UNBREAKABLE RIDE

UNBREAKABLE RIDE
BAB 7


__ADS_3

Julia menyalakan motornya lalu segera beranjak dari tempat itu. Ia ingin segera kembali ke restoran tapi pikirannya terus berputar dan memikirkan Andro. Perasaannya campur aduk, ia takut terjadi sesuatu pada Andro tapi ia juga taku Andro melakukan sesuatu yang berbahaya. Jantung Julia berdebar dengan sangat kencang hingga membuat dadanya terasa sangat sesak. Berkali-kali Julia berusaha menenangkan dirinya dengan menghela nafas panjang tapi tidak juga memberikan efek apapun, pikiran dan perasaannya masih saja kacau. Akhirnya Julia memutuskan untuk memutar arah laju motornya lalu pergi ke daerah perbatasan.


Samar-samar terdengar suara keributan begitu Julia hampir tiba di daerah perbatasan itu. Wanita tua itu benar, di tempat itu sedang terjadi pertikaian. Julia memarkirkan motor operasional restoran yang digunakannya di tempat yang cukup tersembunyi, lalu ia melangkah perlahan menuju tempat perkelahian antar genk motor itu terjadi. Julia sempat ragu dan ingin kembali ke motornya, tapi akhirnya ia memutuskan untuk mengintip ke arah tempat perkelahian itu dari balik tembok. Sebuah pemandangan yang sangat mengerikan bagi Julia, belasan orang terlibat perkelahian sengit, mereka terlihat seakan hendak saling membunuh satu sama lain.


"BRAAAK!!" Tiba-tiba seorang pria dengan banyak luka lebam di wajahnya dan darah mengalir keluar dari bibirnya, jatuh tersungkur di tanah, tak jauh dari tempat Julia bersembunyi. Jantung Julia berdetak lebih cepat lagi hingga terasa seperti akan meledak. Sesaat kemudian muncul sosok Andro dengan sebuah botol kaca di tangannya. Ekspresi wajah Andro terlihat dingin dan sangat menakutkan. Julia menutupi mulutnya dengan kedua tangan, ia sangat ketakutan melihat Andro dengan ekspresi wajah seperti itu.


Andro berjongkok di hadapan pria yang sudah terlihat sangat lemah itu.


"Sudah gue bilang, lo tidak akan pernah menang melawan kami!" ucap Andro dengan suara berbisik, tapi Julia bisa mendengar semua ucapan Andro itu karena jarak mereka cukup dekat. Tubuh Julia bergetar, ia ketakutan melihat semua itu.


"PRAANGG!" Andro memukulkan botol kaca yang sedari tadi berada dalam genggaman salah satu tangannya ke batu yang ada di dekatnya. Botol itu pecah menjadi beberapa bagian dan Andro masih menggenggam bagian botol yang tidak pecah tetapi bagian lainnya menjadi tajam. Andro mengancam lawannya itu dengan botol kaca bersisi tajam. Melihat botol kaca bersisi tajam itu, Julia teringat dengan botol kaca yang pernah ia gunakan untuk memukul kepala ayah tirinya. Terlintas kembali kenangan buruk ketika bersama ayah tirinya itu, bayangan itu membuat Julia syok, ia melangkah mundur dengan ceroboh, Julia membuat setumpukan kaleng dan botol kosong yang sedari tadi ada di belakangnya terjatuh dan menimbulkan suara berisik. Julia sangat terkejut, ia menoleh ke arah Andro dan ternyata Andro mendengar suara berisik dari tumpukan kaleng dan botol kosong itu. Untuk sesaat mereka hanya saling menatap tanpa berkata apa-apa.


"Julia..." gumam Andro pelan. Julia tersadar, ia segera berlari pergi dari tempat itu dan menuju tempat ia memarkirkan motor operasional restoran, lalu melaju kencang dengan motor itu menuju restoran.


...


"Hash!" gerutu Andro. Andro menyeret Willy yang sudah tak berdaya dan melemparkannya kembali ke wilayah kekuasaan Willy. Anggota genk motor Andro lainnya pun melakukan hal yang sama terhadap anggota genk motor Willy.


"Bereskan semuanya!" ucap Andro pada Tian.


"Gue harus pergi sekarang!" lanjutnya. Tian menganggukkan kepalanya dan membiarkan Andro pergi dari tempat itu.


Andro bergegas menaiki motornya dan melaju dengan sangat kencang, ia berharap masih bisa menyusul Julia untuk menjelaskan semua yang dilihatnya itu, tapi sayang, Julia sudah lebih dulu tiba di restoran sebelum Andro berhasil menyusulnya. Andro menunggu Julia di luar restoran, tapi sampai malam tiba, Julia tidak keluar sama sekali dari tempat kerjanya itu. Andro merasa kalau Julia menghindarinya.


