UNBREAKABLE RIDE

UNBREAKABLE RIDE
BAB 18


__ADS_3

Denis mengikuti Andro menemui temannya dan bersama temannya masuk ke dalam sebuah restoran, ia pun mengikuti mereka hingga masuk ke dalam restoran dan duduk di salah satu sudut restoran yang tidak terlihat oleh Andro dan temannya itu.


"Apa yang dilakukannya di sini.... tanpa Julia?" tanya Denis dalam hati. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik Andro dan temannya, tak lama kemudian datang seorang gadis muda bersama seorang wanita paruh baya dan duduk di hadapan Andro serta temannya itu.


"Siapa wanita muda itu? Apa dia mempunyai wanita lain selain Julia?" batin Denis.


"BRAAK!!" Denis terkejut ketika tiba-tiba saja gerombolan pria muda masuk ke dalam restoran, salah satu di antar gerombolan pria itu melemparkan sebuah kursi kayu dan jatuh di dekat Andro.


"Ah! Ini yang kutunggu sedari tadi!" gumam Denis pelan. Tak lama setelah itu perkelahian antara Andro dengan gerombolan pria itu terjadi, dalam sekejap mereka membuat restoran itu berantakan dan para pengunjung yang berada di dekat mereka berlarian menyelamatkan diri. Dari kejauhan, Denis tersenyum sinis, ia sangat beruntung, setelah berhari-hari mengintai Andro, akhirnya ia menemukan lawan yang seimbang dengan Andro.


...


"Bangunlah, kita menjadi perhatian orang-orang di sini!" bisik Andro. Julia melirik ke arah orang-orang di sekitarnya dan benar perkataan Andro, hampir semua mata yang ada di tempat itu menatap mereka. Julia bangkit dari tempatnya dan duduk di kursi yang berada di sebelah Andro.


"Apa kamu membuat keributan?" tanya Julia. Andro menggeleng.


"Aku tidak membuat keributan, aku tidak pernah membuat keributan!" bantah Andro.


"Lalu kenapa kamu bisa ditangkap polisi?" tanya Julia lagi.


"Aku tidak di tangkap, aku hanya sedang di mintai keterangan." terang Andro. Julia terdiam dan hanya memandangi Andro seakan ia tidak percaya dengan apa yang Andro katakan.


"Kami benar-benar tidak membuat keributan, nona!" sambung Deska yang sedari tadi memperhatikan Julia dan Andro. Julia terkejut mendengar penjelasan Deska karena ia tidak mengenal Deska.


"Andro menemaniku melamar kekasihku, tapi tiba-tiba saja gerombolan preman itu menyerang kami." lanjut Deska.


"Kami tidak membuat keributan, kami hanya membela diri." tambahnya. Julia menyimak penjelasan Deska dengan seksama.


"Kamu siapa?" tanya Julia sesaat setelah Deska selesai menjelaskan.


"Ah! Perkenalkan, ini temanku!" sambar Andro.


"Deska!" ucap Deska sambil mengulurkan tangannya untuk mengajak Julia bersalaman. Julia menyambut uluran tangan itu.


"Julia!" ucapnya memperkenalkan diri, ia memperhatikan Deska yang wajahnya juga dipenuhi luka lebam dan beberapa luka berdarah.


"Maaf nona Julia, tapi kamu menggunakan sandal yang berbeda!" tegur Deska. Julia mengalihkan pandangan ke arah kakinya dan ternyata ia memakai sandal yang berbeda antara sebelah kiri dan kanannya.


"Eh!"


Andro dan Deska menahan tawa mereka.

__ADS_1


"Kalau polisi sudah selesai melakukan pemeriksaan, ayo kita segera pulang!" ucap Andro. Julia menganggukkan kepalanya sambil menarik kakinya masuk ke bawah kursi agar sandalnya tidak menjadi perhatian orang-orang.


Tak lama kemudian polisi yang menangani kasus di restoran tersebut datang menghampiri Andro.


"Kami sudah selesai menyelidikinya, kalian sudah diperkenankan untuk pulang!" ucap polisi itu.


"Mereka tidak bersalah kan, pak?" tanya Julia polos. Polisi itu menggeleng pelan.


"Bukan mereka yang mengawali keributan!" jawabnya.


"Tapi pesan saya, di lain kesempatan lebih baik kalian menghindari keributan karena akan membahayakan diri kalian masing-masing dan juga orang lain yang berada di sekitar kalian!" saran polisi tersebut. Andro dan Deska menganggukkan kepala mereka.


...


Julia dan Andro sudah kembali ke apartemen tempat mereka tinggal. Andro membersihkan wajahnya yang terluka dengan air.


