
Setiap langkahnya selalu menjadi perhatian, seakan langkahnya meninggalkan jejak virus. Mereka memandang jijik dan muak. Oh ayolah dia juga muak dengan semua ini. Luna menguatkan hati mengabaikan semuanya, Luna bahkan menulikan pendengaran nya. Ia terus berjalan menikmati sejuknya udara pagi, meski baru tiga bulan ia tinggal di desa ini, tapi ia sudah menghafal jalanan di desa.
Sedikit lagi ia akan sampai di sekolahnya. Tapi langkahnya terhenti karena ada yang melempar ranting ke arahnya. Tidak mengenai tubuhnya tapi hampir saja karena ranting itu mengenai ujung sepatunya. Ia mengangkat pandangan mencari sang pelempar. Di lihatnya ada seorang anak laki-laki yang menggunakan seragam sepertinya. Luna mengabaikan anak laki-laki itu dan melewatinya begitu saja. Tapi anak laki-laki itu malah masih mengikuti langkahnya. Tak ambil pusing ia terus melanjutkan langkahnya hingga memasuki kelas.
“Weihh, si bisu udah Dateng.” Ujar salah satu anak perempuan di kelas itu.
“Iya, nantikan buk Rista menyuruh perwakilan kelompok untuk baca puisi, lah dia kan gak punya kelompok. Gimana bacanya?” mereka semua tertawa. Menganggap kekurangan Luna adalah bahan candaan.
Ya di sini Luna sering di bully, bahkan di kucilkan. Semua anak di sekolah menganggap ia aneh hanya karna tak bisa bicara.
Tet tet
Bell tanda masuk berbunyi. Semua anak yang masih ada di luar mulai memasuki kelas. Tak lama guru mata pelajaran pertama masuk. Seperti yang di bilang oleh mereka tadi. Buk Rista memang menyuruh anak-anak membuat, menganalisis dan membaca puisi. Setiap kelompok terdiri dari dua orang tidak boleh lebih. Tapi karena tidak ada yang mau sekelompok dengan Luna, maka ia melakukan tugas itu sendirian.
“Hallo, pagi anak-anak. bagaimana dengan tugasnya? Sudah selesaikan.”
“Sudah bukan.” Jawab mereka serempak.
“Baik kita akan lihat siapa yang bisa memahami isi dalam puisi. Tapi sebelum itu ibu akan mengenalkan anak baru di kelas ini.”
Semua murid diam menunggu siapa murid baru itu. Hingga ada seorang anak laki-laki masuk ke kalas itu. “Silahkan perkenalkan dirimu pada mereka.”
“Hallo namaku Joan, salam kenal.”
Perkenalan singkat dari Joan di sambut hangat oleh anak-anak di kelas itu. Buk Rista menyuruh Joan duduk di samping Luna, karena hanya kursi itu yang kosong. Tak ada yang mau duduk dengan Luna, mereka tak ingin di repotkan oleh Luna. Padahal Luna sendiri merasa tak pernah merepotkan orang lain. Buk Rista mulai menyuruh setiap kelompok untuk maju membacakan puisi dan mengumpulkan hasil analisis puisi tersebut.
Setiap kelompok maju membacakan puisi mereka, puisi pertama tentang 'persahabatan’, yang kedua tentang kasih ibu', yang ketiga tentang 'kepercayaan', berlanjut terus hingga, kelompok sembilan tentang 'rasa sayang'.
Terakhir adalah dirinya yang hanya sendirian. Tapi karena murid baru itu tidak mempunyai kelompok maka Luna berkelompok dengannya. Luna maju di ikuti oleh Joan. Guru menyuruh Luna untuk menyerahkan kertas puisi tersebut pada Joan. Luna mengangguk dan menyerahkan kertas puisinya untuk di baca oleh Joan.
