
"Alina cepat! Nanti kita terlambat!" Teriak Ananta padaku.
"Iya sabar kenapa sih!" Jawabku pada Ananta.
"Kamu habis ngapain sih, mandi aja lama banget! Kita bisa kesiangan tahu ga!"
"Iya-iya maaf, aku dah berusaha cepet kok mandi nya! Udah deh kita pergi saja!" Ucapku pada Ananta, yang tidak mau membahas keterlambatan ku.
Setelah mengatakan itu, aku langsung masuk ke dalam mobil. Ananta pun masuk mobil, dia menyalakan mesin mobil, dan menginjak gas mobil dengan perlahan. Aku Alina Kurniawan, aku gadis berusia dua puluh tiga tahun.
Pekerjaan ku adalah seorang designer, karirku cukup dibilang berhasil. Aku sudah memiliki brand sedniri, sudah memiliki butik dan beberapa karyawan.
Di sebelahku adalah Ananta, dia adalah teman baik ku, dia selalu ada disaat suka dan duka ku. Aku mengenalnya sejak kami masih kecil, kedua orang tua kami bersahabat. Itulah yang menjadikan kami sangat dekat. Tiga bulan yang lalu keadaan ku sangat terpuruk, karena kedua orang tua ku meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sampai sekarang orang yang menabrak kedua orang tua ku, belum ditangkap, karena dia memiliki kekuasaan. Bisa di bilang dia pengusaha ternama dan memiliki pengaruh yang kuat.
Sehingga aku sulit untuk menghadapinya, tapi aku memiliki seorang teman, dia adalah seorang detektif. Dia mau membantuku mencari semua bukti-bukti untuk menghukum orang tersebut. Dia bernama Edo, dia adalah tunangan dari Ananta. Mereka saling mencintai, mereka juga sudah merencanakan untuk menikah di tahun ini. Aku turut senang dengan kabar gembira ini.
"Kita sudah sampai dengar ya Alina, aku harap kali ini kau tidak tersulut emosi! Karena hanya dia satu-satunya pengacara, yang bersedia membantu kita untuk menuntut Tuan Kusuma!" Ucap Ananta dengan tega padaku.
"Iya-iya aku akan menahan emosiku, karena dia yang bisa membantu ku!" Jawabku dengan sedikit kesal.
"Bagus! Karena semua ini demi kamu, Edo berusaha keras demi mencari semua bukti-bukti tentang kecelakaan itu! Jadi aku harap kau tidak menyia-nyiakan hasil kerja kerasnya!" Anata berkata dengan penegasan.
"Siap Nona Ananta, akan saya laksanakan semua perintah Nona!" Jawabku dengan sedikit candaan.
"Pletak...!"
Ananta menyentil keningku rasanya sangat sakit, "hentikan itu Ananta, sakit tahu! Kau selalu saja seperti itu sejak kita kecil!"
"Hahaha memang kau pantas mendapatkannya!"
Setelah percakapan kami di dalam mobil, akhirnya kami tiba di sebuah kantor berlantai dua. Kantor itu bisa di bilang sangat mewah, sepertinya dia adalah pengacara yang handal. Mungkin usia nya sudah paruh baya, ahh aku tidak tahu umur dia berapa. Ananta tidak memberikan informasi yang lengkap padaku, tentang pengacara tersebut.
Ananta memarkirkan mobilnya, setelah itu kami keluar dari mobil. Kami melangkah masuk ke gedung tersebut, ternyata memang benar gedung ini sangat mewah dan berkelas. Semuanya tampak serasi dari perpaduan warna dan arsitekturnya. Kami disambut oleh seorang wanita muda nan cantik. Dia adalah sekertaris dari pengacara yang akan aku temui. Sekertaris tersebut sangat ramah, aku sangat senang dengan sambutannya.
Tok...
Tok...
Tok...
Sekretaris itu mengetuk pintu sebuah ruangan yang begitu besar, mungkin ini adalah ruangan pengacara itu.
"Masuk!" Ucapan seorang pria dari dalam ruangan.
Sekertaris itu membuka pintu, dia memperlilahkan kami untuk mengikutinya masuk ke dalam ruangan. Setelah kami masuk, aku terkesima dengan dekorasi ruangan ini. Ruangan ini begitu elegan tapi memancarkan maskulin seorang pria.
"Tuan saya antarkan tamu yang sudah ada janji temu dengan Anda!" Ucap sekertaris pada atasannya.
"Baik terimakasih, kau buatkan minuman untuk tamu ku! Setelah itu kau lanjutkan pekerjaan mu!"
"Baik Tuan!" Jawab sekertaris itu, dan langsung pergi meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Aku tidak bisa melihat dengan jelas, seperti apa penampakan pengacara ini. Karena dia duduk membelakangi kami, kursi kerjanya sedang menghadap ke luar jendela. Beberapa saat kemudian, kursi yang dia duduki bergerak memutar, akhirnya aku melihat seperti apa penampakan pengacara ini. Aku sangat terkejut, ternyata dia masih sangat muda, aku pikir dia sudah berumur. Mungkin dia berumur tiga puluh tahun ke atas.
