Ustadz Hanafi, Jadi CEO Perusahaan

Ustadz Hanafi, Jadi CEO Perusahaan
Zainab, Putri Haji Sofyan


__ADS_3

Di tahun 2046, Pulau Natuna telah menjadi Bandar Pelabuhan terbesar di Asia Tenggara. Setiap hari, ratusan kapal lalu lalang di sekitar Pelabuhan, baik kapal pengangkut barang maupun penumpang.


Setiap kapal yang datang dari sebelah utara, akan mampir dahulu ke Pulau Natuna, sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Indonesia atau menuju selat malaka.



Di pulau Natuna, Musi Corporation melalui divisi transportasi memiliki pangkalan kapal penumpang. Di pangkalan itu, bersandar beragam jenis kapal dari ukuran kecil hingga berukuran sangat besar.


Sementara divisi Energi Musi Corporation, memiliki puluhan Stasiun Pengisi Bahan Bakar Energi Surya (SPBBES) di pulau itu. Dan untuk dipahami, pada masa itu hampir semua kapal berbahan bakar Energi Surya.


Putri kedua Haji Sofyan berkerja sebagai staff ahli di Pangkalan Kapal Musi Corporation, sedangkan suaminya menjabat sebagai Kepala Bagian Umum di Pangkalan tersebut.


Sedangkan putri ketiga Haji Sofyan bersama suaminya, adalah mitra divisi Energi Musi Corporation. Mereka memiliki sekitar 7 SPBBES yang beroperasi di Pulau Natuna.


Sementara Putri Sulung Haji Sofyan menikah dengan salah seorang putra juragan ikan di Pulau Natuna, selanjutnya putri ke-4 Haji Sofyan ikut suaminya yang bekerja sebagai dosen di Universiti Kebangsaam Malaysia.


Dari ke-6 anak Haji Sofyam, hanya tinggal 2 orang yang masih tinggal bersamanya, yakni Malik anak bungsu laki-laki satu satunya, dan kakaknya bernama Zainab.


Zainab usianya 2 tahun lebih tua dari Ustadz Hanafi. Ustadz Hanafi biasanya memanggil dengan panggilan yuk enab.


Yuk Enab adalah alumni ITB, saat Yuk Enab mulai belajar di ITB, Abang Musa kakak dari Ustadz Hanafi sudah semester 5. Abang Musa lah, yang diberi tugas oleh Haji Sofyan untuk mengawasi sekaligus menjaga Yuk Enab selama kuliah.


Tuan Malik Abdullah dan Haji Sofyan, bahkan pernah berencana untuk menjodohkan kedua anak mereka itu. Namun rencana itu tidak berhasil, dikarenakan Abang Musa lebih memilih Sandra yang merupakan teman satu angkatannya di ITB.


Menurut cerita Abang Musa, Sandra terlihat sangat cemburu jika melihat Yuk Enab datang mengunjungi ruang kuliahnya buat bertanya soal mata pelajaran yang tidak dimengerti.


Yuk Enab juga sering kali datang menemui Abang Musa, sambil membawa oleh-oleh ikan teri khas Pulau Natuna.


Dan sampai sekarang, jika Abang Musa terlihat makan ikan teri, muka istrinya terlihat agak memerah karena cemburu.


Selepas tamat ITB, Yuk Enab sempat bekerja di Yayasan Amal Musi Corporation. Salah satu programnya di Yayasan yang masih berjalan hingga sekarang adalah pembagian nasi bungkus buat kaum dhuafa.


Namun setelah Abang Musa menikah dengan Sandra sekitar hampir 2 tahun yang lalu, Yuk Enab mengundurkan diri dari pekerjaannya.

__ADS_1


Alasan pengunduran diri Yuk Enab, karena ingin berkonsentrasi membangun tempat kelahirannya di Pulau Natuna.


Mundurnya Yuk Enab, sempat membuat Bunda Aisyah kelabakan mengurus Yayasan, sampai akhirnya mendapatkan pengganti yakni keponakannya sendiri, Nadia.


"Nafi... bagaimana kabar Panji Habibie, sehat kan?" tanya Yuk Enab menanyakan keadaan keponakan Ustadz Hanafi.


"Alhamdulillah Yuk sehat, demikian juga Abang Musa sekeluarga" jawab Ustadz Hanafi.


"Ehh.. Nafi, Abang Musa kabarnya sekarang melanjutkan studi ke Jerman ya?" tanya Yuk Enab lagi.


"Iya Yuk, Abang Musa juga membawa istri dan Panji Habibie ke sana" kata Ustadz Hanafi.


"Jadi... Mbak Sandra ambil cuti panjang?" tanya Yuk Enam menanyakan Sandra istri Abang Musa.


"Mbak Sandranya sudah berhenti jadi PNS, katanya mau fokus mengasuh Panji Habibie" jawab Ustadz Hanafi menjelaskan.


