
Sebelum aku mengenggammu, aku tidak tahu. Bahwa dunia yang aku tempati ini. Akan secerah ini. Aku meraihmu dengan sedikit nafas kehidupan.
Inilah cinta yang memanggilku tanpa rasa takut. Aku sangat menyukainya. Saat mengawasimu, berdebar hatiku.
Bahkan ketika aku merasa cemburu. Semuanya hanyalah hal yang biasa. Dalam keabadian gelap. Dalam penantian panjang. Layaknya sinar mentari, kau jatuh padaku.
Sebelum aku melepaskanmu, aku tidak tahu bahwa dunia ini membuatku kesepian bunga-bunga indah yang bermekaran mulai berguguran. Inilah musim dimana kau tidak akan pernah kembali lagi.
Aku mulai serakah.
Aku ingin hidup denganmu, tua bersamamu. Memegang tanganmu yang keriput. Dan mengatakan betapa hangatnya hidupku. Itu salah satu anugerah. Setelah pertemuan singkat itu.
Kau menangis seperti hujan. Aku ingin. Bahagia sekali saja. Tapi itulah yang membuatmu menangis. Lupakan segalanya. Karena aku akan menghampirimu. Ketika nafasmu. Memanggilku lagi. Aku tidak akan pernah lupa.
Saat mengawasimu, berdebar hatiku. Bahkan ketika aku merasa cemburu. Semua hal yang kau berikan padaku. Suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi. Ini akan menjadi hari yang terindah.
Aku akan menghampirimu seperti halnya salju pertama
Aku akan menghampirimu...
**
Hasley wanita malang yang kesepian. Ia selalu duduk di sana. Tepatnya di depan rumahnya sambil menunggu salju pertama turun di bulan Desember.
Pemilik mata cokelat itu selalu menanti kedatangan makhluk yang dapat merubah hidupnya sedikit berwarna. Ya sedikit, dia hanya akan datang menemui gadis itu saat salju turun.
Ini adalah sudah tahun kelimanya menunggu seorang pria. Tunggu dulu, seorang pria?! Bahkan Hasley tak tahu harus menyebutnya apa. Namun yang jelas ia sangat merindukan kehadiran pria tersebut malam ini.
Tepatnya Desember tahun 2014.
Hasley yang sudah tidak memiliki orangtua sejak kecil terpaksa harus keluar dari rumah pamannya, rumah yang sudah menaunginya sejak kecil.
Sebenarnya dia cukup beruntung. Karena pamannya diam-diam sudah memberikannya sebuah rumah terpencil di Luzern.
Matanya menyipit, dia menghembuskan nafas beratnya berkali-kali. Dan berucap pelan jika semua akan baik-baik saja.
"Pasti bisa Hasley, kamu pasti bisa!!" ucapnya berulangkali untuk menyemangati dirinya sendiri.
Padahal dalam hatinya nyalinya cukup menciut ketika melihat rumah yang cukup besar namun terlihat sangat tua tersebut.
Ia melangkahkan kakinya di tumpukkan salju. Tak ada yang membersihkan salju itu. Tentu saja tidak ada. Karena di sana hanya rumah yang akan ditinggalinya lah berdiri kokoh tanpa rumah lain di sampingnya.
"Haruskah aku tinggal di sini??" Pundaknya melemas, tas yang berisi semua pakaiannya ia letakkan di teras rumah yang lantainya terbuat dari kayu bengkirai.
Kemudian ia mencoba masuk ke dalam rumah itu, dengan ragu Hasley memutar kenop pintu yang sedikit berkarat. Ini benar-benar cobaan untuknya. Bagaimana bisa ia akan tinggal di rumah itu? Tanpa tetangga, dan tinggal di rumah yang tua. Ralat, lebih tepatnya rumah yang sudah sangat tua.
Hasley tak pernah tahu jika pamannya memiliki rumah tersebut. Namun sebelum ia memberikan alamat rumah pada dirinya. Pamannya mengatakan jika rumah itu dulunya adalah tempat tinggal ayah dan ibunya sebelum meninggal.
Tentu saja Hasley tidak bisa mengingat sama sekali. Ia ditinggalkan sendirian di bumi ini saat dia berumur dua bulan. Masih sangat kecil bukan?! Lalu pamannya yang tidak lain adalah adik dari ayahnya merawatnya hingga berumur sembilan belas tahun. Umur yang sudah tidak lagi bisa disebut anak kecil namun juga belum bisa disebut dewasa.
Rumahnya nampak kotor! Banyak debu, dan juga jaring laba-laba seakan menjadi hiasan permanen di sana.