Tunggu-tunggu bukankah dia laki-laki yang berada di cafe tadi malam! Dia adalah laki-laki mesum yang bercumbu dengan dua orang gadis sekaligus. Sumpah deh mimpi apa aku semalam, harus bertemu dengan laki-laki mesum ini. Terus di pengacara lagi, aku tidak percaya dengan yang aku lihat ini.
"Hallo Nona Ananta apa kabarnya?" Tanya pengacara muda itu.
"Aku baik-baik saja!" Jawab Ananta.
"Apakah yang di sebelah Nona adalah teman yang anda bicarakan pada ku!"
"Benar Tuan, dia adalah teman yang saya ceritakan pada Anda!" Ucap Ananta.
"Salam kenal Nona, saya Faisal panggil saja saya dengan Fais!" Ucap Fais padaku sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan denganku.
"Salam kenal Tuan Fais, saya Alina!" Jawabku tanpa membalas uluran tangan nya.
Anata menyikut ku dan berkata, " bersikap baik sedikit kali jangan bikin ulah!"
Aku menghiraukan perkataan Ananta. Aku malas kalau harus berdebat dengan nya saat ini.
"Baiklah kalau begitu, kita langsung ke topik saja! Apakah Anda bersedia menangani kasus saya?" Tanya ku pada Fais.
"Aku sudah membaca semua dokumen yang diberikan oleh Edo, aku akan membantu mu! Tapi yang akan kita hadapi, dia adalah seorang pengusaha yang memiliki pengaruh yang kuat di bidang hukum." Jawab Fais dengan serius.
"Apa anda takut Tuan Fais!" Tanya ku dengan nada ketus.
"Alina!" Ananta menyikutku lagi guna menghentikan ucapan ku.
"Jika kau takut, tidak usah kau lanjutkan kasus ini! Aku akan mencari pengacara lain yang mau membantuku!" Jawab ku.
"Alina bisa kah kau tenang sedikit!" Ucap Ananta padaku.
"Sudahlah Ananta, lebih baik aku pergi saja! Buat apa aku disini, kalau dia saja takut menghadapi orang itu!" Jawabku pada Ananta dan pergi meninggalkan mereka.
"Maafkan atas sikap temanku! Dia masih merasa sedih dan marah, akibat kecelakaan yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal. Dia ingin menghukum orang yang menyebabkan kecelakaan itu, bahkan sampai dua tahun berlalu, dia masih tetap berjuang demi keadilan!" Ucap Ananta pada Fais.
"It's ok, saya bisa memahaminya! Saya akan pikirkan kembali semuanya, nanti saya akan hubungi anda bagaimana keputusan saya!" Jawab Fais pada Ananta.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi tuan Fais!" Ucap Ananta sambil pergi meninggalkan ruangan Fais.
Aku masih kesal, setiap pengacara yang ku temui mereka takut menghadapi penjahat itu. 'Ayah Bunda maafkan aku ya, belum bisa menghukum orang yang telah mencelakai kalian!' ucapku dalam hati. Tapi aku tidak akan pernah menyerah sampai bisa menghukum penjahat itu.
"Masuk!" Perintah Ananta padaku untuk masuk ke dalam mobil.
Dia pasti sangat marah padaku, terlihat jelas dengan ekspresi dan nada bicaranya. Ku turuti perkataan nya untuk masuk ke dalam mobil.
"Kau ini! Aku kan sudah bilang jangan berbuat aneh-aneh, hanya dia satu-satunya pengacara yang bisa kita mintai bantuan!" Ucap Ananta dengan nada marah.
"Aku tidak mau dia jadi pengacaraku! Lagi pula aku tidak suka dia!" Jawab ku pada Ananta.
"Apa yang membuat mu tidak suka padanya hah!"
__ADS_1
"Aku melihatnya kemarin di sebuah cafe, dia bercumbu dengan dua orang gadis! Dia begitu mesum aku tidak suka dengan sifatnya!" Jawab ku.
****
Malam ini aku akan menghadiri sebuah pesta, biasanya aku pergi dengan Ananta, tapi malam ini dia tidak bisa menemani ku. Dia ada rencana dengan Edo, aku tidak bisa melarangnya karena setiap saat dia selalu bersamaku. Tak terasa sudah dua minggu setelah pertemuanku dengan nya, aku pikir aku tidak akan bertemu dengan nya lagi. Tapi sungguh sial kenapa aku harus bertemu lagi dengannya.
Lebih baik aku pura-pura tak melihat nya saja, dari pada harus berhadapan dengan nya. Aku baru pertama kali ini bertemu dengan laki-laki semesum ini. Ahh pesta ini sungguh membosankan, lebih baik aku mencari udara segar saja. Kalau tidak salah ada sebuah taman di luar sana. Aku kesan dulu deh setelah itu baru deh pulang, ku langkah kan kaki ku menuju taman. Ku duduk di sebuah kursi, kupandangi langit yang begitu indah di saat malam hari, penuh dengan bintang-bintang.