Syair ku
Nada itu sumbang
Suara itu bergetar
Air di pelupuk mata luruh
Bibir terbuka mengucap lenyap
Kutatap mereka penuh harap
Bisakah tawa itu terkunci
Berhenti jangan lagi
Ingin ku lari lalu sembunyi
Bayangan terus mengganggu
KiBerputar-putar mengejekku
Merengkuh kesadaran ku
Merengut keberanian ku
Jebakan emosi mengurung ruang
Berdirilah, bangunlah, syair itu milikmu.
Mereka semua diam. Puisi yang di bacakan Joan itu milik Luna tapi mereka terpaku menetap Joan. Mungkin itu memang keberhasilan Joan yang bisa mengajak pendengar masuk ke dalam puisi yang di bacanya. Buk Rista bertepuk tangan memberi mereka ucapan selamat karena berhasil menjadi tim yang bagus. Lalu Luna menyerahkan hasil analisis puisi miliknya.
Kami kembali duduk ke kursi masing-masing. Joan tersenyum ke arah luna. Ia bilang puisi miliknya bagus. Luna diam saja tak membalas senyumnya.
Setelah kemarin luna dan Joan mendapat nilai bagus. Dia sering minta ajarkan beberapa mata pelajaran pada luna. Padahal setalah belajar bersama, Luna jadi tau jika dia ternyata lebih pintar malah. Mereka jarang melakukan komunikasi karena memang Luna tak bisa bicara. Beberapa kali Joan sering main ke rumah Luna yang ternyata mereka adalah tetangga. Joan akan menghampiri Luna setiap pagi, meskipun Luna mengabaikan kebaikan nya ia tetap saja mendekati Luna. Menurut Joan Luna berbeda, misterius dalam keterdiamannya.
Luna sudah tidak lagi memiliki orang tua, ia pindah ke desa ini karena ikut kakeknya. Luna dulu bisa berbicara tapi semenjak orang tuanya meninggal Luna tak lagi bisa berbicara. Sang kakek bingung, Luna memang tak bisa bicara atau tak mau bicara. Saat di ajak bicara Luna hanya akan menjawab lewat tulisan. Luna juga tak punya teman, kecuali Joan si murid baru yang akhir-akhir ini sering bertamu ke rumah kakek Luna. Itu juga Luna tak menampakkan keakraban, Luna cenderung cuek saja mengabaikan Joan.
__ADS_1
Kadang malah sang kakek yang mengajak Joan berbicara, bercanda dan menanyakan sekolah Luna.
Luna tak pernah pergi kemanapun selain ke sekolah. Kakek Luna khawatir jika nanti Luna tak terbiasa berkomunikasi dengan orang lain. Kakek takut Luna jadi pribadi yang introvert. Padahal dulu saat orang tuanya masih ada Luna adalah pribadi yang ceria.
Luna punya hobi menyanyi. Bahkan sekarang Luna tak lagi menyentuh piano kesayangannya. Hingga suatu hari kakek mendengar suara piano di rumah sebelah yang adalah rumah Joan. Luna juga mendengar nada saling bersahutan menciptakan melodi indah. Ia bangkit berjalan ke arah jendela kamarnya. Tepat bersebrangan dengan kamar Joan. Luna terbawa alunan musik itu, hingga tanpa sadar ia ikut bernyanyi menyuarakan suara indah yang selama ini tertahan.
Joan mendengar suara perempuan dari seberang kamarnya. Ia terus menjalankan jari-jari lentiknya menciptakan alunan melodi indah. Suara perempuan itu terhenti. Ia juga berhenti, Joan berlari ke arah rumah Luna, ia melihat kakek menangis sambil tersenyum ke arahnya. Tanpa banyak kata ia masuk ke kamar Luna, karena dari sanalah suara perempuan itu berasal.
“Itu suaramu.” Tanya Joan pada Luna yang masih berdiri di dekat jendela. Luna diam ia hanya mengangguk.
