
Sore ini aku menikmati akhir bulan disebuah restoran, sebagai kado untuķ diriku sendiri setelah gajian. Sebuah cangkir berisi Americano Coffee tersaji diatas meja antik bertekstur indah. Kedua tanganku menggenggam novel romance. Penjilid hitam dari kertas terselip diantara lembar-lembar halaman.
Udara terasa sedikit menggigit. Negara tropis ini sudah memasuki musim penghujan. Angin terasa lembab menerpa wajah-wajah orang yang duduk direstoran berdesain outdoor. Jilbab merahku berkibar-kibar, diterpa angin.
"Bisakah aku duduk disini?"
Aku mendongak. Seorang pemuda bewajah chines bermata sipit menatap penuh permohonan. Pandanganku memutari keseluruh area restoran. Penuh. Sepertinya aku memang harus berbagi meja dengan lelaki ini.
"Silakan." Aku tersenyum kecil.
Setelah beberapa saat, aku kembali tenggelam menikmati novelku yang baru saja kubaca setengah jalan. Cerita yang kunikmati sudah mulai memasuki konflik. Terlalu sayang jika kuhentikan.
"Kau pecinta novel?" tanya pemuda dihadapanku.
Kuhentikan kembali bacaan novelku. Aku menatapnya heran, mengangguk membenarkan.
"Genre apa?"
"Sembarang. Romance, aksi, fantasi, agama, apapun. Selama menarik, aku suka," jawabku sekenanya.
Mata sipit pemuda itu mengerjap terkejut sembari tertawa lirih. Tawanya indah dan hangat. Seperti suara angin yang mendesau. Lembut, menenangkan.
"Novel apa yang kau baca?"
Aku tertunduk, sedikit malu menanggapi pertanyaanya.
"Romance. Mengambil setting abad
kedelapan belas, dimana latar belakang dan identitas sebuah kaum masih dijunjung kuat sehingga perasaan cinta sekecil apapun akan selalu kalah dalam menghadapi hukum sosial yang terlalu tinggi. Novel ini mengambil budaya dua kaum besar saat itu," jelasku.
Pemuda itu mengangguk, tampak tertarik.
"Jadi, novel itu berkisah tentang cinta yang ditentang budaya?"
Aku mengangguk, sekali lagi membenarkan. Jarang kaum lelaki memiliki kerertarikan pada karya sastra. Dia termasuk satu dari sedikit lelaki yang menanggapi hobiku.
"Ya. Tokoh utamanya adalah seorang gadis turki yang jatuh cinta pada lelaki India. Mereka berbeda dalam banyak hal. Baik secara kebudayaan, latar belakang, sosial dan kepercayaan."
Dia tersenyum, menatap novelku dengan mata yang berbinar. Ada cahaya asing yang sekilas mengerjap dipelupuk matanya, membuatku tertarik.
"Pasti berat konfliknya. Orang jaman dulu sering mengagung-agungkan latar belakang dan identitas kebesaran mereka. Tindakan mereka mungkin saja benar, tetapi secara tidak langsung mereka menyingkirkan banyak hal-hal yang dianggap menodai nama besar mereka . Cinta yang salah mirip aib yang tabu untuk dibahas."
Seorang pelayan menghentikan pembicaraan kami. Dia mengantarkan pesanan milik lelaki dihadapanku yang disambut dengan senyum ramah dan ucapan terimaksih.
"Kau benar. Aku selalu kagum pada sekelompok orang yang menjaga keutuhan budaya dan identitas latar belakang sebuah kaum. Hanya saja, aku merasa tak seharusnya menentang cinta. Apa salahnya memiliki sebuah emosi istimewa untuk orang lain, meskipun berbeda? tapi kembali lagi, itu hanya opiniku."
Sudut mulutku berkedut saat kutarik semakin lebar, menciptakan sebuah senyum.
"Apakah kisah itu berakhir dengan pernikahan?"
