Various Kinds of Stories

Various Kinds of Stories
Beda Dunia - CastaliaAgreetLusia


__ADS_3

Gareta Ambriel namanya, seorang gadis cantik yang memiliki kemampuan khusus yaitu indigo. Gareta masih terbilang sangat muda dan dirinya mampu membantu orang di sekitarnya yang tengah kesusahan dalam masalah mistis.


“Doni, kamu dimana? Jangan sembunyi terus, ayo keluar!” ucap Gareta sambil mencari sekeliling.


“Bwwahh... Kau merindukanku?”


“Buat apa aku merindukanmu?” jawab Gareta sambil tersenyum sangat manis.


(Mulai lagi! Stop, jangan tunjukkan senyuman itu padaku! Kenapa aku harus menyukai manusia sepertimu!) teriak batin Doni sambil meninggalkan Gareta.


“Kamu mau ke mana, Doni? Aku masih belum selesai bicara!” teriak Gareta yang tidak di hiraukan Doni yang sudah menghilang dari pandangan mata Gareta.


Dia bisa berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata tanpa merasa takut, seperti sekarang ini. Sejak Gareta kecil, ia sudah bisa melihat hal-hal aneh yang di luar nalar. Hanya orang-orang tertentu yang dapat memahaminya.


Sejak kecil, Gareta sudah di kucilkan oleh teman-temannya. Mereka menganggap aneh Gareta dan enggan berteman dengannya. Dan itu sudah terbiasa bagi Gareta, baginya yang terpenting dia memiliki seorang teman yang setia menemaninya setiap waktu.


Dan teman yang di maksud Gareta adalah hantu lelaki yang cukup tampan. Namanya adalah Doni yang sudah lama meninggal. Doni berasal dari jaman penjajahan Belanda, dia meninggal karena di bunuh dengan kejam oleh tentara Belanda itu.


Sekarang Doni sudah melekat dengan setia pada Gareta, dari kecil hingga remaja. Mereka seperti ada ikatan batin yang kuat mengikat mereka berdua dan tak terpisahkan.


Di setiap Gareta dalam kesulitan maka Doni dengan cepat akan datang menolongnya. Misalnya, ketika Gareta tengah di rundung oleh teman sekelasnya di toilet, seketika lampu toilet padam dan seketika angin tertiup sangat kencang dalam ruangan itu.


(Tuh kan, kamu kenapa si Doni? Kok akhir-akhir ini kamu sering banget menghilang!) guman Gareta kesal dengan sikap Doni.


***


Dengan langkah kaki yang cukup berat, Gareta menenteng sebuah kantong plastik sehabis belanja di warung mak Ipah.


Gareta masih teringat dengan sikap Doni yang sering menghilang diam-diam tanpa sepengetahuan Gareta. Dan itu membuat Gareta merasa sedih, bahkan ia berpikir, mungkin Doni sudah mulai bosan bermain dengannya dan ia akan kembali merasakan kesepian lagi.


Tiba-tiba sekumpulan wanita remaja menghalang jalan Gareta yang masih hanyut dalam lamunannya.


“Wah..wah..wah... Liat siapa ini?” ucap Putri sambil mendorong bahu Gareta dengan kuat sampai terjatuh ke tanah dan menyebabkan belanjaan Gareta jatuh berceceran.


Putri dan kedua temannya tertawa seakan merasa puas setelah mendorong jatuh Gareta.


Gareta menatap geram pada Putri dan kedua temannya itu. Sudah lama sejak kejadian yang di toilet mereka tidak pernah mengganggunya. Tapi, hari ini mereka sudah mengumpulkan keberanian apa, sehingga masih berani berulah? Apa mereka tidak takut dengan kejadian terakhir itu?


Gareta bangkit dan mengambil kembali belanjaannya yang berserakan di tanah akibat ulah Putri dan teman-temannya.


“Memang pantas sebutan itu! Kau bahkan tidak lebih mirip dengan seekor monyet!” ucap Lili sambil menarik rambut Gareta dengan kasar.


