
aku senang putra selalu membuatku merasa special walau kadang tiba tiba muncul rasa ragu untuk menikah, kata orang biasa hal seperti itu terjadi, merasa takut salah memilih suami, merasa takut kehilangan kasih sayang dari keluarga, merasa takut punya mertua yang buruk, dan masih banyak lagi hal yang di takutkan.
dalam hati berusaha meyakinkan diri, terkadang aku berfikir akan masa depan ku bersama putra, takut jika setelah menikah ia berubah menjadi pemarah, kasar bahkan tak setia, aku takut dia kasar kayak tetangga ku saat aku kecil dulu aku melihat tetanggaku bertengkar hingga saat ini bayangan itu membuatku takut, dan akhirnya sampai tua tetanggaku memilih menjanda.
aku melihatnya karena saat tetanggaku teriak aku dan ayah ibuku berlari kesana, aku melihat ia di jambak, di tampar dan di benturkan ke tembok hingga lebam, hanya karena suaminya ketahuan selingkuh karena istrinya tidak bisa memberikan seorang anak.
akhirnya mereka bercerai dan istrinya memilih hidup menjanda, dengan anak adopsinya yang sudah lama dia asopsi, seorang anak laki laki untuk melengkapi keluarganya.
ketakutanku semakin besar karena banyak juga temanku yang gagal dalam rumah tangga. membuat aku terdiam saat makan bersama putra
"kamu kenapa? tanya putra membuyarkan lamunanku akan bayangan kedepannya
"tidak apa apa? jawabku
"kok bengong " tanya putra
"aku hanya takut setelah menikah kamu tak selembut ini" jawabku ragu
"aku tidak akan berubah, aku tidak mau meniru keluargaku yg terpecah belah" jawab putra sambil memegang tanganku meyakinkan
"aku takut kamu tak bisa setia padaku" jawabku
"aku yakin pada cinta ini, aku yakin hanya kamu yang selalu aku cinta" jawabnya dan aku hanya terdiam
"percayalah, aku tak akan berubah, aku sangat mencintai kamu, aku tak ingin anak anakku merasakan yang aku rasakan, aku tak ingin keluarga yang hancur hanya karena ego" putra berusaha meyakinkanku
"sudah sore sebaiknya aku pulang, tolong antarkan aku ke terminal" jawabku sambil tersenyum
"akan aku antar sampai rumah, aku sudah menjemputmu masa aku biarkan kamu pulang sendiri gimana harga diriku sebagai lelaki" ucap putra padaku
"kamu apa gk capek sehari 2 kali bolak balik sby jombang" tanyaku yang kuwatir
"tidak, lagian begini aja" jawab putra yang mengandengku menuju parkiran
dia bukakan pintu mobil untukku dan kami pun melanjutkan perjalanan, selama dalam perjalanan kami membahas rencana lamaran sabtu depan.
"sebaiknya lamaran jangan bawah banyak orang biar gk terlalu repot, acara yang sederhana saja" pintaku pada putra
"dari pihakku uti yang mengatur, rencananya seperti apa nanti aku tanyakan" jawab putra
"iya nanti kabar i ya biar keluargaku bisa menjamu dengan baik" ucapku
"aku gk sabar ingin cepat sabtu malam" ucap putra
"emang kenapa gk sabar?" tanyaku heran
"setidaknya sudah satu tahap terlewati dan itu menyatakan kamu milikku walau belum sepenuhnya" jawab putra yang langsung memegang tanganku
aku tersenyum malu di perlakuan special, dia selalu bisa membuatku merasa berharga dan di cintai.
"uda lama tidak belikan ibu lapis kukus surabaya ayo kita mampir" sambil membelokan mobil ke toko roti lapis pahlawan.
"baiklah" ucapku sambil tersenyum
__ADS_1
"ayo turun, kamu pilih yang kamu dan ibu suka" mengajakku sambil berkedip mengodaku
"ih mata playboy" aku meledeknya
"ih engak ya aku hanya mengodamu saja, soalnya kamu yang paling special" jawabnya
"brati ada yang gk special juga donk??" jawabku sambil meliriknya
"gk ada hanya kamu satu satunya dan yang special" jawabnya merayu
"sungguh" tanyaku mengodanya
"iya, ayo masuk" dia mengandeng tanganku seakan menunjukan ke semua orang kalau aku ini kekasihnya.
setelah memilih beberapa jenis kue lapis surabaya, kami pun melanjutkan perjalanan pulang, seakan pasangan yang sedang kasmaran kami mendengarkan musik romantis dan mengikuti menyanyikannya, sambil sesekali saling memandang dan tersenyum kepada satu sama lain.
sesampainya di rumah kami ngobrol ngobrol dulu mengenai rencana lamaran dengan ibu dan mbk rahma, aku sangat malu membahas masalah ini dengan semua, karena sesekali mereka mengodaku tp mau bagaimana lagi ini tradisi harus di lamar dulu sebelum menikah.
sebenarnya hati ini juga binggung antar harus senang atau harus takut, seneng karena dia yang selalu membuatku berbunga bunga akan menjadi suamiku, takut akan kemungkinan buruknya
aku tak mau menceritakan isi hatiku pada siapapun, karena bisa membuat ibu berubah fikiran, karena perjuangannya sudah sangat banyak untuk mendapatkan restu ibu.
mereka mengatakan hal yang wajib ada saat lamaran berlangsung, seserahan wajib, dan hal yang di larang oleh adat kami setiap daerah pasti beda cara upacara lamarannya.
putra hanya mendengarkan dan mengingat ingat yang dikatakan ibu dan mbk rahma padanya, lalu dia pamit pulang karena sudah sangat sore, dia juga butuh istirahat besok harus kerja lagi.