"Sini kak, kubantu mengobati lukamu!" ucap Julia. Andro duduk di hadapan Julia.


"Ada yang ingin kuberikan padamu!" kata Andro sesaat sebelum Julia mengoleskan obat ke luka-lukanya. Julia menatapnya dengan seksama. Andro mengeluarkan kotak cincin yang berisi sepasang cincin untuk pernikahan mereka nanti.


"Ini!" ucapnya sambil menyerahkan kotak cincin itu kepada Julia. Julia menerimanya dan sejenak ia hanya memandangi kotak berwarna merah itu.


"Terima kasih, kak!" ucap Julia pelan. Andro tersentak.


"Aku tidak pernah bermain-main dengan janji!" tegas Andro. Julia tersenyum lembut.


Perlahan Julia mulai mengoleskan obat pada luka-luka Andro. Sesekali Andro mengerang kesakitan karena merasakan perih di lukanya karena obat itu. Julia memperhatikan luka-luka itu dengan seksama.


"Kak...." panggilnya pelan.


"Hmm!" sahut Andro.


"Ketika aku mengetahui kamu berada di kantor polisi tadi, aku sangat ketakutan!" ungkap Julia.


"Maafkan aku sudah membuatmu takut!" ucap Andro. Julia mengalihkan pandangannya ke kedua mata Andro, sejenak ia hanya memandangi kedua mata itu tanpa berkata apa-apa.


"Aku tidak menyangka akan mencintaimu seperti ini!" ungkap Julia lagi. Andro tersenyum lembut.


"Terima kasih sudah mencintaiku seperti ini!" ucapnya penuh rasa syukur.


"Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Julia pelan. Andro terdiam sejenak.

__ADS_1


"Apa itu?" ucapnya balik bertanya. Julia menghela nafasnya perlahan.


"Bisakah kamu keluar dari genk motormu itu?" pinta Julia. Andro tersentak mendengar permintaan Julia.


"Bukan kami yang membuat keributan itu, Julia!" terang Andro.


"Kami tidak pernah memulai keributan lebih dulu!" lanjutnya.


"Kalaupun kami berkelahi, pasti karena lawan kami yang lebih dulu memulai keributan." tambah Andro.


"Tetap saja pada akhirnya kamu akan terlibat dengan perkelahian!" tukas Julia. Andro terdiam, ia menatap Julia dengan seksama, begitu juga dengan Julia. Jantung Andro berdetak dengan cepat.


"Seperti sekarang, kamu harus mengalami luka seperti ini padahal kamu tidak melakukan apa-apa!" tambah Julia.


"Mereka sudah seperti keluargaku sendiri." ungkap Andro.


"Di saat aku terpuruk, mereka yang membuatku bisa bertahan." tambahnya.


"Aku tidak memintamu untuk meninggalkan mereka, kak!" ucap Julia.


"Aku hanya memintamu untuk tidak lagi menjadi anggota genk motor dan terlibat dalam perkelahian antar genk motor seperti ini!" terangnya. Andro terdiam, perasaannya bercampur aduk.


"Aku ingin setelah menikah kita bisa hidup tenang tanpa ada lagi keributan-keributan, dengan Denis ataupun musuh-musuhmu!" ungkap Julia. Julia mengusap wajah Andro dengan lembut.


"Aku ingin hidup normal dengan keluarga kecilku!" lanjutnya.


"Aku bahkan berpikir untuk pindah ke tempat di mana tidak ada orang yang mengenal kita untuk memulai hidup yang baru." tambah Julia. Andro tidak mampu berkata-kata, ia hanya terus memandangi Julia dan perlahan menghela nafasnya.


"Berikan aku waktu untuk menyelesaikan tanggung jawabku pada mereka!" pinta Andro.


"Tanggung jawabmu?" gumam Julia pelan.


"Aku yang mengajak mereka untuk bisa hidup lebih baik dari sebelumnya dengan tidak melakukan tindakan kriminal." ungkap Andro.


"Tapi kini aku akan meninggalkan mereka." lanjutnya. Suaranya terdengar berat dan bergetar. Terlihat sekali kalau Andro sangat berat untuk meninggalkan anggota genk motornya itu.


"Setidaknya, sebelum aku pergi, aku mempersiapkan mereka agar mereka tidak kembali ke masa lalu yang kelam itu." terang Andro.


"Aku juga harus menikahkan Deska sebelum pergi." tambahnya. Andro menundukkan kepalanya sejenak.


"Berikan aku waktu sampai tiba saatnya kita menikah!" pinta Andro. Ia kembali mengangkat kepalanya dan menatap Julia dengan seksama.

__ADS_1


...


__ADS_2