Gareta masih diam tanpa membalas perbuatan Putri dan teman-temannya.


“Mungkin dia bisu! Bahkan dia tidak mengucapkan satu kata pun!” ejek Mona yang ikutan menarik rambut Gareta.


Putri menatap puas setelah merundung Gareta. Dia dan kedua temannya tertawa terbahak-bahak.


“Sudah puas?” akhirnya Gareta berbicara.


Gareta bangkit dan berdiri menghadap ketiga gadis itu dengan tatapan marah. Ia tidak akan menyangka bahwa ketiga gadis itu masih berani untuk mengganggunya.


“Kalian sudah puas? Kalian pikir aku akan diam saja di perlakukan begini?” tanya Gareta sambil mengeratkan genggaman kedua tangannya.


PLakk...


Putri menampar pipi Gareta, dan meninggalkan bekas merah.


“Beraninya kamu menatap aku begitu! Kau bahkan tidak sebanding dengan anjing di jalanan yang hina!” ucapan Putri kali ini sangat memancing emosi Gareta yang sudah di puncak.


Sekujur tubuh Gareta bergetar, ia sudah hampir tidak bisa menahan emosi yang meluap ini. Ia tatap putri dengan lekat, seperti seekor singa yang tengah mengincar buruannya.


Tiba-tiba angin yang sedari tadi tenang, kini tertiup sangat kencang. Daun-daun beterbangan ke sana ke mari mengikuti arah angin itu tertiup.


Ketiga gadis itu cukup ketakutan dengan kejadian ini. Mereka lari ke sembarang arah meninggalkan Gareta yang masih berdiri di sana dalam emosi yang meledak-meledak.


“Apa kau bodoh? Kenapa kau hanya diam tanpa melawan?” tanya Doni yang sudah berdiri di belakang Gareta.


“...” Gareta tidak menjawab Doni dan ia sibuk memasukkan lagi belanjaannya yang berceceran di tanah akibat ulah ketiga gadis itu.


“Sudahlah, berbicara padamu semakin membuatku marah!” ucap Doni semakin menjauhi Gareta.


“Kenapa?... Kenapa kau datang dan pergi sesukamu?” akhirnya Gareta memberanikan diri untuk bertanya.


Doni terdiam tepat di belakang Gareta, ia menatap lekat pada gadis itu. Doni juga tidak ingin seperti ini, tapi ada sebuah alasan yang membuatnya akhir-akhir ini menjauhi Gareta.


“Aku tidak bisa memberitahukanmu!” jawaban Doni tidak seperti yang Gareta harapkan, yang ia ingin dengar adalah alasan kenapa Doni menjauhinya.


Tanpa sadar butiran kristal bening mengalir dari sudut mata Gareta, tanpa Doni sadari. Gareta menangis dalam diam. Ia membenamkan wajahnya di balik kedua tangannya.


(Maafkan aku. Aku harus menjauhimu, karena kita sudah berbeda alam! Aku tidak ingin jatuh lebih dalam dengan perasaan ini! Biarkan aku saja yang menderita, jangan dirimu Gareta.) itu semua adalah ungkapan yang ingin Doni sampaikan, tapi tidak bisa dan hanya bisa Doni katakan dalam hati sambil terus menatap sendu punggung Gareta.


Setelah selesai memungut kembali belanjaan itu, Gareta lari dengan kencangnya meninggalkan Doni di sana, ia menangis sedih sambil menembus hujan yang turun dengan tiba-tiba.


Bahkan langit pun tidak berpihak padaku! Pikir Gareta yang terus berlari.


Sesampainya di depan rumah. Gareta berdiri di depan pintu dan hanya menatap kosong pintu itu. Kini sekujur tubuh Gareta basah kuyup oleh guyuran hujan yang cukup deras.


***


“Kok kakakmu belum pulang yah?” tanya ibu Gareta pada Gabriel yang tengah asyik bermain game online di ponselnya.


“Mana aku tahu.” Jawab Gabriel tanpa menoleh ke ibunya.


