UNBREAKABLE RIDE

UNBREAKABLE RIDE
BAB 23


__ADS_3

"Contoh sederhananya seperti ini..." ucap pendeta itu.


"Kamu menikahi kekasihmu karena kamu ingin menjaga dan melindunginya dari orang yang mengusiknya." lanjutnya.


"Pernikahanmu akan terasa sangat berwarna dengan segala perjuanganmu untuk melindungi istrimu itu..." tambah pendeta itu.


"Tapi pernahkah kamu memikirkan bagaimana kalau orang yang mengusiknya itu sudah tidak ada lagi?" tanya pendeta tua itu. Andro tersentak.


"Bagaimana kalau tiba-tiba saja kehidupan kalian menjadi sangat lancar dan tanpa konflik?" tanya pendeta itu lagi. Andro dan Julia terdiam.


"Kehidupan kalian akan berubah menjadi monoton dan sangat membosankan, karena kalian sudah terbiasa dengan pertarungan dengan si pengusik!" ucap pendeta tua itu. Pendeta itu menatap Andro dan Julia bergantian.


"Apakah di saat itu kalian masih akan saling mencintai?" tanyanya. Andro menatap Julia sejenak, Julia pun menatap Andro.


"Pernikahan yang akan kalian jalani itu bukan hanya untuk setahun atau dua tahun, tapi seumur hidup kalian." terang pendeta itu. Julia menundukkan kepalanya, ia menghela nafasnya pelan. Semua yang dikatakan pendeta itu benar dan itu membuat Julia takut, ia takut kalau suatu saat nanti Andro akan merasa bosan dengannya atau tidak memiliki perasaan lagi padanya karena awalnya pun Andro tidak memiliki perasaan apa-apa untuknya, Andro bisa berada di sisinya karena Julia yang memaksanya untuk masuk ke dalam konflik keluarganya padahal Andro tidak ingin ikut campur saat itu.


"Aku bukan sedang menakuti kalian, tapi begitulah kehidupan!" ucap pendeta itu tiba-tiba.


"Perasaan cinta bisa berubah kapan saja kalau kalian tidak berhasil memupuknya." lanjutnya. Julia menghela nafasnya sekali lagi.


"Saya hanya memilikinya, pak pendeta!" ungkap Andro tiba-tiba. Pendeta itu mengerutkan keningnya.


"Maksudmu?" tanya pendeta itu.


"Saya tidak memiliki keluarga, kalau saya menikah dengannya, dia yang akan menjadi satu-satunya keluarga saya!" jelas Andro. Pendeta itu tampak sedikit terkejut mendengar ucapan Andro.


"Bagaimana dengan orang tuamu?" tanya pendeta. Andro menggeleng.


"Mereka sudah meninggal hampir setahun yang lalu." ungkap Andro. Julia menatap Andro dengan seksama, ia baru mengetahui kalau kedua orang tua Andro belum lama meninggal, ia menyadari kalau Andro memang sangat tertutup perihal keluarganya.


"Aku belum banyak mengenalnya!" ucap Julia dalam hati.


"Kamu tidak memiliki anggota keluarga lainnya, seperi paman atau bibi?" tanya pendeta itu lagi. Andro menggeleng. Julia tersentak, padahal Andro memiliki seorang sepupu, tapi ia tidak mengakuinya.

__ADS_1


"Mengapa dia berbohong?" batin Julia.


"Bagaimana denganmu, nona?" tanya pendeta tua itu kepada Julia.


"Eh!" Julia terkejut dengan pertanyaan dadakan itu, ia menghela nafasnya perlahan.


"Saya memiliki seorang ayah tiri yang saat ini sedang dalam kondisi koma dan seorang kakak laki-laki tiri yang selalu mengusik hidup saya, pak pendeta!" ungkap Julia. Pendeta itu terlihat sangat terkejut.


"Jadi pengusik yang kalian ceritakan itu kakak tirimu?" tanyanya. Julia dan Andro menganggukkan kepala.


"Saya memiliki beberapa luka di tubuh saya akibat dari penyiksaan yang dilakukan oleh kakak tiri saya itu, pak pendeta!" aku Julia. Suaranya terdengar sedikit berat dan bergetar. Andro membelai punggung tangan Julia, ia menyadari kalau Julia selalu merasa ketakutan setiap kali mengungkapkan kehidupan kelamnya itu.


