
Kata sebagian orang, cinta itu indah. Tapi mengapa tidak dengan kisah cintaku? Aku mencintai orang yang ku pikir dulu bisa kupercayakan hatiku kepadanya. Tapi ternyata aku salah, dia justru menjadi penghancur dikehidupanku.
Dan bodohnya lagi, aku masih tetap bertahan dalam rasa cinta ini, bertahan dengan orang yang setiapsaat menyayatkan luka, sehingga luka itu semakin mendalam. Pernah ku berfikir untuk menyudahi perasaan ini, aku tak mau terus menerus larut dalam situasi seperti ini. Tapi aku selalu tak bisa melakukannya!
Perkenalkan namaku Laras, anak dari keluarga yang tak begitu kaya tapi uang hasil ayahku bekerja, cukuplah untuk membiayai kehidupan kami ber tiga. Tahun ini aku sudah lulus dari SMK, itu berarti saat nya aku harus berfikir untuk mencari pekerjaan. Ya aku tak ingin membebani orang tuaku lagi jika
harus berkuliah.
Dan orang yang ku ceritakan diawal tadi, itu kekasihku. Namanya Bagas, kami sudah menjalin hubungan ini selama 2 tahun. Aku dan dia bersekolah di tempat yang sama, hanya berbeda jurusan.
Tapi dua bulan belakangan ini, aku merasakan perbahan sikap dari Bagas. Bagas sangat jauh berbeda dari perilaku sebelumnya, aku masih belum tau, apa yang membuat Bagas sampai berubah. Tak jarang setiap kami bertengkar dia memaki ku dengan kata kata yang tak pantas untuk diucapkan, tapi bodohnya, aku terima semua perlakuan dia itu.
Dan aku yang tak ingin hubungan ini berakhir, akhirnya aku juga yang harus meminta maaf meskipun dia yang salah. Tapi tak apa bukankan terkadang dalam hal cinta harus ada yang berkorban?
Selama dua tahun ini aku merasa di sia siakan, sampai banyak teman temanku yang mengatai aku bodoh karena sudah bertahan dengan orang yang salah.
Hari ini tepat hari dimana dulu dia menyatakan cintanya kepadaku dan meminta ku untuk menjadi kekasihnya. Aku sudah menyiapkan rencana untuk merayakan anniversarry kami, aku menyiapkan makan malam romantis di taman malam ini.
Aku berharap dia tak melupakan hari yang menurutku penting ini. Malam ini aku sudah menunggunya di taman, aku berdandan secantik mungkin. Sudah satu jam lebih aku menunggu Bagas, tapi dia tak kunjung datang juga.
“Bagas lo dimana sih?” tanyaku pada diriku sendiri.
Aku mencoba mengiriminya pesan tapi tak ada yang dibalas olehnya. Akhirnya aku beranikan diri buat nelfon Bagas, ku harap dia tak marah.
“Hallo, Bagas? Kamu dimana sih? Kok belum nyampe juga!”
“Gue dirumahlah, emang gue ada janji sama lo?"
“Ya ampun, Gas! Aku dari tadi nungguin kamu ditaman. Udah satu jam lebih Bagas! Kamu tuh masih nganggep aku itu penting nggak sih, Gas?”
“Bawel! Tunggu bentar! Gue kesana sekarang!”
Begitulah Bagas sekarang, tak pernah perduli lagi padaku. Bahkan ketika dia berbuat salah, aku yang harus mengenyampingkan egoku untuk meminta maaf padanya.
Setengah jam setelah telfon berakhir, Bagas sampai di taman. Bukan kejutan anniversary yang ku dapat darinya melainkan cacian yang ku terima di hari yang ku anggap spesial ini.
“Lo ngapain sih! Nyuruh gue kesini malem malem? Nggak ada kerjaan lo?”
“Bukan gitu, Gas. Aku Cuma mau ngrayain anniversary kita aja kok, aku udah nyiapin dinner spesial malam ini.”
“Anniv apaan sih? Kayak anak kecil tau nggak!”
“Ya ampun, Bagas. Emang salah ya? Kalau gue mau rayain hari jadi kita? Lagian ini juga nggak berlebihan kok.”
“Terserah! Gue mau pulang! Lo bisa pulang sendiri kan?”
Setelah ngomong kayak gitu, Bagas lalu pergi ninggalin aku. Aku bingung harus kejar atau nggak. Aku pengennya diem aja disitu nggak perlu ngejar Bagas, tapi kaki dan hati aku tak bisa diajak kompromi. Kaki ku malah melangkah ngejar Bagas, yang bahkan sudah tak mau memperdulikan ku lagi.
