
"Kalau begitu, ayo kita menikah!" ucap Andro tegas. Julia tersentak.
"Menikah itu hal yang sakral, kak! Jangan bercanda tentang hal itu!" tukas Julia.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" tanya Andro. Julia menatap kedua mata Andro dan ia menyadari kalau Andro tidak sedang bercanda, Andro memang tidak pernah bercanda tentang hal-hal yang serius seperti ini.
"Aku sudah berjanji akan bertanggung jawab dengan hidupmu dan sekarang aku akan membuktikannya!" tegas Andro. Ucapan Andro itu membuat jantung Julia berdebar dengan sangat kencang.
"Apa kamu yakin dengan ucapanmu itu, kak?" tanya Julia tak percaya.
"Apa aku terlihat ragu?" ucap Andro balik bertanya. Julia terdiam sejenak.
"Tadi kamu bilang kalau kamu belum pernah sekalipun tidur dengan seorang wanita, tapi bagaimana dengan aku?" ucap Julia pelan.
"Kamu tidak akan jadi yang pertama tidur denganku!" ungkapnya dengan suara bergetar.
"Bukan hanya satu tapi dua orang yang sudah merasakan tubuhku!" tukas Julia. Air matanya nyaris saja mengalir.
"Apa kamu melakukan hal itu karena kamu ingin?" tanya Andro. Julia terdiam.
"Aku tidak peduli dengan masa lalumu yang buruk itu, Julia!" seru Andro.
"Aku hanya ingin melihat dan menjalani masa depan denganmu!" akunya. Julia sangat tersentuh dengan ucapan Andro itu, tapi sulit baginya mempercayai hal yang begitu indah setelah apa yang dialaminya selama ini.
"Bagaimana dengan keluargamu?" tanya Julia. Andro tersentak.
"Kamu mungkin bisa menerimaku, tapi bagaimana dengan keluargamu? Apa mereka bisa menerimaku?" cecar Julia. Andro menghela nafasnya.
"Aku tidak memiliki keluarga!" jawab Andro. Julia terkejut mendengar jawaban Andro itu.
"Orang tuaku sudah meninggal!" aku Andro.
"Kita sama, Julia!" ucap Andro.
"Kita sama-sama tidak memiliki keluarga!" tegasnya.
"Ma.. Maafkan aku! Aku tidak tahu tentang hal itu!" ucap Julia. Andro menggelengkan kepalanya.
"Yang terpenting sekarang kamu tahu, aku hanya memilikimu!" aku Andro. Andro membalikkan tubuhnya membelakangi Julia, ia pasrah, kalau kali ini Julia masih menolaknya, ia akan melepaskannya, tapi...
"Dan aku hanya memilikimu!" ucap Julia sambil memeluk Andro dari belakang.
"Ayo kita menikah!" ajak Julia.
__ADS_1
...
Denis masih terus memata-matai Julia dan Andro, ia bahkan rela menyewa sebuah rumah sewa yang berada di lingkungan yang sama dengan tempat tinggal mereka itu.
"Gue harus menemukan apa kelemahan bocah tengik itu!" gumam Denis pelan. Ketika ia sedang sibuk berpikir, tiba-tiba di kejauhan matanya menangkap sosok Andro yang pergi dengan motornya tanpa Julia. Denis memberhentikan taxi yang melintas di dekatnya dan menyuruh supirnya untuk mengikuti Andro dari kejauhan. Kali ini Denis tidak mencoba menghampiri Julia di saat Andro pergi, tapi ia memilih untuk mengikuti Andro untuk menemukan kelemahan yang mungkin bisa digunakan untuk menjatuhkan Andro.
...
Andro mendampingi Deska bertemu dengan ibu dari kekasihnya untuk menyampaikan niat Deska yang ingin menikahi kekasihnya itu. Ketika hendak memasuki restoran tempat pertemuan, tiba-tiba mata Andro tertuju dengan toko yang menjual perhiasan emas. Andro melirik jam tangannya, masih ada waktu 15 menit sebelum waktu pertemuan itu.
"Gue ingin ke sana sebentar!" ucap Andro pada Deska sambil menunjuk ke arah toko perhiasan itu. Deska mengerutkan keningnya.
"Lo mau ke toko perhiasan, And?" tanya Deska tak percaya. Andro menganggukkan kepalanya.
"Lo mau apa And?" tanya Deska bingung. Andro hanya tersenyum dan berlalu dari hadapan Deska menuju toko perhiasan itu.
"And, lo belum menjawab pertanyaan gue!" seru Deska sambil berlari mengejar Andro.
Andro masuk ke dalam toko perhiasan itu, di belakangnya Deska mengikutinya. Andro mulai melihat-lihat cincin emas yang ada di sana.
