
Kisah manis tentang sepasang kucing yang tumbuh besar di lingkungan yang sama. Kucing betina itu bernama Miaw, dan yang jantan bernama Gembul.
Miaw adalah kucing kesayangan nenek Risa, sedangkan Gembul adalah kucing tetangga yang selalu datang ke rumah nenek Risa untuk melihat Miaw. Sejak pertama kali ia bertemu dengan Miaw, ia sudah jatuh hati dengan warna putih rambutnya dan mata biru milik Miaw.
Di komplek perumahan itu, Miaw adalah primadona di kalangan kucing betina. Sifat angkuhnya juga menambah aura kecantikannya.
Gembul saat ini sedang mengintip di balik pagar, ia terus memperhatikan kucing cantik itu dengan wajah terkagum-kagum. Miaw mengetahui jika ia sedang di perhatikan, namun ia mengabaikan saja. Toh sudah sering ada yang melihatnya seperti itu. Rambut halusnya tersisir rapi dan nampak putih bersih. Majikannya selalu merawat dirinya.
Miaw berjalan anggun menghampiri Ucil, si kucing berwarna coklat. Si Ucil memang sering main ke rumahnya, ia kucing yang buruk rupa menurut Miaw. Tapi karena Ucil baik padanya, ia mau berteman dengan Ucil yang selalu mempunyai rambut lepek dan bau tidak enak. Pemilik Ucil tidak rajin seperti nenek Risa.
"Hei Miaw, kau selalu cantik seperti biasa!" Puji Ucil bohong, ia sebenarnya tidak menyukai Miaw karena Miaw lebih cantik darinya.
"Tentu saja, aku sudah mandi dan memakai shampoo mahal tadi!" Jawab Miaw pongah.
Ucil berdecih dalam hati, "sombong sekali kucing itu, awas saja nanti aku akan merebut posisimu!"
Miaw mengajak Ucil untuk masuk ke dalam rumah, ia menyuruh Ucil untuk keset dulu sebelum masuk, maklum Ucil Sangat kotor.
"Kau sudah makan?" Tanya Miaw pada Ucil.
"Belum, aku sangat lapar!" Jawab Ucil cepat.
"Ya sudah, ini makan saja camilan milikku. Aku sudah kenyang dan takut nanti jadi gemuk!" Miaw mendorong wadah makanannya ke depan Ucil.
Ucil dengan senang hati melahap camilan itu tanpa malu, karena ia berpikir jika sebenarnya hanya dirinya yang pantas. Jika ia punya pemilik seperti nenek Risa ia pasti lebih cantik dari kucing sombong itu.
Ini yang membuat Ucil tak menyukai Miaw, ia sombong dan tak pantas mendapatkan kemewahan ini. Ucil iri dengan Miaw yang selalu mandi dengan shampoo mahal dan di beri makanan enak setiap hari.
"Eh, tadi aku liat si gembul ngintip di pager. Dia suka tuh sama kamu!"
"Ah, males dia gendut dan penakut. Masa cuma ngintip doang gak mau nyamperin," balas Miaw.
"Iya sih, tapi setidaknya Gembul adalah kucing yang baik. Dia cocok sama kamu." Karena Ucil tak suka Miaw dekat dengan Aliando, kucing berwarna hitam gelap dengan mata berwarna oranye.
"Tau kok dia baik. Tapi aku lebih suka yang pemberani seperti Aliando." Miaw menjilat-jilati kakinya, ia suka saat Aliando juga menjilati kakinya.
Aliando adalah kucing tampan yang selalu mendekati Miaw, ia akan merayu dan menjilati kaki Miaw ketika dekat dengan kucing betina itu. Aliando sedang keluar Negeri, jadi sudah lima hari Miaw tidak bertemu dengannya.
"Aku rindu Aliando," ujar Miaw sedih.
"Ah, palingan ia punya kucing cantik lain di luar sana," balas Ucil memanas-manasi.
Miaw jadi sedih, ia memang pernah mendengar jika Aliando suka main ke rumah kucing-kucing lain. Dia Playboy cap kucing. Miaw jadi kesal, ia meletakkan kepalanya di bantal. Memikirkan pujaan hatinya yang tak kunjung kembali.
