Various Kinds of Stories

Various Kinds of Stories
Salah - NabilaSholehahEkaria


__ADS_3

"Kamu ngadu, kamu hancur!"


Aku tersentak sesekali melirik pada segerombolan anak laki-laki yang didampingi pula oleh anak perempuan. Tidak tahu ada ada apa. Namun, suara yang kasar tadi membuat aku agak penasaran. Percuma jika aku memaksakan diri untuk masuk ke dalam. Mereka terlalu bergerombol. Bahkan tidak ada celah siapa yang tengah terpojok di sana.


"Ndu!" Aku memanggil nama anak perempuan di ujung jalan sana. Dia tengah membawa dua buah buku tebal bersambut biru. Seakan lupa apa yang tengah terjadi di antara gerombolan.


Perempuan dengan hijab putih yang panjang hingga menutupi bagian perutnya pun menatapku dengan sumringah. Matanya yang sayu, tidak sedikit menandakan lelah. Justru ketika tersenyum, gadis ini jadi lebih cantik.


"Kamu nekat ya, udah tau Bu Kila gak suka jurusan kita pakai hijab sepanjang itu," sindirku padanya.


Dia hanya tersenyum, mendekap buku-buku tebal itu dengan erat." Kamu tahu aku enggak nyaman pakai kerudung sebatas itu. Gak apalah, aku bakal tanggung resikonya, Arin."


"Paling Bu Kila suruh kamu keluar kelas lagi," gurauku, "bareng aku."


Sendu tertawa, tetapi dia menutupi mulutnya. "Kamu pakai makeup terlalu tebel buat umuran anak SMK, walau cuma bedak."


"Mau gimana lagi? Aku gak cantik kayak kamu, Ndu."


Aku memutar mata dan geleng-geleng menanggapi jawaban Sendu Larasati, sahabatku, satu kelas jurusan Mekatronika. Sayangnya dia tidak balas menatap, justru melihat ke arah kerumunan. Seolah dia bertanya padaku. Di sana-ada-apa?


"Gak tahu tuh, Ndu. Udah ah, pergi aja," balasku padanya sambil menggandeng lengan gadis berhijab panjang itu.


Dia menggeleng. "Aku kayak kenal suara laki-lakinya."


Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Demi tulang ayam terlalu pedas yang dimasak bibi kantin! Seolah aku tidak boleh menghirup udara bersih, Sendu justru mendekati gerombolan semut mengerubungi gula.


"Jangan ke sana, Ndu," rengekku padanya.


Entah suaraku bagaikan sihir, suara ribut di sana semakin menjadi. Jeritan para gadis sama seperti melihat seekor tikus saat ini, beberapa berlari hingga ada celah bagi kami untuk melihat apa yang terjadi.


Seorang laki-laki memukul pipi, tetapi lawan hanya melindungi diri. Aku menutup mulut. Melihat ke samping Sendu tidak lagi berdiam diri. Dia berlari.


"Sendu!" Panggilanku tidak didengarkannya, terpaksa harus menyusul.


Sendu dengan hijab panjangnya mencoba menembus orang-orang yang masih bergerombol. Suara lembutnya berucap, "Maaf aku harus menemui temanku."


"Sendu!" Aku memanggilnya lagi, lapangan ini terlalu luas. Jam istirahat sebentar lagi berakhir, bagaimanapun aku harus membawa Sendu pergi ke kelas. Bu Kila bisa menghukum kami lebih parah.


Aku berhasil menahan tangannya tepat ketika dia berhasil masuk ke dalam kerumunan.


"Jangan."


"Gak bisa, Arina. Dia saudaraku," bisik Sendu.


Aku berjinjit, menggigit bibir bawahku agak kencang. Mencoba membiarkan otak berpikir realistis. Sendu tidak mungkin menerobos, bisa saja permasalahannya lebih gawat.


Tanpa banyak ucap aku menepuk bahu Sendu. Arina si macan tidur harus menunjukkan taringnya sekarang, meski itu agak membuat aku merenung. Aku menembus ke dalam kerumunan dan orang-orang tentu melihatnya.


Di sanalah laki-laki yang aku kenal sebagai Tyo, murid paling bermasalah di sekolah, tengah memukul saudara Sendu. Sebelum terjadi, aku menarik paksa kerah baju Tyo. Laki-laki ini punya tenaga yang berlipat-lipat, tetapi aku sudah terbiasa menghadapinya.


