Various Kinds of Stories

Various Kinds of Stories
Flash Fiction - 2


__ADS_3

By NabilaHana.


Rasa pahit ini melebur dengan manisnya es krim yang aku makan. Sejujurnya, untuk apa aku menunggu? Untuk siapa aku menunggu? Semua itu seperti pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Karena hati ini sudah mati semenjak dia meninggalkanku.


Kepalaku terlindungi oleh payung transparan yang kafe ini sediakan. Aku tahu ini hanya satu dari semua kebodohan yang aku miliki. Memakan es krim di tengah cakrawala menangis sendu. Namun, janji tetaplah hal yang harus aku tepati padanya.


Teringat akan janji manis yang selalu dia ucapkan kepadaku. Kala kecupan singkatnya membuat aku terdiam. Serta pelukan hangat yang membuat semua keraguan itu menghilang.


“Aku tahu kamu ke sini, Gea,” ucap seorang laki-laki basah kuyup di hadapanku.


Dia tidak meminta izin untuk duduk di bangku. Memangnya siapa aku yang berhak melarangnya? Laki-laki itu menopang wajah dengan tangan kanan. Matanya terpusat padaku dan juga es krim cokelat.


“Ada baiknya kamu melupakan dia. Kalian hanyalah masa lalu dan aku masa depanmu,” ucap laki-laki tersebut.


Aku kembali menjilat es krim cokelat, memakannya meski dingin. “Seharusnya kamu tidak datang ke sini.”


Dia diam, tetapi sejujurnya dia tengah memikirkan kalimat yang tepat untuk membalas ucapanku. Segera saja aku berdiri, tidak seharusnya aku menarik orang lain ke perasaan ini. Luka ini milikku, tidak untuk dibagi-bagi.


Aku pikir dia telah menyerah, tetapi nyatanya dia menahan tanganku. “Kamu harus lupakan masa lalu.”


“Hentikan ….” Aku berucap begitu lirih. Perasaan tidak dapat dipaksakan.


Air mataku menggenang di pelupuk mata. Hingga satu tetes terjatuh, laki-laki itu mengusap pipiku. Membelai lembut pucuk rambut dan membawaku ke dalam pelukannya.


Aku tidak mengenal apa itu cinta, tidak ingin menggenggam asa lebih lanjut. Semua kandas ketika dia pergi. Semua lara ini mengganggu hatiku. Dapatkah aku mendapatkan hatinya? Berulang-ulang itulah yang aku pikirkan.


“Kalau yang kamu takutkan adalah jatuh cinta, aku akan pastikan kamu jatuh ke orang yang tepat. Tidak perlu hatimu meragu lagi,” bisiknya dalam pelukan.


Mataku tertutup dan mengangguk membalas ucapannya. Namun, bisakah cinta kembali ke dalam kehidupanku?


---------------------------


By BossyTika.


Nadira memasuki sebuah coffee shop lalu melangkahkan kakinya menuju meja reservation area, mengantri. Kini giliran Nadira.


"Selamat sore introvert, tumben sore baru muncul?" sapa Mark, si pegawai kasir.


Nadira tersenyum. "Sore ini mau pesan apa? Masa Cappuccino lagi?" tanya Mark lagi.


Nadira mengambil pena dari tangan Mark, kemudian menuliskan sesuatu ditelapak tangannya. Lalu memperlihatkannya kepada Mark. Wajah Mark sekilas tersenyum. "Oke, aku akan buatkan itu untukmu. Hanya untukmu dan," —Mark menekan layar didepannya untuk mencatat pesanan Nadira—"awas saja jika tidak kau habiskan!"

__ADS_1


Nadira mengangguk sambil tersenyum mendengar ucapan Mark. Kemudian menyelesaikan transaksi pembayarannya, lalu pergi menuju tempat favoritenya, tanpa kata-kata.


Tinggal beberapa langkah lagi Nadira sampai, tiba-tiba seorang wanita menabraknya. Mereka berdua tersungkur. Isi tas Nadira berceceran, tersebar di lantai. Tanpa permintaan maaf, wanita itu langsung bergegas bangkit dan meninggalkan Nadira. Bahkan wanita itu sempat menginjak novel barunya. Wajah Nadira terlihat kesal, namun lagi-lagi Nadira hanya diam sambil menatap nanar punggung wanita yang menabraknya tadi.


Nadira memunguti barangnya lalu segera berdiri. Namun tiba-tiba seorang lelaki berkata, "Aku perhatikan, dari tadi kau hanya diam," ucap lelaki itu.


Nadira mengangguk kemudian duduk didepan lelaki itu, berbagi meja, lalu fokus membaca novelnya.


