
"Sekarang pergilah dan jangan pernah kembali lagi ke restoran ini!" lanjutnya.
"Aku muak melihat wajah kalian!" tambah nyonya Rita. Julia terdiam.
"Kamu kupecat, Julia!" tegas nyonya Rita. Julia menatap nyonya Rita dengan seksama.
"Ini menjengkelkan sekali!" ucap Julia dalam hatinya.
"Aku kesal sekali!" tambahnya.
"Menunggu apa lagi kamu di sini? CEPAT PERGI DARI SINI!" bentak nyonya Rita. Suara keras nyonya Rita itu menggema di seluruh sudut restoran, beruntung saat itu restoran belum buka sehingga belum ada pengunjung yang datang. Bima keluar dari dapur setelah mendengar teriakan majikannya itu.
"Ada apa ini?" tanya Bima. Julia mengalihkan pandangannya dari nyonya Rita ke Bima, ia tersenyum lembut pada Bima kemudian berlalu dari hadapannya. Bima bingung dengan sikap Julia itu.
"Ada apa ini, nyonya?" tanyanya pada nyonya Rita.
"Aku memecat wanita bodoh itu!" jawab nyonya Rita ketus. Bima terkejut.
"Apa salah Julia? Mengapa nyonya malah memecatnya?" cecar Bima.
"Salahnya?! Salahnya adalah membuat keributan di sini!" jawab nyonya Rita.
"Tapi Julia hanya korban!" tukas Bima.
"Kalau dia menuruti keinginan tamu kemarin, tidak akan ada keributan di sini!" ungkap nyonya Rita. Bima terkejut mendengar ucapan majikannya itu, ia tidak menyangka kalau nyonya Rita akan mengatakan hal seperti itu.
"Nyonya sudah sangat keterlaluan!" ucap Bima. Nyonya Rita terdiam sambil menatap Bima dengan tajam.
"Waktu itu Jingga dan sekarang Julia!" lanjutnya.
"Lalu kamu mau menyusul mereka?" tanya nyonya Rita.
"Ya! Saya mengundurkan diri dari sini!" ucap Bima dengan tegas, lalu ia beranjak dari hadapan nyonya Rita dan menyusul Julia.
"Kalian memang karyawan-karyawan brengsek!" umpat nyonya Rita marah.
...
Julia keluar dari restoran melalui pintu belakang, ia terlihat sangat kesal dengan ucapan nyonya Rita. Untuk pertama kalinya ia tidak bisa mengendalikan amarahnya setelah mendengar nyonya Rita menghina Andro.
"Dia benar-benar menyebalkan!" ucap Julia dalam hati.
"Kesal sekali mendengar ucapannya!" akunya.
"Aku sangat marah!" lanjut Julia.
"Aku ingin menangis!" serunya di dalam hati.
"Tapi air mataku tidak bisa keluar!" batinnya. Julia berjalan bolak-balik di halaman belakang restoran.
"Julia!" Tiba-tiba terdengar suara Bima memanggilnya. Julia menoleh ke arah sumber suara itu, tampak Bima berlari ke arahnya. Ketika melihat Bima, tiba-tiba saja ekspresi wajah Julia berubah, ia terlihat seperti biasanya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bima begitu tiba di hadapan Julia. Julia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, tapi Bima menatapnya curiga.
"Kamu berhenti bekerja?" tanya Bima lagi. Julia tertawa kecil.
__ADS_1
"Nyonya Rita memecatku, kak!" terang Julia pelan. Bima menghela nafasnya.
"Aku juga berhenti bekerja dari tempat ini!" ungkap Bima. Julia tersentak.
"Kenapa?" tanyanya.
"Aku sudah muak dengan sikapnya itu!" ungkap Bima.
"Sudahlah, aku sudah tidak mau memikirkannya lagi!" tukas Bima. Bima memperhatikan wajah Julia.
"Kau tegar sekali, sudah diperlakukan seperti itu oleh nyonya Rita tapi masih saja bisa tersenyum!" puji Bima. Julia hanya tersenyum mendengar pujian dari rekan kerjanya itu.
"Apa kamu tidak ingin menjambak rambut atau mencakar wajahnya?" tanya Bima. Julia tertawa kecil.
"Untuk apa, kak?!" tukas Julia.
"Sedang apa kalian di sini?" Tiba-tiba terdengar suara berat yang sudah tidak asing lagi bagi Julia. Julia berbalik dan ternyata Andro sudah berdiri di belakangnya.
"Kak Andro!" seru Julia terkejut.
"Bukannya bekerja, kalian malah berkencan di sini!" ucap Andro, ekspresi wajahnya terlihat dingin.
"Aku dipecat, kak!" ungkap Julia dengan suara bergetar. Andro terkejut. Sesaat setelah mengucapkan hal itu, seketika air mata mengalir dari mata Julia. Air mata yang tadinya tertahan, tiba-tiba saja mengalir dengan derasnya.
