Ustadz Hanafi, Jadi CEO Perusahaan

Ustadz Hanafi, Jadi CEO Perusahaan
Penyelamat Perusahaan


__ADS_3

Kita tinggalkan sebentar Hafsah yang sedang konsentrasi mengembangkan Resto yang dia miliki. Sejenak kita ikuti kegiatan yang dilakukan Ustadzah Halimah, salah satu kandidat kuat pendamping Ustadz Hanafi.


Selain aktif dalam kegiatan di masjid AHM 19, Ustadzah Halimah ternyata mendapat tugas khusus dari perusahaan untuk memasarkan ribuan unit Fly Car yang terbengkalai.


Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, bisnis Fly Car divisi transportasi Musi Corporation mengalami kebangkrutan. Hal tersebut menyebabkan pimpinan divisinya Abang Musa, kakak dari Ustadz Hanafi mengundurkan diri.


Ustadzah Halimah yang merupakan salah satu staff divisi tranportasi ikut terkena imbasnya. Bonus yang biasa dia dapatkan setiap tahun tidak lagi diterimanya.


Kemahiran Ustadzah Halimah dalam berbahasa Arab, membuat dirinya mendapat tugas khusus menjual ribuan Fly Car milik perusahaan dengan target konsumen masyarakat di jazirah arabia.



Sebetulnya peminat kendaraan Fly Car di jazirah arab cukup banyak. Namun karena Fly Car yanh dijual menggunakan energi surya, banyak komponennya tidak berfungsi akibat terlalu teriknya cuaca di sana.


Panel panel penyimpan energi surya pada Fly Car banyak mengalami kerusakan, setelah di operasikan beberapa hari.


Menghadapi permaslahan ini, selaku alumni ITB Ustadzah Halimah berkonsultasi dengan para seniornya. Salah satunya pamannya sendiri bernama Zainal Abidin, salah seorang ahli energi surya sekaligus dosen ITB.


Zainal Abidin kemudian membentuk tim ahli, untuk memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi keponakannya tersebut. Dalam tempo sekitar 2 pekan, tim yang dibentuk pamannya ini berhasil menemukan alat penetralisir panel penyimpan energi.


Setelah di ujicoba, alat temuan pamannya ini berhasil membuat panel energi surya pada Fly Car bekerja optimal, meski berada di cuaca ekstrim seperti di jazirah arabia.


Temuan ini kemudian hak ciptanya segera dipatenkan, dan tentunya langsung dibuat secara massal.


Dampak temuan tersebut, membuat Fly Car yang pada awalnya dijual jor-joran kembali ke harga normal. Bahkan karena besarnya permintaan, ada ratusan unit Fly Car terjual dengan harga jauh di atas normal.


Saat menemani Putri Aziza, Ustadzah Halimah tidak lupa menawarkan Fly Car yang sudah dimonifikasi tersebut. Melalui jaringan yang dimiliki Putri Azizah, Ustafzah Halimah berhasil menjual hampir 2.000 Fly Car di wilayah Afrika.


Keberhasilan pemasaran Fly Car ini, bukan saja menghindarkan divisi transportasi Musi Corporation mengalami kebangkrutan, bahkan telah membuatnya mendapatkan keuntungan yang sangat besar.

__ADS_1


Beberapa produsen Fly Car juga banyak yang menghubungi paman Ustadzah Halimah untuk membeli hak cipta alat yang dia bikin. Namun semua penawaran tersebut ditolak pamannya.


Pihak Musi Corporation sangat mengaprisiasi keberhasilan Ustadzah Halimah ini. Ustadzah Halimah dianugerahi gaji khusus, sehingga membuat penghasilannya sama besar dengan gaji CEO Perusahaan.


Ustadzah Halimah yang juga merupakan sepupu Sandra istri dari abang Musa, sudah dianggap sebagai penyelamat perusahaan. Posisi Ustadzah Halimah yang selama ini sebagai staff biasa, diangkat menjadi staff ahli di divisi transportasi Musi Corporation.


Sejak Ustadzah Halimah menjadi penyelamat Musi Corporation, perhatian Bunda Aisyah sepertinya mulai terbagi.


Jika selama ini, Hafsah yang selalu dia promosikan sebagai calon menantu pilihan, sekarang Ustadzah Halimah menjadi salah satu kandidat kuat di matanya.


Dalam beberapa kesempatan saat berkomunikasi dengan putra bungsunya, Bunda Aisyah tidak lupa menanyakan kabar Ustadzah Halimah kepada Ustadz Hanafi.


