
"Aku hanya akan melihat punggungmu!" ucap Andro.
"Punggungku baik-baik saja, kak! Sungguh!" tukas Julia.
"Kalau punggungmu baik-baik saja, mengapa kamu tidak mau memperlihatkannya padaku?" tanya Andro. Julia terdiam.
"Aku tidak akan melakukan apa-apa, aku hanya akan memastikan kalau perkataanmu itu benar!" ucap Andro meyakinkan.
Andro membalikkan tubuhnya membelakangi Julia, sementara itu Julia melepaskan satu persatu kancing yang ada di kemejanya. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang hingga akhirnya ia tiba pada kancing terakhir. Julia melepaskan kemejanya, menarik rambut panjangnya ke depan, lalu menutupi dadanya dengan bantal. Ia menghela nafasnya perlahan.
"Berbaliklah!" ucap Julia pelan. Akhirnya Julia mengijinkan Andro melihat punggungnya. Andro sangat terkejut begitu melihat punggung Julia. Punggung yang terlihat cantik dari luar itu ternyata memiliki kulit yang rusak karena penuh dengan luka. Luka yang terlihat masih baru serta beberapa bekas luka yang telah sembuh, kulit punggung Julia pun tampak memerah dan mengalami luka melepuh di beberapa bagian akibat sup panas yang disiramkan ke tubuhnya tadi oleh Denis. Andro tidak menyangka kalau keadaan tubuh Julia seburuk itu, tapi Julia tidak pernah menceritakannya sedikitpun, bahkan ia berusaha untuk menutupinya.
Andro menyentuh luka-luka itu dengan lembut, tapi sentuhan yang lembut pun membuat Julia kesakitan.
"Apa bajingan itu yang melakukannya tadi?" tanya Andro. Julia menganggukkan kepalanya perlahan.
"Apa yang dilakukannya sampai kamu terluka seperti ini?" tanya Andro lagi.
"Kak Denis menyiramkan sup panas ke tubuhku karena aku tidak menuruti keinginannya." terang Julia. Andro menghela nafasnya dengan kasar, ia merasa sangat marah dengan apa yang dilakukan Denis.
"Apa dia sering melakukan hal seperti ini padamu?" Andro semakin penasaran. Julia menganggukkan kepalanya pelan.
"Sejak kapan kamu mengalami hal seperti ini?" cecar Andro
"Sejak kak Denis berhasil menemukanku setelah aku kabur dari rumah." ungkap Julia.
"Kalau dia tidak mendapatkan uang dariku ataupun sedang kesal karena kalah bermain judi, dia akan mencariku untuk melampiaskan rasa kesalnya itu." lanjutnya. Andro menatap kedua mata Julia dengan seksama.
"Aku selalu berusaha untuk kabur darinya, aku selalu berpindah tempat tinggal setiap kali dia berhasil menemukanku, tapi dia selalu berhasil menemukanku!" ucap Julia.
"Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa selalu menemukanku." tambahnya.
"Seharusnya kamu membiarkanku membunuhnya tadi!" ucap Andro tiba-tiba. Julia menggeser badannya dan menatap Andro.
"Aku tidak mau kamu terlibat masalah yang lebih besar lagi." ucap Julia.
"Tapi aku sudah terlibat dalam masalah ini!" tukas Andro.
"Aku tidak mau kamu di penjara!" ungkap Julia. Andro menghela nafasnya dengan kasar.
"Kalau kamu di penjara, aku akan sendirian lagi!" tambahnya. Andro terdiam. Andro menatap wajah Julia dengan seksama.
__ADS_1
"Selama ini, aku lebih suka menyendiri dan tidak ada yang mengetahui bagaimana kehidupanku" ungkap Julia.
"Setelah bertemu denganmu, aku merasa hidupku terasa ringan karena bisa membagikan kisahku padamu." lanjutnya. Julia tersenyum lembut pada Andro.
"Aku mungkin terlihat berlebihan, tapi aku sangat bersyukur memiliki kamu sebagai tempatku berbagi kisah hidup." ungkap Julia.
"Beberapa hari kemarin saat aku membuat kamu marah karena ucapanku dan kita tidak bertemu, aku merasa sangat kesepian." akunya. Julia menundukkan kepalanya.
"Aku tidak menyangka kalau aku yang dulu senang menyendiri tapi ketika tidak bisa melihatmu atau berbicara denganmu, aku malah merasa kesepian." lanjutnya.
"Dan..."
"Aku tidak mau sendiri lagi." ucap Julia dengan suara berbisik. Ia menatap kedua mata Andro dengan seksama.
"Aku tidak mau kehilanganmu." ungkapnya. Andro terdiam terpaku mendengar ucapan Julia barusan, sejenak mereka hanya saling menatap tanpa ada yang berkata-kata, seketika suasana di ruangan itu menjadi sangat hening, tapi kemudian Julia memalingkan kepalanya, ia tertunduk.
"Kalau begitu tinggallah denganku!" ucap Andro tiba-tiba. Julia tersentak, ia kembali menatap wajah Andro.