“Kamu ini, Kakakmu sudah pergi sejak tadi siang dan belum juga pulang. Sekarang juga turun hujan deras! Apa kamu tidak khawatir dengan kakakmu?” tanya ibunya lagi.


“Bu, kakak sudah besar. Tidak mungkin bisa hilang! Mungkin sekarang kakak sedang berteduh!” jawab Gabriel cukup kesal karena terganggu.


“Ibu khawatir dengan kakakmu. Coba kamu keluar cari kakakmu. Ibu khawatir sekali!” ucap ibunya sambil mengintip keluar jendela.


Gabriel yang terpaksa dengan perintah ibunya pun pergi mencari kakaknya.


Tapi, saat Gabriel membuka pintu, ia di kejutkan dengan Gareta yang berdiri dalam keadaan basah semua sambil menggigil kedinginan.


“Ibu...” teriak Gabriel memanggil ibu mereka.

__ADS_1


“Ada apa?” sambil berlari keluar karena mendengar teriakan anak laki-lakinya.


Sontak membuat ibu Gareta terkejut melihat anak gadisnya berdiri dengan kondisi seperti ini. Tanpa bertanya, ia menarik Gareta masuk dalam rumah.


“Apa yang terjadi? Kenapa pipimu merah?” tanya ibunya sambil mengeringkan rambut Gareta dengan handuk.


“....” Gareta hanya diam, ia masih dalam perasaan sedih.


Krriiiieettt....


Pintu kamar Gareta terbuka.


“Lain kali kalau keluar, jangan lupa membawa payung!” ucap Gabriel yang sudah tepat berdiri di depan Gareta dan ibunya.


Gareta mengangkat wajahnya memandang kosong pada adiknya.


“Gabriel, kakakmu kurang sehat. Kamu keluar saja dulu. Ibu ingin berbicara berdua dengan kakakmu!” nada ucapan ibu gareta berubah serius.


“Ok, aku akan keluar. Tapi, kak kalau keluar jangan bikin orang khawatir dong!” sambil menutup pintu kamar.


Ibu Gareta terdiam sesaat sambil menghirup oksigen yang ada di ruangan itu. Ada beban yang sulit untuk di jelaskan terlihat sangat jelas di wajah yang mulai keriput itu.


“Gareta, coba cerita sama ibu.” Tanya ibunya dengan lembut sambil terus mengeringkan rambut Gareta dengan handuk.


Gareta mulai membalikkan tubuhnya menghadap ibunya. Kedua mata indah itu berlinang air mata yang sudah tidak bisa Gareta tahan lagi.


Yang Gareta ingin hanya sebuah pelukan hangat yang mampu menenangkan beban pikirannya saat ini.


“i...ibuuu...” Gareta memeluk ibunya sambil menangis tersendu-sendu.


“Sayang, ibu tahu selama ini, kamu sudah cukup menderita dengan keadaan ini!” ucap ibunya sambil mengelus kepala Gareta dengan lembut.


“huhuhu...” tangisan Gareta memenuhi seisi kamarnya.


Tanpa Gareta sadari, Doni dengan diam melihat Gareta menangis dalam pelukan ibunya. Ia ingin memeluk gadis itu, tapi ia tidak bisa. Karena mereka berasal dari dunia yang berbeda! Dan itu sudah menjadi fakta yang tak terbantahkan.


(Hatiku sakit jika kau menangis. Kenapa kita harus terpisah dengan keadaan ini? Aku mohon jangan menangis lagi.) teriak batin Doni sambil menghilang dari balik tembok kamar Gareta.


Masih dalam pelukan ibunya, kini Gareta sudah tidak menangis lagi. Ia melepaskan pelukannya dan menatap dalam mata ibunya seakan ingin memberitahu ada beban yang ingin Gareta sampaikan.


“Sudah lega? Coba cerita sama ibu, ada masalah apa?” sambil menyeka sisa-sisa air mata Gareta yang tertinggal.