“Gas, please jangan tinggalin aku, kita balik kesana lagi ya. Cuma makan malam doang, Gas. Habis itu kamu bisa pulang. Maaf kalo aku terlalu kekanak kanakan.”
“Nggak mau! Gue mau pulang! Kalo lo tetep masih mau disini, silahkan! Gue nggak perduli!”
Dia benar benar pergi. Aku masih bersimpuh di tempat yang sama, tak kuasa aku menahan tangisku. Jujur ini sakit yang teramat sakit, aku memang ingin mempertahankan hubungan ini. Tapi jika kau sudah tak menginginkannya, aku bisa apa?
Aku hanya bisa menangis meratapi keadaanku saat ini. Aku capek, Gas! Aku juga hanya manusia biasa yang punya batas kesabaran, dan kali ini kesabaranku mungkin telah habis.
Besoknya aku meminta Bagas agar menemuiku seusai pulang kerja. Aku ingin menyudahi semua ini, aku tak ingin terluka lagi.
“Ngapain?” tanya Bagas setelah dia sampai.
“Langsung saja, aku tak apa kau sakiti, selama ini aku berusaha mengalah ketika kau tak mau mengalah. Berulang kali kamu melakukan hal yang sama, berulang kali juga aku meminta maaf atas kesalahanmu. Bahkan kamu tidak perduli padaku lagi, egomu pun terlalu tinggi setiap kali kita berdebat. Kini aku sadar, cinta mu bukan untukku lagi.”
“Terus?”
“Aku minta putus dari kamu, Gas. Aku udah capek berjuang sendiri!”
“Oh yaudah, mulai sekarang kita udah nggak ada hubungan lagi. Gue juga udah muak sama hubungan ini!”
Dia pergi! Benar benar pergi. Tangisku ku pecah saat itu juga, bukan tangis karena aku menyesal dengan keputusan ku ini. Aku menangis bahagia karena kini aku sudah bebas dari Bagas. Dari arah belakangku tiba tiba ada yang menepuk bahuku.
“Ras! Lo kenapa nangis sendirian disini? Sendirian lagi?”
“Gue berhasil Yan! Gue berhasil lakuin itu! Gue akhirnya pisah sama Bagas, hiks hiks.”
Riyan langsung menarikku, membawaku ke dalam pelukannya. Tangisku semakin menjadi.
“Udah, Ras. Lo jangan nangis, airmata lo nggak pantes netes buat orang yang udah bikin lo kecewa selama ini.”
Riyan semakin mengeratkan pelukannya, ikut meluapkan rasa sakit yang ku rasakan saat ini.
“Lo boleh, Ras, nangis hari ini. Tapi lo harus janji sama diri lo sendiri, kalau ini terakhir kalinya lo nangis karena cowok brengsek kayak Bagas, oke?”
“Iya, Yan. Gue lega banget udah akhirin semua ini.”
“Intinya sekarang lo udah putus kan sama Bagas? Apapun keputusan yang lo ambil, itu udah bener kok. Dan lo nggak perlu nyesel, dan seperti kata gue, kalau cinta yang lo rasa itu buat lo nyaman, ya pertahankan. Tapi kalau cinta lo itu, buat lo sakit ya tinggalin. Tinggalin meskipun itu sakit.”
“Iya, Yan. Yan! Gue laper, makan yuk!” ucapku di sela tangisanku.
Esoknya, udah nggak ada lagi Laras yang bucin dan yang terkasihani karena ulah pacarnya. Sekarang, aku udah bebas dari orang yang namanya Bagas, dan itu membuat banyak cowok pada ngejar-ngejar aku. Tapi aku masih belum mau membuka hati lagi, aku masih takut untuk memulai sebuah hubungan.
Hari demi hari silih berganti, setelah hari dimana aku meminta putus dari Bagas. Hari hariku tak terasa berat berkat Riyan, dia baik dan selalu berusaha membantu aku melupaka rasa sakit itu. Walau tak bisa melupakan dalam waktu singkat, setidaknya aku bisa membiasakan diri. Karena dari
kebiasaan, semua rasa sakit ini pasti bisa hilang.
Dan kebiasaan itu,aku mulai dari menghabiskan banyak waktu bersama Riyan. Seperti pergi ke taman bermain, atau berburu kuliner pinggir jalan. Dan saat malam minggu, kami biasa nonton film di bioskop atau sekedar jalan jalan menghabiskan waktu bersama.