"Tetaplah di sampingku dan jangan pergi lagi!" lanjut Andro.
"Ta.. Tapi.."
"Aku tidak bisa menjanjikan kehidupan yang baik padamu, tapi aku akan menjagamu!" ucap Andro. Julia memperhatikan kedua mata Andro dengan seksama, sorot matanya memperlihatkan keseriusan dari ucapannya.
"Aku akan menjagamu!" tegasnya. Perlahan air mata Julia mengalir dari sudut matanya, Julia hendak menghapus air matanya itu, tapi Andro menahan tangannya. Julia menatap kedua mata Andro, begitu juga dengan Andro, untuk sesaat mereka hanya saling menatap.
Dengan tangannya, Andro mengusap lembut pipi Julia untuk menghapus air mata itu, lalu perlahan Andro mendekatkan wajahnya ke wajah Julia, membuat jantung Julia berdebar dengan sangat kencang, ia meremas bantal yang menutupi dadanya. Bibir Julia dan Andro saling bertaut dengan lembut. Perlahan-lahan kedua bibir itu saling menyatu. Andro dan Julia memejamkan mata mereka, lalu membiarkan perasaan mereka larut dan menyatu.
Andro melingkarkan tangan kirinya ke punggung Julia.
"Sakit!" erang Julia dengan suara berbisik ketika Andro tidak sengaja menyentuh lukanya.
"Maaf!" ucap Andro juga dengan suara berbisik, ia menurunkan tangan kirinya ke pinggang Julia lalu menarik tubuh Julia agar lebih mendekat padanya, sementara itu tangan kanannya tetap berada di pipi Julia agar wajah Julia tidak bergerak ke mana pun. Untuk beberapa saat mereka saling berciuman dan menikmati momen romantis malam itu bersama.
...
Andro mengantarkan Julia pergi ke tempat kerjanya. Julia turun dari motor besar Andro dengan hati-hati.
"Aku bekerja dulu!" pamit Julia. Andro menganggukkan kepalanya.
"Hubungi aku kalau sudah waktunya kamu pulang!" pesan Andro. Julia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lembut. Tak lama kemudian Andro pergi dengan motornya dan Julia masuk ke dalam restoran.
__ADS_1
Julia terkejut ketika melihat nyonya Rita sudah berdiri di balik pintu saat ia masuk ke dalam restoran.
"Untuk apa kamu ke sini?" tanya nyonya Rita. Julia bingung dengan pertanyaan majikannya itu.
"A.. Aku akan bekerja!" jawab Julia.
"Siapa yang menyuruhmu bekerja?" tanya nyonya Rita lagi. Julia semakin tidak mengerti dengan pertanyaan nyonya Rita.
"Sudah membuat kekacauan, kamu masih berniat kerja di tempat ini?!" seru nyonya Rita.
"Hah?" Julia tersentak.
"Nyonya kan tahu bukan aku yang membuat keributan itu, nyonya!" jelas Julia.
"Tapi kamu yang menyebabkan semuanya itu terjadi!" tukas Julia. Julia terdiam, ia tidak menyangka akan disalahkan karena kekacauan yang terjadi kemarin, padahal ia sudah menderita karena kejadian kemarin.
"Apa tidak ada kesempatan untukku bisa tetap bekerja di sini, nyonya?" tanya Julia. Suaranya terdengar berat dan bergetar.
"Kamu saja tidak pernah mendengarkan ucapanku, tapi kamu masih ingin bekerja denganku? Kamu sedang bercanda?!" sindir nyonya Rita.
"Saya selalu mendengarkan ucapan nyonya!" bantah Julia.
"Selalu? Cih!" maki nyonya Rita.
"Kamu masih berhubungan dengan pria brengsek anggota genk motor itu, kan?!" terka nyonya Rita. Julia tersentak.
"Dia bukan pria brengsek, nyonya!" seru Julia, ia terlihat kesal dengan ucapan nyonya Rita.
"Kak Andro bukan pria brengsek!" tegasnya. Nyonya Rita terkejut dengan sikap Julia.
"Lihat saja, baru sebentar kamu mengenalnya, kamu sudah berani melawanku!" seru nyonya Rita kesal.
"Aku tidak melawan nyonya, aku hanya memberitahukan nyonya yang sebenarnya!" tukas Julia. Untuk pertama kalinya Julia terlihat sangat marah, tangannya terkepal.
"Kak Andro bukan pria brengsek, dia penyelamatku!" tegas Julia sekali lagi. Nyonya Rita menghela nafasnya dengan kasar.
"Baiklah kalau itu penilaianmu untuk pria gembel itu, aku tidak peduli!" ucap nyonya Rita.
"Sekarang pergilah dan jangan pernah kembali lagi ke restoran ini!" lanjutnya.
"Aku muak melihat wajah kalian!" tambah nyonya Rita. Julia terdiam.
__ADS_1
"Kamu kupecat, Julia!" tegas nyonya Rita.
...