“Tapi, ibu janji dulu. Jangan kasih tahu siapa-siapa.” pinta Gareta sambil menjulurkan jari kelingkingnya.


“haha... Kamu ini, iya ibu janji!” sambil menyambut kelingking Gareta dengan kelingkingnya.


“Bu, akhir-akhir ini Doni menjauhiku tanpa sebab! Aku bingung kenapa dia begitu.” Ucap Gareta perlahan dengan mata yang masih sembab sehabis menangis.


“Temanmu yang tak kasat mata itu?” tanya ibunya sambil menghembuskan napas yang cukup berat.


“i..iya ibu, Doni. Yang sering aku cerita sama ibu!” jawab Gareta sambil melihat sekeliling seperti mencari sesuatu, tapi tidak ada. Ia sebenarnya mencari sosok Doni, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Doni.


“Gareta sayang, mungkin Doni punya alasan sendiri kenapa dia menjauhimu.”


“Ibu benar, mungkin Doni punya alasan dan tidak bisa kasih tahu alasannya.” Jawab Gareta serius.


****


Dengan berat hati ibunya keluar dari kamar Gareta sambil terus berpikir.


Mas, andaikan kamu masih ada di sini! Mungkin beban ini tidak seberat ini. Kamu lihat, anak kita sudah tumbuh dengan sehat. Tapi, kenapa kamu mewariskan kemampuan itu pada anak gadis kita? Aku tidak sanggup melihat Gareta terus menderita dengan kemampuan itu. Itu semua adalah jeritan batin ibu gareta yang merasa hampir putus asa.


“Ibu” panggil Gabriel dari arah belakang.


Membalikkan badan sambil mencari arah suara itu.


“Ada apa?” tanya ibunya sambil tersenyum.


“Tidak ada. Lupakan saja!” ucap Gabriel sambil pergi masuk ke kamarnya. Ibu boleh tersenyum, tapi ibu salah. Aku jelas tahu ibu menyimpan luka yang dalam sejak kematian ayah 10 tahun yang lalu. Sampai kapan ibu mau menderita seperti ini terus? Dan kakak hanya bisa membuat ibu terus merasa sedih! Itulah kenapa aku tidak menyukai kakak. Batin Gabriel bergejolak tak karuan.


Dalam kamar Gareta. Lampu kamar pun sudah di matikan dan hanya menyisakan sedikit cahaya yang menembus masuk dari cela-cela jendela. Gareta sudah terlelap dalam tidurnya.


Seketika angin tertiup memainkan tirai jendelanya. Dan kini Doni sudah berdiri tepat di samping ranjang Gareta. Ia tatap gadis itu dengan penuh arti dan di belainya rambut kepala Gareta dengan lembut.


“Maafkan aku.” Ucapan Doni terdengar sangat sedih. “Aku harus pergi tanpa memberitahumu! Selama ini aku menyukaimu, tapi karena dunia kita berbeda, aku hanya bisa diam menyimpan dalam perasaan ini! Aku sedih saat melihatmu menangis!” ungkap Doni yang sudah mengalirkan air mata.


Tanpa Doni sadari, sedari tadi Gareta sudah mendengar semua perkataan Doni dalam diam, ia tidak berani membuka matanya, ia takut jika ia membuka mata, maka Doni akan pergi lagi tanpa menyelesaikan ucapannya.


“Kau tahu Gareta, kenapa sejak kecil aku selalu mengikutimu. Karena saat bersamamu waktuku bisa berjalan. Aku sudah lama di dunia ini dengan bentuk anak-anak, tapi sejak denganmu aku bisa tumbuh besar seperti ini!” Doni mencium kening Gareta dengan bibir dinginnya.


Gareta bisa merasakan kehangatan yang tulus dari ciuman itu, yang walaupun sentuhan yang di berikan Doni sangat dingin.


“Aku ingat ketika kau masih kecil! Kau sangat lucu saat itu, dan aku tahu kau bisa melihatku dari begitu banyaknya orang. Dan hanya dirimu dengan polosnya mendatangiku sambil membawa sepotong roti untuk diberikan padaku! Mungkin saat itu kamu masih belum tahu aku bukanlah manusia.”