"Mereka menikah. Hanya saja, menurut sistem yang diambil dari kaum pihak wanita, pernikahan mereka dinilai kurang sempurna. Hubungan mereka dianggap sebagai pelencengan moral. Mereka mendapatkan sangsi sosial yang lumayan berat. Entahlah, akhir seperti apa yang menanti mereka." Aku mengangkat kedua bahuku, menunjukkan ketidak tahuanku akan kelanjutan ceritanya. Novel itu belum sepenuhnya aku nikmati, jadi aku tak tahu akhir kisah ini.
Kami berbincang kembali membahas banyak hal. Dalam waktu yang singkat, aku menyadari lelaki ini sangat mengesankan. Dia cerdas. Pembahasan apapun yang aku angkat, selalu direspon dengan matang. Pengetahuanya sangat luas. Dia juga tak mudah menghakimi sesuatu, meskipun ada beberapa perbedaan argumen yang kami miliki.
Diakhir pertemuan, dia menatap novelku penuh minat dan meminta sebuah hal.
"Bisakah aku meminjam novelmu?" tanyanya sedikit tak yakin.
Aku mengerjap terkejut. Pandanganku beralih pada sebuah novel dihadapanku. Benda ditanganku ini memiliki tebal sekitar delapan ratus halaman. Aku tak yakin dia sungguh-sungguh tertarik dengan novel ini. Dilihat dari jas hitamnya, kemungkinan dia adalah bisnisman sejati. Apakah minatnya cukup besar untuk menghabiskan waktu dengan hal-hal tidak penting seperti membaca tulisan-tulisan ini?
"Tak apa jika kau keberatan." Pemuda tersebut berdiri, bermaksud pergi.
"Oke, kau bisa membawanya jika kau ingin." Kuserahkan benda tebal itu padanya. Dia melirik takjub, tak menyangka aku mengabulkan permintaanya.
"Ngomong-ngomong, namaku Roy." Dia menatapku sopan. Aku mengangguk, menyimpan nama tersebut dalam memori otakku.
"Aku Naila"
Kami bertukar kontak, saling menyimpan identitas baru dalam ponsel kami masing-masing.
...
Malam ini sinar bulan menyusup disela-sela gorden tipis disebuah kontrakan kecil disalah satu kawasan padat perkotaan. Angin malam menghentak-hentak membuat kisi-kisi jendela berderak.
Aku tenggelam dalam sebuah novel disudut kontrakan. Menikmati kata demi kata, hanyut dalam dimensi lain.
Hingga kemudian sebuah ketukan di pintu membuyarkanku. Dengan enggan, kubuka daun pintu. Aku mengintip dari celah kecil untuk mengetahui siapa pengganggu suasana indahku.
Lelaki itu.
Aku menyebutnya si mata sipit.
"Boleh masuk?" Roy menggenggam sebuah novel yang empat hari lalu ia pinjam.
"Saat kau bertanya tempat tinggalku, kupikir hanya iseng. Aku bahkan sudah melupakan benda itu." Aku menunjuk pada benda ditanganya.
Daun pintu kubuka semakin lebar, memberinya akses masuk. Dia menciptakan sebuah senyum simpul dibibirnya. Sorot matanya bening, bagaikan genangan air yang tenang.
"Aku bermaksud untuk mengembalikanya. Kau tinggal sendiri?"
Roy mengamati ruang kecil yang kutempati. Hanya ada tikar sederhana yang menutupi sebagian lantai. Sebagian lainya aku biarkan tak tertutup, menampilkan warna keramik gelap yang mulai pudar dan menguarkan bau apak.
Selain tikar, ada sebuah TV, kulkas dan perabot dasar lain. Kedua matanya seolah terkejut.
"Ya. Selama aku bekerja di PT sebagai operator produksi, aku memilih untuk mengambil kontrakan. Rumahku terlalu jauh jika harus bolak-balik dari tempatku bekerja." Aku mengangkat kedua bahuku, menunjuk sebuah tikar plastik untuk mempersilakanya duduk.
Dilihat dari potongan setelan yang Roy kenakan, dia mungkin dari keluarga berada. Aku tak akan memaksakan diri jika dia merasa risih dengan kondisi kontrakanku. Selama tempat ini nyaman untukku, peduli setan dengan pendapat orang lain.
