Ustadz Hanafi, Jadi CEO Perusahaan

Ustadz Hanafi, Jadi CEO Perusahaan
Kamar Tidur Berteknologi


__ADS_3

Seperti yang diceritakan sebelumnya, Hafsah bersama Putri Aziza dan Nadia berencana ke Palembang, untuk melihat secara langsung rumah yang akan dijadikan resto "Warung Hafsah anak Betawi".


Setidaknya ada 2 rumah yang dijadikan alternatif, yakni berada di jalan diponegoro bukit kecil dan satu lagi di jalan hang tua talang semut.


Rencana awalnya mereka akan menginap di sebuah hotel berbintang selama di Palembang, namun salah seorang kerabat Ustadz Hanafi meminta mereka menginap di rumahnya.


Rumah tersebut berada di daerah talang semut, dahulunya merupakan kediaman Haji Abdullah kakek Ustadz Hanafi. Pada saat ini, rumah menjadi milik salah seorang paman Ustadz Hanafi bernama Muhammad Abdullah.


Ustadz Hanafi biasa memanggil pamannya ini dengan panggilan Mang Uju, dikarenakan pamannya tersebut merupakan adik bungsu dari ayahnya.


Sejak Mang Uju mengundurkan diri sebagai pimpinan divisi properti Musi Corporation, dia lebih banyak tinggal di Kota Palembang.


Untuk mengisi waktu, Mang Uju banyak berinvestasi membangun bedeng dan rumah kost. Banyak lahan kosong dia beli untuk dibangun tempat kost, terutama di daerah sekitaran kampus universitas.


Saat tiba di rumah Mang Uju, ketiga gadis dari Jakarta ini ditempatkan di sebuah kamar yang luas, dengan fasilitas lengkap seperti kamar mandi dalam dan sebagainya.


Meski rumah itu adalah rumah peninggalan zaman kolonial Belanda, seperti umumnya rumah di daerah talang semut. Namun perabotan di dalamnya dipenuhi barang barang mutahir dengan memakai teknologi tinggi.



Pada dinding tempat tidur, dapat berfungsi sebagai layar televisi maupun komputer. Ranjang bisa secara otomatis dilipat, dan diubah fungsinya menjadi sofa.


Apabila dibutuhkan, kamar tidur bisa dimodifikasi sebagai ruang hologram, lengkap dengan meja, kursi dan peralatan presentasi.


Ketika berbincang-bincang dengan Mang Uju dan istrinya. Mang Uju Muhammad memberi saran agar mereka mengambil rumah di jalan hang tuah talang semut.


Mang uju memiliki rumah kost persis.di belakang rumah tersebut, dan dia berjanji selama 6 bulan staff resto bisa menginap di sana dengan gratis.


"Wah... kami bener-bener beruntung, Mang Uju sudi membantu usaha kami" kata Nadia mewakili kedua rekannya.


"Setidaknya untuk modal awal, kami bisa sedikit berhemat" ucap Nadia lagi.

__ADS_1


"Nggak perlu sungkan sama keluarga sendiri" kata Mang Uju sambil tersenyum ramah.


"Memang rumah yang mau dijual di hang tuah itu, rumah warisan. Tapi saya kenal baik dengan pemiliknya, sehingga terjamin aman jika jadi dibeli" ungkap Mang Uju lagi.


"Iya Mang Uju, kami juga memang memiliki opsi untuk membeli, namun opsi lainnya kita mau sewa dulu selama 3 tahun, sambil melihat kondisi pasar" kata Hafsah ikut nimbrung dalam obrolan.


"Kalau saya menyarankan beli, karena rumah tersebut mau dilepas dibawah harga pasaran, karena mau bagi waris. Tetapi kalau mau sewa, juga bagus buat jaga-jaga sambil melihat situasi" ucap Mang Uju lagi.


Percakapan kemudian berlanjut membahas perkembangan dunia properti akhir-akhir ini. Dari ketiga gadis dari Jakarta ini, Nadia nampak paling antusias, karena dunia properti memang bidang yang pernah dia geluti.


Pada sore harinya, ditemani Mang Uju dan Istrinya, ketiga gadis dari Jakarta ini melakukan inspeksi. Mereka ke lokasi dengan mengendarai 2 mobil pribadi milik Mang Uju.


Rumah pertama yang mereka lihat adalah rumah di jalan hang tuah. Saat tiba di lokasi, selain ada pemilik rumah, juga ada agent properti yang selama ini memberi info terkait rumah tersebut.


Setelah melakukan inspeksi di jalan hang tuah, rombongan menuju rumah kedua di jalan diponegoro yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah pertama.