"Heh!" amuknya.


Aku menatap Tyo dengan tajam bagai serigala yang menemukan musuh, bagai ibu ayam yang anaknya diganggu. Suara gemuruh murid semakin terdengar dan itu sangat tidak mengenakan. Ingin saat ini juga aku mengunci mulut mereka.


"Kamu gak berhenti ya bikin onar? Mau aku bawa ke meja dewan siswa?" balasku pada anak laki-laki itu.


"Oh? Emang di SMK kita dewan siswa masih hidup?" balasnya dengan nada sarkasme menyebalkan itu.


Aku mengepalkan tanganku, menghiraukan ucapannya. Sangat menyebalkan. "Hajar aja, Teh!" Sorak sorai para murid.


"Diem kamu, Tyo. Mending sekarang pergi ke kelas masing-masing. Jam istirahat udah mau habis," tegurku.


Murid-murid serempak melihat ponsel atau apa pun yang dapat menunjukkan waktu. Mereka berdigik ngeri melihat berapa waktu tersisa. Tidak lama mereka berbalik ke arak kelas masing-masing. Semua ... termasuk Tyo.


"Biru!" panggil Sendu.


Laki-laki yang beberapa waktu lalu dipukuli pun mencoba untuk berdiri. Memegangi bagian pelipisnya yang agak lebam. Berwarna ungu kebiru-biruan. Ingin bertanya, tetapi ini waktu yang tidak tepat.


"Eh Sendu! Gak usah khawatir, aku gak apa," ujar Biru.


Aku lihat Sendu seolah ingin menangis. Bisa dipastikan penyebabnya, luka lebam itu. Aku mengembuskan napas sesekali mengusap bagian punggungnya.


"Eh." Aku menoleh pada laki-laki tinggi, mungkin lebih sepuluh sentimeter dariku. Matanya cokelat terlihat jelas saat terpapar mata hati. Dari bibirnya yang tipis dia mengucapkan, "Makasih. Jangan galak-galak lagi nanti mah."


Aku hanya mengangguk, kembali pada Sendu. "Ke kelas yuk. Kalau kamu mending ke UKS."


"Gak perlu, aku juga bakal ke kelas. Tolong jaga Sendu ya, Teh."


Tanpa dia menyuruhku sudah aku pastikan Sendu bakal dijaga. Menjadi dewan siswa aku harus siap menerima caci maki seluruh murid sekolah. Teman di sekitarku pun harus ikut terkena sikut. Miris. Padahal Dewan Siswa dilindungi oleh kesiswaan.


"Hati-hati, Biru. Aku sama Sendu duluan," balas Sendu.


Laki-laki berkulit sawo matang itu melambaikan tangan. "Iya, Ndu."


Agak menyayangkan karena aku tidak bisa berkomunikasi lama dengan laki-laki yang dipanggil Biru. Terutama mencari tahu akar permasalahan antara dia dan Tyo. Alarm pada ponselku bergetar, pertanda sudah waktunya masuk.


oOo


Seminggu setelahnya, aku masih menyibukkan diri dengan kasus Tyo. Terlalu banyak sampai bingung mana yang harus aku selesaikan lebih dahulu. Masih belum jelas alibi kenapa Tyo melakukan hal-hal seperti ini.


Aku tengadah menatap cakrawala membiru langit. Tidak ada pertanda hujan. Baguslah, karena aku lupa bawa payung juga tidak ada niatan pulang lebih awal. Duduk di bangku taman dekat kantin masih membuatku nyaman. Dari kejauhan aku lihat Tyo berjalan ke arahku. Entah angin apa dia berjalan ke sini. Kalau cari gara-gara, aku harus siap memelintir tangannya.


"Bentar lagi hujan lho, Arin." Mataku sipit, mendengarkan apa yang dia ucap.


Sejak kapan cowok ini peduli orang lain? Aku menggelengkan kepala. Sepertinya ini hanya ilusiku saja, karena Tyo tidak mungkin berbaik hati menegur orang lain.


"Eh, Arin. Kok gak bareng Sendu?" tanya Tyo lagi dan aku semakin merasa asing.


"Sendu pulang sama Biru. Katanya ada acara keluarga," balasku dengan ketus.


"Keluarga apa pacar?"


Pertanyaan itu membuat keningku berkerut.

__ADS_1


"Eh Tyo! Jangan asal ngomong kamu!"


