Ustadz Hanafi, Jadi CEO Perusahaan

Ustadz Hanafi, Jadi CEO Perusahaan
Studi Banding Pesantren


__ADS_3

Menjelang dini hari, Ustadz Hanafi baru tiba di kamar apartemennya di Jakarta, setelah selama sekitar 4 hari berada di Pulau Batam dan Pulau Natuna.


Sambil beristirahat di kursi kerjanya, Ustadz Hanafi membuka hand phone untuk melihat pesan pesan yang masuk saat dia berpergian dalam beberapa hari ini.


Putri Aziza mengirim pesan bahwa dia rencananya tanggal 5 Februari akan pergi ke Palembang ditemani Hafsah dan Nadia. Tujuan kepergiannya, mau mengecek langsung rumah yang bakal dijadikan resto "Warung Hafsah anak Betawi".


Tidak berbeda dengan pesan Putri Aziza, Hafsah pun memberitakan hal sama. Namun ada tambahan bahwa dia bersama Nadia mau mengecek tanah yang bakal dibangun Pesantren Manula.


Sementara Nadia selain memberitahukan akan pergi ke Palembang, juga mengucapkan terima kasih atas bantuan Ustadz Hanafi mencarikan beberapa alternatif lahan untuk pendirian Pesantren Manula.


Putri Dayang Mariam agak berbeda, dia tidak bercerita tentang rencana pekerjaan, hanya memberitahu bahwa ibundanya sedang dirawat di rumah sakit karena mengalami gangguan pernafasan.


Namun pada pesannya yang kedua, Putri Dayang Mariam mengabarkan ibunya sudah membaik dan dalam dua hari ke depan sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah.


Satu per satu pesan yang masuk dibalas Ustadz Hanafi, kepada Nadia, Hafsah dan Putri Aziza yang menyampaikan agar berhati-hati selama di perjalanan.


Sedangkan untuk Putri Dayang Mariam, Ustadz Hanafi menyampaikan turut berbahagia atas telah pulihnya kesehatan Sang Ibunda. Dan Ustadz Hanafi mohon maaf tidak sempat membesuk saat berada di rumah sakit.


Dikarenakan capek setelah melakukan perjalanan jauh, Ustadz Hanafi terlelap di kursi kerjanya. Dia baru terbangun ketika alarm di hand phone nya berbunyi, menunjukkan sudah pukul 3.00 pagi.


Ustadz Hanafi bergegas mempersiapkan diri buat menunaikan Shalat Subuh berjamaah di Masjid. Setelah mandi dan berkemas, Ustadz Hanafi segera menuju Masjid AHM 19 yang berada di lantai 10.


Saat mau masuk pintu masjid, Ustadz Hanafi berpapasan dengan Ustadzah Halimah yang sedang menuju pintu khusus bagi muslimah.


Nampak Ustadzah Halimah berjalan ditemani oleh seorang wanita setengah baya, Ustadz Hanafi hanya berbalas senyum sebelum memasuki masjid.


Seusai Shalat Subuh berjamaah, dalam perjalanan kembali ke kamar apartemen, ada suara memanggil Ustadz Hanafi.


"Ustadz Hanafi!" suara itu mengejutlan Ustadz Hanafi dan secara reflek menoleh ke arah samping.


Nampak Ustadzah Halimah sedang berjalan menghampiri Ustadz Hanafi.


"Ustadz... perkenalkan ini ibundanya Halimah" kata Ustadzah Halimah memperkenalkan wanita yang ada disampingnya.


"Alhamdulillah... akhirnya diberi kesempatan bertemu dengan Bundanya Ustadzah Halimah" ucap Ustadz Hanafi.

__ADS_1


"Bagaimana kabarnya Bunda? Semoga Bunda selalu diberi kesehatan" kata Ustadz Hanafi melanjutkan.


"Alhamdulillah sehat Ustadz... saya sering dengar nama Ustadz dari Halimah, akhirnya bisa berjumpa di sini" ujar bundanya Halimah dengan ramah.


Mendengar perkataan ibunya, nampak Ustadzah Halimah agak salah tingkah dengan raut wajah nampak sedikit kesal.


Merekapun dalam beberapa saat saling sapa dan bercakap-cakap. Bundanya Halimah meski sudah berumur, akan tetapi masih tampak bugar dan sigap gerakannya.


Dari percakapan, Ustadz Hanafi mengetahui bahwa kedatangan bundanya Ustadzah Halimah adalah dalam rangka studi banding.


Rencananya dalam beberapa hari ke depan, Sang Bunda akan berkunjung ke beberapa pesantren di Jakarta.


Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, keluarga besar Ustadzah Halimah merupakan pemilik sekaligus pengasuh dari Pondok Pesantren Al Mukmin Cirebon.


Dari info Ustdzah Halimah, salah satu pesantren yang bakal dikunjungi adalah Pesantren Al Mansur Cabang Jakarta.


Selain itu, bundanya Ustadzah Halimah sedang mengajukan ijin agar bisa berkunjung ke Yayasan Amal Musi Corporation.


Bundanya Ustadzah Halimah mengungkapkan, bahwa pesantrennya tertarik dengan program Pesantren Manula yang dipelopori Yayasan Amal Musi Corporation.


*******


Pindang Pegagan


Biasanya jika tidak sakit atau melakukan perjalanan jauh, Ustadz Hanafi selalu menyempatkan diri berpuasa sunnah Senin Kamis.


Namun dikarenakan terlalu lelah setelah bepergian ke Pulau Batam dan Pulau Natuna, pada hari senin ini Ustadz Hanafi memutuskan tidak berpuasa sunnah dulu.


Melalui hot line internal khusus yang terdapat di komplek apartemennya, Ustadz Hanafi memesan makanan ke resto "Warung Hafsah anak Betawi" yang baru saja dibuka.


Setelah melihat daftar menu yang terdapat di website "Warung Hafsah anak Betawi", Ustadz Hanafi memesan makanan favoritnya yakni nasi pindang pegagan, masakan khas daerah Sumatera Selatan.



Pindang Pegagan merupakan makanan kesukaan ayah dan kakeknya. Jadi tidak heran selain dirinya, masakan ini juga disukai oleh Abang Idris dan Abang Musa.

__ADS_1


Pindang Pegagan berbahan utama daging ikan, biasanya jenis ikan patin dengan bumbu bumbu terdiri dari cabai merah, bawang merah, bawang putih, tomat, lengkuas, serai, nanas, daun salam, kemangi dan daun bawang.


Setelah dihaluskam, bahan-bahan tersebut kemudian dicampur dengan terasi, asam jawa, gula, garam dan kecap asin yang dimasukkan ke dalam air secukupnya.


Masakan Pindang Pegagan sangat nikmat jika dimakan dalam keadaan hangat dan ditemani sambal buah, seperti buah kemang atau mangga.


*******


Hologram Asisten


Seusai makan pagi, Ustadz Hanafi mulai membereskan barang-barang bawaannya dari Pulau Natuna.


Haji Sofyan dan istrinya menitipkan oleh-oleh berupa ikan teri khas Pulau Natuna. Rencananya oleh-oleh ini akan Ustadz Hanafi berikan kepada ibundanya, Bunda Aisyah Ismail.


Sementara Malik menitipkan batu-batuan warna warni. Menurut Malik, bebatuan ini ditemukan para nelayan di sebuah pulau tidak jauh dari pulau Natuna.


Malik berharap, Ustadz Hanafi bisa meneliti kandungan yang terdapat pada bebatuan tersebut. Dan lebih jauh, bisa menemukan manfaat dari bebatuan itu.


Lain lagi Yuk Enab, dia menitipkan proposal program pelestarian lingkungan. Rencananya proposal tersebut akan Ustadz Hanafi titipkan ke Yayasan Amal Musi Corporation untuk dipelajari lebih mendalam.


Setelah beres-beres selesai, Ustadz Hanafi menyempatkan diri untuk menjalankan Shalat Sunnah Dhuha 4 rakaat seperti kebiasaannya selama ini.


Selesai Shalat, Ustadz Hanafi baru mulai melakukan pengecekan terhadap beberapa laporan keadaan situasi perusahaan, yang ditinggalkannya sekitar 4 hari.


Aktivitas pengecekan ini, Ustadz Hanafi biasanya menggunakan alat bantu yang dikenal dengan nama "Hologram Asisten".



Hologram Asisten merupakan sosok hologram berbentuk manusia yang di program menganalisa laporan laporan kondisi perusahaan yang masuk dalam memorinya.


Selama Ustadz Hanafi berpergian, semua staffnya diwajibkan mengirimkan laporan semua aktivitas kerja ke hardware hologram asisten miliknya.


Hologram Asisten tidak saja berfungsi untuk menyimpan data kemudian menyampaikan kepada ownernya. Akan tetapi, alat ini bisa menganalisa, bahkan memberi alternatif solusi kepada pemiliknya.


Hasil analisa Hologram Asisten ini menjadi salah satu pertimbangan Ustadz Hanafi dalam mengambil alternatif keputusan. Keputusan finalnya baru diambil setelah Ustadz Hanafi mendengar pertimbangan dari para staff ahlinya.

__ADS_1


__ADS_2