UNBREAKABLE RIDE

UNBREAKABLE RIDE
BAB 24


__ADS_3

Bu Hendro mengajak Julia dan Andro untuk masuk ke rumahnya. Julia dan Andro duduk berdampingan di sofa yang ada di ruang tamu rumah milik bu Hendro itu.


"Apa yang mengubah pemikiranmu sampai ingin menikahi Julia?" tanya bu Hendro sambil meletakkan secangkir teh di hadapan Andro dan secangkir teh lagi di hadapan Julia. Julia melirik ke arah Andro yang masih belum menjawab pertanyaan pemilik toko kelontong itu.


"Aku membuatnya terjebak dalam kehidupan..."


"Saya tidak mengerti apa yang membuat saya merasa yakin untuk menikahinya." potong Andro, ia meraih tangan Julia dan menggenggamnya erat, seperti memberi isyarat pada Julia untuk memberikannya waktu menjelaskan semuanya pada bu Hendro.


"Saya merasa sangat menyayanginya dan tidak ingin kehilangannya!" aku Andro. Julia menatap Andro dengan seksama, ekspresi wajah Andro terlihat sangat serius.


"Saat itu saya memang bilang kalau saya tidak ingin ikut campur dengan masalah orang lain, saya memang tidak suka mencampuri urusan orang lain," ucap Andro.


"Dan Julia selalu berkata kalau dia yang memaksa saya untuk ikut campur dalam masalah hidupnya," lanjutnya.


"Padahal saat itu saya yang memutuskan untuk ikut campur urusannya karena saya melihat seorang pria memaksa masuk ke rumahnya ketika saya sedang melintas di jalan dekat rumahnya." ungkap Andro. Semua mata menatap ke arah Andro.


"Waktu itu memang Julia meminta saya untuk membantunya, tapi setelah selesai membantunya, saya malah merasa tidak ingin lagi kehilangannya." aku Andro.


"Bahkan ketika kami memutuskan untuk berpisah, saya tetap mengikutinya secara diam-diam." lanjutnya. Julia tersentak.


"Karena itu, saya tahu kalau teman kerja Julia menyukainya dan kakak tirinya berhasil menemukan tempat kerja Julia lalu membuat keonaran di sana, sayang saja saat itu saya terlambat datang sehingga saya tidak bisa menolong Julia lebih cepat." Andro mengungkapkan semua yang dilakukannya di belakang Julia dan Julia tidak menyangka dengan apa yang didengarnya itu.


"Kamu bersungguh-sungguh dengan ceritamu itu?" tanya Julia dengan suara berbisik. Andro menoleh ke arah Julia dan menganggukkan kepalanya.


"Kamu tidak pernah menceritakannya padaku!" protes Julia. Andro hanya tersenyum lembut.


"Jadi sebenarnya, semuanya ini adalah keputusanku bukan karena paksaan Julia!" tegas Andro.


"Lega mendengarnya!" ungkap bu Hendro tiba-tiba.


"Dari awal aku sudah mengira kalau kamu orang yang baik dan ternyata itu benar!" lanjutnya.

__ADS_1


"Aku sempat kecewa saat kamu menolak permintaanku mentah-mentah, tapi sekarang aku merasa sangat lega!" tambah bu Hendro. Bu Hendro menatap Andro dengan seksama.


"Julia, wanita yang sangat baik!" ungkap bu Hendro. Julia menundukkan kepalanya, matanya mulai terlihat berkaca-kaca


"Meskipun dia banyak menerima perlakuan buruk dari orang-orang di sekitarnya, tapi dia tidak pernah membalas keburukan itu, kalaupun dia melakukan sesuatu, dia hanya mencoba untuk melindungi dirinya!" lanjut bu Hendro. Julia menghela nafasnya perlahan.


"Tolong jaga dia dengan baik!" pinta bu Hendro. Andro menganggukkan kepalanya pelan.


"Kamu tidak akan menyesal menikah dengannya!" ucap bu Hendro dengan penuh keyakinan. Sesaat setelah mendengar ucapan bu Hendro itu, tangis Julia pun pecah, Andro langsung mendekapnya.


"Hei, ternyata kamu bisa menangis juga!" seru bu Hendro tak percaya.


"Ini pertama kalinya aku melihatmu menangis!" tambahnya.


