawaban wa itu
"kenapa?" tanyaku memancingnya untuk mengatakan kecemburuannya
"karena aku mau kamu selalu bersamaku" jawaban putra dengan emoticon senyum mengoda
"kalau aku gak mau? gimana" tanyaku mengoda
"ya dosa kalau istri tidak nurut suami" jawabnya mengodaku balik
"iya dech nanti aku nurut" jawabku menyerah
setelah bimbingan, aku melihat ponselku, ternyata sudah hampir jam 1 lalu ku buka wa dari steven
"aku menunggu di gerbang Utara kampusmu, naik motorku saja"
lalu aku membereskan semua dan memasukan kedalam tas dan bergegas ke gerbang Utara, hari ini mery tak ikut ke kampus karena malas mandi, dia lagi mager, jadi mery tak tahu kalau aku bertemu steven.
"pakai helm dulu" ucapnya sambil memakaikan helm kepadaku
"ih romantis sekali" ucapku lalu naik di belakang steven, tampak steven tersenyum riang
kami menuju meja yang menurutku paling bagus di situ, penataanya beda, dan yang bikin heran steven mempersilakan aku duduk layaknya seorang kekasih, tak lama makanan yang sudah di pesankan steven datang beserta minumannya.
"ayo kita makan dulu pasti kamu lapar sudah lewat jam makan siang" ucapnya
kami memakan makanan yang tersaji di meja, dengan menikmati suasana yang membuat hati dan fikiran binggung, dengan bermacam pertanyaan "kenapa di ajak ke tempat romantis? kenapa dia juga bersikap romantis? kenapa dia berbeda ? dan masih banyak pertanyaan di benakku.
pertanyaan itu perlahan terjawab setelah selesai makan, ku nikmati musik lembut yang romantis dan enak di dengar, tiba tiba tanganku di pegang oleh steven yang membuat aku kaget dan gugup, membuat hati ini gak karuan, suara jantung menggantikan suara musik yang tadi kunikmati, dag dig dug tak beraturan seakan aku sedang berlari.
tanpa sempat aku bertanya tentang sikapnya dia mengatakan isi hatinya yang selama ini kutunggu namun kini semua sudah terlambat, walau aku masih ada rasa tapi aku tak mungkin mengecewakan putra dan keluarganya, ini sudah menyangkut 2 keluarga bukan antara diriku dan putra saja.
"nina aku mencintaimu, dari dulu hingga sekarang aku sangat mencintaimu" ucap Steven dengan mengengam tanganku erat hingga aku tak bisa melepaskannya.
"maaf aku tak mengerti maksudmu, bukankah selama ini kamu tak pernah menganggap ku?" tanyaku heran
"aku berusaha mengingkari cintaku, aku kira aku bisa mengikis cinta ini, karena pasti kita akan terluka" jawabnya
__ADS_1
"lalu kenapa kau ungkapkan sekarang?" tanyaku heran
"karena aku tak tahan lagi menyembunyikan rasa ini, kamu harus tau aku bukan ingin menyakitimu selama ini akupun sakit bersikap seperti itu padamu, semua ini karena kita berbeda keyakinan aku tak ingin kamu terluka karena berharap padaku yang tak bisa apa apa" steven menjelaskan
"aku tahu kita berbeda, akupun tak menuntut balasan cinta darimu" jawabku berusaha santai walau hati ini gemetar
"aku hanya ingin kamu tau saja, aku sudah siap berkorban untukmu, apapun jawabanmu aku akan terima" ucapnya dengan senyuman
"berkorban untukku?" tanyaku yang binggung maksud ucapannya
"aku siap pindah agama jika kamu menerimaku" steven menjelaskan
"aku tidak bisa, aku tak mau kamu pindah agama hanya karena aku harusnya itu karena dirimu sendiri meyakini dan semua sudah terlambat aku sudah menjadi milik orang" ku jelaskan dan menunjukan cincin di jari manisku
"beruntung sekali pria itu, tidak seperti aku yang terlalu lama berfikir, aku memang bodoh menyia nyiakan kamu yang tulus mencintaiku" jawab Steven dengan senyuman di bibirnya , aku tau senyuman itu pasti menyimpan luka karena kecewa
"itu tidak benar, aku yang beruntung dia mencintaiku, dia yang tulus meski dia tau aku belum mencintainya sepenuhnya, sedangkan aku hanya wanita biasa yang banyak sekali kekurangannya
"iya kalian beruntung dan benar kata mery kamu cocok sama putra" ucapnya dengan senyuman yang amat berat
"kata mery?" tanyaku heran
"iya saat malam kita telp dan bernyanyi bersama, lalu kamu tertidur mery menceritakan tentang kamu dan putra" steven menceritakan obrolannya dengan mery
"jadi kamu sudah tau tentang aku dan putra" tanyaku memastikan
"aku tau, foto yang aku puji cantik itu adalah foto saat kamu menerima lamaran keluarga putra" ucap Steven yang cukup membuatku kaget
"lalu kenapa sekarang kamu mengungkapkan perasaanmu padaku, padahal kamu tau aku sudah milik orang lain?" tak terasa air mataku menetes menahan perasaan ini, air mata ini sulit aku jelaskan, aku merasa aku melukai hatinya dan menyakiti sebagian dari hatiku, tapi aku tak menyesal menerima lamaran putra.
"aku hanya ingin mengungkapkan apa yang aku tahan selama ini agar aku tidak terbebani perasaan ini lagi, jangan menangis keputusanmu sudah benar dia pria yang baik, kita masih bisa bersahabat seperti dulu kan?" steven mengusap air mata yang masih terus mengalir karena terharu.
"iya tentu, aku sangat menyayangimu" ucapku sambil tersenyum.
"jadi sebaiknya kita bahagia saat kencan pertama dan terakhir kita ini" ucap Steven dengan senyuman manisnya
"dan aku minta kamu harus menghapus nardo juga dari cintamu aku tau aku dan dia sama sama orang yang kamu cintai, kasihan putra jika hanya mendapat sebagian kecil dari cintamu" ucapnya mengodaku
__ADS_1
"kok kamu tau, ih nyebelin pasti mery yang bilang" aku tertawa sambil memukul steven dengan sendok