
Andro merebahkan tubuh di ranjangnya, setelah sekian lama akhirnya punggungnya bisa kembali menyentuh ranjang yang empuk itu, sementara itu Julia duduk membelakangi Andro di salah satu sisi ranjang. Julia terlihat sedikit canggung dan Andro menyadari hal itu, sambil bangkit dari ranjangnya, ia berkata:
"Tidurlah, aku akan tidur di sofa!"
Julia tersentak, ia tidak menyangka kalau Andro menyadari kecanggungannya itu. Julia membalikkan tubuhnya ke arah Andro.
"Tidak! Tidak perlu, kak!" serunya.
"Tidurlah di ranjang!" lanjut Julia.
"Tidak apa-apa, aku akan tidur di ranjang kalau kamu sudah siap." ucap Andro sambil duduk di sofanya itu.
Julia terdiam sejenak dan hanya terus memandangi Andro hingga membuat Andro kebingungan.
"Ada apa?" tanya Andro. Julia masih saja diam, tapi sesaat kemudian ia menundukkan kepalanya, matanya tampak berkaca-kaca.
"Maafkan aku!" ucap Julia pelan.
"Aku tahu ini bukan pertama kalinya untukku tapi... aku merasa takut!" ungkap Julia. Suaranya terdengar bergetar.
"Kamu takut padaku?" tanya Andro.
"Tidak! Aku bukan takut padamu, sungguh! Aku bukan takut padamu, tapi..." jawab Julia.
"Aku teringat dengan kejadian di masa lalu!" akunya.
"Maaf!" ucap Julia. Andro kembali menghampiri Julia dan duduk di sisi ranjang yang sama dengan Julia.
"Berhentilah mengingat hal itu!" pintanya.
"Sekarang bukan hanya kamu yang terluka karena peristiwa itu, tetapi aku juga!" lanjut Andro. Julia mengangkat kepalanya dan menatap Andro, Andro pun menatap Julia.
"Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu lagi!" tegas Andro. Air mata Julia mengalir perlahan ke pipinya.
"Sekarang, kamu hanya perlu mengingat semua yang kita lakukan bersama! Kamu tidak perlu mengingat lagi masa lalumu itu!" ucap Andro.
"Apa setelah ini, hidup kita akan berjalan dengan baik? Apa setelah ini tidak akan ada orang jahat yang mengusik kita lagi?" tanya Julia. Andro menggeleng pelan.
"Aku tidak bisa memastikan itu." ucapnya.
"Tapi kupastikan kalau aku akan selalu melindungimu dan berusaha sekuat tenaga agar kehidupan kita bisa lebih baik dari saat ini!" janji Andro.
"Terima kasih..... suamiku!" ucap Julia pelan sambil memeluk tubuh Andro dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.
...
Nyonya Miranda memanggil ketiga pengawal yang selama ini diperintahkannya untuk memata-matai putra bungsunya, Andro. Ketiga pria bertubuh tegap itu datang menghampirinya di ruang kerjanya.
"Selamat siang, nyonya!" sapa mereka. Nyonya Miranda tidak menjawab sapaan pesuruhnya itu.
__ADS_1
"Kalian bilang ada berita penting tentang putra kesayanganku?" tanyanya to the point. Ketiga pengawal itu saling bertukar pandang satu sama lain.
"Ya, nyonya!" jawab salah satunya.
"Cepat katakan padaku!" seru nyonya Miranda.
"Tuan Andro telah melangsungkan pernikahannya di sebuah gereja kecil, nyonya!" ungkap pengawal berkepala botak. Mendengar perkataan salah satu pengawalnya itu, nyonya Miranda sangat terkejut.
"Pernikahan?" ucapnya tak percaya.
"Ya, nyonya!" sahut pengawal lainnya sambil menunjukkan sebuah foto yang pada layarnya menampilkan foto Andro yang sedang melaksanakan pernikahan sederhananya. Nyonya Miranda memeriksa semua foto-foto itu dengan seksama untuk memastikan kebenaran dari berita pernikahan putra kesayangannya itu.
"Tidak mungkin!" Nyonya Miranda terus mengulang kata-kata itu, ia tidak bisa percaya kalau Andro sudah menikah tanpa restu darinya.
"Ini wanita yang dinikahinya?" tanya nyonya Miranda. Para pengawal menganggukkan kepalanya.
"Apa putraku sudah gila sampai menikahi wanita seperti ini?!" seru nyonya Miranda tak terima.
"Kalian punya informasi tentang wanita ini?" tanya nyonya Miranda.
"Dari mana asalnya? Dan bagaimana keluarganya?" tambahnya.
"Kami tidak berhasil menemukan latar belakang keluarganya, nyonya!" jawab salah satu pengawal yang memiliki rambut ikal.
"Dari pemantauan kami selama ini, wanita itu hidup seorang diri, dia terlihat seperti sebatang kara." lanjut pengawal itu.
"Tapi belakangan, ada seorang pria yang sesekali datang kepadanya." ungkapnya.
"Jadi, selain dengan putraku, wanita itu juga bermain dengan pria lain?!" terkanya.
"Kami belum tahu pasti hubungan istri tuan Andro dengan pria itu, tapi pria itu pernah melakukan kekerasan pada wanita itu dan tuan Andro pernah terlibat perkelahian dengan pria itu untuk membela istrinya tersebut." ungkap pengawal berkepala botak.
"Wanita itu pasti pandai memanipulasi keadaan sehingga putraku yang naif bisa dengan mudah jatuh cinta padanya." ucap nyonya Miranda, ia terlihat sangat kesal.
