Ustadz Hanafi, Jadi CEO Perusahaan

Ustadz Hanafi, Jadi CEO Perusahaan
100 Tahun Indonesia Merdeka


__ADS_3

Setelah pulang dari Palembang, Ustadz Hanafi kembali disibukkan dalam kegiatan belajar mengajar di Pondok Pesantren Al Mansyur Surabaya.


Kiai Ismail selaku pimpinan Pondok, menugaskan Ustadz Hanafi menjadi koordinator panitia perayaan 100 tahun kemerdekaan Indonesia.


Perlu dipahami, perayaan hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2045, hanya berjarak sekitar 2 hari setelah Perayaan Hari Raya Idul Fitri.


Dibatasi waktu yang hanya tinggal beberapa hari lagi, Ustadz Hanafi bergerak cepat. Langkah awal yang dilakukan adalah mengkoordinasi santri menghias pondok dengan berbagai pernak pernik simbol hari kemerdekaan.


Di beberapa sudut pesantren, dipasang spanduk bertuliskan "DIRGAHAYU 100 TAHUN KEMERDEKAAN INDONESIA, 1945-2045", dengan beragam hiasan lampu dan kertas warna warni yang di pasang disekelilingnya.


Di gerbang pesantren juga dipasang spanduk dengan ukuran besar, yang isinya tidak hanya tulisan melainkan juga foto beberapa ustadz dan pengurus pondok pesantren.


Ustadz Hanafi juga membentuk panitia lomba menyambut 100 tahun Indonesia merdeka. Berbagai lomba dipertandingkan dalam acara tersebut, antara lain lomba pidato, cerdas cermat, adzan, balap karung, makan kerupuk sampai pertandingan catur antar kelas.


Ada satu perlombaan khusus yang dibuat panitia perayaan tahun ini, yakni lomba menulis cerita pendek dengan tema 100 tahun Kemerdekaan Indonesia.


Khusus lomba cerita pendek ini, secara pribadi Ustadz Hanafi menyiapkan hadiah spesial berupa sejumlah uang yang berasal dari kantong pribadinya.


*******


Wajah Indonesia Tahun 2045


Di usia kemerdekaannya yang ke-100, Indonesia sudah melangkah menjadi negara maju, dengan jumlah penduduk mencapai 320 juta jiwa.


Kemajuan Bangsa Indonesia ketika itu dikarenakan kemampuannya dalam memanfaatkan hasil kekayaan alam secara maksimal.



Di setiap sudut kota hingga pelosok desa, masyarakat menggunakan energi listrik yang bersumber dari tenaga matahari. Demikian juga untuk kendaraan (transportasi) baik di darat, laut dan udara sebagian besar memanfaatkan energi tenaga surya.


Pada masa itu, untuk transportasi jarak dekat masyarakat Indonesia lebih menyukai menggunakan pesawat udara mini berpenumpang 4 orang termasuk pilot.

__ADS_1


Pesawat terbang mini yang juga bisa berfungsi sebagai mobil ini, hanya boleh dioperasikan oleh perusahaan penerbangan dan cara pemesanannya dapat dilakukan secara online.


Selain memiliki sumber energi surya yang melimpah karena merupakan daerah panas (tropis), Indonesia pada masa itu merupakan lumbung pangan dunia.


Sejak didengungkan revolusi pertanian 10 tahun terakhir, perkembangan hasil pertanian di Indonesia sangat pesat. Kualitas produk pangan asal Indonesia juga sangat baik, membuat hasil pertanian Indonesia menjadi pilihan utama bangsa-bangsa lain di dunia.


Selain hasil pertanian dan perkebunan, Indonesia juga mengandalkan peternakan dan hasil laut (perikanan) sebagai sumber pangannya.


Sistim Pendidikan pada masa itu lebih diarahkan ke bidang agroindustri, seperti pertanian, perkebunan dan perikanan. Seorang siswa tamatan SMA atau tingkat Aliyah, biasanya sudah memiliki kecakapan dasar di bidang Agroindustri.


Kebanyakan tamatan sekolah menegah atas, yang berasal dari daerah pedesaan, lebih memilih melanjutkan ke Pendidikan Tinggi Agroindustri ketimbang masuk Universitas.


Menjadi petani pada masa itu merupakan profesi yang membanggakan. Penghasilan yang mereka peroleh juga terbilang cukup tinggi.


Petani di masa itu sudah menggunakan teknologi canggih, baik dari sisi alat bantu pertanian seperti traktor maupun pemakaian pupuk serta bibit tanaman.