Ucil tertawa dalam hati, ia berhasil menghasut Miaw. Setelah makanan di mangkuk habis di lahapnya, ia meminta minum pada Miaw.
"Itu minum saja susu di atas meja, aku belum meminumnya tadi." Miaw menunjuk pada susu di atas meja di sebelahnya.
Ucil menurut saja, toh memang Miaw yang menawarkan padanya. Seperti kata pepatah, rezeki tak boleh di tolak. Ucil menghabiskan susu itu hingga tak bersisa setetes pun. Maklum pemiliknya sangatlah pelit, ia bahkan tidak di beri makan secara rutin.
"Ucil kau boleh pulang, aku sedang tidak ingin bermain." Usir Miaw, tanpa melihat ke arah Ucil yang berwajah kesal.
"Dasar kucing sombong," batin Ucil melupakan jika perutnya telah terisi karena kebaikan Miaw.
Kadang dengki memang membutakan. Mengikis rasa malu jadi arang. Membakar rasa menjadi cemburu yang membara.
Ucil akan menyesal suatu saat nanti, Miaw tulus padanya. Tapi Ucil malah ingin menusuk tepat di relung hatinya.
Saat ia melangkah keluar ia bertemu dengan Gembul. Ide jahat terlintas di otaknya. Tersenyum culas berjalan mendekati Gembul.
"Gembul, Lo di panggil Miaw noh di dalam. Dia lagi galau, buruan samperin."
__ADS_1
Gembul langsung berbinar, "benarkah?"
"Ya, coba aja masuk!" Ucil berlalu meninggalkan Gembul.
Gembul ragu dan bimbang, tapi jika benar maka ia akan mengecewakan Miaw karena tidak datang. Dengan langkah pasti ia memasuki rumah itu. Tak lupa membenahi jambulnya, eh maksudnya adalah rambut yang sedikit lebih panjang di kepalanya. Meski gendut, Gembul adalah kucing yang mandi setiap hari dan selalu rapi.
Tanpa salam ia langsung menerobos masuk ke dalam rumah. Di sana terlihat Miaw yang sedang berbaring menelungkupkan kepalanya. Gembul gerogi, ini pertama kalinya ia berani lebih dekat dengan Miaw.
"Miaw!" Panggil Gembul duduk di sebelah Miaw.
Miaw melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata itu adalah Gembul. Ia langsung duduk memandang Gembul yang terlihat canggung dan malu.
"Ada apa, kamu tumben berani banget deketin aku?" Tanya Miaw yang semakin membuat Gembul sedikit panas dingin.
"Aku kesini karena kata Ucil kamu memanggilku!" Jawab Gembul jujur.
"Dia membohongimu! Berarti, jika ia tidak bilang begitu kau tidak berani mendekatiku?" Tanya Miaw dengan wajah angkuhnya.
Gembul diam saja, ia tak tahu harus menjawab apa. Melihat Gembul tak lagi berbicara Miaw merebahkan badannya lagi.
"Gembul, tetanggamu Aliando belum pulang?" Tanya Miaw dengan nada sedih.
"Sudah pulang dari beberapa hari lalu," jawab Gembul yang membuat Miaw jadi menatapnya.
"Kau yakin?" Tanya Miaw memastikan. Bahkan ia langsung duduk dan menatap kucing gendut di depannya.
"Yah, aku yakin tadi bahkan sebelum ke sini, aku melihatnya sedang duduk di teras dengan Raisa," Genbul masih menjawab dengan polosnya.
"Ayo antar aku ke rumah Aliando." Miaw berjalan lebih dulu keluar dari rumah di ikuti oleh Gembul yang tertatih mengikuti langkah Miaw yang gesit.
Mereka sudah sampai di depan rumah Aliando, dan benar saja. Terlihat di sana Aliando sedang bermesraan dengan Raisa. Miaw jadi sedih, ia berlari pulang ke rumahnya. Gembul juga berlari mengejar dengan tubuh gendutnya.
"Miaw tunggu!"
