UJIAN MENJELANG PERNIKAHAN

UJIAN MENJELANG PERNIKAHAN
bulek asih dan sepupuku rahayu


__ADS_3

tanggal pernikahan sudah di tentukan, sodara mulai di berikan kabar akan rencana pernikahan, mulai dari bulek, budhe dan keluarga yang lain agar ikut serta dalam acara yang membahagiakan ini, namun semua tak sesuai harapan malah mereka merusak acara pernikahan ku hanya karena rasa iri mereka


Semua berawal dari sepupuhku yang bernama rahayu dan ibunya bulek asih, mereka gengsinya sangat tinggi dan saat mengetahui hari pernikahanku ternyata cepat, bulek asih juga segera melaksanakan proses lamaran putrinya yang mendapatkan calon suami seorang pilot dan anaknya seorang pramugari, putrinya yang pandai berdandan dan seorang pramugari selalu di ceritakan berpendapatan tinggi.


lamaran rahayu diselenggarakan besar besaran, agar mengalahkan acara lamaranku yang sederhana, bulek asih selalu ingin lebih unggul dari keluarga orang tuaku, dia iri karena kakak kakakku berpendidikan tinggi dan mendapat pasangan mapan, sedangkan kakak laki lakiku keduanya sukses bisnis di jakarta, semakin tinggi rasa irinya itu semua karena dulu dari semua sodarah ayah bulek asih yang sukses dan kaya, dan merasa tak tersaingi, lalu kakakku sukses membuat dia binggung dan semakin binggung melihat ibu dan ayahku di manjakan.


lamaran yang megah, dengan jumlah tamu yang banyak dan makanan yang mewah, semua di lakukan dengan nekat berhutang hanya karena gengsi, dan lamaran pun langsung besoknya menentukan tanggal dan segera melaksanakan lamaran balik untuk menyampaikan tanggal baik pada keluarga pria


bulek menghampiri aku dan kakak kakakku duduk dan berkata "besok kita gk boleh kalah mereka bawah bingkisan banyak, kita besok kesana juga harus bawah yang bagus dan banyak"


"iya bulek " jawab mbk kiki dan mbk rahma


karena terlalu mendadak kami belum bisa mencari toko yang masih buka untuk beli bingkisan, akhirnya kami putuskan beli saat berangkat saja


saat perjalanan, aku, mbk kiki dan mbk rahma menggunakan mobil taft yang di kemudikan putra, ya namanya mobil tua kami tertinggal rombongan karena mobil tidak bisa berjalan cepat.


"Jangan lupa nanti di kota beli bingkisan dulu" ucap mbk rahma mengingatkan


"beli apa ya mbk?" tanya mbk kiki


"buah aja" jawabku memberikan pendapat


"masak cumak buah, bulek aja kemarin ngomong gitu brati berharap kita bawah lebih" mbk rahma menjelaskan maksud bulek


"iya, bulek tetep aja gensinya tinggi padahal dia sekarang uda tak seperti dulu" ucap mbk kiki


"biarin aja selagi kita bisa bantu di bantu aja, asal gk bikin masalah lagi sama kita" ucapku yang berfikir simpel karena gak mau pusing dengan pemikiran semua orang


setelah membeli beberapa bingkisan dengan harga yang cukup mahal agar bulek tidak malu, karena kami tau pasti yang lain bahwanya kurang pantas, uda jadi kebiasaan keluarga dari ayah walau mereka cukup kaya namun pelit mengeluarkan uang untuk saudara sendiri, hanya bulek asih yang rela berkorban demi mereka tapi mereka tak membalas dengan baik kalau masalah uang.


ya seperti itu kakak adik dari ayah hanya ayah yang tak terlalu mempermasalahkan soal uang, namun mereka tidak baik pada ayah dan kami.


sebenarnya kami sudah muak mendekat dengan mereka, mereka hanya memikirkan harta dan bersaing dengan sodarah sendiri, tak ada rasa saling menyayangi dengan ayahku mereka berusaha menjatuhkan ayahku agar ayah tak bisa lebih unggul dari mereka, terlebih ayah hanya di buly dan di rendahkan.


namun ayahku selalu baik dan saat anak anaknya tersinggung dengan sikap mereka ke ayah, ayah hanya bilang "biarin aja bisanya cumak begitu, sudahlah fokus dengan hidup kalian sendiri jangan pedulikan sikap mereka, dan sayangi sodarah kalian"

__ADS_1


kami tau betapa ayah ingin di sayangi sodaranya namun ayah di asingkan walau rumah kami berdekatan, bahkan sebelum meninggal ayah berpesan pada anak anaknya agar tidak percaya dan melibatkan sodarahnya kalau ada urusan terlebih masalah uang dan usaha.


"e nina tanya rahayu lokasinya dimana? dan suruh nunggu di depan komplek" ucap mbk kiki


aku pun langsung telp


"tolong tunggu di depan komplek ya sebentar lagi sampek" ucapku di telp


"iya di tunggu di depan komplek" jawab rahayu


tapi saat kami sampai di depan komplek gak ada 1 pun mobil dari rombongan lalu kami coba mencari masuk komplek muter muter tidak ada tanda ada acara mungkin kami salah gang kami putuskan telp rahayu untuk bertanya.