"Apaan, Arin?" ucapnya, "aku salah ngomong?"


"Sendu enggak pernah mau pacaran. Lagian Biru itu saudaranya," jelasku.


Aku hampir tidak menyadari wajah Tyo yang berbunga-bunga jika saja detik berikutnya aku berpaling. Laki-laki itu kembali memasang wajah masang sambil menatapku. Kembali melirik sisi lain lalu kembali padaku.


"Apa sih? Jelalatan! Benerin baju kamu tuh berantakan banget. Apa pula ini rambut kok panjang-panjang, gimana rasanya dijambak? Bukti tuh rambut kamu panjang."


Di sela omelan, aku melihat Tyo yang meringis, memegang pelipisnya yang mungkin ikut merasakan sakit. Sementara aku ingin tertawa melihatnya. Puas. Sangat puas bisa menghukum Tyo sekarang juga.


"Ampun, Ndu! Ampun!" Aku menjeling ketika orang-orang di sekitar memperhatikan kami.


Sangat terpaksa aku melepaskannya dan lagi menjeling agar orang-orang yang memperhatikan mulai berlalu. "Aku mau besok kamu udah rapi, Tyo!"


"Iya, Teh. Gak bisa gitu ya sehari aja kamu gak bawel."


Aku mendengkus dan melipat tangan di depan dada. "Terus biarin kalian melanggar, berantem dan akhirnya bikin onar sama sekolah tetangga? Daripada gitu, Tyo, boleh aku tanya gak?"


Kulihat laki-laki itu mengangkat dagu, seolah menimang permintaanku. Padahal jika dipikir dia seharusnya menurut padakua. Namun, seperti yang terlihat dia hanya menunjukkan ujung-ujung bibir yang berkedut. Memangnya apa yang lucu? Aku tidak mengerti kenapa dia harus menahannya.


"Tyo!" ucapku dengan nada yang lebih tinggi. Mata laki-laki itu membulat seolah tida percaya jika aku baru saja membentak dirinya.


"Boleh deh. Apa sih yang enggak buat Teteh tergalak," sindirinya padaku. Gemas aku langsung mencubit lengannya dan menatap tajam padanya. "Sakit! Ya ampun. Gak puas ya kamu nyiksa aku."


"TYO!" amukku. Aku mengambil napas dalam-dalam, di dekatnya kepalaku menjadi lebih penat lagi dan jujur itu menyebalkan.


Nilai tambah untuk tekanan atmosfer di taman. Bagi semua orang ini tontonan menarik dan gratis. "Kita ke ruang dewan. Banyak hal yang harus aku tanya ke kamu."


Tyo tidak membalasku, dia masih memajukan bibir beberapa senti ke depan. Kadang mengusap bagian lengan yang aku cubit. Mengerling ke arahku dan menjaga jarak. Laki-laki berambut ikal panjang itu membuat aku gemas.


Sampai di ruang dewan, Tyo aku persilakan masuk. Entah aku harus bersyukur karena sepi atau tidak. Semua anggota dewan belum pulang dari sekolahnya, beberapa kabur dan hilang dari daftar kehadiran selama berbulan-bulan. Aku mengembuskan napas mengingat Tyo yang pernah menanyakan keberadaan dewan siswa.


"Di luar ajalah, Arin. Gak enak kita cuma berdua nih," tegurnya. Aku segera mengambil ponsel yang ada di dalam tas. Mencari kontak anggota dewan atau siapa pun agar datang ke ruangan. 


Aku melirik pada Tyo. "Bakal ada anggota yang dateng. Duduk aja, aku nanyanya gak yang aneh kok."


Tyo mengangguk. Dia melihat kursi kosong di seberang meja, begitupun aku yang sudah pasti duduk berseberangan dengannya. Saat melepaskan tas, aku mengambil buku acak, alat tulis yang acak pula. Tidak kusangka mendapatkan pulpen biru untuk menulis kali ini.


"Tyo, boleh aku tanya kenapa kamu berantem sama Biru?" tanyaku. Tyo melirik ke pojok, kembali menatapku dan lalu menggigit bibirnya sendiri.


"Aku gak bisa kasih tau alasannya," jelas Tyo.


"Kenapa?"


Tyo menarik pelan buku catatanku. "Sini pulpennya. Aku tulis sesuatu, tapi kamu cuma boleh buka pas Biru ngaku."


