Ustadz Hanafi, Jadi CEO Perusahaan

Ustadz Hanafi, Jadi CEO Perusahaan
Ibadah di Masa Tua


__ADS_3

Sukses dalam presentasi bukan berarti tugas Hafsah dan Nadia selesai. Kesokan harinya setelah preaentasi, keduanya mendapat tugas mengantar peserta studi banding ke Pondok Pesantren Manula (manusia usia lanjut) di daerah Depok.


Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, pendirian Pesantren Manula ini adalah atas inisiatif Nadia yang merupakan sepupu dari Ustadz Hanafi.


Dalam program ini, para sesepuh yang telah berusia 70 tahun ke atas, akan memperoleh pendidikan keagamaan secara gratis.



Bukan hanya itu, biaya hidup mereka selama berada di pondok juga ditanggung pihak Yayasan Amal Musi Corporation.


Tujuan dari program Pesantren Manula, salah satunya adalah memberi kesempatan kepada para sesepuh ini untuk bisa berkonsentrasi menjalankan ibadah di masa tua.


Program Pesantren Manula ini bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al Mansyur yang diasuh keluarga besar Kiai Ismail Mustafa, kakek dari Ustadz Hanafi.


Dari pihak Pesantren mendatangkan beberapa orang tenaga pengajar, untuk memberi pengajaran kepada para santri manula ini, berbagai ilmu keislaman.


Sementara untuk tenaga perawat, pihak Pesantren Manula mendapat bantuan dari beberapa klinik, lembaga kesehatan dan sekolah keperawatan.


Pesantren Manula pertama yang berada di Depok menerima 500 orang peserta. Sebagian besar mereka hidup sendiri karena pasangan hidupnya sudah meninggal dunia.


Para sesepuh ini ditempatkan di sebuah komplek perumahan yang lokasinya tidak jauh dari gedung serba guna, masjid dan klinik kesehatan.


Saat rombongan studi banding datang, Para Santri Manula ini sedang berkumpul di Gedung Serba Guna untuk mendapat pembelajaran tentang agama.


Gedung Serba Guna terdiri dari dua bangunan utama, yakni bangunan buat santri pria dan satu lagi khusus untuk santri wanita.


Di masing-masing bangunan ada dapur umum. Para santri akan melakukan kegiatan makan siang bersama, sebelum melaksanakan shalat dzuhur berjamaah atau jumatan jika di hari jum'at.


Diantara kedua bangunan utama ini, berdiri Masjid yang cukup megah terdiri dari 2 lantai. Saat shalat berjamaah, para santri pria akan ditempatkan di lantai bawah, sementara santri wanita berada di lantai atas.



Para tamu atau pihak keluarga yang mau menjenguk orang tuanya biasanya memanfaatkan waktu makan siang untuk bisa bertemu.

__ADS_1


Demikian halnya peserta studi banding yang berasal dari berbagai Pondok Pesantren di Banten dan Jawa Barat, mereka menunggu saat waktu makan siang buat bertemu langsung dengan para santri manula ini.


"Bagaimana ibu... sehat?" tanya seorang peserta studi banding kepada seorang ibu yang sudah berumur 75 tahun.


"Alhadulillah sehat.." jawab ibu tersebut yang merupakan salah seorang santri di Pesantren Manula.


"Ibu masih punya keluarga?" tanya peserta Studi Banding itu lagi.


"Iya masih... anak saya 7 orang, besok hari sabtu biasanya ada yang datang sambil membawa keluarganya" kata ibu itu sambil tersenyum.


"Kenapa tidak ikut anaknya saja ibu?" peserta Studi Banding itu sepertinya penasaran.


"Wah.. Saya tidak mau bikin repot anak saya" jawab Ibu itu lagi.


"Lagi pula disini, saya bisa belajar agama dan punya banyak teman untuk saling berbagi cerita" jawab ibu itu menambahkan.


Peserta studi banding itu hanya bisa diam. Pendapat dari ibu ini ada benarnya juga pikirnya.


"Kalau rindu sihh iya... tapi tiap hari Sabtu dan Ahad, anak-anak saya diperbolehkan untuk menginap, jadi cukuplah buat mengobati rindu" kata ibu tadi sambil menunggu makan siangnya datang.


