UNBREAKABLE RIDE

UNBREAKABLE RIDE
BAB 20


__ADS_3

Julia berjalan sedikit lebih cepat dari sebelumnya, ia bergegas keluar dari pusat perbelanjaan dan hendak pulang ke apartemen.


"Wajah pria tadi seperti tidak asing!" batinnya. Julia mencoba mengingatnya, tapi ia belum juga berhasil hingga akhirnya bus yang akan ditumpanginya datang. Sepanjang perjalanan Julia terus memikirkan tentang pria yang menabraknya itu, ia merasa sangat penasaran di mana ia pernah bertemu dengannya. Ketika bus yang ditumpangi Julia melewati restoran tempat ia bekerja dulu, ia terkejut karena restoran itu sudah berubah nama dan tampilannya. Julia memperhatikannya dengan seksama untuk memastikan kalau ia tidak salah melihat, tapi itu benar restoran milik nyonya Rita.


"Apa nyonya Rita mengubah nama dan tampilannya?" gumam Julia. Ketika hendak mengalihkan pandangannya, tiba-tiba saja mata Julia tertuju pada sebuah motor besar berwarna hitam dengan garis merah tua di tengahnya yang terparkir di salah satu sudut pelataran parkir restoran itu. Jantung Julia berdebar sedikit lebih cepat dari sebelumnya.


"Itu seperti motor kak Andro." batinnya. Mata Julia terus tertuju pada motor besar itu hingga akhirnya motor itu tidak bisa terlihat lagi oleh matanya.


"Apa benar itu motornya?" tanyanya pada dirinya sendiri.


"Tapi untuk apa dia di sana?" lanjutnya.


"Apa dia menemui sepupunya di sana?" Julia merasa sangat penasaran.


"Ah! Mungkin saja itu hanya motor yang sama dengan miliknya!" gumam Julia, ia berusaha berpikiran positif untuk menenangkan dirinya.


Ketika Julia tiba di apartemen, Andro belum kembali ke sana, hal itu membuat Julia kembali memikirkan tentang motor besar yang ada di pelataran parkir restoran milik nyonya Rita itu.


...


Andro masuk ke dalam restoran tempat ia dan sepupunya mengatur waktu untuk bertemu.


"Pak Andro!" sapa Bima begitu melihat Andro masuk ke dalam restoran.


"Di mana dia?" tanya Andro to the point.


"Di sana, pak!" jawab Bima sambil menunjuk ke arah meja yang di tempati oleh seorang wanita dan pria yang menggunakan sebuah kursi roda mewah. Andro mengerutkan keningnya, ia tidak yakin kalau itu adalah orang yang dikenalnya, tapi ia memutuskan untuk menemuinya terlebih dahulu.


Semakin dekat jaraknya dengan meja itu, entah mengapa debaran jantungnya terasa lebih cepat dari sebelumnya. Andro menghela nafasnya perlahan.


"Permisi!" sapanya pelan. Wanita dan pria yang ada di meja itu menoleh ke arah Andro. Ketika melihat wajah pria di meja itu, seketika jantung Andro terasa seperti berhenti berdetak.


"Kak Kovu?" ucapnya pelan. Andro memperhatikan pria yang berumur 30 tahunan itu dengan seksama, pria bernama Kovu itu tersenyum lembut padanya. Andro bersimpuh di sisi pria itu dan kemudian memeluknya dengan erat. Sesungguhnya, Andro sangat merindukan sosok itu, ia bahkan nyaris meneteskan air matanya.


"A.. Apa yang terjadi kak?" tanyanya yang tidak percaya kalau pria yang dikenalnya itu kini menggunakan kursi roda.


"Duduklah terlebih dahulu, And! Aku akan menceritakan semuanya padamu!" ucap Kovu. Andro duduk di kursi yang berada di hadapan Kovu.


"Sebelumnya perkenalkan, ini istriku!" Kovu memperkenalkan wanita yang sedari tadi duduk di sampingnya. Wanita itu mengulurkan tangannya ke arah Andro, Andro segera menyambutnya dan mereka saling berjabat tangan.


"Jingga!" ucap wanita dengan rambut sebahu itu sambil tersenyum lembut.

__ADS_1


"Andro! Andromeda!" sahut Andro memperkenalkan dirinya. Andro memperhatikan wanita bernama Jingga itu, ia tidak begitu menyukai kehadirannya karena ia tahu kalau wanita itu adalah wanita yang dipilihkan oleh ibunya untuk menikah dengan Kovu, sepupunya yang saat itu dalam keadaan koma*.


"Kamu masih menggunakan motor itu?" tanya Kovu. Andro menganggukkan kepalanya.