"Tuan Andro sempat terkena sabetan pisau saat itu, nyonya!" ucap pengawal berkepala botak. Ucapan pengawal itu membuat majikannya sangat terkejut dan emosinya meningkat.
"Aku merawat putraku dari bayi hingga dewasa dengan sangat baik, tapi wanita itu dengan mudahnya membuat putra kebangganku terluka?!" seru nyonya Miranda marah, ia bangkit dari tempat duduknya.
"Aku harus bicara dengan putraku!" ucapnya.
"Aku harus menyadarkannya!" tambah nyonya Miranda.
"Tapi nyonya, tuan Andro tidak pernah mau kita menemuinya!" tukas pengawal berambut ikal.
"Aku ibunya! Aku yang melahirkannya! Dia harus mau bertemu denganku!" seru nyonya Miranda.
"Tapi nyonya..."
"Kalau dia tidak mau menemuiku, aku akan menemui wanita rendahan itu!" potong nyonya Miranda. Semuanya terdiam, nyonya Miranda langsung menginstruksikan supir pribadinya untuk menyiapkan mobil agar ia bisa segera menemui putra kesayangannya itu.
__ADS_1
...
Julia selesai membeli bahan makanan dan beberapa barang yang dibutuhkan di apartemennya, siang ini Julia tidak ditemani Andro karena suaminya itu bilang kalau ia harus bekerja. Ketika hendak menuju lift apartemennya, dari kejauhan Julia melihat beberapa orang yang sedang mengantri untuk bisa menggunakan lift, karena malas menunggu, akhirnya ia mencoba menuju unit apartemennya dengan menggunakan tangga.
Julia menaiki setiap anak tangga dengan perlahan-lahan karena barang bawaannya cukup banyak. Ketika ia tiba di lantai ketiga, tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki seseorang yang berlari menuju ke arahnya, entah mengapa suara langkah kaki yang cepat itu membuat jantung Julia berdebar dengan lebih kencang dari sebelumnya, ia merasa seperti menangkap sebuah firasat buruk. Julia menoleh ke arah sumber suara itu dan ternyata firasat buruknya itu terjadi.
"Sudah kuduga, kamu tidak akan mungkin bisa menaiki tangga dengan cepat!" ucap si pemilik suara langkah kaki itu, yang ternyata adalah Denis. Julia terdiam terpaku, kakinya yang lelah karena menaiki tangga, kini terasa kaku setelah melihat sosok kakak tirinya yang kejam itu berdiri di hadapannya.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, adik kesayanganku!" sapa Denis.
"Mau apa kamu?" tanya Julia ketus.
"Aku hanya ingin menemuimu karena aku sangat merindukanmu!" jawab Denis santai. Julia terdiam. Denis melangkah perlahan menghampiri Julia, tapi seperti biasa, Julia menjaga jaraknya dengan Denis, ia tidak mau Denis menangkapnya.
"Jangan kabur lagi, adikku sayang!" ucap Denis dengan nada bicara menggoda.
"Ayo kita hidup bersama seperti dulu!" lanjutnya.
"Berhenti mengikutiku atau aku akan menelepon suamiku!" ancam Julia. Denis terkejut mendengar ucapan Julia barusan.
"Suami?" gumamnya. Julia mengeluarkan ponselnya.
"Pergi dari sini atau aku akan menelepon suamiku!" ancam Julia lagi.
"Kamu sudah menikah dengan bocah tengik itu, Julia?" tanya Denis.
"Namanya Andro dan dia bukan bocah tengik!" jawab Julia tegas.
Jantung Julia berdebar dengan sangat kencang ketika ia menyadari kalau ekspresi wajah kakak tirinya itu berubah, Denis terlihat sangat mengerikan.
"Siapa yang mengijinkanmu menikah?" tanya Denis pelan. Julia mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti mengapa Denis melemparkan pertanyaan seperti itu.
"Kamu tidak boleh menikah dengan siapapun!" seru Denis dengan suara keras. Julia terkejut mendengar suara keras Denis, tapi ia berusaha untuk tidak terlihat takut di hadapan Denis.
"Aku bisa menikah dengan siapa saja!" ucap Julia pelan.
"Aku bebas menikah dengan siapa saja, sesuai dengan keinginanku!" tegas Julia. Ucapan Julia itu memancing amarah Denis.
"Aku yang berhak menentukan hidupmu!" seru Denis marah, ia melompat ke arah Julia dan hendak menangkap Julia tapi beruntung, Julia bisa lebih dulu menghindar, ia berlari menaiki anak tangga dengan secepat yang ia bisa.
Julia berharap ia bisa segera mencapai lantai 7 dan masuk ke dalam tempat tinggalnya, tapi karena ia terlalu terburu-buru, kakinya salah melangkah dan membuatnya terjatuh. Tubuhnya terbentur dinding dan kepalanya pun nyaris terantuk anak tangga. Tubuh Julia terasa sangat sakit. Denis memanfaatkan peristiwa itu untuk menangkap Julia. Denis membuat tubuh Julia terlentang dan menahan tubuh kurus itu dengan tubuh besarnya.
"Tolong! Toloooong!" jerit Julia sambil memukuli tubuh Denis dengan seikat bayam yang ia beli sebelumnya.
"Lepaskan aku! Aku akan menelepon suamiku kalau kamu seperti ini! Dia akan menghajarmu sampai mati!" seru Julia.
"Telepon saja dia, Julia! Aku tidak takut padanya!" tukas Denis.
"Telepon saja kalau kamu bisa!" tantangnya.
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian lakukan?!" Tiba-tiba seseorang membuka pintu dari lantai 6 dan terkejut melihat tubuh Denis yang berada di atas tubuh Julia.
...