“Kau ingat, ketika aku terus mengikutimu ke mana pun kau pergi? Haha, mungkin itu bagian terlucu dalam hidupku yang tidak akan pernah aku lupakan! Kamu sudah berkali-kali mengusirku untuk tidak mengikutimu, tapi aku yang begitu keras kepala tetap terus mengikutimu hingga sekarang!”


Gareta mendengar semua ucapan yang di lontarkan Doni, semua yang di ucapkan Doni adalah kenangan mereka sewaktu kecil, ketika Gareta masih belum mengetahui kemampuannya. Dan Doni lah yang selalu membantu Gareta mengatasi semua permasalahan mistis yang sering menghampirinya.


“Apa kau juga ingat ketika kau tersesat di hutan saat berkemah sewaktu SMP dulu? Waktu itu kau melarangku untuk mengikutimu. Tapi, kau dengan kencangnya terus memanggil namaku. Waktu itu, aku seakan merasakan dirimu berada dalam bahaya! Aku terus mencarimu ke segala arah sampai aku menemukanmu di balik pohon besar itu sambil terus menangis dalam ketakutan.” Ucapan Doni terhenti ketika Gareta membalikkan tubuhnya menghadap ke arah dinding.


Gareta meneteskan air mata, ia tahu arti dari semua perkataan Doni. Dia tahu dengan sangat jelas. Gareta merasa ia akan kehilangan Doni kali ini.


Dalam diam gareta menangis tanpa di sadari Doni yang tengah mengelus kepalanya. Ia bisa merasakan sentuhan dingin di kulit kepalanya.


“Aku sangat menyukaimu, Gareta. Tapi, kita tidak di takdirkan bersama di kehidupan kali ini! Dan waktuku sudah tidak banyak lagi, bahkan sebentar lagi mereka akan datang menjemputku, membawaku pergi ke tempat yang sangat jauh!” Doni melemparkan pandangannya ke sembarangan arah. “Maaf, maafkan aku yang akhir-akhir ini menjauhimu. Karena aku tidak sanggup saat melihatmu sedih ketika mengetahui yang sebenarnya! Biarkan aku sendiri yang merasakan kesedihan ini semua!” Kini Doni berdiri sedikit jauh dari Gareta. “Aku harus pergi, aku mohon hiduplah dengan bahagia. Jangan tangisi kepergianku lagi. Karena aku sangat mencintaimu! Selamat tinggal Gareta.” Itu adalah ucapan terakhir dari Doni sebelum ia menghilang untuk selamanya.


Setelah mendengar itu semua Gareta menangis terisak-isak malam itu. Hatinya remuk, bagaikan di tusuk ribuan jarum. Di benamkannya wajahnya di telapak tangannya menahan tangisannya. Dia akan sendiri lagi, tanpa seorang teman.


Selama ini Gareta juga menyimpan rasa suka pada Doni, tanpa di ungkapkannya. Kini penyesalan menyelimuti seluruh tubuh dan perasaannya.


Sepanjang malam Gareta menangisi kepergian Doni yang meninggalkannya selama-lamanya dan tak akan kembali. Matanya masih bengkak dan sembab.


Gareta seakan enggan bangun dari tempat tidurnya, ia malas melakukan apa pun, ia merasa hatinya sangat kosong, dan ia sangat putus asa dengan perasaanya.


***

__ADS_1


Ini adalah tahun terakhir bagi Gareta duduk di bangku SMA. Sebentar lagi mereka akan ujian kelulusan.


Perlahan Gareta mulai menjalani kehidupannya dengan semula, walau pun hatinya masih tidak sepenuhnya sembuh dari kepergian Doni.


Tapi, masih gareta ingat dengan jelas apa yang di minta oleh Doni, sebelum ia pergi. Ia ingin Gareta hidup dengan bahagia tanpa ada dirinya lagi. Ia ingin Gareta menjalani hidupnya dengan normal.