Aku aktifkan pengeras Panggilan agar semua bisa dengar siapa tau aku gak paham arahannya mereka ada yang paham


"rahayu posisi dimana aku binggung dari tadi muter muter komplek" aku bicara melalui telp


"uda di rumah reza" jawab rahayu


"harusnya kumpul dulu di luar komplek biar masuk komplek bareng bareng" ucapku yang kesal karena di tinggalkan


"katanya gk ada yang bisa" jawaban rahayu cukup membuat kami sadar bahwa kami akan di permalukan


"iya uda kalau begitu kami balik aja capek muter muter" jawab mbk kiki yang semakin binggung dengan anaknya yang rewel.


"pulang aja, gak usah kesini gapapa" jawaban itu dari suara reza calon suami rahayu dengan suara keras membentak


Akhirnya kami putuskan tidak datang karena tadi juga terdengar mereka sedang makan makan sudah jelas kita tidak di harapkan, kalau pun datang kita akan malu acara sudah hampir selesai, ini memang sudah di rencanakan oleh sodarah sodarah ayahku yang selalu berusaha mencari salah kita, tapi nasib berpihak pada mereka kami bertemu dengan beberapa tetangga yang ikut rombongan, mereka akan sholat berjamaah.


"mbk kok gk ke sana" tanya pak soip tetangga kami


" kami tadi kesasar pak akhirnya kami berhenti di sini mau sholat dan istirahat" jawab mbk rahma


"uda deket kok mbk jalan itu trus belok kanan" jawab pak soip sambil menunjuk jalan lalu pak soip pergi ambil wudhu


kami saling menatap, kami jelas jelas akan di permalukan kalau datang walau kita membawah bingkisan yang paling banyak tapi kita pasti akan malu dan kecewa

__ADS_1


"gimana?" tanyaku


"gak usah jangan berkorban harga diri mereka jelas sengaja" jawab mbk kiki


lalu pak soip selesai sholat memaksa kami kesana namu mbk rahma dan mbk kiki tidak mau mereka beralasan sholat dan anak anaknya rewel, akhirnya aku dan putra yang di paksa di ajak kesana, dan benar semua orang melihat dengan tatapan tak enak setelah ku turunkan bingkisan yang kami bawah dari mobil, bulek asih memaksa aku dan putra makan namun kami menolak, bagaimana mungkin kami mau yang lain sudah makan dan selesai kami di suguhkan nasi bungkus di atas piring, ya ini sangat tidak sopan acara lamaran yang lain makan prasmanan kami nasi bungkus, sungguh dalam hati aku menyesal menurunkan bingkisan yang kami beli mahal mahal hanya untuk perlakuan begini.


"maaf lek kami harus balik duluan karena ank mbk kiki dari tadi rewel, kalau bisa rahayu dan reza calon suaminya keluar karena kami mau pamit" sengaja aku ingin bertemu mereka ingin sekali aku menunjukan muka jijikku pada mereka


yang tadi berkata kasar pada kakakku, namun hanya rahayu yang keluar, sudah nampak lelaki banci itu hanya berani berucap kasar di telp itupun dengan wanita.


"reza mana?" tanyaku tak sabar


"dia gk bisa keluar gk bisa jalan banyak orang" jawab rahayu


"apa dia lumpuh kalau banyak orang, kamu bisa melewati banyak orang kenapa dia tidak, apa dia takut" tanyaku sinis dan di dengar oleh bulek asih dan pilek adik ayahku yang tinggal di sebelah rumah kami namanya paklek basuki dan di situ juga ada istrinya bulek tiya dan mereka melihatku dengan heran.


"oh ya itu semua dari keluargaku selamat menikmati, dan bilang pada reza jaga mulutnya belum jadi keluarga mulut busuknya sudah nampak, baiknya kamu cari yang lain" bisikku pada rahayu dan masih terdengar oleh bulek dan paklek ku.


disini rahayu hanya diam ya seperti itu dia dan ibunya yang pandai percitraan, pasti nanti akan ada drama yang membuat semua orang berpihak pada mereka.


"1 hal lagi bilang pada reza, sunat dulu mumpung belum nikah, banci" bisikku sambil tersenyum pada semua orang lalu pamit pergi.


naik mobil kami kembali ke masjid menjemput mbk rahma dan mbk kiki, setelah mereka naik kami melanjutkan perjalanan, aku bercerita bagaimana mereka menatapku disana, bagaimana sikap bulek dan rahayu padaku.


Bahkan nasi bungkus yang tadi di berikan padaku dan putra ternyata di masukan mobil, dan di tambah dengan beberapa bungkus, lalu kami berikan pada penyapu jalanan, lalu kami mapir di rumah makan pingir jalan, iya sebenarnya kami lapar namun kami tak sudih memakan makanan itu.


saat aku dan yang lain turun dari mobil di depan rumah makan, rombongan lamaran rahayu mereka melihat kami ada yang menyapa ada yang memalingkan wajah, ya yang memalingkan wajah adalah sodarah dari ayahku, sedang yang menyapa adalah para tetangga ku.


"mbk percayalah nanti akan ada drama kejutan di rumah" ucapku


"pasti yang gak tau pembicaraan kita di telp, akan mereka hasut seakan kita yang berucap buruk" jawab mbk kiki


"ayo kita makan, nanti kita lihat apa yang akan terjadi" sambung mbk kiki lagi


"gk usah di pikirkan, ayo makan" jawab mbk rahma.

__ADS_1


__ADS_2