Aku mengerutkan kening. Merasa terlalu lama, Tyo langsung mengambil pulpenku. Dia menulis dengan cepatnya. Tidak mengerti apa hubungan antara Tyo dan Biru. Setahuku, laki-laki di hadapanku ini tidak ingin saudara Sendu mengadu.


"Kamu boleh nulis, tapi tolong bantu tugas aku juga, Tyo," ujarku. Dia berhenti menulis, meski tangannya masih gentar hingga aku bisa tahu Tyo mencoba memegang kuat pulpennya.


Tidak lama aku mendengar suara pintu masuk yang diketuk. Aku memilih meninggalkan Tyo, berharap teman satu ekskul bisa membantu. Namun, laki-laki di hadapanku ini bukan anggota dewan.


Biru memberikan senyum terbaiknya. "Aku ke sini diminta Sendu, katanya kamu minta ditemenin. Dia gak bisa ikut masih banyak persiapan acara keluarga."


"Oh ... gitu," jawabku dengan gugup.


Biru memasuki ruangan. Dua pasang mata itu bertemu, atmosfer semakin tidak mengenakan. Sisi baiknya, aku bisa langsung mengintrogasi mereka berdua.


Biru duduk di samping Tyo. Aku belum beranjak untuk duduk, justru melihat tingkah laku mereka yang terlihat tidak tenang satu sama lain. Bahu keduanya kadang bergerak ke atas lalu ke bawah. Bibir keduanya juga berkedut.


"Kalian ngapain?" Suara yang agak tinggi membuat gema di ruangan.


Mereka berhenti bicara dan duduk dengan tegap. Dua-duanya juga menjawab dengan kompak, "Gak kenapa-kenapa kok."


Aku berkacak pinggang di depan mereka ketika melihat mereka kembali melakukan hal yang aku tidak tahu. Mungkinkah mereka sedang bergelut dengan kaki?


"Tyo! Biru! Cukup!" ucapku pada keduanya. Mereka kembali diam dan duduk tegap. Melipat tangan di atas meja seolah anak TK yang sedang dibimbing.


Aku memperhatikan keduanya cukup lama sebelum kembali duduk. Mengambil pena dan buku tulis dari wilayah Tyo tanpa membaca apa yang ditulis laki-laki itu.


Tangan mereka berdua tidak bisa diam. Suara meja diketuk akibat Tyo dan suara lantai beradu dengan alas kaki akibat Biru.


Aku mendengkus. "Jadi, apa yang menyebabkan kalian berantem?"


"Gak ada."


Aku tengadah, kali ini mereka kompak menjawab lagi. "Masalah internal atau eksternal?"


"Bukan dua-duanya."


Aku bergeming. Keduanya benar-benar menyebalkan. Namun, seringai di wajahku mulai tercetak. Kupangku dagu dengan kedua tangan sambil menatap mereka.


"Kalian kompak banget ya?" balasku agak menyindir.


"Iya," ucap mereka lagi bersamaan.


Selang beberapa mening, keduanya sadar dengan apa yang diucapkan hingga Biru mengepalkan tangan. Sedangkan di sisi lain, Tyo menatap jijik pada laki-laki tersebut. Aku benar-benar tidak habis pikir.


"Kalian gak perlu bohong, jujur aja," ucapku santai, "jadi Biru ceritakan versi kamu."


Biru mengangguk. "Kamu tahu, ini hanya masalah antara laki-laki. Tyo gak suka kamu dekat sama ...."


Aku tidak mengerti tatapan Biru padaku yang lalu berlalu melihat ke Tyo. Seakan Tyo memang diminta untuk mengisi jeda. Nada suaranya lebih kecil berucap, "Masalahku."


"Hah?!"


"Denger, Arin. Aku gak suka karena kamu anggota dewan paling nakutin. Nyebelin. Biru tahu, aku gak suka kamu yang ngurus," jelas Tyo padaku.


Aku bungkam. Padahal sejak awal aku mengawasi laki-laki ini. Kenapa dia tidak berhenti buat onar?


"Tujuan Tyo bukan cuma itu," sanggah Biru dia menatapku, "Dia gak mau kamu tahu kalau Tyo melakukan ini untuk menarik perhatian Sendu."

__ADS_1


"Apa?" gumamku pelan dan tidak memahami.


"Cukup ya?" Biru tiba-tiba berdiri. Laki-laki itu pamit padaku. Sementara Tyo masih bergeming dalam pikirannya.


oOo


Aneh.