Jujur, aku sangat menikmati momen momen kami bersama. Seperti malam minggu ini, Riyan mengajak ku untuk pergi nonton film. Terlanjur beli dua tiket, katanya. Selesai berganti pakaian, aku langsung turun ke bawah karena pasti sudah di bawah.
Bohong kalau enggak, soalnya Riyan itu orang yang penuh kejutan. Bilangnya masih di jalan tapi tau tau udah nyampe depan rumah.
“Wah .... Cantik!”
“Makasih! Gue emang cantik sih. Udah ah ayo berangkat!”
“Abang kamu mana?”
“Ngapain nyariin Bang Razi?”
“Ya mau minta izinlah princess, ya kali aku langsung bawa pergi anak orang tanpa seizin abang nya.”
“Oh, aku kirain kamu mau ajak nonton juga. Bang Razi tadi bilang mau kerja lembur bagai kuda! Udah, ayo berangkat keburu bioskopnya tutup!”
“Gitu ya? Yaudah ayo pergi!”
Akhirnya gue pergi nonton sama Riyan, kami nonton film frozen 2. Setelah nonton kami memutuskan untuk bermain di timezone.
Hari hariku memang dipenuhi dengan hal yang mengejutkan, tapi terkadang aku masih sering menatap sekeliling semuanya terasa kosong seperti hatiku saat ini.
Walau aku sering melewatkan hari hariku bersama Riyan, nggak tau kenapa terkadang aku merasakan sepi, kosong dan rindu yang mendalam. Jangan bepikir kalailu aku belum bisa melupakan Bagas! Ada apa dengannya? Sampai aku harus memikirkannya. Aku harus bisa melupakan pria itu, ini sudah satu bulan lebih jangan sampai usahaku untuk
melupakannya sia sia begitu saja.
“Kenapa, Ras? Kok diem?”
“Hah? Gimana? Enggak kok, aku cuma lagi kepikiran sama senyumnya Sehun aja.”
“Plastik lagi?”
“Wah bener bener! Bilang Sehun plastik lagi, baku hantam kita!”
“Hehe. Maaf maaf! Bercanda kok. Lagian dari tadi diem aja, ngelamunin apaan sih?”
“Nggak mikirin siapa siapa kok!”
“Mikirin dia ya?”
“Sorry, dia siapa ya? Mantan? Ogah banget gue mikirin hal nggak penting kayak gitu!”
Singkat cerita aku dan Riyan udah sahabatan selama setahun, tapi selama setahun ini dia menunjukkan perhatian bukan layaknya seorang sahabat lebih tepatnya dia memperlakukanku seperti orang yang
__ADS_1
spesial buat dia. Tapi dia juga nggak memberikan kejelasan tentang hubungan kami, jujur aku nyaman saat bersamanya
tapi aku juga nggak mau terus menerus terjebak dalam zona friendzone. Mengingat umurku dan umurnya yang sudah pantas untuk menikah.
Aku bingung harus bersikap kayak gimana, nggak mungkin juga kalau aku yang memintanya untuk melamarku kan?
Hari ini gue ngajak Riyan buat ketemu di kafe biasa kami bertemu, disana nanti aku ingin menjelaskan hal yang penting.
“Nih anak kebiasaan deh kalo diajak ketemuan pasti ngaret nya minta ampun!” aku menggerutu karena Riyan tak kunjung datang.
Padahal kami janjian jam tiga sore, dan sekarang udah hampir jam lima. Parah banget deh, awas aja tuh anak kalo dateng!
“Hai, Ras! Udah lama?”
“Lo pikir aja sendiri! Dua jam gue nungguin lo, Yan! Lo tuh kebiasaan tau nggak, suka banget
menyepelekan waktu! “
“Ya ampun, ya sorry, Ras. Tadi kejebak macet gue. Makanya telat dateng.”
“Gue juga tadi kejebak macet! Tapi kenapa gue bisa on time sampai sini? Karena gue udah memperkirakan kemacetan itu, Riyan!”
“Ya udah, sorry! Ini lo jadi mau ngomong nggak sih? Kok malah jadi bahas soal gue dateng telat.”
“Udah nggak mood gue! Gue mau balik aja!”
“Nggak usah ngambek dong, Ras. Please!”
Gue yang udah keburu kesel, udah nggak mau lagi dengerin dia ngomong. Gue nulis di kertas lalu kertas itu gue tempelin ke muka Riyan, lalu gue beranjak keluar dari kafe itu.
