
By Fandi.
Waktu menunjukkan pukul 19:45. Aku segera mengemasi barang-barang ku dan bersiap untuk pulang.
"Hei ayo pulang"
Kata seseorang mengagetkan ku dari belakang.
Tanpa menjawab aku segera beranjak dari tempat duduk ku dan melangkah keluar kantor.
Tampak beberapa staff kantor sudah pergi meninggalkan parkiran untuk pulang kerumah masing-masing. Aku tidak perlu kesana karena jarak dari rumah ke kantor hanya berjarak beberapa blok. Jadi aku bisa menempuhnya dengan berjalan kaki.
Setelah bersalam dan berpamitan antar teman se kantor, aku segera pulang ke rumah.
Aku berjalan dengan santai sambil menikmati dinginnya malam hari ini. Eiihh kenapa dingin sekali malam hari ini ? tak biasanya sedingin ini.
Aku memutuskan untuk berjalan melalui gang kecil untuk menghemat waktu ku.
Gang ini sangatlah sepi bahkan seekor kucing pun tidak terlihat. Yaa mau bagaimana lagi dalam keadaan darurat. Maksud ku kantuk berat yang melanda.
Seketika berdiri bulu roma ku, hilanglah sudah rasabkantuk yang merepotkan ini.
Ehh apa ini ??? aku merasa ada sesuatu yang lewat di belakang ku. Sudah lah mungkin hanya angin yang berhembus.
Aku segera melanjutkan perjalanan ku yang hanya tinggal dua blok lagi di depan.
Tiba-tiba angin berhembus kencang, langit mendung, suasana seketika berubah menjadi semakin mencekam, hawa dingin menusuk kulit dan tulangku. Yaa aku memang hampir tidak pernah mengenakan jaket dan bahkan hari ini.
Setibanya di depan gerbang rumah ku, aku sekilas melihat seseorang bersandar di sebuah pohon mangga di depan gang.
Ahh mungkin hanya perasaan ku. Aku segera mencari kunci di dalam tas ku. Heeii kemana kunci ku, sepertinya tadi disini ahh ini dia. Aku mengambilnya dan segera mebuka gemboknya.
Tiba-tiba kunci nya terjatuh dan yaa seperti yang kalian duga aku mengambilnya dan aku tak sengaja melihat sesosok perempuan beriri tanpa kepala tepat di seberang jalan. Tunggu dulu.... jadi ini bukan hanya ilusi.
Wanita itu mendekat dengan mengacungkan sebilah pisau daging ukuran besar ke arah ku. Aku bergetar ketakutan.
"Siapa kau ??? Apa mau mu ??"
Ini terdengar sedikit konyol. Yang benar saja, wanita itu tak punya kepala mana mungkin bisa mendengar ku.
Yaa namanya juga orang ketakutan jadi yaa seperti itu lah...
__ADS_1
Langkah Wanita itu semakin dekat dan ohhh.....
Pisau itu menembus perutku hingga ke punggung. Darah mengalir deras hingga membasahi seluruh tubuh ku.
Di sisa-sisa kesadaran ku, aku melihat wanita itu. ohhhh, ternyata itu hanya kostum horor dan heii.... siapa itu...
Riska ???
"Riska.. Kenapa lo ber buat ini ???"
"Ini balasan karena elo udah putusin gue."
Kata Riska dengan santai dan menjilat darah di pisunya.
Ohh ternyata dia psikopat.
Aku hanya bisa menunggu ajal menjemput secar perlahan. Rasa sakit yang semakin dalam terasa dibagian perut ku dan darah sudah berhenti mengalir.
Jadi seperti ini rasanya.....
---------------------
By LiaFarokha.
'Sekarang, apa yang harus aku lakukan.'
Aku menangis sambil menelusuri jalanan yang seperti kuburan, sunyi senyap sepi. Kepala ku mulai pusing, aku hamoir kehilangan kesadaranku.
"Hei, kamu tidak apa-apa?"
Aku melihat laki-laki yang menolongku itu secara samar-samar, dia membawaku masuk kedalam mobilnya.
"Apakah kamu baik-baik saja?"
Laki-laki itu memberikan aku air, aku tidak tahu siapa laki-laki tampan yang sekarang sedang bersamaku. Yang aku tahu, dia sangat tampan, baik dan sopan.
