
Sebagaimana yang telah diceritakan sebelumnya, ketika Ustadz Hanafi membawa bebatuan warna warni ke lembaga riset Musi Corporation, diperoleh temuan yang sangat mengejutkan.
Berdasarkan penelitian, bebatuan tersebut ternyata komposisinya mirip batu kuno temuan Profesor Hasan dari ITB.
Bebatuan tersebut di duga memiliki kemampuan menyerap energi surya dan jika dikembangkan mampu menggantikan baterai.
Bebatuan warna warni itu sendiri berasal dari titipan Malik, salah seorang kerabat Ustadz Hanafi yang tinggal di Pulau Natuna.
Malik sendiri mendapatkan batu tersebut dari para nelayan yang bekerja di kapal penangkap ikan milik ayahnya.
Setelah mengetahui manfaat batu tersebut dari Ustadz Hanafi, Malik segera mendalami lebih jauh asal muasal keberadaan batu warna warni itu.
"Tadi siang, bersama beberapa nelayan, kami pergi ke pulau sunyi" kata Malik saat menghubungi Ustadz Hanafi lewat telepon.
"Di pulau itu, kami memasuki sebuah goa alam, yang di dalamnya banyak mengandung batu warna warni" ujar Malik lagi.
"Apa sudah diselidiki posisi pulau sunyi ini, masuk wilayah Indonesia atau negara lain?" tanya Ustadz Hanafi.
"Saya sudah coba melancaknya bang... Sepertinya berada di perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia" jawab Malik.
"Pulau Sunyi ini sangat terpencil, posisinya di sebelah utara pulau kalimantan" ujar Malik menambahkan.
"Saya menduga, batu-batu warna warni itu, juga terdapat di beberapa pulau yang ada disekitar pulau sunyi, bahkan bisa jadi terdapat di dasar laut" ungkap Malik memberi analisa.
Ustadz Hanafi terdiam sesaat. Jika benar bebatuan warna warni ini terdapat dalam jumlah yang besar, tentu suatu saat bakal jadi rebutan antara Indonesia dan Malaysia, pikir Ustadz Hanafi.
"Nanti abang coba kirim tim ahli ke Pulau Sunyi, buat mengetahui seberapa besar potensi kapasitasnya" ucap Ustadz Hanafi.
"Saat ini, pihak ITB sedang melakukan riset terhadap bebatuan tersebut, insyaa Allah hasilnya tidak beberapa lama lagi keluar" kata Ustadz Hanafi lagi.
"Iya bang... kalau bisa tim khusus bisa segera dikirim, takutnya pihak luar ada yang mendahului kita" ujar Malik penuh harap.
__ADS_1
Sementara itu, sampel batu warna warni yang dikirim Ustadz Hanafi kepada Doktor Zainal Abidin sudah ditangan Profesor Hasan.
Setelah dilakukan penelitian, komposisi batu asal Natuna itu sama persis dengan batu kuno yang dimiliki oleh Prof Hasan.
Ketika batu warna warni asal Natuna tersebut, di uji coba ke peralatan yang dibuat Prof Hasan, ternyata alat ciptaan dari Sang Profesor dapat bekerja dengan baik.
Prof Hasan menduga, batu kuno miliknya dahulu diambil dari tempat yang sama. Menurut analisisnya, jika bebatuan warna warni ini bisa ditemukan dalam jumlah yang besar, tidak menutup kemungkinan batu ini bakal menjadi alternatif energi pada masa depan.
Prof Hasan juga sedang meneliti manfaat lain dari batu tersebut. Sebab ada kemungkinan batu ini mengandung mineral yang bermanfaat untuk pengobatan.
Saat doktor Zainal Abidin menyampaikan, pihak Musi Corporation berminat untuk bekerja sama, Prof Hasan sangat antusias menerima tawaran itu.
Di mata Prof Hasan, Musi Corporation bukan hanya perusahaan yang sekedar mengejar keuntungan, tetapi perusahaan ini telah terbukti memberi manfaat bagi kemanusiaan dan kesejahteraan masyarakat.
Kembali ke Ustadz Hanafi. Setelah tahu lokasi penemuan batu warna warni tersebut berada di perbatasan Indonesia.dengan Malaysia, Ustadz Hanafi berharap temuan ini tidak membuat kedua negara bersengketa.
Terpikir olehnya untuk mengajak kolaborasi pengusaha asal Malaysia dan yang terlintas adalah sosok Putri Dayang Mariam.