Sama halnya dengan rumah pertama, di rumah kedua ino juga telah menunggu pemilik dan pihak agent properti.


Martabak khas ini sebetulnya martabak telur yang populer di Palembang, warga setempat menyebutnya dengan nama "Martabak HAR".


*******


Tanah Wakaf Untuk Pesantren


Pada keesokan harinya, Hafsah, Putri Aziza dan Nadia melakukan inspeksi tanah yang berada di perbatasan palembang Inderalaya. Rencananya tanah tersebut akan dibangun Pesantren Manula.


Sama saat inspeksi rumah, mereka ditemani Mang Uju beserta istri. Namun kali ini rombongan bertambah 1 mobil, yang membawa 3 orang karyawan Mang Uju.


Tanah tersebut merupakan tanah wakaf dari sepupu Mang Uju, namanya Haji Sulaiman. Luasnya sekitar 2 hektar, kepemilikan Sertifikat Hak Milik (SHM) dan masuk wilayah Kabupaten Ogan Ilir.


Rombongan mulai berangkat sekitar pukul 7.00 pagi, dan waktu tempuh dari Talang Semut Palembang sekitar 30 menit.

__ADS_1


Di lokasi sudah menunggu Haji Sulaiman beserta istri beserta beberapa pegawainya. Setelah kangen-kangenan sebentar, staff yang dibawa Mang Uju mulai melakukan pengukuran.


Sesekali Haji Sulaiman mendekati staff pengukuran, untuk menunjukkan posisi patok pembatas tanah. Sebagai saksi, pengukuran tanah, juga disaksikan oleh pihak agraria setempat.


Nadia nampak ikut sibuk memfoto lahan tanah tersebut. Patok-patok tanah yang berhasil ditemukan diabadikan melalui hand phone yang dimilikinya.


Hafyah dan Putri Aziza nampak melakukan pengukuran juga. Mereka menggunakan alat khusus yang terhubung dengan aplikasi android yang mereka miliki.


Seusai melakukan pengukuran, hari baru menunjukkan pukul 10.30. Rombongan diajak Haji Sulaiman untuk mampir ke rumah kebun miliknya.


Rumah kebun ini jaraknya tidak jauh dari lokasi tanah. Rumah tersebut berdiri di tengah perkebunan modern seluas 5.000 m².



Selain tempat kediaman, rumah kebun ini juga berfungsi sebagai tempat penelitian bio teknologi dan pembibitan.


Rumah kebun ini dilengkapi laboratorium dan ruang khusus tempat rekayasa bibit tanaman. Di ruang khusus ini, suhu dan tekanan udara dapat diatur sesuai kebutuhan.


Persis di depan rumah utama, terdapat ruang terbuka beratapkan logam khusus, yang berfungsi sebagai panel penyerap energi surya. Dan di lokasi inilah, rombongan dijamu beragam makanan khas daerah sumatera selatan.


Haji Sulaiman usianya lebih muda 1 tahun dari Mang Uju. Sejak ayahnya wafat, di usia 8 tahun Haji Sulaiman sudah ikut keluarga besar Mang Uju.


Ketika Musi Corporation mulai muncul, Haji Sulaiman ikut serta merintisnya. Namun dipertengahan jalan, Haji Sulaiman minta ijin pelang ke kampung untuk mengurus sawah peninggalan keluarganya.


Sifat berbagi yang dimiliki Haji Sulaiman, sepertinya dipengaruhi Haji Abdullah ayahanda Mang Uju. Begitu mendengar Yayasan Amal Musi Corporation akan membangun Pesantren Manula, dia menawarkan tanah wakafnya di Inderalaya.


Permintaan Haji Sulaiman ini disampaikannya kepada Ustadz Hanafi, yang kemudian info tersebut diteruskan ke pihak Yayasan Amal Musi Corporation.


Wakaf termasuk amal ibadah yang istimewa, hal ini karena pahala dari amalan ini bukan hanya dipetik ketika pewakaf masih hidup, namun juga pahalanya tetap mengalir meskipun pewakaf telah meninggal dunia.


Hal ini sebagaimana sabda dari Rasulullah yang diriwayatkan Muslim, “apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga (macam), yaitu: sedekah jariyah (yang mengalir terus), ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya".

__ADS_1


Sedekah jariyah dalam bentuk wakaf, manfaatnya terus dirasakan oleh orang banyak, bahkan lintas generasi. Kepemilikan harta wakaf tidak bisa dipindah tangankan, sehingga harta yang diwakafkan tetap utuh dan langgeng.


__ADS_2