UNBREAKABLE RIDE

UNBREAKABLE RIDE
BAB 8


__ADS_3

Hampir 2 minggu berlalu sejak Julia memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Andro, sejak saat itu juga Julia tidak pernah melihat Andro bahkan pertemuan secara tidak sengaja pun tidak pernah terjadi.


"Kamu kenapa, Julia?" tanya Bima yang sedari tadi memperhatikan Julia. Julia tersentak.


"A.. Aku tidak apa-apa, kak!" jawab Julia sambil tersenyum lembut.


"Sepertinya beberapa hari ini kamu terlihat lesu." ucap Bima.


"Apa kamu baru berpisah dengan pacarmu?" canda Bima.


"Pacar? Aku tidak pernah memiliki pacar, kak!" jawab Julia.


"Sungguh?!" tanya Bima lagi. Julia hanya menjawab pertanyaan Bima itu dengan sebuah senyuman.


"Kalau begitu berkencanlah denganku!" pinta Bima. Julia terkejut mendengar ajakan Bima. Julia menundukkan kepalanya.


"Kamu tidak akan bisa bertahan kalau berkencan denganku, kak!" tukas Julia. Bima tidak mengerti dengan ucapan Julia.


"Kamu tidak akan bisa bertahan kalau tahu bagaimana kehidupanku sebenarnya." Julia memperjelas ucapannya.


"Seperti apa kehidupanmu sebenarnya?" Bima mulai terlihat penasaran.


"Aku..."


"Apa kalian akan terus mengobrol di situ?" tanya nyonya Rita yang muncul dari balik pintu dapur secara tiba-tiba. Julia dan Bima terkejut.


"Itu ada pelanggan baru datang, Julia!" seru nyonya Rita.


"Lambat sekali kerjamu!" makinya. Julia bergegas keluar dari dapur untuk menemui pelanggan yang baru saja datang itu.


Julia melangkah dengan cepat menuju meja pelanggan yang baru saja datang, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika hampir sampai di tempat itu.


"Hai pelayan, saya ingin memesan sesuatu!" seru pelanggan baru itu. Seketika jantung Julia berdetak dengan sangat cepat hingga membuat dadanya terasa sesak, wajahnya tampak pucat. Ingin sekali ia melangkah mundur dan kembali ke dapur tapi di kejauhan nyonya Rita mengawasinya dengan ekspresi wajah kesal.


"Hei pelayan!" teriak pelanggan itu lagi. Akhirnya Julia menghampiri meja pelanggan itu.


"Mengapa kamu ke sini?" tanya Julia dengan suara berbisik. Pelanggan itu menoleh ke arah Julia lalu tersenyum sinis pada Julia. Senyuman itu membuat tubuh Julia bergetar karena ketakutan, ternyata pelanggan yang baru datang dan kini berada di hadapan Julia adalah Denis.


"Aku ingin memesan makanan yang paling enak di sini!" ucap Denis.


"Jangan membuat keributan di sini!" ucap Julia dengan suara berbisik memperingatkan Denis.


"Aku tidak ingin membuat keributan di sini, aku hanya ingin memesan makanan!" tukas Denis. Julia meletakkan buku menu makanan ke hadapan Denis.


"Cepat pesan yang kau inginkan dan pergi dari sini!" ucap Julia. Denis tertawa kecil.

__ADS_1


"Mengapa kamu terburu-buru seperti itu, adikku yang cantik?" goda Denis.


Denis membolak-balik halaman buku menu untuk memilih makanan apa yang hendak di makannya. Semakin lama Denis memilih makanannya semakin cepat debaran jantung Julia.


"Aku ingin memesan ini!" ucap Denis akhirnya. Julia mencatat pesanan Denis itu dengan cepat.


"Ini saja?" tanya Julia. Denis menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ketika Julia akan mengambil buku menu yang ada di hadapan Denis, Denis menangkap tangan Julia dan menggenggamnya dengan sangat erat. Julia tersentak, ia mencoba menarik tangannya tapi Denis mencengkram dengan sangat kuat bahkan hingga membuat Julia kesakitan.


"Aku bisa menemukanmu kan, sayang!" ucap Denis dengan suara berbisik. Ucapan Denis itu membuat rasa takut Julia semakin besar. Julia menghempaskan tangan Denis dengan kuat hingga terlepas dari tangannya.


"Mohon menunggu!" ucap Julia sambil berlalu dari hadapan Denis.


Julia menyerahkan catatan pesanan Denis kepada Bima, Bima menyadari kalau ekspresi wajah Julia terlihat tegang.


"Kamu kenapa?" tanya Bima.


"Wajahmu pucat seperti habis melihat hantu!" tambahnya.


"Ini lebih menakutkan dari hantu!" jawab Julia pelan.


"Hah?!" Bima tersentak, ia tidak begitu mendengar suara Julia karena Julia berbicara dengan suara yang sangat pelan.