“lalu kenapa selama ini kamu diam” tanya Joan lagi sambil duduk di jendela kamar Luna, mereka sangat dekat. Bisa di lihatnya ada bekas air mata di pipinya yang sedikit basah. Mereka saling memandang, Joan berusaha memahami maksud Luna begitu juga Luna ia sedang berusaha untuk mengatakan sesuatu kepada Joan. Luna mengambil laptopnya di atas meja.
“Aku sedang berusaha berbicara melalui tulisan. Aku ingin orang lain melihatku hanya melalui tulisan yang aku buat.” Jelas Luna pada Joan sambil menunjukkan layar laptopnya. Di sana ada tulisan berjejer rapi, barulah Joan mengerti jika Luna sedang menulis karya novel. Luna tak mau berbicara tapi karena ia ingin berbicara lewat tulisannya. Joan membaca tulisan itu yang berjudul ‘Impian Luna'.
Ia terus membaca tulisan itu hingga ia mengerti di sana Luna menceritakan seorang gadis ceria yang ingin mengelilingi dunia. Menulis banyak karya di berbagai belahan dunia. Tapi yang ia tidak mengerti adalah tokoh Luna dalam tulisan Luna ini adalah sosok yang ceria, berbanding terbalik dengan Luna yang ada di depannya. Ia bingung kenapa Luna tak mau berbicara padahal ia bisa berbicara dan kenapa Luna memberi tahukan tulisannya pada dirinya.
“Aku tak mau berbicara, bukan berarti aku bisu.” Ucap Luna pada Joan.
Joan hanya diam, ia belum mengerti apa maksud yang berusaha di sampaikan oleh Luna padanya.
Esok hari seperti biasa Joan akan menghampiri rumah kakek, mengajak Luna berangkat bersama. Dan Luna kembali diam tak bersuara. Itu membuat Joan makin penasaran, Ia masih tak mengerti. Mereka diam sepanjang perjalanan menuju ke sekolah. Joan yang biasanya banyak bicara, kali ini ia banyak diam. Hingga sampai di sekolah semua masih seperti biasa. Banyak anak yang mengejek Luna bisu. Mereka mengatakannya secara langsung di depan Luna. Joan juga sering di bujuk oleh mereka untuk tidak berteman dengan perempuan bisu. Joan semakin tak mengerti, kenapa Luna mau di ejek seperti itu jika ia bisa berbicara. Luna yang misterius membuat jiwa penasaran Jovan berteriak minta penjelasan.
Setelah pulang sekolah Joan langsung ke rumah Luna setelah pamit pada mamanya. Ia masuk ke rumah kakek tanpa permisi yang mendapat gelengan dari kakek. 'dasar anak muda' pikir kakek yang sedang sibuk dengan tanamannya.
“lun, Luna. Joan datang nih, Lo lagi sibuk ya.” Setelah melihat Luna yang masih asik dengan laptopnya.
Joan hanya duduk di sebelah Luna. Mereka saat ini ada di kamar Luna. Karena bosan mata Jovan meneliti kamar Luna yang rapi Dangan dinding berwana biru. Ia beranjak mendekati foto yang tertempel di sana. Tidak hanya ada satu foto, tapi ada banyak foto yang menampakkan Luna sedang tersenyum bahagia bersama temannya. Atau Luna sedang barbeque bersama orang tuanya.
Masih banyak lagi foto yang menggambarkan dunia yang berbeda dengan dunia Luna saat ini. Joan menengok kerah Luna yang juga sedang melihat dirinya. Ia sedikit takut Luna akan marah karena ia lancang melihat foto yang adalah pribadi untuk Luna. Tapi dugaannya salah!
Luna tak marah, ia malah berdiri di sebelah Joan. Ikut melihat foto yang tertempel di sana. Luna bahkan menjelaskan jika foto itu di ambil belum lama, paling lama adalah foto saat ia ke puncak bersama teman-temannya.
