
"Lebih baik kamu yang memeriksakan tubuhmu!" saran Andro. Julia masih saja terdiam.
"Hei!" Andro memanggil Bima yang berada tak jauh dari mereka. Bima bergegas mendekat ke arah Andro dan Julia.
"Bawa kekasihmu ini ke dokter, sepertinya dia terluka!" ucap Andro pada Bima. Julia tersentak ketika mendengar Andro menyebutnya sebagai kekasih dari Bima.
"Aku bukan kekasihnya! Kami tidak berpacaran!" bantah Julia. Lagi-lagi Andro menatap Julia dengan tatapan dingin.
"Aku tidak peduli, itu bukan urusanku!" ucapnya dengan suara berbisik. Ucapan Andro itu membuat hati Julia hancur berkeping-keping. Andro bangkit berdiri, ia hendak berlalu dari hadapan Julia dan Bima tapi langkahnya terhenti ketika ia berada di depan Bima.
"Jangan pernah mencintai orang lain kalau kamu belum siap mati untuknya!" ucap Andro. Bima tersentak, sejenak Andro dan Bima saling menatap satu sama lain, lalu Andro berlalu dari hadapannya.
Andro melangkah perlahan, lukanya terasa sangat menyakitkan bahkan darah masih menetes dari luka itu, tapi Andro berusaha menahannya agar Julia tidak memaksanya untuk pergi ke rumah sakit, tapi tiba-tiba saja Julia berlari ke arahnya dan bersimpuh di hadapan Andro hingga akhirnya membuat Andro menghentikan langkahnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Andro.
"Kumohon, pergilah ke dokter bersamaku!" pinta Julia.
"Kamu masih keras kepala juga!" ucap Andro pelan.
"Aku akan pergi setelah melihatmu mendapat pengobatan!" lanjut Julia. Julia mengangkat kepalanya dan menatap Andro dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kalau kamu menginginkan aku pergi, aku akan pergi setelah itu dan tidak akan mengganggumu lagi!" janji Julia. Suaranya terdengar berat dan bergetar.
"Kumohon!" pinta Julia.
"Berdirilah!" perintah Andro.
"Aku tidak akan berdiri kalau kamu tidak memenuhi permintaanku!" tukas Julia. Andro menghela nafasnya dengan kasar.
"Baiklah!" ucap Andro akhirnya.
Akhirnya Andro dan Julia pergi ke rumah sakit menggunakan motor besar milik Andro. Begitu sampai di rumah sakit, Andro langsung mendapatkan pengobatan karena ia kehilangan banyak darah. Dokter menjahit luka itu dan membalutnya dengan perban.
"Aku akan mengurus administrasinya!" ucap Julia.
"Tidak perlu, biar aku saja yang melakukannya!" tukas Andro.
"Kamu terluka karena aku, biarkan aku bertanggung jawab sekali ini saja!" pinta Julia. Andro terdiam, ia akhirnya membiarkan Julia mengurus administrasi dan pembayaran biaya pengobatannya. Setelah menyelesaikan semuanya, Julia kembali ke IGD untuk menemui Andro, tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat Andro sedang berbincang dengan beberapa pria bertubuh besar dan berpakaian formal. Raut wajah Andro terlihat sangat serius, seketika Jantung Julia berdebar lebih cepat dari sebelumnya.
...
__ADS_1
Andro memperhatikan luka di tangannya yang sudah mendapatkan pengobatan itu, ia menghela nafasnya perlahan, tiba-tiba saja 3 orang pria berpakaian formal serba hitam mendekatinya. Andro mengangkat kepalanya dan ternyata ketiga pria itu adalah pengawal pribadi ibunya, nyonya Miranda.
"Tuan Andro!" sapa salah satu dari ketiga pengawal itu.
"Ada apa kalian ke sini?" tanya Andro to the point.
"Nyonya menyuruh kami untuk menemui anda, tuan!" jawab pengawal lainnya.
"Untuk apa?" tanya Andro lagi.
"Nyonya mengkhawatirkan anda!" jawab pengawal itu.
"Nyonya meminta kami untuk membawa anda pulang!" sambung pengawal lainnya.
"Pulang?" gumam Andro.
"Di sana bukan rumahku!" tukas Andro. Andro menatap ketiga pengawal satu persatu, lalu tersenyum getir.
"Bilang pada nyonya Miranda, aku sudah bukan lagi bagian dari keluarga itu." ucap Andro pelan.
"Aku sudah mempunyai kehidupan sendiri, jangan pernah mengusik kehidupanku!" lanjutnya.
