
Hari ini Selasa 30 Januari 2046 atau bertepatan dengan 23 Rabi'ul Awwal 1468 Hijriah. Tidak terasa sudah 15 hari Putri Aziza berada di Indonesia. Selama setengah bulan itu, sudah tiga kali Sang Putri pindah kamar apartemen.
Saat datang dari Tunisia, Sang Putri menginap di apartemen milik Musi Corporation. Sebagai tamu perusahaan, Putri Aziza mendapat fasilitas kamar apartemen yang berada di gedung kantor pusat Musi Corporation.
Setelah satu pekan, Putri Aziza pindah ke sebuah apartemen di daerah Bintaro. Apartemen ini milik Putri Dayang Mariam, yang selalu dia tempati jika berada di Kota Jakarta.
Namun di apartemen tersebut, Putri Aziza hanya bertahan selama 3 hari. Hal ini dikarenakan ruang hologram di kamar apartemen tersebut hanya bisa menampung 4 orang. Sementara Putri Aziza memerlukan ruang yang bisa memuat minimal 8 orang.
Setelah meminta ijin ke sahabatnya Putri Dayang Mariam, Putri Aziza menyewa satu kamar apartemen yang lebih luas. Lokasi kamar terbarunya ini, berada di satu komplek apartemen masih di wilayah Bintaro.
Selama di Indonesia, Putri Aziza melakukan penelitian tentang pertanian dan pada saat ini sudah memasuki tahap editor. Rencananya hasil penelitian tersebut akan dicetak menjadi sebuah buku ilmiah.
Kesibukan lainnya adalah mempersiapkan berbagai aturan perusahaan yang bakal dia bentuk, yang rencananya akan bekerja sama dengan divisi e-commerce Musi Corporation.
Selama berada di Indonesia, Putri Aziza berhasil membantu Ustadzah Halimah menjual sekitar 2.000 Unit Fly Car di kawasan benua Afrika.
Keberhasilan penjualan ini, menjadi salah satu faktor yang membuat Ustadzah Halimah dipandang sebagai pahlawan, yang mampu menyelamatkan divisi transportasi dari kebangkrutan.
Beragam kesibukan inilah yang membuat Putri Aziza harus menunda dulu keinginannya berziarah ke makam para penyebar Islam di Indonesia, diantaranya ke makam Maulana Maghribi.
Ketika tim ahlinya masih berada di Indonesia, Putri Aziza sering mengajak mereka makan siang di sebuah resto milik warga keturunan Tunisia di Indonesia.
Namun setelah tim ahlinya pulang, Putri Aziza lebih banyak mengunjungi resto "Warung Hafsah anak Betawi" milik sahabatnya. Di sana Putri Aziza mencicipi beraneka ragam masakan khas Indonesia.
Salah satu makanan yang dia cicipi adalah Pempek Palembang, makanan khas dari daerah keluarga Ustadz Hanafi. Dari beragam jenis pempek yang ada, Putri Aziza sangat menyukai Pempek Dos.
Pempek Dos adalah jenis pempek yang berbahan sagu, karena bahan pembuatnya yang sederhana, jenis Pempek Dos ini memiliki harga yang paling murah.
Makanan lain yang dia suka adalah gado-gado, tempe goreng dan tentunya soto betawi, yang merupakan masakan andalan dari "Warung Hafsah anak Betawi.
__ADS_1
Rencananya Putri Aziza akan menginvestasikan sejumlah dana untuk pengembangan resto "Warung Hafsah anak Betawi" ke beberapa daerah di Indonesia.
Menurut informasi Hafsah sahabatnya, saat ini sudah ada 2 daerah yang siap diresmikan cabangnya, yakni Semarang dan Surabaya. Sementara di Kota Palembang masih dalam tahap bernegosiasi untuk rumah yang bakal dijadikan resto.
Putri Aziza juga berencana akan membuka cabang "Warung Hafsah anak Betawi" di negaranya Tunisia. Dia berharap keluarganya juga bisa mencicipi beragam masakan lezat khas Nusantara.
*******
Kalung Ummul Mukminin Aisyah
Bertepatan dengan tanggal 1 Februari 2046, "Warung Hafsah anak Betawi" membuka cabang barunya di Komplek Apartemen Musi Jakarta 5.
Sebagaimana diceritakan sebelumnya, Komplek Apartemen Musi Jakarta 5, penghuninya merupakan karyawan Musi.Corporation. Dan di sini terdapat kediaman dari Ustadz Hanafi, dan Ustadzah Halimah.