Lelaki itu tersenyum tulus, seolah meminta maaf tanpa suara. Dia duduk disudut ruangan, mengamatiku penuh fokus.
"Aku menyukai novel ini, meskipun sad ending" katanya kemudian.
"Baguslah."
Roy terdiam. Netra hitamnya terkunci cukup lama padaku. Mataku mengerjap, merasa ganjil dengan perhatianya.
"Kau gadis yang unik. Dua kali aku melihatmu, dua kali pula kau mengenakan kerudung merah."
Mata bening Roy seolah mengamatiku tanpa dasar. Kata-katanya ringan, namun membawa efek yang sangat kuat padaku.
Aku mencoba tertawa. Menutupi detak jantungku yang terpacu tak terkendali. Didalam sini, euforiaku melimpah ruah oleh perhatian kecil yang ia berikan. Gilakah aku?
"Aku menyukai caramu tertawa," katanya lagi. Cahaya matanya semakin kuat, seolah menarikku semakin mendekat.
Entah suasana yang mendukung, atau entah dia yang terlalu lihai mengemas keadaan, sehingga membuatku tenggelam dalam banyak percakapan menarik.
Dia sosok yang indah. Caranya menjabarkan sesuatu, caranya menyampaikan tanggapan, seolah menjebakku pada kekaguman baru.
Bersamanya, bahkan hal-hal sepele menjadi terasa memiliki nilai. Ini aneh. Hanya dalam dua kali pertemuan, egoku menuntut kepemilikan.
Setelah malam ini berlalu, dia kembali membuat pertemuan denganku di waktu-waktu lain.
Ditempat ini, sebuah kontrakan kecil menjadi saksi bagaimana kami bercengkerama. Dengan angin malam yang menyusup melalui kisi-kisi jendela, dengan bohlam lampu lima watt, kami membagi banyak cerita.
Disuatu sore akhir pekan, lelaki sipit itu kembali menyapaku. Sebuah buket mawar merah ia genggam dalam keraguan. Dengan tatapan yang sulit ku artikan, dia menyerahkanya padaku.
Sebuah kertas kecil bergambar bulat tsabit ditulis tangan olehnya. Tertempel bersama sebuket bunga.
Mawar merah
Teruntuk gadis berkerudung merah
Aku tertawa. Menyesap harum wangi dari benda yang ia berikan, merasakan euforia baru yang sangat asing.
Lelaki sipit itu tersenyum, menularkan kebahagiaan. Kau tahu, senyumnya selalu membawa kehangatan baru dilubuk hatiku. Aneh memang, namun begitulah adanya.
Kami kembali bercengkerama di kontrakan. Dia berkata padaku dua hari lagi akan pulang ke kota asalnya. Mengambil cuti untuk pernikahan kerabat jauh. Ternyata dia juga perantauan, sama denganku. Perbedaanya dia merantau sebagai manager, sementara aku sebagai operator produksi.
Aku mengangguk, merasa kehilangan. Dia berkata akan menemuiku sebelum kembali ke kota. Sudut bibirku kutarik membentuk senyum kecil, menerima janjinya.
Benar saja.
Petang itu hujan melanda. Angin berhembus kencang, membuat suara-suara ribut. Aku terkurung dalam kontrakan sederhana. Mencoba menenggelamkan diri dalam cerita fiksi terbaru.
__ADS_1
Roy datang, melunasi janjinya. Dia berdiri didepan pintu. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Dia membawa sebuket bunga mawar merah yang mulai tampak hancur dikedua tanganya.
Kami saling tertawa pada saat yang bersamaan. Aku membuka pintu lebih lebar, membiarkanya berlindung dibawah atap sederhana bersamaku.
Kuterima buket darinya. Perasaanku mulai melayang. Dia lelaki pertama yang memanjakanku setulus ini. Bagaimana aku mengungkapkan syukurku?
Tiba-tiba sesuatu mengusikku. Mataku mengerjap bingung. Sebuah aksesoris asing ia kenakan malam ini, melingkar indah dalam jari manisnya.