"Ibuu!!" lirih Julia. Andro tersenyum lembut.


...


"Apa ini bu?" tanya Julia.


"Aku tidak memiliki apa-apa sebagai hadiah untuk pernikahan kalian, aku hanya memiliki ini." ucap bu Hendro. Julia membuka kotak itu dan ia sangat terkejut melihat isi kotak tersebut.


"I.. Ini..." ucapnya terbata-bata. Bu Hendro menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lembut. Julia mengeluarkan isi kotak itu dengan hati-hati.


Ternyata isi kotak itu adalah sebuah gaun pengantin sederhana berwarna putih gading, gaun itu terlihat masih terawat dan sangat cantik.


"Mungkin modelnya sudah jadul karena itu gaun yang kukenakan ketika aku menikah dengan pak Hendro dulu, tapi gaun itu masih kurawat dengan baik!" ungkap bu Hendro.


"Dulu, aku berencana untuk memberikan gaun itu untuk putri atau calon menantuku agar dia dapat mengenakannya di hari pernikahannya kelak dan ternyata Tuhan tidak mengijinkan aku untuk melahirkan seorang anak pun." lanjutnya.


"Sekarang, kuserahkan gaun ini kepadamu, Julia, karena kamu sudah kuanggap seperti anakku sendiri!" ucap bu Hendro.

__ADS_1


"Kuharap kamu mau mengenakannya di hari pernikahanmu!" tambahnya. Julia menganggukkan kepalanya dengan mata yang kembali terlihat berkaca-kaca.


"Aku akan mengenakannya di hari pernikahanku, bu! Aku pasti mengenakannya!" tegas Julia. Sambil memeluk gaun putih itu, tangis Julia kembali pecah. Bukannya ikut menangis karena tangisan Julia, tapi bu Hendro malah tertawa kecil.


"Setelah memiliki seorang pelindung, ternyata perasaanmu menjadi sensitif ya?!" ucapnya sambil menghampiri Julia. Bu Hendro mendekap Julia, perlahan tangannya membelai lembut rambut lurus Julia.


...


Pagi-pagi sekali Andro mengajak seluruh anggota genk motornya berkumpul di restoran tempat ia dan sepupunya yang bernama Kovu itu bertemu beberapa waktu yang lalu, restoran bekas tempat kerja Julia sebelumnya yang kini sudah berubah nama dan bentuk.


"Ada apa lo mengajak kami ke tempat ini, And?" tanya Dexter.


"Gue ingin mentraktir kalian di sini!" jawab Andro. Mendengar jawaban Andro itu, seketika anggota genk motornya itu bersorak senang.


"Lo serius, And?" tanya Tian tak percaya.


"Lo tahu kan kalau teman-teman lo ini semuanya sangat buas?" tambahnya. Andro tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya.


"Pesanlah makanan dan minuman yang kalian inginkan!" seru Andro. Mereka kembali bersorak dengan lebih keras lagi.


"Tapi ingat, jangan memesan minuman beralkohol karena restoran ini tidak menjualnya!" ucap Andro memperingatkan teman-temannya itu.


Hampir seluruh anggota genk motor itu sibuk memperhatikan menu makanan dan minuman yang tertera di buku menu, beberapa mulai menuliskan pesanan mereka di kertas pemesanan, tapi ada 1 yang terus memperhatikan Andro, yaitu Dexter.


"Apa terjadi sesuatu, And?" tanya Dexter dengan suara berbisik. Andro menoleh ke arah Dexter.


"Tidak, tidak ada apa-apa!" jawab Andro. Meskipun Andro sudah menjawab pertanyaannya itu, tapi Dexter masih terus menatapnya dengan tatapan curiga.


"Tidak biasanya lo banyak tersenyum seperti hari ini!" tukas Dexter. Andro tersentak, sejenak ia hanya menatap Dexter dengan seksama, tapi kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya ke anggota genk motor yang lain.


"Pesan saja dulu makanan dan minuman yang lo inginkan, gue akan menceritakannya nanti setelah kita semua selesai makan!" ucap Andro. Dexter menghela nafasnya, ia menangkap firasat yang tidak enak, seperti sesuatu yang buruk akan terjadi di antara mereka, tapi ia mengikuti apa yang diinginkan pimpinannya itu, Andro.

__ADS_1


...


__ADS_2