Mungkin ini sudah ke sepuluh kalinya dia menghembuskan nafas kesalnya. Namun dia benar-benar tidak tahu apakah dia bisa hidup di rumah itu atau tidak. Benar-benar bukan seperti rumah untuk manusia. Namun pikirannya berubah ketika dia mengingat jika rumah tersebut sempat ditinggali oleh ayah dan ibunya.
BRUK!!!
Suara keras terdengar dari arah depan rumah. Hasley terlonjak kaget dan langsung menoleh ke arah suara.
Dia mengutuk dalam hati dan bersumpah. Jika dirinya di sana hanya ingin hidup tenang. Ia sama sekali tak ada niatan untuk bertemu dengan hantu atau sejenisnya, sekalipun hantu itu sangat tampan. Hasley benar-benar tak ingin bertemu dengan mereka.
Hasley melangkah pelan. Namun sia-sia karena setiap langkah kakinya menimbulkan suara.
Pintu yang tadinya tertutup kemudian terbuka kasar karena tiupan angin kencang yang berasal dari depan rumah.
Hasley terperanjat ketika melihat sesosok makhluk polos tanpa mengenakan selembar kain di tubuhnya.
Ia menutupi matanya dengan kedua tangannya karena tak ingin melihat tubuh tanpa berbusana itu mengotori matanya.
"Kamu siapa?!" tanya Hasley takut, dia memundurkan langkahnya ketika makhluk yang berjenis kelamin pria itu maju menghampirinya.
"Jangan maju!!! Kalau kamu maju?!!! Maka aku akan.. Mundur!!"
Pria aneh itu berhasil membuat Hasley ketakutan. Ia tak menemukan jawaban dari pria tersebut karena kembali masuk ke dalam rumah.
"Hantu? Alien? Atau? Siluman?" gumam Hasley, dia berjalan mendekati jendela dan memandang pria tersebut dari kejauhan.
Pria itu nampak kebingungan. Dia kemudian duduk diantara tumpukkan salju seakan tidak merasa kedinginan sama sekali.
"Apa dia sudah gila?!!" Maki Hasley, matanya tak bisa lepas dari pemandangan yang ada di depannya.
Gadis itu tak bisa tinggal diam. Dia harus melakukan sesuatu agar pria tersebut pergi.
***
Hasley akhirnya mengalah. Setelah semalaman mengamati tingkah pria aneh tersebut yang menurutnya tidak ada tanda niatan jahat darinya.
__ADS_1
Dia memberikan bajunya untuk pria yang belum diketahui namanya itu. Baju yang tak cukup untuk menutupi area perutnya dan celana yang bahkan malah menampilkan v line dari pria berparas lumayan tampan tersebut.
"Aku akan memberikanmu baju lain kali," gumam Hasley sambil menahan tawanya ketika melihat pria itu memakai bajunya.
Hasley menyuruhnya masuk karena ia pikir mungkin manusia itu akan mati karena terkena hipotermia. Namun reaksi pria tersebut mendadak aneh ketika melihat sebuah perapian yang menyala.
"Kamu takut api?!" tanya Hasley, dia bingung harus menggunakan bahasa apa agar si pria itu mengerti.
Si pria tanpa menoleh ke arah Hasley dan mengangguk.
"Eh, kamu mengerti apa yang aku katakan barusan?"
Dia mengangguk lagi. Dan terpaksa Hasley mematikan api di perapian tersebut karena pria itu takut.
Entah apa yang ada dipikiran Hasley, mengapa dia mau berbuat hal seperti itu untuk seseorang yang baru saja ia temui. Mungkin karena wajah tampannya? Ataukah?
Hasley terkejut ketika tak menemukan bayangan pria itu di tempatnya berdiri semula. Matanya melirik ke arah pintu yang terbuka. Ia setengah berlari demi menemukan pria itu.
Benar dugaannya, pria itu kembali duduk di atas tumpukan salju. Dia nampak bahagia, atau lebih bahagia sebelum mengenakan pakaian tadi. Meski sedikit khawatir namun Hasley akan membiarkannya kali ini.
Senyum pria itu terulas jelas di bibirnya. Seakan tahu jika ia dipandangi dari belakang dia langsung menoleh ke arah Hasley dan mendatanginya.
"Kamu mau mengajakku bermain?" tanya Hasley setelah melihat gestur tangan pria itu yang seperti ingin mengajaknya bermain.
Hasley menggelengkan kepalanya cepat namun pergelangan tangannya sudah diraih pria itu.
"Kamu dari mana?" tanya Hasley tiba-tiba membuat kegiatan keduanya yang sedang membuat manusia salju terhenti.
Jari telunjuknya menunjukkan butiran salju yang jatuh diantara mereka.
"Salju? Kamu dari salju?!" Hasley menarik sudut bibirnya seakan mengejek jawaban pria itu. Dia sudah cukup dewasa untuk ditipu.
