UJIAN MENJELANG PERNIKAHAN

UJIAN MENJELANG PERNIKAHAN
bab 23 putra cemburu


__ADS_3

"terima kasih steven kamu sudah mengerti dan menerima keadaan ini, maafkan aku yang tak bisa menerimamu karena semua ini sudah terlambat, dan aku masih sahabatmu jadi kapanpun kamu butuh aku selagi aku bisa aku akan menemuimu" ucapku saat menyerahkan helm kepada steven.


"tidak masalah ini bukan salah kamu maupun aku, hanya kita terjebak dalam cinta yang tak mungkin memiliki karena beda iman kita" ucapnya sambil tersenyum


aku membalas senyumnya, dan mulai melangkah menjauh dari steven kemudian terdengar suara steven memangilku lagi dan menyusulku, mendekat untuk bicara.


"nina... aku sangat menyayangimu aku harap kamu bahagia, mungkin kita akan jarang bertemu karena aku harus menghargai suamimu" ucapnya padaku yang membuat aku bersedih karena dia akan jaga jarak padaku.


"putra tidak seperti itu, putra orangnya pengertian dan tidak membatasi aku" jawabku


"tapi dia punya perasaan yang tanpa di minta namun harus kamu jaga" ucap Steven


"Baiklah" dengan muka sedih ini aku menjawab


"jangan cemberut ! sebentar lagi menikah kok sedih, aku balik dulu, kamu jangan sering sering ngambek kasian dia kerepotan kamu ngambeknya jelek" ucapnya meledekku


"ih kamu nyebelin" sambil memukul dadanya


"au sakit, tu kan gampang ngambek" dia masih mengodaku


"biarin" lalu aku melangkah masuk ke kampus mengambil motor


tak lama aku tengok steven sudah pergi dan hpku berdering sebuah panggilan dari putra, aku ambil hp dari dalam tas dan mengangkat telp putra


"halo assalamualaikum" jawabku


"walaikumsalam sayang" jawab putra yang terdengar deket, saat aku balikan badan dia sudah ada di belakangku dengan seutas senyuman


"kamu kok di sini ? " harusnya jam segini putra masih di kantor setengah jam lagi baru jam pulangnya, dan tadinya aku mau kerumahnya namun aku harus mengambil motorku dulu di parkiran kampus.


"aku gk sabar ketemu calon istriku, jadi aku tadi habis telp langsung kesini" ucapnya sambil membelai jilbabku, namun tatapannya beda seakan dia menyimpan kesedihan dalam hati bertanya apa dia tadi mendengar apa yang di ucapkan steven, hatiku jadi tidak enak karena aku telah menyakiti hati putra.

__ADS_1


"aku baru saja mau menunggumu dirumahmu" ucapku dengan senyuman mencoba mencairkan suasana


"ayo aku antar pulang" ucapnya suntuk


"kamu sakit? kalau sakit aku bisa pulang sendiri, jam segini masih berani kok" aku merasa tak enak melihatnya murung


"tidak aku sehat kok, ayo "putra langsung mengambil alih motorku


"beneran gpp ?? " tanyaku sambil naik di belakangnya.


selama perjalanan kami lebih banyak diam suasana jadi tak enak, sesekali aku mencoba mencairkan suasana namun sepertinya suasana hatinya tidak enak namun masih memerhatikan dan menangapi ucapanku, dan kemudian aku berbohong kepada bahwa aku lapar, agar kami berhenti duduk dan bicara.


"aku lapar, ayo berhenti cari makan" ucapku merengek


"lapar bukannya tadi uda makan sama steven ? " ucapnya dengan senyuman yang tak seperti biasanya


"ya uda kalau gak mau ?" ucapku pura pura ngambek


dan akhirnya kami berhenti di tempat makan pingir jalan, aku mencari tempat duduk sengaja yang jauh dari keramaian agar kami bisa ngobrol dengan nyaman, setelah memesan makanan kami menunggu tak begitu lama makanan sudah di antar ke meja kami.