Dalam rangka syukuran sekaligus perkenalan, Hafsah meminta bantuan Ustadzah Halimah untuk mengundang jamaah muslimah masjid AHM 19. Tidak lupa dia juga mengundang Putri Aziza dan Nadia sepupu Ustadz Hanafi.
Mendapat undangan dari sahabatnya itu, Putri Aziza meminta Hafsah untuk bisa menyajikan makanan favoritnya yakni gado-gado dan Pempek Dos Palembang.
Acara yang dijadwalkan sore hari itu, mulai ramai selepas waktu shalat asar. Undangan sebagian besar adalah karyawati dan istri karyawan Musi Corporation, nampak mulai berdatangan usai melaksanakan shalat berjamaah di Masjid AHM 19.
Selama acara berlangsung, Putri Aziza menjadi pusat perhatian para hadirin. Hal ini dikarenakan, sejak dirinya berhasil membantu Ustadzah Halimah menjual 2.000 unit Fly Car, nama Putri Aziza menjadi buah bibir di kalangan pegawai Musi Corporation.
Putri Aziza sadar bahwa dirinya jadi pusat perhatian. Untuk menghindari rasa grogi, dia menyibukkan diri mencicipi makanan favoritnya dan bercanda dengan Nadia yang duduk di sampingnya.
Dalam acara ini juga diisi tausiyah agama yang dibawakan oleh salah seorang guru dari Ustadzah Halimah dari Pesantren Al Mukmin Cirebon, yang bernama Ustadzah Asma.
Dikarenakan pada saat itu masih bulan rabi'ul awwal atau bulan kelahiran Rasulullah, Ustadzah Asma banyak mengupas kisah terkait kehidupan Nabi Muhammad bersama para sahabatnya.
"Mangapa Ummul Mukminin Aisyah, disebut wanita yanh diberkahi?" tanya Ustadzah Asma dalam ceramahnya.
Untuk menjawab pertanyaan itu, Ustadzah Asma menguraikan satu kisah yang banyak dicatat oleh sejarawan muslim.
__ADS_1
"Suatu ketika saat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menemani perjalanan Rasulullah, kalung yang dikenakannya terputus."
"Pada saat peristiwa itu terjadi, waktu sudah berada di penghujung malam menjelang subuh" ujar Ustadzah Asma menjawab sendiri pertanyaannya.
"Rasulullah memutuskan untuk berhenti, untuk mencari kalung yang terjatuh itu. Dan tindakan Rasulullah ini, kemudian di-ikuti juga para sahabat beliau."
"Dikarenakan tidak juga berhasil ditemukan, rombongan para sahabat itu memutuskan untuk beristirahat di lokasi tersebut."
Ustadzah Asma berhenti sebentar. Kemudian melanjutkan lagi tausiyahnya.
"Tempat pemberhentian itu, dikenal sebagai daerah Baida’ Dzatul Jaisy, yang merupakan wilayah kering dan sulit menemukan air."
"Sementara pada saat itu, bekal air rombongan kaum muslimin telah habis."
"Dan ketika masuk waktu subuh, turunlah ayat yang terdapat dalam Surah An-Nisa’ ayat 43, yang berbunyi."
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.
Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun."
Ustadzah Asma menarik nafas sebentar. Diberinya waktu kepada mereka yang hadir, untuk meresapi ayat tersebut.
"Ayat ini terkait dengan dibolehkannya umat Islam bertayamum untuk bersuci. Peristiwa turunnya ayat ini berdampak besar bagi kaum Muslimin."
"Sebelum diturunkannya ayat tersebut, kaum Muslimin wajib bersuci dengan berwudhu, karena belum ada kemudahan berupa tayamum."
"Dalam tafsir Ishaq Al-Busthi disebutkan bahwa Rasulullah, berkata kepada ‘Aisyah : “Betapa besarnya barokah kalungmu.“"
"Bersumber dari Ath-Thabrani menyebutkan, ayahanda ‘Aisyah yakni Sayyidina Abu Bakar, kemudian memberi julukan kepada puterinya sebagai wanita yang diberkahi dengan mengatakan: “Innaki lamubarokah”."
"Sementara kalung Ummul Mukminin ‘Aisyah, ternyata berada di bawah seekor unta yang dikendarai beliau. Kalung itu berhasil ditemukan setelah membangunkan unta tersebut" ucap Ustadzah Asma mengakhiri ceritanya.
__ADS_1