Dua Minggu terakhir jadi lebih aneh semenjak Tyo tidak melakukan keributan di sekolah. SMK Bayanaka jadi sepi, tidak ada keributan.  Anak-anak perempuan tidak lagi bergerombol seperti semut yang tengah menggotong remah makanan.


Semenjak hari aku mengetahui kebucinan Tyo, Sendu juga bertingkah aneh. Gadis berhijab itu lebih sering bersembunyi di kelas. Ketika ditanya hanya gelengan saja yang aku dapatkan.


Seperti saat ini, Sendu tengah membaca buku. Seharusnya dia mengembalikan bukunya sekarang, bersamaku mengingat tiga hari lalu kami meminjamnya bersama. Sendu memasukkan buku ke dalam tas, dia lalu menatap pada jendela.


"Ke perpus?" tawarku pada dia.


Sekali lagi, gelengan yang aku dapatkan. Namun, kali ini dibarengi oleh ucapannya, "Ada Tyo di sana."


Aku melipat dahi ke dalam. Kenapa pula Sendu tahu Tyo ada di perpustakaan? Bahkan aku saja yang dulu mengawasi tidak tahu jika laki-laki tersebut diam di perpustakaan. Tempat yang sangat tidak mungkin didatangi pembuat onar seperti Tyo.


"Aku lagi menjaga hati, Arin. Aku gak bisa ketemu, Tyo," balas Sendu dengan wajah murungnya smabil melirik ke bawah.


Sendu mengembuskan napasnya lalu menengadah pada langit di jendela kelas. Aku memegang pundaknya. "Kamu jaga hati buat siapa?"


"Kami sama-sama menjaga hati sampai kelulusan nanti, Arin. Nanti kamu tahu siapa," balas Sendu.


Aku agak tidak percaya dengan ucapan sahabatku. Memang dia tidak ingin pacaran, tetapi bukankah ini terlalu cepat? Aku tidak ingin memaksa Sendu bercerita.


Menepuk pundak Sendu sekali lagi. "Aku kembaliin buku ke perpus dulu ya."


Dipikiranku, alasan Sendu menjaga hati dan Tyo. Berkaitan dengan apa yang Biru ucap padaku. Keterkaitan di mana dua laki-laki itu berkelahi. Lebih dari itu, relung hatiku mempertanyakan.


Apa yang mereka sembunyikan?


Tidak sadar, perpustakaan terlewat olehku. Kembali berbalik dan masuk ke dalam setelah melepas sepatu. Ibu penjaga selalu menanyakan apa aku mau mengembalikan atau diam di perpustakaan.


"Aku mau baca buku dulu, Bu," balasku singkat.


Ibu perpustakaan itu mengangguk setuju. "Jangan lupa scan kartu pelajar kamu di sana."


Aku berjalan ke arah tempat scanner berada. Menempelkan bagian depan kartu pelajar sebelum melangkah ke surganya buku di sekolah. Di sanalah aku melihat Tyo, sesuai yang Sendu bilang.


Jangan pedulikan! Jangan pedulikan!


Kuucapkan dua kata itu sebagai mantra. Tyo tengah mencari sesuatu di antara buku-buku sastra. Untungnya berbeda rak dengan yang aku tuju. Sialnya, mencapai rak buku pemrograman aku harus melalui rak buku sastra.


Langkahku semakin yakin ketika berhasil melalui Tyo. Dia tidak melihatku, mungkin sibuk dengan buku-bukunya. Namun, ketika berbalik setelah mengambil buku yang dicari, mata kami bertemu.


"Arin," panggilnya dengan lirih.


Aku tersenyum canggung. "Kamu ke perpus Tyo?"


Aku bergeming ketika melihat penampilan Tyo. Demi soto daging! Rambut panjang yang aku tegur dua minggu lalu menghilang. Dia mengganti potongan rambut menjadi 3-2-1, lebih rapi dan seperti orang yang baru saja masuk MPLS. Pakaian yang biasanya di luar kini begitu rapi tanpa ada kusut sedikit pun.


Aku jadi ragu, apa benar ini laki-laki yang aku marahi dua minggu lalu?


Harus diakui, dia jadi lebih tampan setelah bertranformasi seperti ini. Entah mengapa aku senang melihatnya berubah. Hingga di dalam hati ini ingin sekali berteriak.


Menanyakan kabar laki-laki tersebut.