"Hanya itu kenang-kenangan dari keluargamu yang bisa kusimpan sampai sekarang!" terang Andro. Kovu terdiam memandangi wajah Andro.


Kovu mulai menceritakan apa yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini, Andro sudah menduga kalau semuanya itu disebabkan oleh keluarganya yang ingin menguasai perusahaan besar yang dibangun oleh kedua orang tua Kovu, hal itu juga yang membuat Andro keluar dari keluarganya.


"Aku membutuhkan bantuanmu, And!" ungkap Kovu akhirnya. Andro menundukkan kepalanya.


"Hanya kamu yang bisa membantuku!" lanjut Kovu. Andro kembali mengangkat kepalanya dan menatap Kovu.


"Aku tidak berniat menjual sahamku, kak!" ucap Andro. Kovu dan Jingga tersentak mendengar ucapan Andro.


"Kak Kovu bisa mengambil seluruh saham yang kumiliki!" lanjut Andro. Kovu terdiam menatap Andro.


"Aku akan memberikan semuanya untukmu!" tegas Andro.


"Tapi aku tidak bisa muncul di sana!" lanjutnya.


"Kenapa?" tanya Kovu.


"Aku sudah muak dengan mereka semua, kak!" jawab Andro.


"Tidak bisakah kali ini saja?" pinta Kovu. Andro menggelengkan kepalanya.


"Ambilah semua yang kumiliki, kak! Sisakan saja restoran ini untuk teman-temanku!" ucap Andro.


"Aku akan pergi dari sini dan memulai hidup yang baru di tempat yang jauh bersama calon istriku!" ungkapnya.


...


Andro kembali ke apartemen setelah larut malam, ia membuat banyak pertanyaan di pikiran Julia.


"Kamu dari mana kak? Mengapa pulang selarut ini?" Julia memberondong Andro dengan beberapa pertanyaan. Andro menghela nafasnya perlahan.


"Sepanjang hari ini aku hanya menghabiskan waktu bersama sepupuku!" jawab Andro. Meskipun Andro sudah menjawab pertanyaannya, tapi Julia masih saja memandanginya seakan mengharapkan jawaban lain darinya.


"Apa saja yang kalian lakukan?" tanya Julia lagi.


"Kami hanya mengobrol dan melepas rindu karena sudah cukup lama kami tidak bertemu." jawab Andro.

__ADS_1


"Dulu kami cukup dekat, tapi..." Andro nyaris saja menceritakan kehidupan keluarganya pada Julia.


"Tapi apa?" desak Julia.


"Tidak! Tidak apa-apa!" tukas Andro. Julia menatap curiga.


"Dia merahasiakan sesuatu!" batin Julia.


"Aku lelah sekali, aku mau beristirahat!" ucap Andro sambil berlalu dari hadapan Julia.


"Apa kamu tahu kalau restoran tempat kerjaku dulu sudah berganti nama?" tanya Julia. Andro tersentak.


"Oh ya?" ucap Andro kikuk.


"Eng!" Julia menganggukkan kepalanya.


"Kamu tahu dari mana?" tanya Andro.


"Aku tadi melewati jalan di depan restoran." jawab Julia.


"Oh!" sahut Andro. Julia kembali menatap Andro dengan seksama seakan ia mengharapkan sebuah penjelasan dari Andro.


"Apa kamu pernah ke restoran itu?" tanya Julia. Andro tersentak.


"Mengapa kamu bertanya seperti itu?" ucap Andro balik bertanya. Julia terdiam sejenak, lalu perlahan ia menghela nafasnya.


"Aku tadi melihat motor yang mirip sekali dengan motormu terparkir di samping restoran!" ungkap Julia.


"Bukan! Itu bukan aku!" bantah Andro sambil mengalihkan pandangannya dari Julia.


"Tapi motor itu terlihat mirip sekali dengan motormu! Aku tidak pernah melihat motor yang sama denganmu sebelumnya!" tukas Julia.


"Tapi itu bukan motorku!" bantah Andro sekali lagi. Andro menatap Julia, Julia pun menatap Andro, untuk sejenak mereka hanya saling menatap tanpa berkata apa-apa. Andro menghela nafasnya dan menundukkan kepalanya.


"Aku memang bertemu dengan sepupuku dan istrinya di restoran, tapi bukan restoran itu!" ucap Andro pelan.


"Dia berbohong!" batin Julia.


"Mengapa kak Andro menyembunyikannya dariku?" tanyanya pada dirinya sendiri.


...

__ADS_1


*cerita tentang Kovu dan Jingga bisa dibaca di karyaku yang berjudul 'The Wrong Marriage '.


__ADS_2