
Pada hari ke-4 keberadaan Putri Aziza di Indonesia, ia menjadwalkan pergi ke Surabaya dalam rangka kegiatan penelitian terkait agro industri.
Dalam aktivitas tersebut, Putri Aziza ditemani Hafsa dan sepupu Ustadz Hanafi yakni Nadia. Keduanya mendapat tugas langsung dari Bunda Aisyah pimpinan Yayasan Amal Musi Corporation.
Sementara Ustadzah Halimah tidak ikut dalam rombongan, karena harus mempersiapkan kegiatan Musyawarah Alim Ulama di Masjid AHM 19.
Salah satu objek yang menjadi penelitian Putri Aziza adalah program pendidikan pertanian yang dahulu pernah diasuh oleh Ustadz Hanafi.
Sebgaimana pernah dibahas, program pendidikan pertanian tersebut dengan memanfaatkan lahan wakaf seluas 2.500 hektar milik Pesantren Al Mansyur.
Selama di Surabaya, Putri Aziza menginap di Pesantren Al Mansyur yang dipimpin oleh Kiai Ismail. Kiai Ismail tidak lain adalah kakek dari Ustadz Hanafi dan Nadia.
Dapat langsung merasakan kehidupan para santri di Pesantren merupakan pengalaman tersendiri bagi Putri Aziza. Karena selama ini Putri Aziza hanya memahami kondisi Pondok Pesantren dari buku-buku yang dia baca.
Sejarah keberadaan pesantren di Indonesia dapat ditemukan pada karya karya Jawa klasik seperti Serat Cabolek dan Serat Centhini yang berasal dari abad ke-16.
Melalui sumber tersebut diketahui bahwa pesantren mengajarkan berbagai kitab islam klasik dalam bidang fikih, teologi, dan tasawuf, serta menjadi pusat penyiaran agama islam.
Berdasarkan data penelitian dari Kementrian (Departemen) Agama, didapat informasi jumlah pesantren pada abad ke-16 sebanyak 613 buah.
Sementara menurut laporan Van den Berg yang mengadakan penelitian di tahun 1885, diperoleh hasil terdapat 14.929 lembaga pendidikan Islam dengan 300 di antaranya merupakan pesantren.
Pesantren kemudian terus berkembang baik dari segi jumlah, materi, maupun sistem. Di tahun 1910 beberapa pesantren seperti Pesantren Denanyar, Jombang, membuka pondok khusus untuk santri wanita.
Di tahun 1920-an pesantren-pesantren di Jawa Timur seperti Pesantren Tebuireng, mulai mengajarkan pelajaran umum seperti bahasa Indonesia, Bahasa Belanda, berhitung, ilmu bumi, dan sejarah.
Ada beberapa versi terkait asal mula sistem pesantren di Indonesia. Ada yang mengatakan bagian dari tradisi Islam, sementara versi lainnya menyebutkan sistem pesantren pada awalnya diadakan oleh masyarakat Hindu.
__ADS_1
Menurut versi terakhir ini, kata santri berasal dari bahasa India, yaitu shastri yang awalnya dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama, atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan.
Di pondok pesantren, para santri atau murid tinggal bersama kiai atau guru mereka dalam suatu kompleks tertentu sehingga tercipta ciri khas kehidupan pesantren seperti hubungan yang akrab antara kiai dan santri.
Seorang santri harus taat kepada kiai, di dalam pesantren juga diajarkan hidup mandiri dan sederhana, dalam suasana yang penuh persaudaraan, dan kedisiplinan.
Di tahun 2046, meski Pondok Pesantren masih berpegang teguh dengan prinsip kehidupan yang mendiri dan disiplin, namun dari sisi fasilitas penunjang sudah sangat berubah keadaannya.
Terutama terjadi pada Pondok Pesantren Al Mansyur, dimana semua pembiayaan dan transaksi keuangan menggunakan uang digital sebagai alat bayar.
Seorang ustadz yang berhalangan hadir karena sakit misalnya, masih bisa mengajar dengan menggunakan bantuan alat komunikasi teknologi hologram.
Para Ustadz dan Santri, tidak lagi kemana mana membawa kitab kitab tebal. Mereka cukup membawa sejenis laptop yang di dalamnya sudah terprogram berbagai jenis kitab secara digital.
