
"Gue ingin menikahinya dan membawanya lepas dari kakaknya, And!" ucap Deska. Andro terdiam, ia menatap Deska dengan seksama.
"Lo yakin dengan keputusan ini?" tanya Andro. Deska menganggukkan kepalanya. Andro menghela nafasnya.
"Bagaimana dengan orang tuanya?" tanya Andro.
"Ayahnya sudah lama meninggal dan ibunya tidak pernah keberatan dengan hubungan kami." jawab Deska.
"Ini sedikit sulit, Desk." ucap Andro pelan.
"Gue mohon, And!" pinta Deska.
"Gue tidak punya siapa-siapa lagi selain lo dan anggota yang lain, tapi hanya lo yang bisa gue andalkan!" lanjutnya. Suara Deska terdengar berat dan bergetar.
"Kita coba bertemu dengan orang tuanya terlebih dahulu, lo bisa menghubungi pacar lo itu?" tanya Andro. Deska menganggukkan kepalanya.
"Suruh dia membawa ibunya ke tempat yang netral, yang tidak akan memancing keributan di antara kita dan juga genk Willy." ucap Andro.
"Baik, And!" sahut Deska.
"Aturlah sebaik-baiknya, gue akan mendampingi lo!" janji Andro.
"Terima kasih, And! Terima kasih sudah mengerti gue!" ucap Deska.
Sepanjang perjalanan pulang, Andro memikirkan nasib Deska. Memang benar, kita tidak bisa memilih pada siapa kita akan jatuh cinta dan Deska terjebak pada pilihan yang sulit untuk perasaannya, sebagai orang yang diandalkan Deska, Andro menanggung beban yang sangat berat karena sekali lagi dia harus berhadapan dengan musuhnya yaitu genk motor Willy yang tidak akan tinggal diam dengan semuanya ini.
Andro berhenti di sebuah kedai kecil yang menjual ayam goreng, ia teringat dengan Julia yang menunggunya di apartemen, akhirnya ia memutuskan untuk membeli ayam goreng itu untuknya dan juga Julia. Ketika Andro selesai membeli ayam goreng itu, ia melihat di kejauhan Julia berjalan cepat sambil membawa kantong belanjaan.
"Sudah kubilang jangan keluar sendirian, dia malah berbelanja!" gumam Andro. Andro mengendarai motornya pelan lalu memarkirkan motornya itu di pelataran parkir apartemen. Ia kembali memperhatikan Julia yang hendak menuju lift, tapi Andro menyadari kalau Julia bertingkah aneh, wanita itu terlihat sangat tergesa-gesa.
Andro berjalan cepat ke arah Julia untuk menghampirinya, Andro melihat Julia menekan tombol lift berkali-kali, Julia terlihat seperti orang yang sedang panik.
"Julia!" panggil Andro sambil menepuk pundak Julia pelan. Julia menjerit dengan sangat keras.
"Hei! Hei!" tegur Andro.
"Kamu kenapa?" tanya Andro yang bingung melihat Julia begitu ketakutan.
"De.. Denis!" ucap Julia terbata-bata. Andro menangkap firasat buruk dari sepenggal kata yang diucapkan Julia itu. Julia mulai menceritakan apa yang terjadi kepada Andro, seperti dugaan Andro sebelumnya ternyata Denis nyaris berhasil menangkap Julia, bahkan Denis sudah mengetahui tempat tinggal mereka.
"Aku tidak akan pernah lepas darinya, kak!" ucap Julia dengan suara bergetar. Air matanya mulai menetes membasahi pipi Julia.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah bisa lepas dari Denis!" ulang Julia. Julia masih terlihat sangat ketakutan, bahkan tangannya gemetaran.
"Tenangkan dirimu, ayo kita naik terlebih dahulu dan mencari cara agar bajingan itu tidak lagi mengusikmu!" ajak Andro, ia meraih salah satu tangan Julia dan menggenggamnya dengan erat.
Begitu Andro dan Julia hendak masuk ke dalam lift, beberapa warga yang tinggal di apartemen itu juga hendak masuk ke dalam lift tersebut. Andro tersenyum lembut untuk menyapa mereka, warga tersebut membalas senyuman Andro tersebut dengan tersenyum juga, tapi kemudian mereka mulai memperhatikan Julia yang terlihat masih sangat syok dan sedikit kacau.
"Kalian tinggal bersama?" tanya salah seorang di antara mereka, seorang wanita berumur sekitar 50 tahunan. Pertanyaan wanita itu membuat Julia tersentak, ia menoleh ke arah wanita itu dan wanita itu pun menatap Julia dengan tatapan curiga.
"Apa kalian sudah menikah?" tanyanya lagi. Julia mengalihkan pandangannya dan tertunduk.