"Kamu pikir aku percaya?"
Si pria menangguk cepat. Membuat Hasley terkekeh. Dalam tubuh pria dewasa itu mengapa terdapat jiwa anak-anak di dalamnya?
"Lalu namamu?" Pertanyaan dari Hasley langsung dijawab gelengan dengan cepat.
"Oh kamu belum punya nama? Bagaimana kalau ku beri nama Mr Snow?!!" Ini lebih seperti tawar menawar, namun anehnya pria tersebut langsung menyetujuinya.
**
Sudah tiga bulan Hasley ditemani oleh Snow di rumah barunya. Rumah yang dahulu terlihat menyeramkan kini berubah menjadi rumah yang cantik setelah dia membersihkan dan menghiasnya bersama dengan Snow.
Selama tiga bulan itu pula Hasley mendapatkan teman baru yang sangat baik meskipun tak pernah berbicara sepatah katapun padanya. Tapi setidaknya dia bersyukur karena Snow tak pernah berbuat aneh-aneh selama ini.
Hasley menyadari satu hal mengapa ia harus percaya pada Snow. Karena jika manusia kebanyakan akan mengeluarkan hawa panas dari tubuhnya namun itu tidak ia temukan pada tubuh Snow.
Tubuh yang berkulit putih dan pucat pasi. Selalu mengeluarkan hawa dinginnya. Hasley menyadari hal itu saat tak sengaja bersentuhan dengan Snow.
"Kau serius berasal dari salju?" tanya Hasley saat mereka berdua menatap salju yang kembali turun dari jendela.
Snow menangguk. Dia membuat ekspresi sedikit jengkel karena Hasley tak kunjung percaya padanya.
"Lalu kamu akan pergi setelah musim dingin berakhir?" Penekanan kalimat Hasley yang nampak tak rela jika Snow harus pergi meninggalkannya.
Snow mengangguk namun ragu. Ia sepertinya juga enggan meninggalkan gadis itu sendirian.
"Tapi kamu akan kembali kan?"
Snow menatap salju yang ada di depannya dengan pandangan kosong. Tak seperti biasanya dia mengabaikan pertanyaan dari Hasley.
Raut wajah Hasley tiba-tiba murung. Ia tak mengerti dengan dadanya yang terasa sangat sesak. Dia tak ingin kehilangan Snow yang sudah menemaninya selama beberapa bulan ini.
"Sepertinya kamu tak akan kembali," gumam Hasley ia berbalik dan berjalan meninggalkan Snow.
"Aku akan kembali." Suara itu terdengar sangat merdu. Hasley tak berani membalikkan tubuhnya. Ia masih terpaku di tempatnya berdiri.
Apakah Snow sudah bisa berbicara sekarang?
"Snow?! Apakah itu kamu?!" tanya Hasley memastikan. Ia sangat takut jika jawaban itu tak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Suara langkah mendekatinya dan hawa dingin menyergapnya tiba-tiba.
"Iya ini aku." Snow berbicara di depan Hasley. Mulut Hasley sedikit menganga tak percaya dengan apa yang ia dengar saat itu.
Dia setengah menangis dan memeluk Snow yang bersuhu dingin tersebut. Namun sepertinya dia tak peduli.
"Kenapa tidak bicara dari dulu? Jadi aku ada teman untuk ku ajak bicara?! Dasar bodoh," ucapnya sambil menyeka air matanya dengan kasar.
Tangan dingin itu membantunya mengusap air mata yang sudah menetes di pipinya.
"Aku belajar dari kamu. Aku takut salah berbicara." Mata Snow menatap dalam wanita yang ada di depannya.
**
__ADS_1
"Hasley aku akan pergi." Suara samar itu terus terdengar dari semalam. Namun Hasley mengabaikannya karena terlalu lelap dalam tidurnya.
Ia berpikir jika itu mungkin saja mimpi. Yah, mimpi buruk yang selama ini Hasley alami, namun ia tak bisa menceritakannya pada Snow.
Musim dingin akan segera berakhir dan Hasley dalam perasaan yang tidak karuan sejak tahu jika Snow akan pergi dalam waktu dekat.
Dengan malas ia melangkahkan kakinya menuju beranda depan tempat Snow biasa duduk melihat salju yang menumpuk.
Namun dia harus kecewa karena tidak menemukan bayangan Snow dimana-mana. Pikirannya sudah mulai kacau ketika panggilannya tak dijawab oleh Snow.
"Snow kamu dimana?!" teriaknya putus asa, ia sudah hampir menangis karena berpikir pria itu sudah menghilang.
"Kamu memanggilku?" tanya Snow dengan wajah polosnya, ia kemudian meletakkan boneka salju kecil yang sudah ia buat di atas piring.
"Kamu menangis?" tanyanya lagi.