...


Julia masuk ke dalam restoran dengan tergesa-gesa, nafasnya tampak tersengal-sengal.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Bima yang kebetulan melintas di hadapan Julia dan melihat Julia dalam keadaan pucat. Julia menggelengkan kepalanya pelan, tapi Bima tidak mempercayainya dan menatap curiga ke arah Julia.


"Kamu sedang dikejar seseorang?" tanya Bima lagi. Julia menghela nafasnya.


"Tidak, kak! Aku baik-baik saja dan tidak ada yang mengejarku!" jawab Julia sambil tersenyum lembut. Tak lama kemudian Bima berlalu dari hadapan Julia.


...


Sekian lama Andro menunggu, akhirnya Julia keluar dari restoran setelah menyelesaikan jam kerjanya. Andro bergegas menghampirinya.


"Julia!" panggil Andro. Julia tidak menghiraukan Andro dan terus berjalan dengan cepat.


"Julia!" panggil Andro lagi, akhirnya Andro meraih tangan Julia untuk menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Julia pelan.


"Ayo kita pulang, aku akan menjelaskan semuanya di rumah!" ajak Andro. Julia menatap Andro dengan seksama, matanya terlihat berkaca-kaca. Perlahan Julia menggelengkan kepalanya. Andro terkejut dengan penolakan dari Julia itu.


"Aku akan pulang ke rumahku!" jawab Julia.


"Mengapa mendadak seperti ini?" tanya Andro lagi.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin pulang ke rumahku sendiri!" sahut Julia.


"Bagaimana kalau kakakmu itu masih berada di sana?" tukas Andro.


"Tidak apa-apa!" jawab Julia singkat.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, ya!" pamit Julia. Julia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Andro tapi Andro kembali meraih tangan Julia dan menggenggamnya dengan lebih erat.


"Aku akan menjelaskan semuanya!" seru Andro.


"Menjelaskan apa?" tanya Julia.


"Tentang yang kau lihat tadi." terang Andro.


"Aku tidak peduli semuanya itu! Itu kehidupanmu!" tukas Julia. Andro tersentak.


"Hidupku sudah serumit ini, aku tidak mau mengurusi hal yang rumit seperti itu lagi." ungkap Julia. Andro terdiam.


"Mulai sekarang kita mengurusi kehidupan kita masing-masing saja!" ucap Julia. Andro menatap kedua mata Julia, ia tidak menyangka Julia akan mengatakan hal seperti itu.


"Aku pergi dulu!" pamit Julia lagi, ia kembali melepaskan tangannya dari genggaman tangan Andro, tapi kali ini Andro tidak menahannya lagi. Julia memandangi wajah Andro untuk terakhir kalinya.


"Aku tidak menyangka kalau kamu sangat mengerikan." ungkapnya dengan suara berbisik lalu berlalu dari hadapan Andro dan kemudian menaiki bus yang menuju ke rumahnya.


Untuk beberapa saat, Andro hanya mematung setelah mendengar ucapan Julia yang mengatakan kalau dirinya sangat mengerikan. Andro menghela nafasnya dengan kasar lalu kemudian beranjak dari tempat itu. Andro melangkah perlahan menuju ke tempat ia memarkirkan motornya, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan rokok serta korek gas miliknya. Sekali lagi Andro menghela nafasnya lalu mulai membakar ujung rokoknya itu. Perlahan-lahan ia menikmati rokoknya di atas motor kesayangannya. Malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, perasaannya terasa tak karuan, ia bahkan bingung dengan apa yang dirasakannya.


...


Julia masuk ke dalam rumah sewanya yang sangat berantakan.


"Denis pasti mengamuk di sini!" gumam Julia pelan. Ia mulai memunguti barang-barangnya dan membereskan rumahnya itu. Ketika melihat meja, tempatnya nyaris di 'eksekusi' Denis itu, Julia teringat dengan Andro. Bagaimana Andro menyelamatkannya kembali melintas di benaknya, tanpa disadari Julia, air mata mengalir dari sudut matanya. Seketika perasaan bersalah memenuhi hati Julia, ia merasa sangat bersalah sudah memperlakukan Andro seperti tadi padahal Andro sudah menyelamatkan hidupnnya.


"Bisa-bisanya aku mengatakan kalau dia sangat mengerikan, padahal aku jauh lebih mengerikan darinya!" sesal Julia.

__ADS_1


"Aku bahkan tidak tahu berterimakasih pada orang yang sudah menyelamatkanku!" ucap Julia pelan.


...


__ADS_2