"Plak...!"
Aku terkejut mendengar suara tamparan yang begitu keras, kulihat sekitar ku guna mencari arah suara itu. Pandangan ku terpaku pada sepasang kekasih, kulihat dengan seksama ternyata dia adalah Fais pengacara termesum yang pertama kali kutemui. Lebih baik aku segera pergi dari sini, dari pada aku harus berurusan dengan dia. Di saat aku akan pergi, aku mendengar cacian dan makian wanita itu kepada Fais. Menurutku itu sudah sangat keterlaluan, ucapan itu sangat tidak pantas di lontarkan oleh seorang wanita.
Tanpa kusadari aku melangkah mendekati mereka, dan mengatakan yang ingin ku katakan. Sehingga membuat wanita itu pergi meninggalkan ku dan Fais. Setelah wanita itu pergi, aku berpikir sejenak kenapa juga aku membelanya. Lebih baik aku pergi dari sini, buat apa aku terus berada disini. Saat aku melangkah untuk pergi, tiba-tiba tangan ku di tarik oleh Fais.
"Apa yang kau lakukan! Lepas kan tangan ku!" Ucap ku pada Fais.
"Tunggu sebentar, kenapa kau membelaku?"
"Gimana ya! Sebenarnya aku tidak ada niat untuk membatu mu!"
"Jangan bohong, apakah kau sudah mulai menyukaiku?" Tanya Fais padaku.
"Hahahaha terlalu percaya diri sekali Anda Tuan Fais!" Jawabku pada Fais dan pergi meninggalkannya.
"Aku akan menangani kasus mu!" Teriak Fais.
Aku menghentikan langkahku dan berkata, "tidak usah memaksakan diri Anda jika tidak mampu!"
"Bagaimana kalau kita bertaruh? Jika aku memenangkan kasus mu, kau harus menjadi milikku!"
Aku berpikir sejenak sebelum menerima tantangannya, apakah dia sanggup melawan musuhku yang memiliki kekuasaan dan pengaruh yang begitu kuat di bidang hukum. Karena sudah banyak pengacara yang menolak menangani kasus ku ini. Baiklah ku coba saja, aku ingin lihat sehebat apa dia.
"Baiklah aku terima tantangan mu! Jika kau menang aku akan menjadi milik mu! Jika kau kalah apa untung nya bagi ku?" Ucap ku pada Fais.
"Jika aku kalah, aku akan mengikuti semua yang kau mau! Bagaiman?" Jawab Fais.
"Oke deal!" Aku berkata dengan sambil mengeluarkan tangan ku, seraya mengesahkan taruhan kami.
"Ok!" Fais pun menerima uluran tangan ku dan akhirnya kami berjabat tangan.
*****
Seminggu setelah perjanjian taruhan kami, aku menerima surat dari pengadilan. Yang isinya adalah agenda persidangan kasus kecelakaan Ayah dan Bunda. Ternyata Fais berhasil membuka kasus itu kembali. Dalam surat itu tertera tanggal persidangan. Dan hari ini adalah persidangan awal dari kasus ku ini.
Aku hadir dalam persidangan ini di temani Ananta dan Edo. Aku melihat wajah orang yang telah mengakibatkan Ayah dan Bunda meninggal dunia. Aku sangat membenci dia, rasanya ingin ku menghajarnya samapai tiada. Kulihat ekspresi wajah orang itu tidak memancarkan penyesalan. Wajahnya berseri-seri, menandakan dia tahu bahwa dia akan bebas.
Persidangan dimulai, semua berjalan dengan lancar. Kulihat Fais begitu berbeda jika sudah berada di dalam persidangan. Ternyata dia seorang pengacara yang handal. Semua pernyataan tersangka bisa di patahkan begitu saja. Persidangan pertama sudah selesai, aku tahu ini membutuhkan waktu. Tapi aku akan melihat sampai kapan Fais akan menyelesaikannya.
Persidangan kedua dilakukan dengan baik, Fais berhasil menemukan bukti yang akurat. Sehingga semua bukti-bukti mengarah kepada tersangka. Akhirnya tersangka di jebloskan, ke dalam penjara dengan hukuman seumur hidup, pada persidangan ke tiga.
Seminggu setelah persidangan itu, Fais menagih janji dari taruhan yang kami jalankan. Dan hasil taruhan itu Fais lah yang menang, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena aku juga menyetujui dari taruhan itu. Fais memintaku untuk jadi kekasih seumur hidupnya, aku pun menerima nya. Dengan beberapa syarat yang harus dia penuhi, salah satunya dia harus menghentikan mengejar para wanita. Dia pun menyetujui dengan semua syarat yang ku berikan.
__ADS_1
End.