
"Gue akan menikah dalam waktu dekat ini." ucap Andro setelah ia melihat semua teman-teman genk motornya itu selesai menyantap makanan mereka, spontan ucapan Andro itu membuat mereka semua tersentak. Seketika suasana di dalam restoran itu menjadi sangat hening, perhatian mereka semua tertuju pada Andro.
"Lo serius, And?" tanya Tian tak percaya. Andro menganggukkan kepalanya. Sesaat para anggota genk motor itu saling bertukar pandang satu sama lain.
"Kami sangat senang mendengar ucapan lo barusan, And! Sungguh kami sangat senang! Tapi..." Vino ragu melanjutkan ucapannya itu.
"Lo ga akan meninggalkan kami seperti Deska kan, And?!" sambung Dexter. Andro menatapnya sejenak.
"Gue tidak akan meninggalkan kalian, tapi mungkin gue tidak bisa selalu bersama kalian." ungkap Andro. Meskipun Andro sudah menjawab kalau dirinya tidak akan meninggalkan genk motornya, tapi para anggota genk motor Andro itu merasakan firasat yang buruk.
"Jadi, lo mentraktir kami di sini hanya untuk membicarakan hal ini?!" tanya Dexter.
"Tidak! Sebenarnya ada hal lain yang ingin gue sampaikan!" jawab Andro. Seluruh mata tertuju kepada Andro.
"Gue berharap kalian bisa hidup lebih baik lagi!" ucap Andro tiba-tiba. Andro memperhatikan teman-temannya itu.
"Gue tidak ingin kalian berkelahi lagi dengan anggota genk motor lainnya dan bisa hidup seperti orang normal pada umumnya." lanjutnya. Andro menghela nafasnya perlahan.
"Kalian perhatikan restoran ini!" perintah Andro, seluruh anggota genk motor itu memperhatikan setiap sisi dari restoran.
"Bukankah restoran ini cukup bagus dan makanannya pun enak?" tanya Andro. Anggota genk motornya serempak mengangguk.
"Bangun dan aturlah restoran ini seperti yang kalian inginkan, ambillah hasil dari restoran ini untuk memenuhi kebutuhan hidup kalian sehari-hari!" pesan Andro.
"Kami tidak mengerti apa yang lo katakan, And!" celetuk Tian. Andro kembali menghela nafasnya dengan perlahan.
"Bima, kemarilah!" seru Andro memanggil Bima yang ada di kejauhan. Bima bergegas mendekati Andro dan kawanannya.
"Ada apa, pak Andro?" tanya Bima begitu tiba di hadapan Andro.
"Pak Andro?" gumam beberapa anggota genk motor itu. Mereka bingung mengapa Bima memanggil Andro dengan kata-kata 'Pak'.
"Ini Bima, dia yang selama ini mengelola restoran ini!" ucap Andro memperkenalkan Bima.
"Kalian semua bekerja samalah dengan Bima!" lanjutnya. Seluruh anggota genk motor itu terkejut mendengar ucapan Andro tapi mereka juga tidak mengerti maksud dari perkataannya itu.
"Apa orang ini membayar lo?" celetuk Dexter. Andro menggelengkan kepalanya.
"Lalu mengapa lo menyuruh kami untuk bekerja sama dengannya?" tanya Dexter lagi.
__ADS_1
"Karena gue berharap kalian bisa hidup dengan lebih baik!" jawab Andro. Dexter mulai terlihat emosional.
"Jelaskan saja dengan sederhana, apa yang harus kami lakukan, And!" serunya.
"Jangan terus-terusan mengungkapkan harapanmu itu! Lalu apa hubungannya kehidupan kami dengan restoran ini?" desak Dexter. Andro menatapnya dengan seksama.
"Restoran ini milik gue!" ungkap Andro akhirnya. Sesuai dugaan Andro, semua anggota genk motornya itu terlihat sangat terkejut setelah mendengar ucapannya.
"Bagaimana bisa lo mempunyai restoran seperti ini?" tanya Tian tak yakin.
"Gue membelinya dari uang tabungan gue!" terang Andro. Suasana di dalam restoran itu pun kembali hening.
"Maukah kalian mengelola restoran ini agar restoran ini bisa berkembang dengan baik?" tanya Andro. Anggota genk motor itu terdiam, tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Andro itu.
"Gue akan memberikan restoran ini kepada kalian." ungkap Andro. Ucapan Andro itu membuat teman-temannya terkejut.
"Mengapa lo malah memberikan restoran yang lo beli dengan uang tabungan lo kepada kami, And?" tanya Vino bingung.
"Gue tidak mampu mengelola restoran ini!" jawab Andro.
"Tidak mungkin!" seru Dexter.
"Kalau lo saja tidak sanggup apalagi kami!" tambah Dexter.
"Benar!" dukung anggota lainnya.
"Bima akan membantu kalian!" ucap Andro. Dexter melirik tajam ke arah Bima.