*******
Hikayat Harimau Tengkes
Seperti yang pernah dibahas sebelumnya, Putri Dayang Mariam adalah anak dari Pangiran Abdul Jalil dari keluarga Kesultanan Brunei Darussalam.
Sementara Pangiran Abdul Jalil sendiri ber ibu seorang putri dari kerabat Kesultanan Perak Malaysia.
Perlu dipahami, Kesultanan Perak merupakan zuriat dari Sultan Muzaffar Shah II, yang merupakan Sultan Perak ke 10 (memerintah 1636-1654).
Sultan Muzaffar Shah II sendiri merupakan anak dari Raja Mahmud, penguasa Kerajaan Gasib (yang masuk dalam wilayah Siak Riau).
Raja Mahmud Gasib sendiri namanya sangat melegenda, dia dipercaya memiliki peliharaan sesosok Harimau Siluman, harimau ini di tengah masyarakat di kenal dengan nama Harimau Tengkes.
__ADS_1
Sang Raja juga dipercaya memiliki kesaktian kebal terhadap senjata tajam, dengan syarat selama kakinya masih menginjak tanah.
Harimau Tengkes memiliki arti harimau yang pincang kaki kiri bagian belakangnya. Konon harimau ini pernah berbuat salah pada Sang Raja, sehingga Raja Mahmud menghukumnya dengan memukul kaki kirinya.
Di kalangan masyarakat, Harimau Tengkes dipercaya selalu terlihat secara supranatural, pada saat hari ulang tahun penobatan Sultan-Sultan penerus tampuk kerajaan.
Berdasarkan data genealogy, Pemilik Harimau Tengkes, yakni Raja Mahmud berupakan putra Raja Asif atau dikenal dengan nama Raja Ali al-Ajali.
Sementara ibu Raja Mahmud bernama Putri Putih anak dari Penguasa Negeri Pahang, Sultan Mansur Shah II.
Raja Mahmud, merupakan suami dari Tun Dharmapala Johara Tun Isap, dan memiliki 3 orang putera yang bernama : Sultan Muzaffar Shah II (Penguasa Negeri Perak), Raja Sulong Raja Muhammad dan Raja Mansur.
Raja Mahmud sendiri merupakan keturunan Megat Kudu (setelah masuk Islam namanya berubah menjadi Raja Ibrahim).
Megat Kudu atau Raja Ibrahim, merupakan suami dari Raja Maha Dewi putri Sultan Mansyursyah dari Negeri Melaka (yang memerintah pada sekitar 1458-1477 M).
Ada versi yang menyatakan, Megat Kudu ini masih terhitung sebagai keturunan dari Demang Lebar Daun, Penguasa Palembang di masa lalu.
Salah seorang keturunan Demang Lebar Daun Palembang, yang bernama Tun Telanai dikisahkan menjadi penguasa di Pulau Bintan. Untuk kemudian, di pulau inilah anak cucu Tun Telanai berkembang.
Dari Pulau Bintan, sebagian keturunan Tun Telanai ada yang berpindah ke wilayah Gasib Siak. Mereka ini lalu membangun sebuah kerajaan yang salah satu pimpinannya bernama Megat Kudu.
Keberadaan Harimau Tengkes, sangat melegenda di bumi negeri melayu baik itu di semenanjung Malaysia maupun di pulau sumatera.
Masyarakat Johor Malaysia, mengenalnya dengan nama "Harimau Dengkes". Bahkan di negeri tersebut Sang Harimau menjadi simbol Kerajaan.
Legenda Harimau Tengkes selain di Riau, juga dikenal sampai ke wilayah Sumatera Selatan, diantaranya terdapat di daerah hulu sungai Ogan.
Ada yang meyakini, Harimau Tengkes merupakan sosok penjaga, yang sewaktu waktu akan muncul, jika seseorang berada dalam bahaya.
Legenda Harimau Tengkes ini sangat melekat dalam budaya masyarakat Melayu. Tidak mengherankan saat kecil, Putri Dayang Mariam telah mendengar kisah harimau ini melalui neneknya.
Putri Dayang Mariam sendiri menganggap kisah Harimau Tengkes adalah bagian dari budaya leluhurnya. Sebab segala kekuatan serta kesaktian tiadalah dapat berkuasa, kecuali atas seizin Allah, Rabb Semesta Alam.
__ADS_1