Dan benar saja, sejak kepergian Doni. Gareta sudah tidak bisa melihat makhluk tak kasat mata lagi atau pun berkomunikasi. Ia sudah hidup dengan normal dan sekarang sudah memiliki beberapa teman.


Tapi, masih tidak bisa menepis kekosongan dalam hatinya. Sampai sekarang pun Gareta masih merindukan sosok Doni, tawanya, wajahnya, yang masih terus terbayang dalam pikiran Gareta.


“Gar, kok melamun terus? Nanti kesambet lho.” Ucap Nina yang menyadarkan Gareta.


Gareta sedikit tertawa mendengar ungkapan temannya itu. “Tadi sampai mana? Maaf tadi aku sedikit tidak fokus!” jawab gareta sambil melanjutkan mengerjakan ‘PR’.


“Tata, kamu bisa tidak?” tanya Nina yang mengalihkan pandangan pada Tata yang terlihat sangat serius mengerjakan tugas itu.


Gareta tidak sepintar Nina yang selalu meraih juara 1 setiap tahunnya. Bagi Gareta, ia sangat bersyukur sekarang ada Nina dan Tata yang mau menjadi temannya.


Dulu, sewaktu mereka masih menjadi murid baru, Tata dan Nina pernah menyapa pada Gareta. Tapi, bukannya membalas menyapa mereka, Gareta hanya memberikan wajah datar dan hanya melalui mereka.


Tapi, tanpa menyerah Tata dan Nina berusaha mendekati Gareta, walaupun sudah sering Gareta tolak. Sampai suatu hari, ketika Putri dan teman-temannya mencoba merundung Gareta, Tata dan Nina tanpa merasa takut melawan Putri dan teman-temannya. Sejak itulah hati Gareta sedikit terbuka untuk menerima mereka berdua menjadi temannya, hingga sekarang!


“Aahhh, aku pusing banget! Rasanya otakku beku semua, semua pelajaran yang di jelaskan ibu Ningsih tidak ada yang masuk dalam otakku ini!” Tata akhirnya menyerah menatap soal di kertas yang di anggap sulit.


Nina dan Gareta hanya bisa tertawa geli melihat Tata mengeluh pasrah setelah beberapa saat bergulat dengan tugas itu ‘pr’.


***


Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu sudah tiba, Gareta, Nina, dan Tata sudah tidak sabar menanti kelulusan mereka. Mereka sudah duduk dengan rapi di bangku murid dan dengan di dampingi oleh orang tua mereka masing-masing, begitu juga Gareta yang sudah di temani ibunya.


Ibunya memegang erat tangan Gareta sambil tersenyum manis, ia tahu bahwa anak gadisnya tengah gelisah saat menunggu giliran di panggil namanya oleh kepala sekolah.


“Tenang saja, ibu ada di sini.” Ucapan ibunya sontak membuat perasaan kalut Gareta langsung merasa tenang.


“Ibu, maaf selama ini Gareta selalu membuat ibu khawatir!” ucap Gareta sambil menatap dengan lembut pada ibunya.


Gareta dan ibunya saling membalas tersenyum, mereka saling tatap dengan penuh arti. Dan sekarang pun, Gareta dan Gabriel sudah akur. Mereka tidak bertengkar lagi, bahkan Gabriel sangat menjaga kakaknya.


5 tahun kemudian....


Setelah lulus kuliah, Gareta bekerja di sebuah perusahaan S yang sangat terkenal. Kini dirinya menyibukkan dirinya dengan bekerja, ia ingin melupakan bayang-bayang Doni.


Dan benar saja, kini perlahan dan entah sejak kapan, Gareta benar-benar melupakan perasaannya pada Doni, ia sudah mengubur dalam-dalam perasaan itu.


Pagi itu, seperti biasa sebelum Gareta memulai aktivitasnya, ia selalu membeli secangkir kopi di kantin kantornya.


“Terima kasih, selamat beraktivitas.” Ucap penjaga kantin itu dengan tersenyum sambil memberikan kopi pesanan Gareta.


