
Andro dan Julia kembali berjalan-jalan di pusat perbelanjaan itu setelah selesai makan siang. Ketika mereka melewati sebuah kios bridal, langkah kaki Julia terhenti.
"Kenapa?" tanya Andro.
"Kamu lihat gaun yang ada di manekin itu!" ucap Julia sambil menunjuk salah satu gaun yang dikenakan sebuah manekin di balik kaca. Andro memperhatikan gaun yang dimaksud oleh Julia.
"Kalau aku mengenakan gaun itu dan berdandan seperti pengantin biasanya, apa aku akan terlihat cantik?" tanya Julia. Andro menganggukkan kepalanya.
"Kamu mau mengenakan gaun itu?" tanya Andro. Julia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lembut.
"Aku bukan ingin memakainya, aku hanya ingin bilang..." ucap Julia pelan.
"Nanti, di upacara pernikahan kita, kamu bayangkan aku mengenakan gaun itu dan berdandan dengan cantik agar kamu tidak ragu ketika mengucapkan janji pernikahan!" lanjutnya. Andro menatap Julia dengan seksama. Julia tertawa kecil.
"Aku akan membelikannya untukmu!" ucap Andro.
"Tidak! Tidak! Aku tidak membutuhkan gaun itu!" tolak Julia.
"Gaun itu tidak penting untukku!" terangnya.
"Yang kubutuhkan adalah kamu! Yang terpenting adalah kamu yang mengucapkan janji pernikahan denganku!" tegas Julia. Andro menatap Julia dengan seksama. Julia meraih lengan Andro lalu memeluknya dengan erat.
...
Deska dan Silvia akhirnya berhasil mengucapkan janji pernikahan mereka, ibadah pernikahan mereka berjalan dengan lancar meskipun harus dilangsungkan dengan cepat karena mengantisipasi kekacauan yang akan ditimbulkan Fahri kalau mengetahui pernikahan adiknya dengan musuh besarnya itu. Andro menjadi wali untuk menggantikan orang tua Deska. Seluruh anggota genk motor Andro berkumpul untuk melakukan foto bersama dengan pengantin baru itu.
"Biar aku saja yang mengambil fotonya!" seru Julia.
"Tidak, nyonya besar!" tolak Tian.
"Kamu harus ikut foto bersama karena kamu pasangan pertama pimpinan kami!" terangnya.
"Tapi kalian harus berfoto dengan formasi lengkap!" tukas Julia.
"Kalian bergabunglah di sana, biar ibu yang mengambil foto kalian!" sambung ibu Linda tiba-tiba. Julia dan Tian tersentak.
"Cepatlah, sana!" seru ibu Linda sambil mendorong tubuh Tian dan Julia agar mereka segera bergabung dengan teman-teman yang lain. Akhirnya mereka semua berfoto bersama dengan bahagia, foto terakhir bersama dengan Deska, karena Deska dan Silvia akan pergi jauh dari kota itu.
Suasana pernikahan yang semula terasa penuh kebahagian mendadak berubah menjadi haru ketika tiba saatnya untuk Deska dan istrinya itu pergi. Julia memperhatikan seluruh anggota genk motor Andro itu, mereka benar-benar terlihat seperti sebuah keluarga, Julia pun ikut merasa haru dengan sikap mereka semua yang bersedih melepas kepergian salah satu teman mereka.
Andro memperhatikan semua teman-teman genk motornya yang melepaskan Deska untuk menjalani masa depan bersama istrinya, meskipun terlihat sedih karena perpisahan ini, tapi mereka juga berbahagia karena Deska menemukan kebahagiaannya yang sejati. Andro menghela nafasnya perlahan.
"Seperti apa ketika mereka harus melepasku nanti?" tanyanya dalam hati.
__ADS_1
"Kuharap mereka juga akan berbahagia untukku!" batin Andro.
...
Julia naik ke atas motor Andro dan duduk di kursi bagian belakang, perlahan kedua tangannya melingkar di pinggang Andro.
"Aku mau mengajakmu ke suatu tempat!" ungkap Andro.
"Ke mana?" tanya Julia.
"Nanti kamu akan tahu sendiri!" ucap Andro. Julia menganggukkan kepalanya.
Andro membawa Julia ke pinggir kota dan ia memberhentikan laju motor besarnya di depan sebuah gereja kecil. Bangunan gereja itu terlihat sudah tua dan usang.
"Mau apa kita ke sini?" tanya Julia.
"Menikah!" jawab Andro singkat.
"Jangan bercanda!" seru Julia sambil memukul punggung Andro. Jantungnya berdebar lebih cepat dari sebelumnya.
"Aku tidak pernah bercanda tentang pernikahan!" tukas Andro.
"Ayo turun!" ajak Andro. Andro membantu Julia turun dari motor besarnya.
"Permisi!" seru Andro sambil kembali mengetuk pintu utama gereja itu.