Setelah kejadian itu, Miaw tak lagi mau di dekati oleh Aliando. Bahkan sekarang lebih dekat dengan Gembul. Ucil sangat senang karena ia berhasil, ia akan merebut Aliando tanpa halangan.
Ucil masih sering main ke rumah Miaw meminta makanan, ia juga selalu memanasi Miaw jika Aliando sudah melupakannya dengan mudah. Miaw semakin membenci Aliando.
Gembul juga sering datang meski hanya sekedar membawa coklat atau menemani Miaw. Gembul tak patah arang untuk berusaha mendapatkan perhatian Miaw.
Suatu hari Miaw pergi ke luar negeri, Gembul sedih. Ia bahkan tak mau makan setelah kepergian Miaw. Pemilik Gembul bingung, ada apa dengan kucing gendutnya. Hingga ia memergoki gembul sedang melihat rumah nenek Risa dengan wajah sedih.
Gembul di ajak pulang juga tak bersemangat, entah apa yang membuat kucingnya jadi loyo begitu. Padahal Gembul sebenarnya adalah kucing baik yang periang. Pemilik jadi tahu penyebabnya saat Gembul selalu mengamati rumah nenek Risa setiap hari.
Pemilik duduk di teras rumah menemani Gembul yang masih termenung, seperti kata pepatah. Hidup segan mati tak mau.
“Mbul, besok ikut gua ke bandara yak?” meski tau tak akan mendapatkan jawaban, ia tetap mengajak Gembul berbicara.
“Besok kita akan jemput pujaan hatimu!” tapi Gembul masih tak merespon.
Esok harinya Gembul benar-benar ikut ke bandara ikut menjemput seseorang. Saat ia terus menunduk ada suara kucing mengeong, dan suara itu adalah suara yang sudah sangat di rindukannya.
Ia mengangkat pandangannya yang semula menunduk. Jantungnya bagaikan lepas dari tempatnya, ia bahkan lupa untuk bernapas. Ia langsung menubruk Miaw dan menjilat-jilat kepala Miaw.
“kangen banget ya?” tanya Miaw menggoda.
Gembul masih belum menemukan suaranya yang tiba-tiba menghilang. Ia sangat senang, bahkan ia ingin mencium kucing cantik di depannya itu. Untung saja ia masih waras, jika itu ia lakukan. Bisa di tampol di depan umum. Kan malu jika itu terjadi, ia hanya bisa puas dengan menjilat-jilat kelapanya saja.
Miaw juga senang kedatangannya di sambut baik oleh kucing gendutnya itu. Mereka pulang bersama, pemilik dan nenek Risa duduk di depan. Sedangkan mereka berdua duduk di belakang. Melepas rindu yang tak terkatakan.
"Miaw maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku?" Tanya Gembul dengan jantung berdegup kencang.
__ADS_1
Setelah sekian lama mereka dekat, Gembul ingin membawa hubungan mereka ke hubungan yang lebih serius lagi.
"Aku mau," jawab Miaw malu-malu.
Gembul sangat senang, ia bahkan berputar-putar karena senang. Akhirnya ia berhasil mengambil hati sang pujaan hati. Kucing tercantik di komplek ini. Mereka berencana memiliki banyak anak bersama.
Setelah beberapa bulan Miaw hamil, Gembul semakin protektif pada Miaw. Saat akan makan ia akan mendekatkan mangkuknya. Selama sebulan penuh ia tak pernah pulang ke rumah. Pemiliknya sempat bingung mencari keberadaannya. Tapi setelah tau jika Gembul sedang menginap lama di rumah nenek Risa, sang pemilik membiarkannya. Toh nanti jika punya Gembul berhasil, ia akan mendapatkan kucing kecil lucu.
Saat akan mendekati proses melahirkan, Miaw sangat ingin makan coklat, sehingga Gembul pulang ke rumahnya untuk mengambil coklat. Tapi karena tak kunjung kembali, Miaw memutuskan untuk menyusul gembul dengan perut besarnya.
Di jalan ia bertemu dengan Aliando yang sedang bertengkar dengan Ucil. Ya, Ucil terus berusaha mendekati Aliando. Tapi, Aliando tak menyukai Ucil yang lecek dan bau.