Luna bilang itu foto satu tahun yang lalu. Dia menceritakan kejadian dari satu foto ke foto lainnya. Joan memperhatikan wajah Luna ketika menceritakan tentang foto itu. Ia jadi berpikir kenapa Luna tidak seperti ini saja.
Kenapa Luna pura-pura bisu bahkan tetap diam ketika di bully dan di asingkan. Joan suka senyum Luna, sangat jarang sekali ia memiliki kesempatan melihat senyum itu. Luna yang tadinya asik cerita, sekarang ia menoleh ke arah Joan. Mengangkat alisnya, seakan bertanya kenapa. Joan yang mengerti hanya menggeleng sambil tersenyum.
Ia membaca lanjutan novel yang di buat oleh Luna. Di sana ia terpaku membaca cerita di mana sebelum Luna kecelakaan hingga ia mengalami kecelakaan. Matanya melotot kaget menatap layar itu. Joan menoleh ke arah Luna tanpa suara. Ia menatap Luna dengan mimik wajah yang sulit terbaca. Hingga Luna menjelaskan sendiri padanya.
“Aku ingin berbicara lewat tulisan karena aku gak bisa bicara langsung.” Ucapnya pelan.
Mereka diam saling menatap. Dari cerita tersebut. Luna bisu karena ia tak bisa bicara, bukan bicara verbal tapi berbicara yang akan membahayakan dirinya. Selama ini Luna memang tak mau bicara untuk melindungi dirinya dari seseorang. Dan seseorang itu adalah kakek Luna sendiri. Kakek Luna tak mau Luna memberi tahu orang lain jika ia yang telah menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Ya jadi secara tidak langsung.
Pembunuh orang tua Luna adalah kakek Luna sendiri. Ia tak mau bicara karena ingin kakek menganggap dirinya sedang dalam masa trauma. Dan kenapa Luna mau menceritakan ini pada Joan. Karena menurut nya Joan bisa di percaya, ketika ia berusaha menjauhi Joan atau mengabaikan Joan. Joan tetap mau berteman dengannya dari situlah Luna mau mempercayai Joan. Kalau di tanya apakah kakek Luna tidak menyayangi Luna? Maka jawabannya adalah sayang.
“Terus kamu berniat kasih ini ke penerbit?”
tanya Joan sangat pelan. Luna mengangguk, ia akan menyerahkan ini ke penerbit dan jika lolos ia akan di kontrak menjadi penulis tetap.
Dari uang itu Luna ingin pergi dari sini, tidak bukan tapi Luna ingin pergi jauh keliling dunia. Menjadi penulis seperti yang ada di ceritanya, menulis di berbagai tempat.
Menciptakan karya yang akan menceritakan berbagai tempat di dunia. Mengajak pembaca berkeliling dunia melalui ceritanya. Impian Luna bukan menjadi dokter, atau jadi guru, atau jadi pilot. Impian Luna adalah mengelilingi dunia bersama pembaca yang mau membaca ceritanya. Impian sederhana milik gadis yang sedang ingin keluar dari belenggu yang mengurungnya.
Luna menulis di bukunya kemudian memberikan catatan itu pada Joan. Yang isinya 'aku bakal serahin tulisanku ke penerbit tapi kamu janji ya, simpan rahasia ini.’
Setelah membaca tulisan itu Joan mengangguk mantap. Jangan sampai ada yang tau jika Luna mau berbicara padanya atau nanti akan terjadi sesuatu.
Joan pamit pulang karena sudah sore. Ia menyapa kakek yang masih berkebun seperti biasa. Ia pulang dengan perasaan lega dan was was. Ia lega karena sudah mengetahui rahasia Luna yang selama ini membuat ia penasaran, tapi juga was was karena itu berarti Luna sebenarnya dalam bahaya.