"kamu yakin mau menikah denganku? " aku mengawali membuka obrolan


"iya aku sangat yakin, tapi apa kamu yakin menerimaku" tiba tiba dia bertanya seperti itu padaku, yang membuat aku heran bukannya dia waktu itu seneng aku menerimanya, kenapa sekarang?? membuatku heran


"kalau aku tidak mau menerimamu trus kenapa sekarang kita bersama disini? apa kamu meragukanku?? " jawabku mempertanyakan fikirannya tentang aku


"aku hanya takut kehilanganmu, aku pun tak ingin kamu terpaksa menerimaku" ucapnya yang membuatku heran


"aku tidak terpaksa, mana ada orng yang bisa memaksaku" jawabku sambil nyengir mengodanya


"iya aku tau itu kamu kalau di paksa makin brontak" ucapnya dengan tersenyum yang mulai ceria

__ADS_1


"kamu kenapa dari tadi murung ? " ku coba mencari tahu penyebabnya dia tak bersemangat


"aku hanya .... " putra seakan ragu mengatakan padaku


"ya udah kalau kamu gak mau cerita" jawabku sambil menyuapkan makananku ke putra, karena aku agak kenyang jadi sebagian makananku ku berikan pada putra dengan menyuapinya, dan itu cukup membuat putra ceria kembali.


"tadi ada yang tau kamu dan steven makan romantis di Coffee dan aku dapat kiriman fotonya, itu sebabnya aku pulang lebih awal dan menunggumu di sini, aku biasa saja menyusul namun aku tak ingin membatasimu karena kehadiranku" dia mulai menceritakan kenapa dia murung dan lebih banyak diam.


"apa kamu cemburu ??" aku sedikit mengodanya karena aku rasa dia sangat lucu kalau cemburu.


"tentu aku cemburu, perjuanganku belum selesai dan sangat banyak yang menginginkanmu, tentu aku kuatir kamu berubah fikiran apa lagi steven cinta pertamamu " jawabnya dengan memegang tanganku, seakan penuh harap agar aku tidak tergoda lelaki lain.


" kemarin kamu gk setakut ini aku dekat dengan steven, knp hari ini beda ? " aku memancingnya untuk bicara karena aku merasa dia tau tentang hari ini.


"karena aku tadi mendengar sendiri, apa yang di ucapkan steven padamu, aku berada tak jauh darimu ingin menyambutmu namun aku terkejut dengan ucapan steven, hingga aku hanya diam saja melihat kalian berdua " ungkap putra


"kamu tak perlu fikirkan itu, aku dan dia hanya sahabat dan akan seperti itu sampai mati " ucapku meyakinkan


"karena dia sudah membalas cintamu dan mungkin...." ucapannya terputus seakan tak mampu melanjutkan berkata


"aku mencintaimu, bukan dia lagi" dengan tegas aku ucapkan agar tidak ada keraguan di fikirannya tentang perasaanku.


dan ucapanku cukup membuat putra terkejut hingga matanya terbelalak menatapku, lalu tampak berkaca kaca, mungkin ia merasa bahagia atau terharu


" terima kasih sudah memilihku, aku kira kamu akan kembali pada Steven setelah kamu tau dia mencintaimu" ucapnya dengan senyum ceria dan dia tampak lega


"aku tak tau sejak kapan namun aku lebih bahagia bersama mu, aku harap kamu tidak akan berubah setelah mendapatkan aku " pintaku padanya


"tidak aku tidak akan berubah, andai kau tau betapa takutnya aku kehilanganmu, aku tidak akan menyia yiakan kamu, setelah perjuanganku yang tidak mudah, aku ingin segera menikah denganmu agar aku bisa selalu melihat dan membahagiakanmu" ungkapnya


kebahagian terpancar di wajah kami, kami saling mencintai, walau berawal memilih dia karena dia baik dan mencintaiku, dia pun berjuang dengan sungguh sungguh mendapatkan restu ibuku, hingga aku benar bener jatuh cinta dan membutuhkannya.

__ADS_1


akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami ke jombang, dengan bahagia aku dan putra ngobrol dan aku menceritakan apa yang terjadi di Coffee bersama steven hingga aku pura pura lapar agar bisa bicara dengan nyaman, kami naik motor seperti anak abg sedang berpacara bercerita dan ku peluk putra, sesekali kami bernyanyi bersama dan berhenti di masjid untuk sholat lalu melanjutkan perjalanan.


betapa indahnya mencintai dan berhubungan dengan orang seiman, karena dulu aku berpacaran dengan erik yang non muslim jadi tidak bisa sholat bersama, hanya aku yang ibadah dia hanya menunggu di depan masjid, mungkin itu juga yang membuat erik berselingkuh dengan teman gerejanya, aku tidak sedih waktu itu hanya saja merasa kecewa karena dia memilih selingkuh dari pada bicara jujur dan melepaskanku dengan baik baik.


__ADS_2