"Ohh begitu.." ucap Yuk Enab sambil membereskan kertas yang ada di meja kerjanya.


Yuk Enab saat ini sedang sibuk menyiapkan berdirinya sebuah LSM di Pulau Natuna. LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) tersebut rencananya berfungsi untuk mengawasi dampak lingkungan akibat eksploitasi laut yang berlebihan.


Namun Yuk Enab mewanti-wanti agar dalam mengeksploitasi kekayaan laut jangan berlebihan dan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.


*******


Kapal Nabi Nuh


Selain sebagai penunjuk jalan, Malik anak laki-laki satu satunya Haji Sofyan menjadi teman diskusi Ustadz Hanafi selama berada di Pulau Natuna.


Beragam topik diskusi yang mereka bicarakan, dari masalah teknologi perkapalan, situasi perpolitikan hingga ke permasalahan kebudayaan.


Meski Malik sempat drop out dari perguruan tinggi, namun dia tipe orang yang senang membaca sehingga wawasannya terhadap berbagai permasalahan sangat luas.


Ustadz Hanafi memberi masukan kepada Malik, agar mengambil mata kuliah di Universitas Terbuka, sebagaimana yang dilakukan dirinya saat mengambil gelar Sarjana Ekonomi.

__ADS_1


Nampaknya Malik sangat antusias menerima saran dari Ustadz Hanafi, dan dia akan segera mencari program studi apa yang cocok buat dirinya.


Berawal dari percakapan tentang sejarah perkembangan teknologi perkapalan di Indonesia, pembicaraan kemudian berlanjut ke pembahasan Kisah Kapal Nabi Nuh.


"Kapal Nabi Nuh, jauh lebih canggih dari yang kita bayangkan?" ungkap Malik saat berdiskusi dengan Ustadz Hanafi.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Ustadz Hanafi penasaran.


"Begini bang... mari kita bayangkan bentuk kapal Nabi Nuh berdasarkan cerita-cerita yang beredar" jawab Malik serius.


"Kapal Nabi Nuh diceritakan bisa memuat ribuan bahkan mungkin ratusan ribu pasang hewan. Dan hewan-hewan ini kelak menjadi nenek moyang hewan di masa sekarang" kata Malik melanjutkan.


"Dari sini saja, dapat kita ambil kesimpulan, bahwa kapal tersebut sangat besar, bahkan mungkin tidak dapat dibuat lagi oleh umat manusia" ucap Malik lagi.


"Iyaa bisa saja seperti itu, namun perlu di ingat Allah dapat kembali menciptakan beragam jenis hewan setelah masa peristiwa banjir besar" kata Ustadz Hanafi memberi analisa.


"Saya sependapat dengan abang, namun meski begitu jenis-jenis hewan yang ada sekarang secara genetik bukan hewan yang baru muncul, namun berdasarkan proses evolusi selama ratusan ribu tahun" kata Malik mengungkapkan teorinya.


"Ada lagi yang perlu kita kaji, bagaimana teknologi pengaturan suhu dalam kapal itu. Misal unta yang berada di wilayah panas, tentu berbeda cara perlakuannya dengan pinguin dari daerah dingin" ungkap Malik menjelaskan teorinya.


"Belum lagi untuk binatang-binatang kecil seperti semut, kutu, jangkrik, dan lainnya, perlu disiapkan tempat khusus. Sebab jika tidak, mereka dapat terinjak-injak oleh hewan yang lebih besar" ungkap Malik selanjutnya.


Ustadz Hanafi hanya diam, namun apa yang dikatakan Malik ada benarnya juga. Apalagi lama hewan-hewan tersebut di dalam kapal cukup lama, bukan sehari atau dua hari. Dan tentunya memerlukan pengaturan tempat yang sangat canggih.


"Itu baru pengaturan tempat, belum lagi bicara tentang gudang makanannya perlu ruang sebesar apa.." kata Malik lagi.


"Apalagi ada kisah yang mengatakan gelombang air ketika itu tingginya laksana gunung" ucap Malik sambil membuka catatan di hand phonenya.


"Kapal yang berhadapan dengan gelombang setinggi gunung, tentu dirancang sangat khusus. Jangankan kapal kayu biasa, kapal yang paling canggih saat ini juga tidak bakal kuat menghadapi terjangan ombak sedahsyat itu" ungkap Malik panjang lebar.


"Jadi kesimpulannya bagaimana?" tanya Ustadz Hanafi mulai tertarik dengan teori malik tersebut.


"Tidak menutup kemungkinan, di masa Nabi Nuh peradaban manusia telah mencapai tingkat ilmu pengetahuan yang sangat tinggi" jawab Malik.

__ADS_1


"Bahkan mungkin, tidak terbayangkan oleh kita sekarang, waLlahu a’lamu bishshawab" ucap Malik mengakhiri teorinya tentang kapal Nabi Nuh.


__ADS_2