"Gue tidak mengerti, lo bicara seperti lo tidak akan bertemu dengan kami lagi!" gerutu Dexter. Semua anggota menyetujui pernyataan Dexter itu. Andro terdiam.
"Lo benar-benar akan meninggalkan kami, And?" tanya Tian. Andro tidak menjawab pertanyaan itu.
"Apa nyonya besar yang memintanya?" terka Dexter. Andro tersentak.
"Kalau dia tidak mau memiliki calon suami seorang anak motor, seharusnya dia tidak berkencan dengan lo!" protes Dexter. Beberapa anggota genk motor lainnya mencoba menenangkan Dexter yang mulai tidak bisa mengontrol emosinya.
"Julia tidak pernah mempermasalahkan status gue sebagai anak motor, dia hanya meminta gue untuk tidak terlibat dengan keributan-keributan lagi dengan genk motor lainnya!" terang Andro. Dexter menghela nafasnya dengan kasar. Suasana di restoran itu kembali hening, tidak ada satu orang pun yang berani berbicara.
"Jangan membencinya, Dex!" pinta Andro tiba-tiba. Dexter menatap Andro, ia masih terlihat emosional.
__ADS_1
"Selama ini, gue tidak pernah memikirkan hal lain selain harga diri gue sendiri, tapi setelah memutuskan untuk membangun sebuah keluarga, gue mulai mencoba berpikir dengan cara pikir orang yang menyayangi gue." ungkap Andro.
"Dia bukan tidak menyukai apa yang gue lakukan selama ini, dia bukan tidak menyukai teman-teman yang bersama gue selama ini, ataupun dia mau membatasi apa yang gue lakukan, tapi dia hanya ingin gue bisa selalu sehat dan dalam keadaan baik-baik saja, sehingga kekhawatirannya bisa sedikit berkurang!" tambahnya. Sejenak semuanya terdiam, Andro memperhatikan teman-temannya itu satu persatu.
"Andro benar, Dex!" ucap Tian akhirnya.
"Deska memilih pergi jauh juga karena kehidupan kita tidak aman." lanjutnya. Dexter hanya terdiam, kepalanya tertunduk.
"Kami akan mendukung apapun keputusan lo, And!" tambah Tian.
"Asalkan lo tidak meninggalkan kami!" sambung Dexter. Andro menatap Dexyer dengan seksama.
...
Julia dan Andro akhirnya melangsungkan ibadah pernikahan mereka di gereja kecil pinggir kota itu, seluruh anggota genk motor Andro menghadiri dan menjadi saksi pernikahan mereka, begitu juga dengan bapak serta ibu Hendro. Kini Andro dan Julia sudah sah sebagai suami-istri secara hukum negara dan agama.
Meskipun Andro sudah mengatakan kalau dia tidak akan meninggalkan genk motornya, tapi suasana di pernikahan itu tetap terasa sangat mengharukan seperti pernikahan Deska sebelumnya.
"Gue berharap lo akan selalu berbahagia setelah ini, And!" ucap Dexter dengan suara berbisik. Andro tersenyum lembut melihat salah satu sahabatnya itu tampak berkaca-kaca. Andro memeluk Dexter dengan erat.
"Ingat ucapan lo, lo tidak akan meninggalkan kami!" ucap Dexter.
"Kalau lo meninggalkan kami, kami akan membenci lo, And!" ancamnya. Lagi-lagi Andro hanya tersenyum lembut pada pria bertubuh tinggi besar itu.
Andro dan Julia kembali ke apartemen mereka. Ketika akan masuk ke unit apartemen mereka, mereka melintas di hadapan orang-orang yang sebelumnya pernah menegur mereka karena tinggal bersama. Orang-orang itu memperhatikan Julia dan Andro dengan seksama. Julia terlihat sangat gugup, pandangan orang-orang itu terasa sangat mengintimidasi bagi Julia, Andro menyadarinya, ia meraih tangan Julia dan menggenggamnya dengan erat.
"Permisi!" ucap Andro ramah begitu berpapasan dengan tetangga-tetangganya itu.
Julia menghela nafasnya perlahan setelah mereka masuk ke dalam unit apartemen mereka. Andro menutup pintu unit apartemennya dengan rapat.
"Apa mereka membicarakan kita lagi?" tanya Julia tiba-tiba. Andro tersentak mendengar pertanyaan Julia itu.
"Mereka pasti membicarakan kita!" terka Julia. Andro menghela nafasnya perlahan, lalu dengan lembut ia memeluk tubuh kurus Julia yang kini sudah menjadi istrinya itu dari belakang. Andro mendekatkan mulutnya ke telinga Julia.
"Tidak perlu khawatir berlebihan!" ucapnya dengan suara berbisik.
"Biarkan saja mereka membicarakan kita, sekarang kita sudah resmi menjadi suami-istri!" tambah Andro.
...
__ADS_1