Setelah kepulangan Joan, Luna mengirim cerita itu ke penerbit lewat email nya. Penerbit bilang Luna harus menunggu hingga waktunya tiba untuk di terbitkan. Luna menjalani hari seperti biasa. Tak berbicara dan tak berkomunikasi dengan orang lain. Termasuk Joan, mereka saling bersandiwara untuk tetap seperti sebelumnya.
“Kakek, Joan bawa makanan untuk kakek dan Luna, dari mama.”
Kakek merima makanan itu dengan tangan terbuka dan menyuruh Joan masuk ke rumah. Joan masuk dan ternyata ia tidak melihat Luna. Ia bertanya pada kakek, kakek menjawab jika Luna sedang pergi menemui tantenya. Joan lega setidaknya luna tidak ada di rumah orang yang sudah membunuh orang tuanya. Kakek juga bilang Luna akan pulang setelah seminggu untuk sekolahnya.
Bagaimanapun Luna masih berstatus sebagai pelajar. Joan pamit pada kakek dan pergi dari rumah itu. Joan menahan rindu pada Luna dengan memainkan pianonya. Meski hanya sekali ia mendengar Luna bernyanyi. Tapi suaranya masih terngiang di kepalanya.
Setiap hari Joan ke sekolah sendirian. Ia punya teman lain, tapi tetap saja hanya teman yang ia suka. Joan selalu mencatat ulang dari bukunya untuk Luna. Dia selalu menghitung hari, menunggu kepulangan Luna. Joan selalu memandang rumah kakek tiap keluar dan masuk rumahnya. Sungguh ia merindukan gadis pendiam itu. Ia rindu anggukannya, gelengannya bahkan wajah kesal Luna saat ia selalu mengganggu Luna. Ia rajin mengecek novel yang terbit di salah satu agensi yang akan menerbitkan novel milik Luna. Tapi tiap dia mengecek situsnya tak pernah muncul nama Luna atau novel milik Luna. Padahal menurutnya tulisan Luna sangat bagus.
__ADS_1
Hingga sudah satu Minggu tapi Luna tak juga muncul ia memberanikan diri bertanya pada kakek. Tapi saat bertanya kakek malah marah kata kakek Joan mengganggunya. Ia tatap sabar menunggu Luna dengan menatap kamar Luna dari kamarnya. Gelap selalu gelap. Padahal jika Luna sudah pulang pasti lampu itu akan menyala karena Luna tak suka kegelapan.
Ia akan menengok ke arah kamar Luna ketika ia rindu. Catatan buku yang ia buat untuk Luna bahkan sudah ada dua buku. Tapi Luna masih belum pulang juga. Joan berpikir apakah Luna sudah pindah sekolah. Joan senang jika Luna sudah pindah sekolah berarti Luna sudah benar-benar terbebaskan dari belenggu kakeknya. Joan akan menanyakannya nanti ke pihak sekolah jika dalam sebulan ia tak kunjung mendapat kabar dari Luna.
Hampir sebulan berlalu. Hari terus berganti, Joan sudah sangat merindukan Luna. Ia juga sangat rajin mengecek situs penerbitan. Tapi tak pernah muncul nama Luna di sana.
Bolehkah Joan putus asa? Ia sebenarnya sudah putus asa. Hatinya gelisah tiap waktu. Hingga ia akhirnya menanyakan Pada pihak sekolah.
“permisi.” Joan di persilahkan masuk ke ruang wali kelasnya.
“Buk Luna masih belum masuk, apa ia sudah pindah sekolah.” Tanya Joan dengan sopan yang di anggukan buk Dian dengan ramah.
“Saya juga seperti kamu, mencari info tentang Luna. Jika yang kamu tanyakan soal kepindahan, maka saya katakan tidak. Tapi saat saya datang ke alamat rumah kakeknya. Kakek Luna bilang jika Luna pergi ke rumah orang tuanya.”
Jawaban dari buk Dian membuat Joan membeku. Kenapa kakeknya Luna bilang pada buk Dian jika Luna pergi ke rumah orang tuanya. Bukankah orang tua Luna sudah meninggal?