*******
Tanah Wakaf Pertanian
Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya, selain diajarkan ilmu keislaman, para santri di Pondok Pesantren Al Mansyur juga mendapat pelatihan budi daya tanaman.
Pondok Pesantren sendiri memiliki tanah wakaf sekitar seluas 2.500 hektar, yang dikelola para santri untuk mempraktekkan ilmu pertanian yang mereka pelajari.
Tanah wakaf ini sebagian besar merupakan sumbangan dari Perusahaan Musi Corporation, melalui Yayasan Amal yang mereka miliki.
Ustadz Hanafi berperan sangat besar dalam pengelolaan tanah wakaf ini. Dialah yang pertama kali merintis pemanfaatan hasil tanah wakaf pertanian untuk pembiayaan santri yang kurang mampu.
Dalam program pelatihan pertanian di Pondok Pesantren Al Mansyur, santri diajarkan mengelola lahan pertanian dengan memakai teknologi yang sudah maju.
Mereka menggunakan bantuan mesin untuk pengelolaan tanah, jadi tidak lagi dengan cara tradisional seperti dengan mencangkul.
__ADS_1
Demikian juga saat panen, semua dengan menggunakan mesin pertanian. Pengarungan beras juga menggunakan alat-alat modern, demikian juga teknologi penyimpanannya.
Bibit padi yang dugunakan juga merupakan bibit yang bermutu dan bisa panen sampai 3-4 kali dalam setahun. Hasil panen per hektarnya juga lebih besar dari hasil lahan petani pada umumnya.
Dan untuk penjualan hasilnya, pihak pondok pesantren bekerjasama dengan pihak Musi Corporation.
Namun tidak semuanya dijual secara komersil, sebagiannya ada yang dibeli oleh Yayasan Amal Musi Corporation, untuk program bantuan pangan bagi kaum dhuafa.
Para santri yang telah lulus, diharapkan jika sudah kembali ke kampungnya bisa langsung mengelola sawah milik keluarganya dengan cara yang lebih maju.
Bagi Para Santri yang tidak memiliki lahan sendiri, pihak pesantren menyalurkannya untuk bekerja di divisi pertanian Musi Corporation.
Dan keistimewaan lainnya dari program ini hasil dari pengelolaan tanah wakaf sebagian dipakai pondok pesantren untuk membiayai keperluan pesantren serta sebagiannya lagi dananya dipakai buat program "bea siswa" bagi para santri yang kurang mampu.
Berkat program pelatihan ini, perkembangan pertanian khususnya di Jawa Timur semakin maju dan beberapa pesantren dari berbagai daerah banyak yang mulai meniru sistem kerjanya.
Pihak pesantren juga tidak merasa segan mengirimkan tenaga pengajar atau instruktur ke daerah-daerah yang berminat menerapkan Program Pelatihan Tanah Wakaf Pertanian ini.
Putri Aziza dalam penelitiannya menempatkan program pelatihan pertanian ini sebagai bentuk sumbangan dunia pendidikan bagi kemajuan pertanian di Indonesia.
Selama berada di Jawa Timur, Putri Aziza bisa langsung mengamati kegiatan para santri saat mengelola lahan pertanian. Putri Aziza juga mempelajari sistem kerjanya dan melakukan wawancara kepada para alumni pelatihan yang dipandang telah berhasil.
Dari hasil wawancara, Putri Aziza semakin mengerti terkait peran Ustadz Hanafi dalam pelaksanaan program ini.
Ternyata setelah berhasil lulus, para alumni yang telah memiliki lahan pertanian, sebagian menerima bantuan peralatan pengelolaan lahan dari Ustadz Hanafi.
Peralatan atau mesin pertanian ini diberikan secara cuma-cuma dengan menggunakan dana pribadi Ustadz Hanafi.
Bahkan sejak Ustadz Hanafi dipercaya sebagai pimpinan divisi e-commerce Musi Corporation, hasil panen mereka dibantu pemasarannya secara online.
__ADS_1
Sebagai timbal baliknya, setelah mereka berhasil para alumni ini menyumbang secara rutin sebagian dari pendapatannya, untuk membantu program "bea siswa" yang dipelopori Ustadz Hanafi.