"Dia terlihat masih sangat muda!" sambung wanita yang lainnya. Andro tidak merespon ucapan mereka, ia hanya terus diam.
"Kalian tidak boleh membuat tempat ini menjadi tempat kalian berbuat yang tidak-tidak!" ucap wanita pertama.
"Benar! Jangan memberi contoh yang tidak baik untuk anak muda di sini!" sambung wanita kedua. Julia menggenggam tangan Andro dengan lebih erat. Andro menyadari kalau Julia tidak nyaman dengan semua perkataan kedua wanita itu, ia mencoba menenangkan Julia dengan membelai punggung tangan Julia menggunakan ibu jarinya.
"Ting!" Lift akhirnya tiba di lantai 7.
"Kami permisi dulu!" pamit Andro kepada para warga itu lalu keluar dari lift sambil terus menggandeng Julia. Begitu Andro dan Julia keluar dari lift, para warga itu kembali membicarakan mereka.
"Begitulah kehidupan anak motor, dia bisa tidur dengan banyak wanita tanpa menikah!" ucap salah satu di antara warga itu.
"Lihat saja, beberapa bulan lagi, dia pasti membawa wanita yang lain untuk tinggal bersama!" timpal yang lainnya.
Andro dan Julia akhirnya masuk ke dalam unit apartemen tempat tinggal mereka. Andro membereskan barang belanjaan Julia, sementara itu Julia duduk diam di salah satu sisi ranjang. Pikirannya terus mengulang setiap ucapan dan umpatan para warga itu.
"Jangan terus memikirkan perkataan mereka!" hibur Andro.
"Mereka tidak mengerti bagaimana kehidupan kita yang sebenarnya!" lanjutnya.
"Aku akan pindah dari tempat ini!" tukas Julia. Andro tersentak, ia membalikkan tubuhnya menghadap Julia.
"Aku akan mencari tempat tinggal yang baru!" tambahnya.
"Kamu mau tinggal di mana?" tanya Andro.
"Aku belum tahu, tapi aku akan mencari tempat tinggal yang jauh sehingga kak Denis tidak akan menemukanku lagi!" jawab Julia.
"Lalu bagaimana dengan aku?" tanya Andro lagi. Julia terdiam, ia menatap Andro.
"Kamu akan meninggalkan aku lagi?" cecar Andro. Julia masih saja diam.
__ADS_1
"Apa kamu akan berkata seperti waktu itu lagi? Kita jalani saja kehidupan kita masing-masing?" lanjut Andro.
"Kita tidak bisa seperti ini terus, kak!" tukas Julia.
"Kamu tidak perlu memikirkan ucapan mereka karena kita tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan!" seru Andro. Andro terlihat sedikit emosional.
"Aku tidak hidup seperti binatang! Aku tidak pernah membawa wanita lain ke sini selain dirimu!" lanjutnya.
"Aku juga tidak pernah tidur dengan wanita manapun!" tambah Andro.
"Tapi memang tidak baik kalau kita terus tinggal bersama meskipun kita tidak melakukan apa-apa!" ucap Julia.
"Lalu kamu mau menyewa tempat tinggal baru? Dengan apa?" tanya Andro.
"Kamu saja sudah tidak memiliki pekerjaan lagi!" tambahnya.
"Aku akan mencari pekerjaan baru dan pindah dari sini!" seru Julia.
"Waktu itu kamu bilang kamu tidak ingin kehilanganku dan merasa kesepian karena tidak ada aku, tapi mengapa sekarang kamu malah bersikeras untuk pergi dariku?" tanya Andro.
"Apa kata-kata itu hanya untuk menyenangkanku saat itu?" cecarnya. Julia tersentak.
"Tidak, kak! Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu!" aku Julia.
"Tapi kalau aku tetap di sini, orang-orang akan terus menilai buruk padamu!" lanjutnya.
"Aku tidak peduli dengan semua itu, Julia!" tukas Andro.
"Tapi aku tidak menyukainya, kak!" ungkap Julia.
"Aku tidak suka ada orang lain yang menghinamu!" tambahnya. Andro terdiam.
"Aku bertengkar dengan nyonya Rita karena dia terus menyebutmu 'pria brengsek'!" aku Julia.
"Makanya, dia memecatku!" tambahnya. Julia mendekati Andro.
"Akan lebih baik kalau kita tinggal terpisah." ucap Julia pelan. Andro menghela nafasnya dengan kasar.
"Tidak baik wanita dan pria tinggal dalam satu rumah tanpa ada ikatan yang sah!" tukas Julia.
"Kalau begitu, ayo kita menikah!" ucap Andro tegas. Julia tersentak
__ADS_1
...