“Terima kasih.” Jawab gareta sambil menerima kopi itu, ia sedikit tersenyum dan berlalu pergi.


Doni, aku sudah hidup dengan bahagia seperti yang kau inginkan! Aku benar-benar sudah melupakanmu. Ucap Gareta dalam batin sambil tersenyum ketika mengingat masa lalunya dengan Doni, si hantu tampan yang pernah mengisi hatinya dulu.


“Pagi, apa kopinya enak?” tanya seorang wanita rekan kerja Gareta.


“Seperti biasa! Aku masih tidak bisa membedakan rasa kopi.” Jawab Gareta sambil tertawa.


“Dasar, jadi untuk apa kamu selalu meminumnya, jika kamu sendiri tidak bisa menikmati rasanya?” tanya Rosa sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


“Aku juga tidak tahu, kenapa aku meminumnya!” terlihat raut wajah Gareta sedikit murung sambil terus menatap gelas kopi yang ia pegang.


“Sudahlah, lupakan saja. Kau ada acara akhir pekan ini?” tanya Rosa lagi.


“Tidak ada.” Jawab Gareta singkat.


“Bagaimana kalau kita pergi kencan buta?” ucap Rosa sedikit semangat.


Tiba-tiba mereka di kejutkan oleh seorang pria yang menghampiri mereka. Seketika jantung Gareta berdetak kuat saat melihat pria asing itu, ia gelisah dengan kehadiran pria itu.


(Sudah lama aku menantikanmu, Gareta. Akhirnya aku menemukanmu!) ucap batin pria itu.


Pria itu sudah berdiri tepat di hadapan Gareta dan Rosa. Ia pandangi Gareta dengan senyuman.


“Lama tidak bertemu, Gareta!” ucap pria itu sangat mengejutkan Gareta dan Rosa.


“Kau mengenalku?” tanya Gareta bingung sambil menunjuk dirinya dengan jarinya.


Rosa yang mengerti dengan tatapan pria itu pun, memilih pergi dengan diam meninggalkan Gareta dengan pria asing itu.


“Tentu aku sangat mengenalmu, aku sangat merindukanmu!” ungkap pria itu.


Gareta masih di landa begitu pertanyaan dalam hatinya, ia bingung dengan kehadiran pria asing yang mengaku mengenal baik dirinya.


“Ok, jadi siapa namamu?” tanya Gareta yang cukup penasaran.


“Kau pasti akan sangat terkejut setelah mendengar namaku!” jawab pria itu sambil tersenyum.


Gareta di buat cukup kesal oleh pria itu.


“Perkenalkan aku Doni Wiranto, CEO perusahaan ini!” ungkapan Doni sangat mengejutkan Gareta.


Gelas kopi yang ia pegangi jatuh ke dan menumpahkan isinya ke lantai putih itu.


Gareta tidak menyangka, akan bertemu lagi dengan Doni yang berbentuk manusia. Rasa yang ia kubur dalam-dalam kini bergejolak kembali.


Mereka di pertemukan lagi setelah sekian lama terpisah oleh waktu dan beda alam.


Gareta menatap lekat pada pria yang bernama Doni itu, seketika air matanya mengalir dari sudut matanya, tubuhnya sedikit bergetar.


Doni yang menyadari Gareta yang masih syok dengan kehadirannya, langsung memeluk erat tubuh Gareta. Ia menenangkan gadis itu dalam pelukan hangatnya.


Sungguh pemandangan yang sangat indah, banyak karyawan yang menyaksikan kejadian itu, ada yang merasa iri pada Gareta karena di peluk oleh CEO mereka dan ada juga yang ikut terharu dengan momen itu.


Beberapa menit Gareta menangis di pelukan Doni, kini tubuh yang dulu dingin, sekarang terasa sangat hangat dan nyaman dengan wangi maskulinnya. Kini kedua insan itu telah di persatukan kembali, semoga setelah ini mereka memiliki akhir cerita yang bahagia.


Selesai.

__ADS_1


__ADS_2