"Lo mau beli cincin, And?" terka Deska, lagi-lagi Andro hanya tersenyum.
"Saya mau lihat yang ini!" ucap Andro pada pelayan toko.
"Gue juga mau menikah!" ucap Andro akhirnya. Jawaban Andro itu membuat Deska sangat terkejut.
"Serius?" tanya Deska tak percaya. Andro tidak menanggapi, ia sibuk memperhatikan cincin yang ia tunjuk tadi.
"Siapa wanita itu?" tanya Deska. Andro hanya menanggapi dengan senyumannya.
"Hei, And!" tegur Deska.
"Akan gue perkenalkan nanti!" sahut Andro.
"Saya beli yang ini! Tolong dibungkus dengan baik!" pinta Andro pada pelayan toko. Deska memperhatikan Andro dengan seksama.
"Gue benar-benar penasaran, wanita hebat mana yang bisa meluluhkan hati yang dingin ini!" ucap Deska sambil menunjuk ke dada Andro.
"Di mana lo mengenalnya? Sudah sejak kapan kalian berkenalan? Mengapa lo tidak pernah menceritakannya pada kami?" cecar Deska. Andro melirik ke arah Deska.
"Ada saatnya nanti gue menjelaskannya pada kalian semua!" tukas Andro. Deska menghela nafasnya.
"Wanita itu benar-benar beruntung bisa mendapatkan pasangan seperti lo!" puji Deska.
__ADS_1
"Kami sama-sama beruntung karena bisa bertemu!" ucap Andro pelan.
...
Andro dan Deska duduk berdampingan di hadapan kekasih Deska dan ibunya. Benar perkataan Deska, ibu kekasihnya itu terlihat bisa menerima Deska dan berharap pada Deska untuk bisa membawa putrinya pada kehidupan yang lebih baik.
"Saya sebagai keluarga dari Deska mewakili orang tuanya yang sudah lama meninggal, untuk menyampaikan niat baik dari Deska yang ingin menikahi putri ibu, Silvia!" ungkap Andro.
"Deska sungguh-sungguh ingin menikahi Via?" tanya ibu Linda, ibu dari Silvia, kekasih Deska.
"Ya, bu! Deska menyayangi Via dan berharap Via bisa menjadi pendamping hidup Deska." aku Deska. Ibu Linda memperhatikan Deska dan Andro secara bergantian.
"Ibu sangat bahagia mendengarnya!" ungkap ibu Linda.
"Tapi Deska tahu kalau kakaknya Via tidak suka dengan Deska bukan?" tanyanya. Deska menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana dengan hal itu?" tanya ibu Linda.
"Sebenarnya kami mengundang ibu di sini untuk membicarakan hal itu." ucap Andro. Deska menganggukkan kepalanya.
"Pertama-tama, kami ingin meminta restu dari ibu sebagai orang tua satu-satunya dari Via." ungkap Andro.
"Ibu merestui kalian berdua, nak! Ibu hanya minta jangan menyakiti Via, Via sudah tidak memiliki ayah lagi, tidak ada yang melindunginya lagi, jadi ibu mohon Deska tidak menyakiti Via!" pinta ibu Linda, ia meraih kedua tangan Deska dan menepuk-nepuknya dengan lembut. Deska menganggukkan kepalanya.
"Deska berjanji tidak akan menyakiti Via, bu!" janji Deska.
"Karena kakak Via tidak menyetujui hubungan Deska dengan Via, maka Deska berencana untuk membawa Via ke tempat yang jauh setelah menikah agar kakaknya Via tidak bisa menemui mereka." ungkap Andro. Andro sangat berhati-hati mengungkapkan hal itu agar ibu Linda tidak salah paham.
"Deska tidak akan membatasi komunikasi antara Via dan ibu, tapi mungkin ibu dan Via akan jarang bisa bertemu." lanjutnya. Ibu Linda menatap Andro dengan seksama.
"Untuk saat ini, hanya itu solusi yang bisa kami pikirkan. Bagaimana menurut ibu?" tanya Andro. Ibu Linda terdiam sejenak.
"Ibu setuju! Bawalah Via sejauh mungkin!" ucap ibu Linda akhirnya.
"Ibu...." lirih Silvia.
"Asalkan Via bahagia, ibu akan bahagia!" ungkap ibu Linda, suaranya terdengar bergetar. Andro menghela nafas lega.
"Terima kasih, ibu!" seru Deska, ia terlihat sangat terharu.
"BRAAKK!!!" Tiba-tiba saja terdengar suara barang dibanting dengan keras ke lantai. Andro dan seisi restoran yang saat itu tidak terlalu ramai terkejut.
...
__ADS_1