Cincin pernikahan.
Dia? Mungkinkah?
Kedua mataku menyorot terkejut. Pemikiran baru mulai terbentuk dalam benakku yang macet. Kenyataan ini membuat otakku lamban bekerja.
"Kau sudah menikah?"
Hanya Tuhan yang tahu seberapa kelu bibirku berucap.
Roy menundukkan kepala. Saat ia menatapku kembali, kulihat sinar matanya meredup. Ada luka dan kesedihan didalamnya. Kedua tanganya bergetar, seolah ingin membuat pengingkaran.
"Ya. Maaf."
Fakta itu nyaris merenggut semua akal sehatku. Sendi-sendiku seolah luruh dalam ketidak pastian. Kenyataan itu mampu menjatuhkan semua mimpi-mimpiku.
Aku melangkah mundur, menjauh darinya. Didalam jiwa ini, ada jerit kepiluan yang memekakkan telinga. Mengobrak-abrik jiwaku dalam sekali sentakan.
Dia melangkah maju untuk merengkuhku. Namun kutepis. Aku berteriak padanya dengan histeris.
Apa artiku baginya?
Permainan apa yang ia lakukan terhadapku?
Kebohongan apa yang ia ciptakan?
Bunga yang ia serahkan padaku.
Pujian yang ia agungkan untukku.
Tatapan yang ia arahkan untukku.
Perasaan yang coba ia sampaikan padaku.
Semuanya palsu?
Aku meraung marah. Mengusirnya keluar dari kontrakan. Kukatakan padanya untuk tidak lagi kembali padaku. Aku tak tertarik berpatisipasi dalam permainan murahanya.
"Apa kau pikir semua yang kulakukan padamu palsu? Tahukah kau sesakit apa aku saat ini? Naila, saat ini aku lebih hancur dari dirimu. Perasaan yang kugenggam lebih kuat. Pemujaan yang kualami lebih utuh untukmu."
Dia tersenyum pilu, meninggalkan selembar kertas lecek padaku sebelum akhirnya memilih pergi. Menembus ribuan air yang mengguyur dalam gelapnya malam.
Air mataku meleleh dalam kesendirian. Tubuhku bergetar menahan isakan. Suaraku terdengar pilu. Seolah-olah kesedihan yang kualami terdengar dari alam lain.
Setelah emosiku mereda, kuraih kertas lusuh darinya. Kertas itu sudah nyaris hancur terkena air. Ujung-ujungnya terlalu rapuh untuk kugenggam.
Kubuka hati-hati benda itu, kuletakkan diatas lantai apak kontrakan.
Sebuah tulisan tangan darinya tergores indah, dalam tinta berwarna merah.
Sore itu setelah aku menemukan sosokmu
Emosi asing mulai terbentuk.
Kupikir aku mustahil merasakan ini andai saja tak kualami langsung.
Kau tahu kayu kering yang sanggup terbakar hanya karena faktor kecil?
Terlalap kobaran api dalam sekejap tanpa meninggalkan sisa.
Itulah yang kumiliki untukmu.
Sebuah emosi yang sangat menggebu dari awal pertemuan.
Aku memujamu dalam kesendirian.
Aku menghabiskan semua kewarasanku untukmu.
Aku menemukanmu dalam keterlambatan.
Seandainya saja aku tahu perasaan seperti ini hadir.
Aku akan menunggu sosokmu.
Melakukan penantian menyambut keberadaanmu.
Kau tidak tahu berapa ratus kali aku bertanya pada Tuhan kenapa menciptakan pertemuan ini.
Andai saja lebih awal.
Andai saja belum terlambat.
Aku nyaris pada titik dimana aku tak ingin lagi mempercayai takdir.
Alam seolah mengolokku.
Membuatku terpikat pada hal yang tak bisa kugapai.
Kau adalah pelangi yang terlarang.
Menggodaku untuk membuang siapa aku sebenarnya.
Seandainya saja aku bisa memilih.
Aku ingin tetap memilikimu sekalipun itu salah.