"Sebelumnya, tidak ada yang pernah berani melindungi saya dan kak Andro-lah yang pertama kali melakukannya!" ucap Julia. Julia kembali menghela nafasnya perlahan.


"Saya sangat takut kalau harus menjalani kehidupan selanjutnya tanpa kak Andro, pak pendeta!" lanjutnya. Pendeta tua itu menatap Julia dengan seksama.


"Tidak ada orang lain yang akan melindungi saya!" Julia mulai terlihat sedikit emosional.


"Tidak apa-apa kalau suatu saat nanti dia bosan melihat saya, saya akan terus 'menempel' padanya seumur hidup saya, pak pendeta!" ungkap Julia. Pendeta itu tersenyum lembut.


"Baiklah, kalau kalian memang sudah merasa yakin satu sama lain, saya akan membantu mengurus pernikahan kalian di gereja ini!" ucap pendeta tua itu pelan. Andro dan Julia terlihat sumringah.


"Tapi, setidaknya bawalah beberapa orang yang akan menjadi saksi pada pernikahan kalian!" pinta pendeta.


...


Julia meminta Andro untuk mengantarkannya ke suatu tempat dan ia akhirnya menghentikan laju motor Andro di depan sebuah toko kelontong. Ya! Itu toko kelontong tempat Julia dan Andro bertemu kedua kalinya.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Andro bingung.


"Bukankah bapak pendeta tadi bilang kalau kita harus membawa orang di pernikahan kita sebagai saksi?" tukas Julia.


"Orang yang mengenalku dan kehidupanku selain kamu adalah bapak dan ibu Hendro!" ungkapnya.

__ADS_1


"Aku ingin mereka yang menjadi saksi pernikahan kita!" tambah Julia. Andro terdiam, ia teringat dengan permintaan pemilik toko kelontong itu kepadanya untuk menjaga Julia tapi saat itu Andro menolaknya.


Julia mengetuk pintu yang berada di samping toko kelontong, ia dan Andro menunggu beberapa saat, kemudian mengetuk pintu itu lagi ketika tidak ada 1 orangpun yang keluar dari balik pintu. Tak lama kemudian terdengar seseorang memutar kunci pintu itu dari dalam, lalu muncullah seorang wanita paruh baya dari balik pintu itu.


"Julia!" seru ibu Hendro, pemilik toko kelontong itu.


"Selamat malam, ibu!" sapa Julia, ia melemparkan senyuman terbaiknya untuk bu Hendro. Bu Hendro langsung memeluk Julia dengan erat.


"Ke mana saja kamu, nak?" tanya bu Hendro. Wanita tua itu terlihat sangat mengkhawatirkan Julia.


"Aku dipecat oleh nyonya Rita, bu!" ungkap Julia.


"Bagaimana mungkin?!" seru bu Hendro tak percaya.


"Kak Denis membuat kekacauan di restoran, jadi nyonya Rita memecatku dan aku harus kabur lagi dari kak Denis lagi." terang Julia.


"Ya ampun, nak! Jadi, sekarang kamu tinggal di mana?" tanya bu Hendro. Belum sempat Julia menjawab pertanyaannya, bu Hendro menoleh ke arah Andro, ia baru menyadari kalau ada Andro di sana.


"Hei, kamu!" serunya terkejut. Andro membungkukkan badannya sedikit untuk menyapa bu Hendro.


"Kalian datang bersama?" tanya bu Hendro. Andro menganggukkan kepalanya. Bu Hendro memperhatikan Andro dan Julia bergantian.


"Apa terjadi sesuatu dengan kalian?" tanya bu Hendro. Julia melirik ke arah Andro.


"Kami akan menikah!" jawab Andro singkat. Ucapan Andro itu seketika membuat bu Hendro terkejut, ia menatap Andro dengan seksama.


"Bukankah waktu itu kamu bilang tidak akan ikut campur dengan urusan Julia?" tanya bu Hendro polos. Julia menatap Andro dengan seksama. Andro merasa terintimidasi dengan pertanyaan bu Hendro dan tatapan Julia itu, akhirnya menundukkan kepalanya tanpa berkata apa-apa.


"Aku yang memaksanya untuk ikut campur dengan masalahku, bu!" aku Julia. Andro menghela nafasnya.


"Dia terjebak dengan kehidupanku yang rumit, jadi sekarang ia memilih untuk menikahiku!" terang Julia dengan nada bercanda.


"Tapi saya tidak menikahinya dengan terpaksa!" tukas Andro.

__ADS_1


...


__ADS_2