"Tidak! Tidak ada apa-apa kak!" ucap Julia.


Tak lama kemudian sup panas yang dipesan oleh Denis sudah matang, Bima menyerahkan sup panas itu kepada Julia agar ia bisa segera memberikannya pada yang memesannya. Sebelum melangkah keluar dari dapur, Julia menghela nafasnya karena jantungnya kembali berdebar dengan sangat kencang. Di dalam hatinya, ia berdoa agar Denis tidak melakukan hal yang menakutkan dan membuat keributan di dalam restoran.


"Bisakah kamu menemaniku makan, sayang?" tanya Denis pelan.


"Aku harus kembali bekerja!" tolak Julia.


"Hei, bu!" seru Denis tiba-tiba. Nyonya Rita menoleh ke arah Denis.


"Aku tidak biasa makan seorang diri, bisakah aku menyewa pelayanmu ini untuk menemaniku makan?" pinta Denis. Nyonya Rita melirik ke arah Julia.


"Jangan membuat kekacauan di sini!" ucap Julia dengan suara berbisik.


"Aku akan membayar makanan ini 3 kali lipat!" seru Denis lagi.


"Hentikan, kak!" ucap Julia, suaranya mulai terdengar bergetar.


"Silahkan tuan!" sahut nyonya Rita dari kejauhan. Julia tersentak mendengar ucapan nyonya Rita itu, ia tidak menyangka kalau majikannya justru membiarkannya masuk ke dalam mulut harimau dan tidak melindunginya sama sekali.


"Kamu dengar sendiri kan?!" ucap Denis.


"Duduklah di hadapanku dan temani aku makan!" perintahnya, tapi Julia hanya diam, ia tidak melakukan apa yang Denis perintahkan.

__ADS_1


...


"Ada ribut-ribut apa, nyonya?" tanya Bima yang baru saja keluar dari dapur.


"Itu!" ucap nyonya Rita sambil menunjuk ke arah Julia dan Denis.


"Pria itu sepertinya menyukai Julia, dia meminta Julia menemaninya makan dan akan membayar makanannya 3 kali lipat!" terang nyonya Rita. Bima terkejut mendengar ucapan nyonya Rita itu.


"Lalu nyonya mengijinkannya?" tanya Bima. Nyonya Rita menganggukkan kepalanya.


"Nyonya!" tegur Bima.


"Kenapa? Apa salahnya?" tanya nyonya Rita berpura-pura polos.


"Dia hanya meminta untuk ditemani makan bukan ditemani tidur!" lanjutnya.


"Apa di sini bukan lagi restoran?" sindir Bima.


"Apa nyonya sudah mengganti tempat ini menjadi bar?" lanjutnya. Nyonya Rita terkejut mendengar ucapan Bima, ia terlihat kesal dengan ucapan itu.


"Julia itu bekerja sebagai pelayan yang mengantarkan makanan bukan menemani pelanggan!" seru Bima.


"Diam kamu, Bima!" ucap nyonya Rita marah.


"Aku akan melaporkan hal ini ke dinas tenaga kerja!" lanjut Bima. Nyonya Rita tersentak.


"PRAAANG!!" Tiba-tiba terdengar suara mangkuk terjatuh ke lantai dengan keras. Bima dan nyonya Rita terkejut mendengarnya, mereka langsung menoleh ke arah sumber suara.


...


"Duduklah di hadapanku dan temani aku makan!" perintahnya, tapi Julia hanya diam, ia tidak melakukan apa yang Denis perintahkan.


"Aku akan berdiri di sini, cepatlah habiskan makananmu dan pergi dari restoran ini!" ucap Julia pelan.


"Kamu membuatku kesal, Julia!" ucap Denis, ia menatap Julia dengan tatapan tajam. Julia terdiam, ia menyembunyikan tangannya yang gemetaran.


"Kumohon cepatlah pergi dari sini!" pinta Julia.


"Aku tidak akan mulai makan kalau kamu tidak duduk dan menemaniku makan!" ucap Denis. Julia tidak beranjak dari tempatnya, ia hanya terus berdiri di sisi meja.


"Kubilang duduk, Julia!" seru Denis.


"Kita selesaikan masalah kita di rumah!" tukas Julia. Karena Julia tidak juga memenuhi keinginannya, Denis menjadi emosional, ia menyiramkan sup panas ke arah Julia, beruntung sup itu tidak mengenai wajah Julia karena Julia sempat menutupi wajahnya dengan tangan, tapi tubuh Julia tidak terelakkan.


"PRAANG!" Denis melemparkan mangkuk bekas sup itu ke lantai. Seketika Julia dan Denis menjadi pusat perhatian semua pengunjung yang berada di dalam restoran termasuk nyonya Rita dan Bima, beberapa di antaranya mulai membicarakan mereka.

__ADS_1


"Kumohon jangan membuat keributan di sini!" ucap Julia lirih, ia menahan rasa panas di sekujur tubuhnya.


...


__ADS_2