Kehadiranmu, adalah garis merah yang ingin kuterjang.
Tetapi aku tahu.
Kau tak akan cukup gila untuk menyambutku.
Kita hanya dua orang asing yang dipermainkan takdir.
Malam ini, aku membuka fakta untukmu.
Hanya untuk menyampaikan,
kau bukan sebuah permainan bagiku.
Kau mungkin akan terkejut jika mengetahui sebesar apa peran sosokmu untukku.
Maaf,
Atas segala batas yang telah kuterjang untukmu.
Teruntuk gadis berkerudung merah,
Aku mencintaimu,
...
Setelah kepergianya, mentari terasa tak sama lagi. Cahaya pagi yang selalu kupuja berubah asing. Angin malam yang mendesis pada celah kisi jendela terdengar janggal.
Aku belajar kehilangan dengan cara yang menyakitkan.
Jika ada teori yang menyebutkan bahwa kehilangan hanya untuk mereka yang pernah memiliki,
aku akan menjadi orang pertama yang menentangnya.
Kehilangan itu tetap sama nyatanya, entah kau pernah memilikinya atau hanya sekedar mengenalnya.
Selama kau bermain dengan rasa, sakit itu tetap kau alami.
Hari berganti Minggu. Minggu berganti bulan. Hingga tak terasa ia telah pergi selama setahun dari hidupku. Keberadaanya seolah membekas cukup lama untukku. Dia hadir dalam hidupku, membawa pelangi dalam mimpi terliarku.
__ADS_1
Lelaki itu hanya sekejap hadir. Namun eksistensinya mustahil kuhapus. Seberapa banyakpun lelaki yang datang padaku silih berganti, kekosongan itu tetap selalu ada. Mengingatkanku pada keberadaan seseorang yang jelas terlarang.
Suatu hari, aku pulang sedikit larut. Aku menghabiskan tiga jam ekstra untuk lembur wajib. Hari telah gelap ketika aku tiba dikontrakanku yang sederhana.
Seorang wanita, dengan dress ungu pucat tampak berdiri anggun di depan pintu kontrakanku. Dia membawa sebuah kantong plastik berwarna gelap. Dahiku berkerut, merasa heran dengan kehadiranya.
"Maaf, mencari siapa?" tanyaku.
Mata sipit wanita itu memandang tak yakin kearahku. Wajah chinesnya mengingatkanku pada sosok yang pernah ku kenal. Perasaan asing mulai terbentuk, mengganggu kenyamananku.
"Naila?" Dia menunjuk jilbab merah darahku.
Kerut didahiku semakin bertambah, merasa heran.
"Ya. Maaf siapa?"
Sekilas, aku melihat kekalutan dikedua netra cantiknya. Dia berdehem beberapa kali, meminta sedikit waktu dariku.
Kubuka pintu kayu kontrakan. Derit pintu terdengar nyaring bagiku. Dengan ramah, aku mempersilakanya masuk.
Aku bergerak gesit, menyeduh kopi hitam disebuah mug cokelat. Uapnya mengepul, menjanjikan kehangatan ditengah suasana malam.
"Kau penyuka kopi?" tanya wanita tersebut.
"Sangat keranjingan"
Dia mengangguk dalam hening. Kami saling terdiam cukup lama. Hanya detak jarum jam yang menjadi suara latar belakang. Wanita itu masih menjadi tanda tanya untukku. Namun demikian, sepertinya dia enggan mengungkap jati diri. Dari penampilanya, kutaksir kami sebaya. Hanya saja, penampilanya lebih trendi dariku.
Hingga kemudian setelah beberapa menit berlalu dalam kecanggungan, dia mengungkapkan sebuah fakta.
"Aku Angel. Mantan istri Roy."
Aku tersentak terkejut.
Nama itu, setelah sekian lama berlalu, masih sanggup menggetarkan hatiku. Tak terhitung berapa kali aku menyebutnya disetiap ratusan malamku.
"Kau masih ingat nama itu, bukan?"