"Itu apa?!" Hasley masih setengah terisak, dia sedikit malu karena Snow menemukannya tengah menangis.
Pria itu langsung menghampirinya dan memeluk tubuh Hasley. Meskipun ia menggigil namun Hasley membiarkan Snow memeluknya. Karena mungkin ia tak akan merasakan hal itu setelah Snow pergi.
"Jangan pergi tiba-tiba tanpa ijinku," lirih Hasley dijawab anggukan oleh Snow.
"Aku membuatnya agar kamu tidak kesepian." Ia menyerahkan manusia salju tadi pada Hasley.
Hasley tersenyum melihat usaha Snow yang tidak pernah membuatnya kecewa.
"Terima kasih."
Snow menatap salju yang mulai mencair. Sepertinya waktunya tinggal sebentar lagi. Menyadari hal tersebut, maka dari itu Snow membuatkan sebuah kenangan untuk Hasley.
"Kamu akan pergi?" tanya Hasley ia menarik ujung baju Snow ketika pria itu beranjak dari hadapan Hasley.
"Kamu tidak apa-apa kan? Aku akan ke sini lagi. Aku berjanji."
***
Desember 2019
Hasley yang kini dengan rambut panjangnya, ia tutupi dengan syal yang juga menutupi lehernya. Hari ini ia tak sabar menanti salju pertama turun di bulan Desember.
Tangannya ia tiup untuk mengurangi rasa dingin yang sejak tadi sudah menjalar di sekujur tubuhnya.
Dia masih mengingat dengan janji Snow jika akan datang saat salju pertama turun. Dia tak akan pernah ingkar janji. Karena di tahun-tahun sebelumya ia selalu datang padanya.
Bahkan karena sekarang dia sudah siap, Hasley telah menyiapkan baju untuk Snow. Baju yang tipis untuknya.
Hasley tersenyum tiap kali mengingat kenangan indah bersama Snow meski terasa sangat singkat. Pria bersuhu dingin yang mampu menghangatkan hatinya.
BRUK!!!
Suara yang dinanti Hasley akhirnya datang juga. Ia berlari menuju arah suara demi melihat kehadiran Snow malam itu.
"Snow?!" Hasley memanggil Snow begitu semangat.
Namun hingga beberapa detik tak ada sahutan maupun penampakan dari Snow muncul di hadapannya.
Dia mulai kecewa ketika mengetahui jika bukanlah Snow yang datang melainkan sebuah dahan pohon yang jatuh ke bawah.
Dia menarik nafasnya, mengatur debaran jantungnya yang mulai tak menentu. Ada sedikit rasa kecewa menyelinap dalam dadanya.
"Kamu menungguku?!" Suara lembut itu membuat mata Hasley membulat. Lagi-lagi ia tak ingin kecewa karena bisa saja itu halusinasinya karena terlalu merindukan Snow.
Namun, sebuah pelukan yang terasa dingin berasal dari belakang membuatnya yakin jika itu adalah Snow.
Hasley memegang tangan pucat itu kemudian membalikkan badannya dengan perlahan.
Ya, benar itu adalah Snow. Kini ia datang lengkap mengenakan baju. Hasley terkekeh, ia tak jadi kecewa pada Snow.
"Kamu sekarang sudah banyak berubah. Wajahmu kini bertambah dewasa."
Hasley sedikit kecewa karena hanya dirinya lah yang berubah. Umurnya berjalan dan dari tahun ke tahun semakin menua. Kini umurnya sudah dua puluh empat tahun. Wajar jika Snow mengatakan hal itu. Namun Snow, wajah itu tak pernah berubah sejak pertama kali mereka bertemu.
"Ada yang ingin ku lakukan padamu," ucap Hasley pelan, sedangkan Snow memasang wajah bingungnya.
Karena perbedaan jarak tinggi diantara mereka adalah tiga puluh sentimeter. Hasley terpaksa berjinjit demi meraih kedua pipi Snow.
Kemudian dia mengecupkan bibirnya pada bibir Snow. Pria itu membulatkan matanya dan sedikit terkejut. Padahal Hasley sudah memberikannya sebuah aba-aba padanya.
Dia kemudian teringat dengan film yang pernah ia tonton dengan Hasley waktu itu. Tentang adegan ciuman yang membuat mereka berdua cukup malu.
Ciuman singkat berakhir, namun saat Hasley akan melangkah Snow menarik lengan Hasley hingga membuat tubuhnya menghadap ke arahnya. Ia sedikit menundukan wajahnya demi mensejajarkan dengan wajah Hasley.
CUP!!
Snow membalas ciuman dari Hasley. Ia tak ingin wanita itu malu karena menganggap Snow tidak mau dicium olehnya.
__ADS_1
End~