UNBREAKABLE RIDE

UNBREAKABLE RIDE
BAB 17


__ADS_3

"BRAAAK!"


Sebuah kursi kayu melayang dan jatuh ke lantai, di dekat meja Andro. Andro dan seisi restoran terkejut, semuanya menoleh ke arah orang yang melemparkan kursi itu.


"Kak Fahri!" seru Silvia. Ternyata Fahri, kakak dari Silvia-lah yang melemparkan kursi kayu itu, ia tampak sangat marah melihat ibu dan adiknya menemui musuhnya, Andro dan Deska. Di belakang Fahri, Willy berdiri sambil melemparkan senyuman sinis ke arah Andro.


"Apa-apaan ini?" teriak Fahri. Teriakan Fahri itu membuat para pengunjung restoran ketakutan.


Fahri berjalan cepat ke arah mereka dan langsung menarik tangan adiknya itu dengan kasar.


"Sakit, kak!" jerit Silvia.


"Fahri, hentikan!" seru ibu Linda. Ibu Linda menarik tangan Silvia yang lainnya untuk mencegah Fahri membawa Silvia pergi.


"Lepaskan dia!" ucap Deska, ia menghempaskan tangan Fahri dari tangan Silvia. Fahri sangat marah dengan sikap Deska itu, ia langsung melayangkan pukulan keras ke pipi Deska hingga membuat Deska jatuh tersungkur di lantai restoran. Para pengunjung restoran yang berada di dekat mereka berlarian menjauh dari mereka.


Melihat anak buahnya dibuat jatuh tersungkur, Andro langsung melompat dari tempat duduknya dan menarik Fahri yang hendak memberikan pukulan ke 2 untuk Deska. Andro mencengkram kerah kaus yang dikenakan Fahri.


"Kita boleh bermusuhan, tapi jangan berkelahi di depan orang tua lo!" ucap Andro dengan suara berbisik.


"Hormati ibu lo!" tambahnya. Fahri menghela nafasnya dengan kasar.


"Cuh!" Fahri meludahi wajah Andro. Perlakuan Fahri pada Andro itu membuat Willy tertawa terbahak-bahak, ia merasa sangat puas melihat Andro mendapat penghinaan dari anak buahnya itu.


Andro membersihkan ludah Fahri dari wajahnya dengan lengan kemejanya. Andro sangat marah dengan penghinaan itu, tapi ia mencoba menahan amarahnya di depan ibu Linda dan Silvia.


"Kamu sudah keterlaluan, Fahri!" tegur ibu Linda.


"Biarkan adikmu bahagia!" serunya. Ibu Linda mulai meneteskan air matanya.


"Aku akan membiarkan Via menikah, tapi tidak dengan pria brengsek ini!" seru Fahri.


"Aku mencintainya, kak!" aku Silvia.


"Cinta?! Cih!" umpat Fahri.


"Ayo pergi dari sini!" Sekali lagi, Fahri menarik tangan Silvia yang berada di dekat Deska.


"Sakit, kak!" erang Silvia.


"Via tidak mau pergi dengan kak Fahri! Via mau di sini sama kak Deska!" serunya. Ucapan Silvia itu membuat Fahri naik pitam, ia menyeret Silvia dengan kasar agar menjauh dari Deska. Andro geram melihat perlakuan kasar Fahri itu pada adik perempuannya, ia menarik Fahri dan mendorong tubuh Fahri hingga tersungkur ke lantai.


"Kalau lo tidak bisa menghargai ibu dan adik lo sendiri, gue juga tidak akan menghargai lo lagi!" seru Andro keras.


"Jangan ikut campur dengan urusan keluarga orang lain!" seru Willy dari kejauhan. Willy dan kawanannya berjalan perlahan mendekati Andro.


"Ini bukan urusan lo, tapi kalau lo memaksa untuk ikut campur, gue dan teman-teman gue juga terpaksa ikut campur!" lanjutnya. Andro menatap tajam ke arah Willy dan kawanannya itu.

__ADS_1


"Via, bawalah ibumu pulang!" ucap Andro.


"Aku dan Deska akan menghubungimu lagi nanti!" lanjutnya.


"Ta.. Tapi bagaimana dengan kalian?" tanya Via.


"Kami sudah biasa seperti ini, kami akan menyelesaikannya!" jawab Andro. Silvia bergegas membawa ibunya pergi dari restoran itu.


"Jadi, lo mau menyelesaikan masalah ini dengan cara apa?" tantang Willy.


"Rupanya lo belum kapok dengan perkelahian terakhir kita!" ucap Andro. Willy tersenyum sinis.


"Kapok?" gumamnya.


"Saat itu kalian bertindak curang makanya gue bisa kalah!" tukas Willy.


"Tapi kali ini tidak!" serunya. Willy berlari cepat ke arah Andro dan hendak memberikan sebuah tinjuan ke wajah Andro tapi Andro berhasil mengelak hingga membuat Willy tersungkur ke salah satu meja restoran. Willy sangat kesal karena tidak berhasil meninju Andro, tapi tiba-tiba matanya tertuju pada garpu yang ada di meja tersebut, tanpa sepengetahuan Andro, ia mengambil garpu itu dan dengan cepat ia menyerang Andro menggunakan garpu. Willy berhasil melukai wajah Andro dengan garpu tersebut.