"Apa kau suka membaca?" tanya lelaki itu lagi.


Nadira mengangguk dengan senyuman tipis.


"Bukankah biasanya kau pagi hari datang kesini?" lagi-lagi lelaki itu bertanya.


Kini konsentrasi Nadira buyar, ia menutup novelnya lalu meletakkannya di atas meja. Nadira mengangguk, kali ini tanpa ekspresi apapun.


"Kenalkan namaku Derren. Namamu?" ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.


Nadira dengan jengah mengambil pena dalam tasnya, menarik selembar tissu dari tempatnya, lalu menuliskan sesuatu disana.


Setelahnya Nadira memberikan selembar tissu itu kepada Derren. Isinya :


Bisakah kau berhenti bertanya padaku?


Karena aku tidak mampu menjawab semua pertanyaanmu dan kau sangat mengganggu waktuku. Maaf.


---------------------


By Se.7


Langit gelap tanpa secercah cahaya, baik bintang maupun rembulan tak menampakkan dirinya, meninggalkan langit yang gelap sendirian. Hanya ada awan kelabu yang menggantung di atas sana, mendatangkan hujan yang menimpaku, angin dingin berhembus mengikutinya menerpaku dalam keheningan yang menyelimuti.


Aku mendogak ke atas, menatap langit yang kini menangis seolah menemaniku yang memiliki nada sama. Bertanya apa yang sebenarnya menimpa diriku, apa maksud dari sakit ini.


Air mata mengalir turun dari sudut mataku, tapi tak lama kemudian air hujan bersatu dengannya, menghapus jejak air mata dari pipiku. Menjadikan perwujudan semua rasa sakit yang ku derita itu seolah hanyalah sebuah kepalsuan.


Aku tersenyum kecil, senyum yang kini menjelaskan semua yang kurasa.


Kesedihan, kebingungan, kemarahan... dan penyesalan.


Semua perasaan ini... terasa begitu memuakkan!

__ADS_1


Aku menatap jalan menanjak yang ada di depanku, jalan yang biasa aku lalui, tapi bagiku kini, ini adalah jalan tanpa akhir.


Aku memutar tubuhku, berbalik, berpaling dari kenyataan yang ada, tapi... langkahku terhenti.


Badai lain terjadi dalam hatiku, berpisah dari dunia ini, pikiranku kacau. Aku merasa terombang-ambing dalam gelombang, terhempas dalam badai yang berkecamuk liar, membingungkan diri ini dengan arah yang harus dituju.


“Ah... aku tak tahu lagi apa harus kulakukan,” desahku yang tanpa sadar keluar dari mulutku.


Aku menggelengkan kepalaku, berusaha mengusir semua pikiran-pikiran itu, kembali melanjutkan langkah, tapi... aku kembali berhenti.


Apa benar ini yang aku inginkan?


‘Mungkin bukan, tapi... mau bagaimana lagi.’


Apakah aku ingin menyerah?


‘Bahkan jika aku tak mau, apa yang bisa kulakukan.’


Kalau begitu berjuanglah!


‘Berjuang? Itu adalah hal yang benar-benar telah kulupakan....’


Aku memejamkan mata, mencoba menerima semua sakit di hati ini.


Suara guntur tiba-tiba menggelar di telingaku, seolah menyadarkanku dari kebingungan yang aku alami.


Kembali menengok ke jalan menanjak itu, mataku kembali menajam. Sebuah dorongan seolah memaksaku untuk kembali, kembali kepada hal yang telah kulupakan, berjuang!


Aku memutar tubuhku, meninggalkan tempat itu, melepas semua perasaan di hati, hanya menatap jalan di depanku.


Jika aku tak berjuang lalu apa? Apakah hal itu kan datang kembali dengan sendirinya? Aku telah tahu jawabannya, dan itu sejak lama....


TIDAK!


Hanya itu hal yang pasti. Dan dia... dia mungkin telah lama menanti akan perjuanganku... aku ini benar-benar... bodoh!


Aku tersenyum kembali, senyuman yang kini mengandung perasaan yang kulupakan. Saat mengingat senyumnya kini ku menyadari maksud perasaan di hati, menjelaskan apa yang sedang ku rasa kini.


Aku mungkin akan merasakan kehilangan yang membuatku merasakan kesedihan sekali lagi, mungkin kebingungan yang lebih besar akan menimpaku, mungkin aku akan lebih marah pada diriku sendiri, tapi... aku tak ingin menyesalinya.


“Sempatlah! Aku harap semua belum terlambat.”

__ADS_1


__ADS_2