Joan keluar dari ruang buk Dian dengan wajah bingung dan gelisah. Siapa yang harus ia percaya? Luna kah? Atau kakek. Joan pulang dengan tangan gemetar dan wajah yang sudah pucat. Kenapa ini malah menjadi misteri. Kemana sebenarnya Luna pergi. Joan masuk ke kamarnya dan meneliti kamar Luna dari sana.
Gelap, ruang kamar itu masih gelap. Lalu kemana ia harus mencari?
Joan sakit, ia tidak pergi ke sekolah karena di rawat di rumah sakit sudah dua hari. Misteri Luna dan kakeknya seperti bumerang di kepalanya. Meledak ketika ia mengingat lagi masalah itu. Mama dan papa Joan bingung, ada apa dengan putranya. Sudah dua hari putra mereka terbaring di ranjang rumah sakit tanpa mau bicara sedikitpun. Bingung, itu yang mereka rasakan.
Joan bisa pulang hari ini, saat mobil memasuki pelataran rumahnya, Joan menengok ke arah kamar Luna yang nampak jelas dari posisinya ini. Ia merasa ada seseorang di sana. Sudah lama bukan ia memperhatikan kamar itu menunggu kepulangan Luna. Baru kali ini ia merasa kamar itu seperti ada seseorang, atau bayangan.
Joan langsung terburu-buru masuk ke kamarnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba mengintip lagi dari jendelanya. Kosong, tak ada lagi bayangan itu di sana. Joan berpikir mungkin itu hanya halusinasinya saja.
Esok harinya Joan masih belum sekolah. Ia di tinggalkan sendiri di rumahnya karena orang tuanya harus bekerja. Joan sebenarnya sedikit takut. Tapi bagaimana, ia tidak mungkin untuk minta di temani.
Tuk tuk
Itu suara yang berasal dari jendelanya. Joan mendekat ke arah jendelanya. Menyibak sedikit gorden untuk mengintip, siapakah yang mengetuk jendelanya tadi. Di lihatnya ada batu di bawah jendela. Joan mengangkat pandangannya ke arah jendela Luna. Di sana berdiri sosok bayangan seperti Luna, ia tak yakin karena kamar itu gelap.
Joan memberanikan diri membuka jendelanya. Entah hanya perasaannya saja atau memang bayangan itu seperti menyuruhnya masuk. Joan sudah penasaran beberapa hari. Ia akan mengambil resiko besar kali ini.
Joan melompat dari balkon kamarnya ke balkon kamar Luna yang berjarak sekitar 1M. Hampir jatuh karena gugup, Joan masuk ke kamar Luna lewat jendela yang tak terkunci. Di dalam sana gelap sekali Joan tak bisa melihat siapapun. Tapi tiba-tiba ada yang menarik tangannya untuk bersembunyi di kolong tempat tidur. Joan menurut dan masuk ke kolong itu. Ada suara langkah kaki, kalau di lihat dari posisinya itu seperti kaki kakek Luna. Ia akan berteriak, tapi ada yang membungkam mulutnya. Ia memang merasa sedang tidak sendirian di bawah kolong.
Ternyata kakek hanya mengecek jendela yang terbuka, karena dirinya. Setelah menutup jendela itu kakek keluar lagi dari kamar ini.
Keringat mengucur deras dari dahinya. Joan menengok dan memperhatikan sosok yang ada di sampingnya. Itu terlihat seperti Luna karena rambutnya panjang dan berponi. Lalu terasa ada yang menarik tangannya lagi untuk keluar dari bawah kolong tempat tidur dan menariknya menuju lemari pakaian.
Joan tak mengerti tapi ia berinisiatif membuka pintu lemari itu. Dan terjawab sudah pertanyaannya selama ini. Luna di dalam sana, dalam keadaan pucat. Joan memeriksa nafas dari hidung Luna yang ternyata sudah tidak terasa lagi. Joan memastikan dengan mengecek denyut nadi di tangan Luna, yang ternyata juga sudah tidak terasa lagi.