Pemasaran hasil pertanian juga bisa langsung ke konsumen melalui media online, jadi tidak harus melalui perantara tengkulak lagi seperti pada masa lalu.


Pemakaian uang digital sudah menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia. Hampir semua sektor sudah menggunakannya, baik itu untuk membayar tagihan listrik, tagihan air, uang sekolah dan lain sebagainya.


Bahkan sebagian pedagang di pasar hanya mau menerima pembayaran secara digital, mengingat pada masa itu pemalsuan uang kertas sudah sangat canggih.


Pendirian bangunan gedung bertingkat di Indonesia harus memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Apabila ada yang melanggar, bangunan tersebut akan dirobohkan.


Dan tidak mengherankan, gedung-gedung yang ada ditumbuhi beragam tanaman hijau disekitarnya. Bahkan sebagian developer gedung ada yang membuat semacam sungai buatan, dengan teknologi penyaringan air yang canggih.


Dan yang terpenting pada masa itu, kepastian hukum benar-benar ditegakkan. Mereka yang terbukti melakukan tindak korupsi uang negara akan mendapat hukuman berat.


Pencatatan identitas warga negara juga sudah sangat akurat. Sehingga mereka yang melakukan perbuatan penipuan akan sangat mudah dikenali.


Para pelaku kejahatan sangat sulit beroperasi karena kamera pengintai (cctv) hampir bisa ditemukan di semua sudut jalan.

__ADS_1


Dalam hal personil petugas keamanan, selain berasal dari pihak kepolisian, pada masa itu keamanan di suatu daerah juga dilakukan oleh Satgas Sikal.


Satgas Sikal adalah singkatan dari Satuan Tugas Sipil Lokal yang mendapat pelatihan khusus dalam mengamankan suatu wilayah. Satgas Sikal dibiayai warga setempat dan mendapatkan juga gaji dari pihak pemerintah.


Namun kemajuan Indonesia pada masa itu bukan tanpa celah, salah satu bahaya yang selalu mengintai adalah bencana alam, baik yang berasal dari letusan gunung atau berupa hantaman gelombang laut (tsunami).


Terkait ancaman bencana alam ini, pernah Ustadz Hanafi berdiskusi dengan salah seorang wali santri yang kebetulan adalah anggota Satgas Bencana Nasional.


"Pak Hendri... kalau boleh tahu, seberapa besar ancaman letusan gunung berapi bagi masyarakat Indonesia?" tanya Ustadz Hanafi kepada seorang wali santri yang berprofesi sebagai Satgas Bencana Alam.


"Kalau ancaman gunung berapi, boleh di bilang sangat besar ancamannya ustadz" jawab wali santri itu.


Kemudian wali santri yang bernama Hendri tersebut, mencoba mengurai secara lebih rinci keadaan gunung berapi di Indonesia.


"Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang posisinya terletak pada pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasifik."


"Hal inilah yang membuatnya menjadi sangat berpotensi sekaligus rawan bencana" ungkap Pak Hendri melanjutkan.


"Dalam kondisi seperti itu, benca alam seperti apa yang bisa terjadi?" tanya Ustadz Hanafi penasaran.


"Ada beberapa jenis bencana, diantaranya erupsi gunung api, gempa bumi, tsunami, banjir serta tanah longsor" jawab Pak Hendri menjelaskan.


"Bahkan menurut badan internasional Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Indonesia merupakan negara yang paling rawan bencana alam di dunia, khususnya bencana erupsi gunung api" ucap Pak Hendri menambahkan.


Pak Hendri lalu, menatap hand phonenya, sesekali tangannya bergerak-gerak di layar seperti sedang mencari data.


"Berdasarkan data yang ada, sekitar 90 persen dari resiko bencana gunung api terkonsentrasi di lima negara. Posisi Indonesia menempati urutan pertama dengan potensi 66 persen, kemudian Filipina 10,6 persen, Jepang 6,9 persen, Meksiko 3,9 persen dan Ethiopia 3,9 persen" jawab Pak Hendri panjang lebar.


"Wah... sangat tinggi sekali!" ucap Ustadz Hanafi kaget.


"Iya memang demikian, posisi Indonesia seolah terkepung, dimana di bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik. Keberadaannya memanjang mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi" ujar Pak Hendri menjelaskan.

__ADS_1


"Namun kita patut bersyukur, teknologi kita dalam memprediksi terjadinya bencana alam pada saat sekarang sudah sangat maju, dan hal ini dapat mengurangi resiko terjadinya korban jika terjadi letusan gunung berapi" ucap Pak Hendri menenangkan.


__ADS_2