Hal ini cukup wajar, karena Ustadzah Halimah bertempat tinggal di komplek apartemen yang sama dengan Ustadz Hanafi dan keduanya sama-sama merupakan pengurus Masjid AHM 19.


*******


Keluarga Santri


Ayahanda dari Ustadzah Halimah adalah Ustadz Harun pimpinan Pondok Pesantren Al Mukmin Cirebon. Ustadzah Halimah sejak kecil sudah terbiasa hidup dalam suasana Pondok Pesantren.


Sementara dari pihak ibunya, Ustadzah Halimah berasal dari keluarga akademisi. Kakak ibunya bernama Zainal Akbar adalah salah seorang ilmuan LIPI, sedangkan adik ibunya Zainal Abidin adalah dosen ITB.


Kakek dari pihak ibunya orang Gorontalo Sulawesi, sedangkan neneknya berasal dari Minangkabau. Dikarenakan Suku Minang menganut sistem matrilineal maka Ustadzah Halimah bisa dikelompokkan bersuku Minangkabau.


Pak De dari Ustadzah Halimah yakni Zainal Akbar merupakan ayah dari Sandra, istri dari Abang Musa kakak Ustadz Hanafi. Sandra sendiri sejak suaminya meneruskan pendidikan di luar negeri, telah berhenti sebagai PNS dan fokus mengasuh putranya yang bernama Panji Habibie.


Pesantren yang dibina ayahanda Ustadzah Halimah, merupakan warisan dari keluarga besar Ustadz Harun secara turun menurun.


Pesantren Al Mukmin Cirebon sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Leluhur Ustadzah Halimah merupakan para pejuang kemerdekaan yang berasal dari kalangan masyarakat santri.

__ADS_1


Ustadzah Halimah hanya memiliki seorang kakak laki-laki bernama Ustadz Hasyim. Pada saat ini, kakaknya sedang menyelesaikan pendidikan bea siswa tingkat strakta 3 (doktoral) di Universitas Al Azhar Mesir.


Kakaknya mendapat tugas belajar dari tempatnya mengajar yakni UIN Sunan Gunung Jati.


Selama tugas belajar di Mesir, kakaknya menikah dengan teman kuliahnya yang berasal dari Banjarmasin. Kakaknya sudah memiliki seorang putri yang bernama Asma, yang umurnya kira-kira sama dengan usia Panji Habibie.


Dengan latar belakang pendidikan yang dia jalani, Ustadzah Halimah cenderung berpikiran rasional saat menjawab permasalahan keagamaan.


Dalam satu acara di bulan Ramadhan yang diadakan di Masjid AHM 19, salah seorang jamaah yang hadir mengajukan pertanyaan kepada Ustadzah Halimah.


"Ustadzah, saya berencana mau berpergian jauh dengan kendaraan darat. Apa saya masih wajib berpuasa ramadhan?" tanya salah seorang jamaah Masjid AHM 19.


"Apabila ibu merasa mampu, silahkan untuk berpuasa. Namun saya menyarankan untuk membatalkannya jika terasa berat" jawab Ustadzah Halimah.


"Mengapa harus dibatalkan Ustadzah? Bukankah dengan perjalanan yang berat, ujian keimanan yang kita terima juga akan semakin berat juga" ungkap jamaah itu lagi.


Kemudian Ustadzah Halimah membacakan sebuah hadits.


"Dari Aisyah radhiyallahu anha, menceritakan bahwa Hamzah bin Amr pernah bertanya kepada Nabi Muhammad tentang puasa dalam perjalanan."


"Rasul pun memberikan jawaban: "Jika kamu menghendaki maka tetaplah berpuasa, dan jika kamu menghendaki maka batalkanlah""


Setelah membacakan hadits riwayat Muslim tersebut. Ustadzah Halimah menjelaskan.


"Dari hadits tersebut kita diperbolehkan memilih, mau terus berpuasa atau membatalkannya"


"Dan perlu di ingat, berpuasa di dalam Islam bukan untuk menyiksa diri, melainkan semata-mata untuk beribadah kepadaNYA" ungkap Ustadzah Halimah.


"Jadi jika perjalanan yang kita lakukan terasa berat untuk berpuasa, ajaran Islam telah memberi kita kemudahan, yakni untuk membatalkan puasa kita itu. Mengapa kita menolak kemudahan yang datang dari Allah tersebut?" ucap Ustadzah Halimah balik bertanya.

__ADS_1


Jawaban Ustadzah Halimah nampaknya sudah cukup memuaskan ibu yang bertanya tadi. Nampak ibu tersebut menganguk angguk tanda setuju.


__ADS_2