"Klek! Krieeet!" Akhirnya ada seseorang yang membukakan pintu itu, seorang pria tua dengan rambut yang sudah hampir memutih seluruhnya muncul dari balik pintu.
"Selamat malam!" sapa Andro pelan.
"Selamat malam, nak! Ada yang bisa saya bantu?" ucap pria itu ramah. Julia menatap Andro, ia menantikan kebenaran apakah Andro akan benar-benar mengajaknya menikah malam itu.
"Apa bapak pendeta di sini?" tanya Andro. Jantung Julia berdebar sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Pria tua itu memperhatikan Andro dan Julia dengan seksama.
"Ada perlu apa kalian, nak?" ucap pria tua itu balik bertanya, tanpa menjawab pertanyaan Andro sebelumnya.
"Kami ingin menikah di sini!" ungkap Andro to the point. Pria tua itu tampak terkejut, tidak hanya dia, Julia pun tersentak mendengar ucapan Andro itu. Debaran jantungnya bertambah cepat.
"Mari kita bicara di dalam!" ajak pria bertubuh kurus itu. Andro dan Julia mengikuti pria tua itu masuk ke dalam bangunan gereja yang terlihat tua tapi masih tampak terawat dengan baik. Mereka duduk di kursi dalam 1 meja.
"Bu, ada tamu!" seru pria tua itu.
"Tolong buatkan minuman!" tambahnya. Pria tua itu berbicara dengan seseorang yang berada di ruangan yang berbeda dengan mereka saat ini.
__ADS_1
"Saya pendeta di sini!" ungkap pria tua itu akhirnya. Julia melirik ke arah Andro, Andro menatap pria itu dengan tatapan serius.
"Kalian ingin menikah di sini?" tanya pendeta.
"Ya, pak pendeta!" jawab Andro tegas. Sikap tegas Andro itu membuat Julia berdebar-debar. Pendeta tua itu menatap kedua mata Andro dengan seksama.
"Aku tahu, kekasihmu ini sangat cantik untukmu, tapi apa yang membuatmu memilih untuk menikahinya?" tanya pendeta tua itu pada Andro. Pertanyaan yang dalam itu membuat dada Julia terasa sesak, tapi ia menantikan jawaban seperti apa yang akan diberikan Andro. Julia kembali melirik ke arah Andro, Andro terlihat sangat tenang. Seperti sadar kalau Julia sedang memperhatikannya, perlahan tangan Andro meraih tangan Julia dan menggenggamnya dengan erat.
"Saya ingin menjaga dan melindunginya!" jawab Andro. Pendeta itu tersentak.
"Melindunginya? Apa ada yang berbuat jahat padanya?" tanya pendeta itu. Andro menoleh ke arah Julia sejenak lalu kembali menatap pendeta yang ada di hadapannya.
"Ya, pak pendeta!" jawab Andro. Pendeta itu beralih memperhatikan Julia. Julia menundukkan kepalanya.
"Ada orang yang selalu mengusik hidupnya dan aku ingin melindunginya dari orang itu!" ungkap Andro. Pendeta itu menganggukkan kepalanya.
"Kamu harus melindunginya karena kamu mencintainya atau kamu mencintainya karena harus melindunginya?" tanya pendeta tua itu. Andro tersentak, ia tidak begitu mengerti maksud pertanyaan pendeta tua itu, ia terdiam karena takut memberikan jawaban yang salah.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya datang menghampiri mereka bertiga membawa 3 cangkir teh hangat untuk mereka.
"Silahkan di minum, nak!" ucap wanita itu ramah. Wanita tua yang merupakan istri dari pendeta tua itu duduk di samping suaminya.
"Perkenalkan, ini istriku!" ucap pendeta tua itu memperkenalkan istrinya. Andro dan Julia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum untuk menyapa istri dari pendeta tua itu.
"Umur pernikahan kami sudah 30 tahun lebih." ungkap pendeta tua itu.
"Saat menikah dulu, mungkin aku masih seumuran denganmu!" akunya sambil menunjuk ke arah Andro.
"Ketika kami menikah, kami sangat bahagia karena bisa menikahi orang yang kami cintai." lanjut pendeta.
"Tapi, ternyata cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah pernikahan!" tambahnya. Julia menatap pendeta itu dengan seksama.
"Cinta itu penting untuk dasar dari sebuah pernikahan, tapi bukan hanya cinta yang dibutuhkan." tegas pendeta. Istri pendeta itu menganggukkan kepalanya, ia menatap Julia dan tersenyum lembut.
"Perasaan manusia itu berbahaya!" ungkap pendeta tua itu.
"Aku bilang berbahaya karena perasaan itu bisa berubah sewaktu-waktu." terangnya.
"Kalau berubah menjadi lebih besar itu sangat baik, tapi bagaimana kalau perasaan itu memudar?" tanya pendeta tua itu. Andro dan Julia terdiam.
"Contoh sederhananya seperti ini..." ucap pendeta itu.
...
__ADS_1