Aku tersenyum getir. Ingat? Aku bahkan menjadikanya sebagai ekstasiku.
"Mantan istri?" ulangku tak yakin.
"Kau ingin mendengarkan sebuah cerita?" Angel bergeser lebih dekat kearahku. Senyum kepedihan mengembang dibibir indahnya.
"Aku dan Roy menikah dini karena perjodohan. Dua tahun kami menjalaninya dengan baik. Kupikir pernikahan ini akan berhasil hingga akhir. Tetapi siapa sangka segalanya berubah semenjak setahun yang lalu."
Pandangan mata Angel menatap langit-langit ruangan. Tatapanya seolah melayang pada kenangan lama. Aku, entah kenapa, merasa tersudut dengan ceritanya.
"Aku tahu kalian saling bertemu setahun yang lalu. Sekembalinya dia dari kota ini, hanya namamu yang sering ia sebut. Dia membuat pengakuan padaku, hatinya telah terjatuh sangat dalam pada sesosok gadis berkerudung merah."
Angel berhenti sejenak. Kepedihan tampak jelas dari raut wajahnya. Kedua matanya semakin terlihat bening, menahan tangis kekalahan.
Wanita mana yang tak sakit hati mengetahui lelakinya mendamba pada sosok lain? Dititik ini, aku merasa menjadi pihak yang tak seharusnya hadir.
"Kufikir dia hanya terobsesi sesaat padamu. Sesuatu yang sangat membara, biasanya akan mendingin dengan cepat. Sebuah hubungan perlu pijakan yang kuat, bukan hanya pertemuan singkat. Namun, semakin hari perasaanya semakin menguat. Untuk pertama kalinya, aku seperti seonggok hiasan bagi hidupnya. Sebatas pajangan tanpa memiliki arti. Pernikahan kami mengalami titik terendah."
Air mata mulai mengalir membasahi wajah indahnya. Angel tersenyum getir, mengenang tragedi dalam hidupnya.
"Kau tak akan pernah menyangka sekuat apa ia memperjuangkan perasaanya padamu. Untuk pertama kalinya, dia berdiri menentang keluarga besar kami. Akhirnya, aku memilih menyerah. Kami berpisah secara baik-baik. Dua bulan lalu putusan itu jatuh secara resmi."
Ekspresi Angel menyiratkan kekalahan. Rasa bersalahku semakin menjadi-jadi.
"Maaf." Kepalaku menunduk dalam.
"Kau tak perlu meminta maaf. Perasaan itu bukan dalam kendalimu."
Angel menggenggam erat tas plastik yang ia bawa. Wajahnya menunjukkan kekalutan baru. Dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun diurungkan kembali berulang kali. Airmata semakin deras membasahi kedua pipinya.
"Lima hari lalu, dia mencoba kembali ke kota ini. Aku tahu dia pasti bermaksud menemuimu. Hanya saja ..."
Angel menarik nafas berat, mengumpulkan kekuatan jiwanya. Sangat jelas setiap katanya mengandung kepedihan mendalam.
"Dia meninggal dalam perjalanan karena kecelakaan."
Kulihat pertahanan wanita itu jebol. Kontrakan ini menjadi saksi bisu tangis pilu dari wanita asing tersebut. Tubuhnya bergetar hebat, semakin mencengkeram erat tas plastik yang ia bawa.
Meninggal?
Indraku menjadi kebas secara mendadak. Aku sulit untuk percaya. Mataku mengerjap berulang kali, menolak semua kenyataan yang wanita itu suguhkan.
"Aku menemukan benda ini didalam mobilnya pasca kecelakaan. Kupikir kau berhak menerimanya. Maaf, aku baru menemukan keberadaanmu sekarang. Setidaknya, setelah semua hal baik yang ia tinggalkan padaku, aku merasa berhutang untuk menyampaikan ini padamu."
Dia mengangsurkan kantong plastik ditanganya dan dua buah kertas kecil yang kuduga kartu nama.
Wanita itu berdiri secara tiba-tiba, meninggalkanku dalam kebingungan. Sempat kudengar suara langkah kakinya yang berjalan menjauh dengan isak tangis yang teredam.