"Terima kasih."
Aku kemudian keluar dari dalam mobilnya, aku melanjutkan perjalananku. Aku melangkah tanpa tau tujuan, aku benar-benra kehilangan arah.
"Bolehkah aku menolongmu nona? kamu ingin pergi kemana?"
__ADS_1
"Ya, aku tidak tahu aku harus kemana, keluargaku mengusir ku dari rumah."
Laki-laki itu mendekatiku, aku hanya terdiam. Dia mengajak ku untuk ikut bersamanya, aku ragu, tapi aku juga bingung. Akhirnya alu oun ikut laki-laki tampan itu.
"Jangan takut, aku hanya ingin menolongmu."
Aku melihat jelas senyum indah dibibirnya, dia seperti malaikat, matanya yang biru begitu tenang, aku merasa nyaman disampingnya. Entah kenapa, tapi dia begitu sangat baik padaku yang baru dikenalnya.
--------------------
By KopiSenja.
Malam ini hujan turun lagi, dan aku sedang sendirian di rumah karena orang tuaku sedang pergi ke luar kota untuk dinas. Situasinya sangat mendukung untuk aku pergi memasuki dunia mimpi. Tapi aku justru asik bertukar pesan dengan pria yang sedang menjalin hubungan dekat namun tak pasti apa itu.
Tiba tiba saja di luar rumah aku mendengar seperti ada suara orang yang sedang menggali tanah, saat ku intip dari jendela kamar ternyata benar di halaman rumah ada orang yang sedang menggali tanah dan merusak taman bunga milik mama.
Seharusnya aku pergi keluar untuk melihat itu siapa, tapi aku terlalu takut. Karena di luar masih gerimis dan juga sangat gelap, di baju bagian belakang orang itu aku melihat tertulis nama ‘Kevin’.
Tapi bagaimana mungkin, sedangkan saat ini aku masih bertukar pesan dengan Kevin. Lalu kalau itu benar Kevin, kenapa dia bisa membalas pesanku tanpa memegang ponsel?
Aku mengetuk kaca jendela untuk memastikan itu benar Kevin atau bukan, tapi orang itu tidak mendengarnya.
Kevin memberitahuku bahwa ia saat ini sedang ada di rumah, padahal jelas-jelas itu baju basketnya Kevin yang sangat ia bangga-banggakan.
Tapi Kevin juga bilang kalau bajunya ada di keranjang baju kotor di rumahnya. Sekarang aku melihat orang itu berjalan mendekati rumahku, dari kamar aku mendengar ia mendobrak pintu untuk memaksa masuk.
Aku segera mengambil pistol milik papa yang di simpan di dalam laci meja belajarku, dan bersembunyi di kamar mandi.
Aku masih mengirimkan pesan kepada Kevin, tentang semua hal yang sedang terjadi. Kevin juga sangat panik, hingga Kevin memutuskan untuk menghubungi polisi agar segera datang ke rumah.
Aku mendengar langkah kaki orang itu semakin mendekat ke arah kamarku, dan dia seperti mencakar tembok sehingga menimbulkan suara yang membuat bulu kudukku berdiri seketika.
Kevin bilang polisi akan sampai di rumah sekitar setengah jam lagi, dan Kevin memberikan ku ide gila untuk menggertak orang itu menggunakan pistol yang aku bawa.
“Keluarlah... aku tau kamu bersembunyi di dalam kamar mandi.” ucap orang itu dari luar pintu kamar mandi.
Aku hanya bisa menangis sambil terus mengirim pesan untuk Kevin.
“Apakah ini akan menjadi hari terakhirku, jika iya tolong kamu sampaikan maaf ku untuk kedua orang tuaku ya, Vin. Aku juga minta maaf kalau aku pernah buat salah sama kamu.”
Itu pesan yang aku kirimkan untuk Kevin, aku benar benar takut sekarang. Sementara Kevin terus menerus mengirimkan pesan kepada ku, sepertinya dia sangat khawatir kepadaku. Aku pun mengirimkan pesan terakhir untuknya.
__ADS_1
“Sebegitu khawatirnya kamu sama aku ya, Vin. Terima kasih ya! Bisa nggak kamu datang ke rumahku besok, aku ingin bertemu denganmu!”