Serangan garpu itu membangkitkan amarah Andro. Andro menyerang balik Willy, ia menarik tubuh Willy dengan kasar dan membantingnya ke meja lain yang ada di restoran itu. Kawanan Willy, termasuk Fahri yang melihat pimpinan mereka di serang langsung menyerang Andro dan Deska secara bersamaan. Pertikaian mereka membuat restoran porak poranda, para pengunjung yang sebelumnya ada di sana pergi melarikan diri karena takut menjadi korban dari keributan itu. Andro menghajar satu persatu kawanan genk motor Willy itu dibantu oleh Deska, tapi mereka pun tidak luput dari serangan lawan mereka. Mereka bertarung seakan ingin saling membunuh satu sama lain.


"Ngiung! Ngiung! Ngiung!" Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi. Mendengar suara itu, Willy dan kawanannya bergegas menghentikan perkelahian mereka dan berhamburan pergi meninggalkan restoran, menyisakan Andro dan Deska yang kelelahan dan terluka.


...


Julia mengutak-atik ponselnya dan mencoba menghubungi ponsel Andro karena hingga malam tiba Andro tidak kunjung pulang ke apartemennya.


"Kak?" ucap Julia pelan. Julia menyadari, suara Andro tidak seperti biasanya, suaranya terdengar sedikit serak dan nafasnya tersengal-sengal.


"Kamu di mana? Mengapa kamu pergi selama ini?" cecar Julia.


"Sebentar lagi aku pulang." sahut Andro singkat.


"Kamu di mana?" tanya Julia lagi.


"Aku masih ada keperluan sebentar, aku akan segera pulang." ucap Andro. Julia menghela nafasnya, ia menyadari ada yang tidak beres dengan Andro.


"Aku bertanya kamu di mana sekarang, kak!" ucap Julia.


"Mengapa kamu tidak menjawab pertanyaanku itu?" tukasnya. Andro terdiam.


"Katakan kamu di mana sekarang, kak!" desak Julia.


"Aku... Aku berada di kantor polisi!" jawab Andro akhirnya. Jawaban Andro itu membuat tubuh Julia terasa lemas.


"Kantor polisi?" ulang Julia.


"Sebentar lagi urusanku akan selesai dan aku akan pulang!" ucap Andro.

__ADS_1


"Di kantor polisi mana?" tanya Julia.


"Sebentar lagi aku pulang!" tukas Andro.


"Di kantor polisi mana, kak? Di kantor polisi mana? Beritahu aku!" desak Julia. Tangis Julia akhirnya pecah. Andro akhirnya memberitahukan Julia di mana ia berada.


...


Andro memutuskan panggilan telepon dari Julia itu. Sejenak ia hanya memandangi layar ponselnya.


"Itu dia?" terka Deska. Andro menganggukkan kepalanya.


"Namanya Julia." ucap Andro pelan.


"Aku bertemunya di sebuah restoran." lanjutnya. Deska menyimak cerita Andro.


"Dia masih sangat muda." ungkap Andro.


"Dia selalu tampil dengan wajah cerianya, padahal kehidupan yang dilaluinya sangat berat." lanjutnya.


"Pantas saja lo jatuh cinta padanya!" ucap Deska. Andro menundukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Sebentar lagi dia akan datang ke sini dan lo akan tahu kenapa gue bisa jatuh cinta padanya!" tukas Andro.


...


Julia turun dari ojek online pesanannya dengan tergesa-gesa, ia terlihat sangat panik. Julia bergegas masuk ke dalam kantor polisi kecil di sudut kota untuk menemui Andro.


"Di mana dia?" gumam Julia. Matanya mencari ke seluruh penjuru kantor polisi itu.


"Julia!" Julia terkejut ketika seseorang memanggil namanya, ia langsung berbalik ke arah orang yang memanggilnya itu yang ternyata Andro-lah yang memanggilnya.


Melihat Andro dalam keadaan terluka, tangis Julia langsung pecah. Ia berlari menuju ke tempat Andro duduk menunggunya.


"Kamu kenapa?" tanyanya dengan suara bergetar, sementara itu air matanya terus mengalir dengan deras. Julia bersimpuh di hadapan Andro, ia memperhatikan luka-luka di wajah Andro dengan seksama.


"Aku tidak apa-apa!" jawab Andro.


"Sudah seperti ini kamu masih bisa bilang kalau tidak apa-apa?!" tukas Julia.


"Aku hanya terluka kecil!" ucap Andro menenangkan Julia.


"Bodoh!" maki Julia kesal, ia memukul pundak Andro, lalu memeluknya dengan erat. Andro membalas pelukan Julia dan membiarkan Julia menangis dalam dekapannya.


Andro melirik ke arah Deska yang memperhatikan mereka sedari tadi, Deska tersenyum melihat peristiwa manis yang terjadi di hadapannya itu. Deska kini mengerti mengapa pimpinan genk motornya yang dingin itu bisa jatuh cinta pada Julia. Andro yang tak pernah terlihat memiliki seorang keluarga sekalipun, kini memiliki seseorang yang memberikan perhatian tulus padanya, bahkan sampai menangis karena mengkhawatirkannya.


...

__ADS_1


__ADS_2