Saat makan siang, para peserta studi banding ikut mencicipi masakan yang biasa dimakan para santri tersebut. Tentu makanan yang disiapkan teksturnya lebih lembut dan lunak, karena diperuntukkan bagi para sesepuh yang berusia 70 tahun ke atas.


Dikarenakan hari itu adalah hari jum'at, para santri pria melaksanakan ibadah jumatan di Masjid, sementara para santri wanita diperkenankan untuk kembali ke kediamannya.


Namun ada beberapa santri wanita yang juga ikut jumatan, mereka selama pelaksanaan ibadah shalat jum'at menempati lantai atas masjid.


Para peserta studi banding yang laki-laki ikut bergabung malaksanakan ibadah shalat Jum'at, sementara peserta studi banding wanita membentuk semacam pengajian dan dilanjutkan shalat dzuhur berjamaah di gedung serba guna.


Usai shalat jum'at, peserta studi banding berkeliling pesantren sambil melihat langsung kondisi kediaman para santri manula ini.


Mereka juga berkunjung ke klinik kesehatan pesantren. Di klinik tersebut, nampak beberapa santri sedang menjalani perawatan kesehatan.


Usai melaksanakan Shalat Asar berjamaah di Masjid pesantren, peserta studi banding mulai beranjak pergi. Mereka membawa berbagai pengetahuan dan pengalaman, untuk nantinya bisa diterapkan di pondok pesantren yang mereka asuh.

__ADS_1


Sementara Nadia dan Hafsah meski cukup lelah mengikuti kegiatan studi banding ini, namun keduanya sangat puas, para peserta studi banding bisa memahami program yang telah mereka jalankan selama ini.


*******


Shalat Jum'at bagi Kaum Wanita


Dalam kisah di atas, ada beberapa santri wanita yang ikut melaksanakan ibadah shalat jum'at.


Bagaimana sesungguhnya dalil dalam melaksanakan ibadah shalat jum'at bagi kaum wanita?


Di masa Rasulullah ada beberapa wanita yang pernah ikut beliau menghadiri shalat Jumat. Salah satunya, Ummu Hisyam binti al-Harits.


Di dalam riwayat Imam Muslim, Ummu Hisyam berkata, "Tidaklah saya hafal surah Qaaf melainkan langsung dari mulut Rasulullah yang dibacanya setiap kali khutbah Jumat."


Berdasarkan hal ini, maka bagi seorang muslimah yang mengerjakan shalat Jumat, shalatnya terhitung sah. Dan dengan itu dia tidak perlu mengerjakan shalat Dzuhur, dikarenakan kewajibannya untuk shalat dzuhur empat rakaat telah gugur.



Di beberapa negeri muslim seperti Timur Tengah, beberapa masjidnya menyediakan fasilitas ruangan khusus bagi wanita yang ingin menunaikan shalat Jumat.


Demikian juga ada beberapa daerah di Indonesia melakukan hal yang sama, salah satunya menempatkan jamaah wanita di lantai atas Masjid.


Imam al-Nawasi dalam al-Majmu' Syahr al-Muhadzdzab menyebut muslimah yang difasilitasi dalam menunaikan shalat Jumat dan menjalankannya, maka shalatnya dipandang sah sebagaimana shalat kaum lelaki. Mereka tidak perlu mengulang shalat Dzuhur.


Dalam menjalankan shalat Jumat, ada beberapa sunah yang juga perlu diikuti oleh muslimah. Beberapa sunah sama dengan sunah shalat Jumat laki-laki yakni mandi sebelum shalat.


Sunah lainnya yakni membersihkan mulut dengan sikat gigi atau siwak, memotong kuku serta menghilangkan bau yang tidak sedap atau memakai wewangian.


Dianjurkan pula untuk bersegera menuju masjid. Hal ini disebutkan oleh Abu Hurairah radiallahu anhu, dimana Nabi Muhammad pernah bersabda,


"Apabila hari Jumat tiba maka akan ada para malaikat di setiap pintu-pintu masjid. Mereka akan mencatat setiap orang yang datang dari yang pertama, lalu berikutnya dan berikutnya.


Hingga ketika Imam telah naik di mimbarnya para malaikat pun menutup catatan catatannya, lalu mereka ikut mendengarkan khutbah."

__ADS_1


__ADS_2