"Aku sudah tidak punya pekerjaan lagi!" seru Julia disela-sela tangisnya. Bima terheran-heran melihat Julia, sebelumnya Julia terlihat sangat tegar tapi begitu Andro datang, Julia malah menangis seperti anak kecil.
Andro mendekati Julia yang sibuk mengusap pipi untuk menghapus air matanya, tangan kanannya menarik tubuh Julia dan mendekapnya.
"Kenapa wanita itu memecatmu?" tanya Andro pelan.
"Karena keributan semalam." jawab Julia.
"Tunggu di sini!" perintah Andro. Julia tersentak.
"Kamu mau ke mana?" tanyanya.
"Aku mau menemui wanita tua itu!" jawab Andro.
"Tidak usah, kak! Tidak perlu menemuinya!" seru Julia sambil menahan tubuh Andro agar tidak pergi.
"Aku hanya akan membuat perhitungan dengannya!" terang Andro.
"Jangan membuat keributan di sana, kak!" pinta Julia. Andro menatap kedua mata Julia dengan seksama.
"Apa kamu pernah melihatku memulai keributan?" tanya Andro. Julia terdiam.
"Tenanglah, aku akan memberinya pelajaran dengan caraku!" ucap Andro. Ia menepuk kepala Julia dengan lembut beberapa kali lalu berlalu dari hadapan wanita bertubuh kurus itu.
...
"BRAAK!" Andro membuka pintu belakang restoran dengan kasar, suara pintu itu terdengar cukup keras hingga membuat nyonya Rita terkejut.
"Apa-apaan ini?!" seru nyonya Rita marah.
"Seharusnya saya yang bertanya seperti itu!" ucap Andro.
__ADS_1
"Mau apa kamu ke sini, brengsek?" tanya nyonya Rita.
"Pasti mau membela pacarmu itu kan?!" terkanya.
"Kenapa anda memecatnya?" tanya Andro to the point.
"Anda melihat sendiri kalau Julia adalah korban, mengapa anda malah memecatnya?" cecar Andro. Nyonya Rita menatap Andro dengan tatapan tajam.
"Dia yang membuat dirinya menjadi korban!" tukas nyonya Rita. Andro mengerutkan keningnya.
"Kalau dia mau menuruti permintaan tamu itu, semua keributan itu tidak akan terjadi!" jelas nyonya Rita. Andro terkejut mendengar ucapan nyonya Rita itu.
"Anda memang sangat keterlaluan!" ucap Andro.
"Beruntung Julia sudah tidak bekerja dengan anda!" tambahnya.
"Aku juga merasa beruntung karyawan pembangkang macam dia sudah tidak bekerja denganku lagi!" sahutnya.
"Pembangkang?" gumam Andro pelan.
"Ya! Sudah kubilang untuk tidak berhubungan dengan pria brengsek anggota genk motor sepertimu tapi dia malah berkencan denganmu!" ungkap nyonya Rita. Andro menghela nafasnya dengan kasar.
"Apa ada yang salah dengan anggota genk motor?" tanya Andro.
"Kami tidak pernah memulai keributan lebih dulu!" ungkapnya.
"Kalian adalah pria-pria brengsek yang tidak memiliki masa depan!" seru nyonya Rita.
"Sepertinya anda memiliki dendam tersendiri dengan anggota genk motor." tukas Andro.
"Tapi tidak seharusnya anda menyamaratakan semua anggota genk motor, apalagi sampai memaksa seseorang untuk tidak berhubungan dengan kami!" ucap Andro.
"Cih! Apa untungnya berhubungan dengan pria brengsek sepertimu?!" ejek nyonya Rita.
"Setidaknya kami bisa bersikap lebih manusiawi dibandingkan anda yang menyuruh pelayan wanita anda melayani pria hidung belang." sindir Andro.
"Kami lebih tahu bagaimana harus memperlakukan seseorang sesuai dengan karakter dan kepribadiannya." lanjutnya.
"Contohnya anda, saya tahu bagaimana menghadapi orang seperti anda!" tambah Andro.
"Bagaimana?" tantang nyonya Rita. Andro tersenyum sinis.
"Saya akan pastikan kalau bulan depan, anda akan pergi dari sini!" ucap Andro. Nyonya Rita tersentak.
"Anda tidak akan bisa membuka usaha anda lagi di tempat ini!" Andro memperjelas ucapannya.
"Kamu mengancamku?!" ucap nyonya Rita, lalu ia mulai tertawa terbahak-bahak.
"Kamu akan membeli tempat ini dan mengusirku, begitu?" ledeknya. Tawa nyonya Rita semakin keras terdengar.
"Gembel sepertimu bisa apa?" ejek nyonya Rita. Andro hanya diam mendengar ejekan dari nyonya Rita.
Andro keluar dari restoran itu, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi seseorang dengan ponsel itu.
"Cari dia!" ucapnya pada orang yang diteleponnya.
__ADS_1
"Aku akan membelinya hari ini juga!" tegas Andro.
...