Selama perjalanan pulang dia telp aku, agar aku menemani ngobrol agar dia gak kesepian dan kuatir ngantuk
"jadi kamu mau mengikatku ?? kamu kira aku kambing? lebih baik aku lari, karena aku mau bebas gk mau kayak kambing" ucapku pura pura tak mengerti maksud perkataan putra
"bukan di ikat dengan tali sayang, aku gak mungkin ngikat kamu kayak kambing, makin gemes sama kamu" jawab putra sambil tertawa
"katanya tadi kamu mau mengikatku" ucapku pura pura ngambek
"di ikat dengan pertunangan dan cinta, bukan tali tambang" ucap putra menjelaskan
"emang pertunangan sama kayak tali tambang bisa buat mengikat" ucapku mengodanya
"mengikatnya pakai cincin yang di ikat jari manis mu, sayangku yang manis, jangan buat aku makin gemes ya, kalau aku gemes aku cium kamu sampai ludes" jawab putra mengodaku balik
"ih mesum, awas aja kalau berani nanti aku bilangin ibu" ancaman ku
"jangan donk nanti aku di pecat jadi calon menantunya" jawab putra
"biarin, salah sendiri ngancam aku mau cium sampai ludes" jawabku ganti mengodanya
"iya de ampun, ngancemnya gitu, bikin aku tak bisa bergutik" jawab putra memelas
"emang enak?? weeek, mangkanya jangan ngancam, giliran di ancam balik enakan?" jawabku bahagia
"gpp hanya sementara nanti kalau udah nikah, kamu gk akan berani bilang ke ibu" jawab putra
"berani, nanti ttp aku bilang ke ibu" jawabku tak mau kalah
__ADS_1
"emang gk malu, di cium suami bilang ke ibu" putra mengodaku kembali
"ih yang di bahas cium cium melulu dari tadi" aku mengelak karena malu
"uda mau nikah masak masih malu si kan cumak ngomong belum di praktekin" ucap putra mengodaku lagi
"uda uda kalau bahasnya bikin malu trus aku tutup ni telpnya" ancamku
"jangan donk ya da kita bahas malam pertama aja ya" dia makin sengaja mengodaku
"ih malah makin mesum aja pikirannya" jawabku
"maksud ku malam pertama nanti kita buka ampau dulu dari tamu, gk mungkinkan kita habis acara capek capek langsung tempur, tapi kalau aku masih kuat kayaknya" elak putra pura pura
"kuat ngapain? ngitung duit semalaman?" godaku sambil cengengesan
tak terasa bercanda denganku hingga dia sampai rumah, dia pamit mandi dan mau makan malam ke uti, di akhir i telpnya dan aku berkumpul dengan keluarga lagi setelah di kamar telp putra.
tak lama putra telp lagi menanyakan hal yang di bahas dengan ibu dan mbk rahma tadi di rumahku, untuk memperjelas dan membicarakan dengan uti dan ibunya.
"mangkanya jangan bercanda melulu akhirnya lupa kan sama yang penting, jangan jangan aku juga akan muda kamu lupain" ucapku pada putra
"ya egk lupa cuma biar lebih jelas aja, ini mau aku catat dan gk mungkin aku bisa lupain kamu, kamukan cintaku, dan separuhku" ucapnya tanpa malu malu di dengan uti dan yang lainnya sampai mereka mengoda putra ramai sekali terdengar mereka sedang berkumpul.
"ih mulai gombal lagi, ini bicara sama ibu saja" lalu aku berikan ponselku pada ibu agar mereka bisa bicara.
entah apa saja yang mereka bicarakan aku tak tau karena aku masih asyik bermain dengan keponakan keponakanku yang lucu lucu mumpung lagi berkumpul di sini,
meluapkan rasa rindu bermain dan mencium i mereka merupakan hal yang menyenangkan bagiku, tiba tiba aku ingat obrolanku bersama putra tadi di telpembuatku senyum senyum sendiri tanpa sadar mbk rahma dan mbk dewi saling melirik melihat ke arahku.
"cie yang lagi seneng mau di lamar sekarng kerjaannya senyum senyum sendiri" ucap mbk rahma mengodaku
"namanya juga lagi kasmaran sampai lupa kalau lagi kumpul yang di ingat malah yang di sonono" mbk dewi ikut mengodaku
"serasa dunia milik berdua yang lain entah kemana" sahut mbk rahma
"ah kyk gk pernah mudah aja, aku nanti ya gitu kalau uda gede" ucap mas fikri mulai mengodaku juga
"uda tua jgan masih pingin kasmaran" aku membalas mas fikri
"masih ganteng gini masih cocok kasmaran lagi" ucap mas fikri ganti mengoda mbk dewi
"tu mbk mintak di jewer tu" ucapku
"biarin aja nanti juga sembuh sembuh sendiri" jawab mbk dewi sambil senyum
"emang gila tu fikri" sahut mbk rahma
akhirnya kami saling mengoda, dan bercanda tawa, rumah kami kembali ramai sesaat, mengingatkan aku pada almarhum ayah yang selalu membuat suasana rumah ceria dan berwarna dengan canda tawa, saling mengejek, dan mengoda.
almarhum ayah meninggal hingga membuat rumah ini serasa tak bernyawa dan sunyi jarang sekali ada canda tawa seperti saat ini, ayah yang menyinari dan menghangatkan suasana rumah lebih di sayang sama allah hingga allah mengambilnya lebih cepat walau aku masih sangat membutuhkannya, bahkan ayah meninggalkanku sebelum aku wisuda dan menikah.
terkadang aku merasa hidup ini tak adil bagiku, karena merenggut ayah dariku sehingga aku, harus banyak berjuang, mengapai mimpiku sendiri tanpa ada ayah yang membimbingku.
__ADS_1