“Kau jelek! Aku tak menyukaimu!”
“Tapi aku menyukaimu, Al,” teriak Ucil sambil menangis.
“Jika kau cantik seperti Miaw, maka aku akan menerimamu!” ujar Aliando tanpa merasa bersalah.
“Jadi kau masih menyukai kucing sombong itu!” teriak Ucil tak terima.
“Ya! Dia cantik dan juga baik. Kau operasi saja wajah jelekku itu!” Aliando mendorong Ucil hingga tersungkur.
Miaw yang mendengar pertengkaran mereka jadi sedih, tak tau harus bagaimana. Ia bersembunyi di balik semak-semak. Saat akan keluar ia mendengar teriakan Ucil yang membuatnya membeku.
“Dari dulu aku benci dengan Miaw, dia kucing sombong yang menyebalkan. Kenapa kau menyukainya?” teriak Ucil lebih keras.
“Tentu karena ia cantik, ia tidak jelek sepertimu kucing liar!”
Ucil menangis, ia memukul Aliando dengan garang. Aliando juga tak mau kalah, mereka jadi bertengkar.
Miaw sakit hati mendengar penuturan Ucil. Tapi bagaimana lagi menang salahnya jika ia terlahir cantik. Dan Aliando, ia tak menyangka Aliando akan sekasar itu.
Miaw merasa beruntung bisa bersama dengan Gembul, kucing itu sangat baik dan manis. Tapi saat ini ia tidak bisa membiarkan mereka saling melukai Karenanya.
Mereka saling beradu, Miaw mencoba memisahkan teman dan mantan pacarnya itu.
Tapi karena tidak hati-hati Miaw terdorong jatuh di tengah jalan, ia kesakitan. Tapi naas, karena ada mobil yang melintas dan menabraknya.
Gembul yang berjalan dengan hati gembira, telah berhasil mendapatkan coklat untuk Miaw jadi menjatuhkan coklat itu. Di depan matanya ia melihat Miaw tertabrak mobil. Darah berceceran mengalir dari tubuh nya. Rambut putihnya ternoda darah.
Gembul berlari dan mencoba membangunkan Miaw, di saat terakhir Miaw masih bisa mengucapkan sesuatu.
"Maaf aku tidak bisa melahirkan anakmu. Aku menyayangimu Gembul!" Dan itulah saat terakhir Miaw, ia mati tertabrak mobil dalam keadaan hamil.
Jalanan itu penuh dengan darah, Gembul menangis pilu dengan di temani rintik hujan yang ikut melebur bersama darah di jalan. Gembul meneluk erat pujaan hatinya.
Pemilik Miaw menangis menguburkan Miaw di pelataran rumahnya. Gembul menatap gundukan tanah itu dengan derai air mata. Pemilik Gembul sedari tadi mengajak Gembul pulang, tapi sayang Gembul masih ingin menemani kekasih hatinya itu.
Impian mereka terkubur bersama kenangan yang memilukan. Gembul masih ingin bersama Miaw, Gembul telah berjanji akan membahagiakannya. Mengapa maut memisahkan ketika mereka bahkan baru mencoba hidup bahagia. Ia luruh menyandarkan kepalanya di atas gundukan tanah itu. Tangannya seakan sedang mengusap kepala Miaw.
Merenungkan apa yang terjadi, Miaw yang cantik kini tak lagi ada. Miaw yang manja padanya kini telah pergi.
"Maaf." Suara kucing betina yang membuatnya menengok sekilas.
"Kau puas?" Jawab Gembul dengan suara pilu.
"Maaf, aku telah jahat padanya." Tangis Ucil menyesal.
"Kau terlambat, ia telah pergi." Ketus Gembul tak ingin berlama-lama lagi di sini.
Masih lekat dalam ingatannya Miaw adalah kucing baik yang tak pernah pelit pada temannya yang jahat itu. Andai ia bisa lebih baik lagi menjaga Miaw, Pasti saat ini ia sedang tertawa bahagia bersama Miaw, melihat kelucuan anak-anak mereka. Waktu mengambil kesempatannya. Waktu merengut miliknya yang berharga.
__ADS_1
Miaw jangan pergi!