Air matanya mengalir ia bingung. Tapi ada yang menyentuh pipinya lembut, menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
Joan menoleh ke arah pemilik tangan yang tetap saja tak terlihat jelas karena gelap. Sosok itu menarik Joan untuk menghampiri kolong meja lagi. Joan mengikuti arah jari sosok itu yang menunjuk ke arah ujung kolong. Joan menunduk dan mencari apa yang sedang di tunjuk oleh sosok itu.
Ia meraih benda mungil dengan gantungan kelinci kecil. Ini flashdisk milik Luna.
Joan menengok ke arah sosok itu, ia memasukan flashdisk itu ke dalam kantongnya. Tapi belum juga ia berbalik ke lemari. Ada lagi suara langkah kaki menuju kamar ini lagi.
Joan terburu-buru masuk ke lemari bersama dengan mayat Luna. Meski sudah dingin tapi mayat itu sungguh wangi. Joan tak kuasa menahan tangisnya. Ia menahan isakan saat seseorang masuk ke kamar. Ia mengintip melalui celah pintu. Itu kakek Luna yang membawa pisau pemotong daging. Joan gemetar ketakutan, tapi ada sentuhan di tangan yang membuat ia menoleh, itu sosok tadi. Ia semakin gemetar ketika kakek Luna akan membuka lemari pakaian tempat ia dan jasad Luna berada. Waktu seakan berjalan lambat, ia berharap jika nanti ia mati akan ada yang menemukan jasadnya dan jasad Luna.
Hampir saja kakek membuka pintu itu, tapi ada suara ketukan pintu di luar rumah. Mungkin ada tamu, jadi kakek berlalu meninggalkan lemari. Joan menarik nafas lega. Ia segera keluar dari kamar Luna, tapi sebelum itu ia memeluk jasad Luna erat.
“gue bakal balik lagi Lun, buat bawa Lo pergi dari sini.” Joan dengan segera keluar dari jendela dan lompat ke balkon kamarnya.
Segera menutup jendelanya rapat. Ia mengambil laptopnya lalu duduk di sisi tempat tidur. Ia membuka file yang ada di flashdisk itu. Ternyata itu berisi tulisan Luna. Ia segera mengirim tulisan itu ke penerbit.
Pantas saja tak pernah ada nama Luna di sana karena Luna belum selesai mengirim tulisan itu secara utuh. Setelah selesai mengirim ia keluar ke kamarnya di sana orang tuanya dengan wajah khawatir memeluk putranya. Mereka bilang jika tadi mereka sempat mencari di rumah kakek Luna. Jadi yang menyelamatkannta tadi adalah orang tuanya sendiri. Tanpa sengaja mereka telah menyelamatkan putra mereka dari bahaya.
Joan menceritakan semua yang ia ketahui pada orangtuanya. Mereka sedikit tak percaya, tapi ini bukan main-main. Jadi tak mungkin Joan berbohong. Mereka melihat tulisan yang di tunjukkan Joan pada layar laptopnya. Mereka terkejut. Papa Joan langsung menelpon polisi dan meminta mereka menyelidiki rumah kakek Luna.
Polisi datang dengan cepat. Menggeledah rumah kakek Luna dengan banyak personil.
Atas laporan papa Joan, terjadi pembunuhan di tempat itu. Polisi meringkus kakek Luna karena menemukan bukti jasad seorang gadis dalam lemari. Joan menangis memeluk mamanya. Luna, gadis malang yang ingin mengejar impiannya. Mimpinya hanya satu keliling dunia dengan membuat banyak karya tulisan.
Seminggu setelah Joan mengirim tulisan itu atas nama Luna. Novel itu terbit dengan judul 'Impian Luna' tertera nama penulis Luna Tilerda.
__ADS_1
End.