Aku membeku cukup lama. Semua indraku seolah kehilangan fungsi. Otakku memproses kembali setiap fakta pahit yang wanita itu bagi kepadaku.
Roy meninggal? Lelaki itu pergi?
Kenyataan itu seolah mengambil semua sisa kewarasanku. Aku, seperti boneka kertas yang terombang-ambing dalam air. Menunggu waktu hanya untuk hancur dan tercerai berai.
Kuambil kantong plastik yang wanita itu tinggalkan. Kuintip sedikit sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil dua benda didalamnya.
Sebuah buket mawar merah yang telah layu. Kuntum-kuntumnya seolah siap patah kapan saja. Warnanya tak lagi semerah darah. Kini bercampur dengan warna kusam kecokelat-cokelatan. Sebentar lagi pasti membusuk.
Kuhirup perlahan, mencoba menyesap aromanya.
Tak lagi wangi. Aroma asing mirip anyir darah menusuk indera penciumanku.
Dibawahnya, terselip sebuah kertas kecil dengan tulisan tangan yang tak asing. Kertas itu sama lusuhnya dengan buket yang kugenggam.
Mawar merah
Teruntuk gadis berkerudung merah
Naila,
Will you marry me?
Kuharap, kisah kita tak berakhir seperti novel pertama yang kupinjam darimu.
Nafasku seolah tertahan cukup lama.
Ada benda lain juga yang menyertai buket. Aku mengambilnya dalam kantong plastik, mengamati kotak kecil beralas beludru merah. Didalamnya, terdapat sepasang couple cincin yang salah satunya terukir namaku.
Tanganku gemetar tak terkendali. Pandanganku tertumbuk pada dua kertas yang Angel tinggalkan. Kusambar kertas itu, kudapati nama, alamat dan kontak Angel tertera rapi dalam sebuah kartu nama mungil berwarna keemasan.
Sebuah kertas lagi bertuliskan alamat pemakaman umum di salah satu kota. Dibaliknya, tertulis goresan tinta hitam secara manual.
Alm. Roy Sidharta Alexandrio
Saat itulah sebuah jerit putus asa keluar dari dasar jiwaku. Aku meluruh tak berdaya diatas lantai apak kontrakan. Tubuhku tenggelam dalam tangis kepedihan.
Kurengkuh buket bunga yang telah layu, kupeluk dan kuciumi dengan membabi buta. Tak kupedulikan lagi saat kuntum-kuntumnya mulai ikut meluruh dan hancur bersama isak tangisku.
Bau anyir itu semakin menyerang kesadaranku. Seolah-olah aku bisa melihat kilas balik darah lelaki yang kupuja disetiap kuncup mawar ini. Darah yang mengantarkanya pada akhir kehidupan.
Sebelumnya, kupikir aku telah merasakan arti kehilangan. Namun nyatanya aku salah. Saat ini barulah alam mengajariku makna sebenarnya tentang kehilangan.
Saat kau bernafas, namun kau menyadari dia tak lagi menghirup udara yang sama.
Saat kau menatap mentari, namun kau menyadari dia tak lagi memiliki langit yang sama.
Saat kau terjebak dalam tangis kepedihan, namun kau menyadari dia tak lagi bereaksi oleh hal yang sama.
Sakit itu terasa tajam. Seperti tamparan yang berasal dari kedalaman jiwamu. Meremukkanmu dengan berbagai macam cara. Hingga tubuhmu terasa kebas, menyerah dititik keputus asaan.
"Aku mencintaimu juga, lelaki sipitku." Kugerakkan bibirku tanpa suara. Berharap agar Tuhan menyampaikan pengakuanku padanya.
Pengakuan yang telah terlambat. Dimana hanya angin malam yang menjadi saksi. Bersama tetesan air mata yang tak lagi terhitung.
"Kisah kita tak berakhir seperti novel yang kau pinjam, karena semuanya telah berakhir bahkan sebelum kita memiliki kisah." Aku berbisik pilu.
__ADS_1
Tamat.