"Cepat pergi dari sini sebelum ada orang yang melihat kalian!" perintah Andro.
"Tuan Andro..."
"Jangan memaksaku untuk membuat keributan di sini!" ancam Andro. Ketiga pengawal itu segera pergi meninggalkan Andro di ruang IGD.
Tak lama kemudian Julia masuk ke dalam ruang IGD, tempat Andro mendapat perawatan. Ia memberikan obat yang sudah ditebusnya kepada Andro.
"Siapa pria-pria itu?" tanya Julia pelan.
"Kamu melihatnya?" ucap Andro balik bertanya. Julia menganggukkan kepalanya.
"Mereka kenalanku, kebetulan mereka lewat dan melihatku di sini!" terang Andro. Andro sengaja membohongi Julia agar Julia tidak mengetahui kehidupannya di masa lalu. Julia menganggukkan kepalanya, ia terlihat percaya pada ucapan Andro itu.
"Setelah ini, kamu akan ke mana?" tanya Andro tiba-tiba. Julia terdiam, ia pun tidak mengerti akan pergi ke mana karena ia takut kalau Denis akan mendatangi rumahnya.
"Apa kamu tidak punya tempat untuk pulang?" terka Andro. Julia menganggukkan kepalanya, ia tersenyum lembut.
"Apa kekasihmu itu tidak menyediakan tempat untukmu?" tanya Andro lagi.
__ADS_1
"Aku tidak berpacaran dengan kak Bima!" seru Julia, ia terlihat kesal karena Andro terus menyebut Bima sebagai kekasihnya.
"Ponsel dan dompetku tertinggal di restoran, bisakah kamu mengantarku ke stasiun?" pinta Julia.
"Aku akan tinggal di stasiun malam ini." lanjutnya. Andro terdiam, ia hanya menatap kedua mata Julia.
"Aku tidak mengantongi uang sama sekali, atau kamu bisa meminjamkanku uang? Besok, setelah aku mengambil dompetku di restoran, aku akan menggantinya!" tawar Julia. Andro menghela nafasnya perlahan.
"Tinggallah di apartemenku!" ucap Andro. Kini bergantian, Julia yang terdiam dan hanya menatap wajah Andro.
"Untuk saat ini hanya ada tempat itu yang bisa kamu jadikan tempat tinggal." lanjut Andro. Julia menatap kedua mata Andro dengan seksama.
"Terima kasih." ucap Julia dengan suara berbisik.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku bahkan setelah aku berkata kasar padamu!" ungkap Julia. Suaranya terdengar berat dan bergetar.
"Aku sudah terbiasa dengan hal itu!" tukas Andro.
Andro dan Julia berjalan menuju parkiran motor, tempat Andro memarkirkan motornya. Ia membantu Julia menaiki motor besarnya itu.
"Tanganku masih terasa sedikit sakit, aku ingin bisa segera sampai di apartemen." terang Andro.
"Bisakah kamu berpegangan lebih erat karena aku akan membawa motorku dengan kencang?" pinta Andro.
"Emm!" Julia menganggukkan kepalanya. Ia merapatkan posisi duduknya dan memeluk tubuh Andro dari belakang. Sesuai dengan ucapan Andro, ia mengendarai motornya dengan sangat kencang. Hanya dalam beberapa menit mereka sudah tiba di apartemen tua milik Andro. Andro memperhatikan kemeja Julia yang terlihat sangat kotor, ia mengambil kaus miliknya dari dalam lemari pakaian.
"Pakai saja pakaianku untuk malam ini, besok aku akan mencarikan pakaian untukmu!" ucap Andro. Ketika hendak memberikan kaus miliknya itu, tidak sengaja Andro memukul punggung Julia.
"Aduh!" Julia mengerang kesakitan. Andro menatap Julia, Julia menyadarinya dan ia berpura-pura tidak merasakan sakit lagi, tapi Andro terlanjur curiga.
"Buka kemejamu!" ucap Andro. Julia tersentak.
"Ka.. Kamu mau apa?" tanya Julia.
"Aku mau melihat punggungmu!" jawab Andro.
"Punggungku baik-baik saja!" tukas Julia, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Andro memperhatikan kemeja yang Julia kenakan, ia baru menyadari kalau bercak di kemeja itu bukan hanya berasal dari tanah ketika Julia jatuh tersungkur tapi juga ada bercak lainnya. Andro meraih tangan Julia.
"Aku hanya ingin melihat punggungmu!" ucap Ando. Jantung Julia berdebar dengan sangat kencang, ia takut Andro akan melihat luka dan bekas luka lama yang ada di tubuhnya.
...
__ADS_1