Tyo kembali menyimpan bukunya, dia juga mengambil bukuku lalu meletakkan ke asal tempatnya. “Ada yang mau aku ceritain,” ujarnya.


Tyo menarik lenganku pelan keluar dari perpustakaan, lorong perpustakaan lebih sepi dari yang aku kira. Tidak ada orang yang berlalu lalang, kecuali para kucing-kucing. Di halaman depan terdapat ruang baca, Tyo memintaku duduk di salah satunya.


Laki-laki itu melihatku tanpa henti, silir yang berhembus meratapi kecanggungan kami. Aku tidak ingin membuka pembicaraan. Angin lagi-lagi datang dan menghembuskan rambut ke arah berlainan. Refleks tanganku menahan helaian rambut yang tersapu oleh kelana.


“Aku coba ngedeketin Sendu, tapi ujungnya dia menolak. Aku enggak pernah percaya sama Biru,” tutur Tyo selagi tengadah ke langit. Bola mata hitam itu sangat teduh menatap cakrawala di atas sana.


“Sendu lagi jaga hati, Tyo,” balasku, “kamu baik-baik aja?”


“Emang kata siapa aku sakit hati, Teh?” Hatiku mencelus ke dalam kubangan tanpa dasar.


Ada kelegaan di sana. Dalam tawanya yang serenyah memakan camilan, dia tanpa segan mengacak-acak rambutku.


“Hei!”


Tyo menyeringai padaku. Segera saja aku pelintir tangan yang berada di atas rambut dan menahannya di belakang punggung Tyo. Seolah aku ini polisi yang baru saja mnyergap buronan. Aku tarik pemikiran jika Tyo sudah berubah. Buktinya dia masih sama saja mengesalkan.


“Kalau kamu gak sakit hati, ngapain curhat?” omelku pada dia.


Lagi, aku mendengarkan tawanya. Dengan cepat dia memutar pergelangan tangan hingga terlepas dari cengkeramanku. Aku terbelalak. Tidak, seharushnya aku sadar jika tenaga laki-laki lebih kuat dibandingkan perempuan sepertiku.


Tyo berbalik melihat padaku. Dia tersenyum, hal yang aku kira seringai. Terlalu miring hingga aku bersangka buruk. Mata kami bertemu, saling mengirimkan data yang entahlah aku tidak mengerti apa hingga debaran di dada berbeda dari biasanya.


“Aku udah nyerah sejak awal buat perjuangin Sendu. Berhenti cari masalah, tapi susah. Biru masih mengira aku mengincar saudara jauhnya itu. Kalau bertengkar kita emang udah biasa,” jelas Tyo padaku.


Aku mengangkat tangan dan melihat pada jam. Masih sekitar delapan menit lagi aku harus berada di kelas Bu Kila, sebelum benar-benar berakhir di luar kelas. Namun, entah kenapa kaki ini tidak sinkron dengan otak. Jujur saja, aku bisa meninggalkan Tyo sekarang juga.


“Terus aku suka anak perempuan lain, tau-taunya lebih miris,” lanjut Tyo.


Mataku masih memandanginya. Pelan-pelan dia memegang tanganku. “Tyo lepas.”


“Orang yang aku suka itu aneh. Meminta aku potong rambut, merapikan baju tapi setelah bertemu cuek bebek tanpa komentar. Berhasil gak bikin onar, aku malah diabaikan. Suruh baca pesan di buku yang kutulis, tapi sampai sekarang gak ada jawaban. Aku heran sama dia.”


Aku bungkam. Mengingat kembali apa saja yang Tyo ucapkan. Mengaitkan setiap ucapannya pada kejadian yang pernah kami alami. Namun, dengan cepat aku menggeleng. “Maksud kamu?”


Tyo hanya tersenyum. Tidak lama dia berbisik sangat pelan sehingga hanya pendengaranku yang mendengarkan ucapannya. “Aku tuh suka sama kamu. Tapi kamunya gak peka.”


Di lima menit terakhir. Aku benar-benar ingin menghitung tiap detik debaranku berlangsung. Ingin aku abadikan momentum ini. Tyo tersenyum miring lagi. Naas, hidungku jadi incaran cubitannya. Dia mencoba membawaku kembali ke dalam alam yang fana.


“Jangan salting ya, Arin. Teteh galakku.”


Aku memberontak! Segera berkacak pinggang dan menyerukan nama laki-laki tersebut. “TYO!”

__ADS_1


End.


__ADS_2