Riyan yang baca tulisa dikertas itu sedikit syok, tapi kemudian dia ngejar gue, dan nahan supaya gue nggak pergi.
“Maksudnya apaan? Lo tiba tiba ngabarin kalau lo mau dilamar?”
“Ya gue emang mau diilamar, Yan. Minggu depan, hari kamis. Lo bisa dateng kalo lo mau.”
“Siapa orang itu, Ras?”
“Ya ada pokoknya, lo nggak kenal sama dia.”
“Justru karena itu, Laras! Kenapa lo nggak pernah ngenalin orang itu ke gue? Gue ini sahabat lo l, Ras!”
“Ya terus, kan lo cuma sahabat gue. Dqn lo nggak berhak tau semua hal tentang gue, kan?”
“Gue bakal cari tau siapa orang itu!”
“Silahkan! Gue mau pulang, bye!”
Hari ini, gue sengaja lewatin jalan yang biasa Riyan lewatin saat pulang kerja. Tapi gue nggak sendirian, gue sama cowok yang bakal nglamar gue. Gue berjalan sebisa mungkin dia ngeliat gue sama cowok ini. Dan yap! Rencana gue berhasil.
Di hari yang sama, gue ngpost foto gue sama cowok itu di ig. Sengaja! Biar Riyan lihat. Hehe.
#Laras POV End
#Riyan POV
Hari ini seperti biasa habis pulang kerja gue langsung pulang, tapi diperjalanan pulang gue kayak ngliat Laras lagi jalan sama cowok sambil ngobrol akrab, bahkan sesekali gue lihat Laras menggandeng tangan cowok itu dengan mesra.
Kenapa gue jadi nggak suka gini ya? Lihat Laras jalan sama cowok lain pakai acara mesra mesraan segala lagi!
Ini gue nggak lagi cemburu, kan?
Sampai rumah, guee cek ig nya Laras, dan disana dia ngpost foto berdua sama cowok yang tadi gue lihat.
Gue buka profile akun cowok itu, gue bener bener kepo sama orang yang katanya mau nglamar Laras. Gue Cuma nggak mau aja kalo dia sampai salah menentukan pilihan kayak waktu sama Bagas dulu.
Gue cari informasi tentang cowok itu tapi nggak banyak yang gue dapet. Gue cuma tau nama alamat tempag tinggalnya doang
Besok siangnya, gue nemuin Laras di tempat kerjanya. Pas gue nyampe kata temennya Laras lagi meeting sama bosnya, jadi gue harus nunggu dia kelarin urusannya dulu.
“Mas Riyan mau minum apa? Biar Rosa buatin!” ucap salah satu pegawai di situ dengan genit.
Nggak lama gue lihat Laras keluar dari ruangan rapat, gue langsung nyamperin dia.
“Ras, lo beneran nggak mau cerita sama gue tentang cowok lo itu?”
“lo telat, Yan! Kemana lo kemarin? Pas gue mau ceruta sama lo? Harusnya pertanyaan tadi lo tanyain kemarin!”
“Ya kan gue udah jelasin alasan kenapa gue telat, Ras!”
“Udahlah, Yan. Gue capek! Masih banyak kerjaan yang gue harus kerjain, mending lo balik.”
“Tapi, Ras! Lo nggak lagi ngerjain gue kan?”
“Ini buat masa depan gue, Yan. Ya kali gue main main”
“Oke! Udah berapa lama lo kenal sama dia? Dan bisa bisanya lo nggak cerita ke gue soal hal sepenting ini, Ras!”
“Ya itu karena lo terlalu sibuk sama diri lo sendiri!”
“Oke anggap aja kaya gitu. Tapi gue selalu cerita ya sama lo, nggak kayak lo, tiba tiba ngabarin, udah mau lamaran aja!”
“Oke! Sekarang apa yang pengen lo tau?”
“Ya semuanyalah!”
“Bingung ya gue mau jelasin ke lo! Gini aja deh, lo nanya gue jawab!”
“Oke! Namanya siapa?”
“Next pertanyaan deh.”
“Apaan sih, Ras. Gue udah jauh jaub dateng kesini buat lo juga, setidaknya lo kasih tau gue lah siapa calon lo itu.”
“Enak banget ya lo! Harusnya lo tanyain itu kemarin. Telat tau nggak. Mending lo cabut deh sekarang! Gue lagi sibuk!”
Malamnya gue coba dateng ke rumah Laras, pas nyampe sana gue lihat Laras lagi duduk di teras sama cowok yang kemarin. Dari kejauhan gue masih bisa dengar lamat lamat pembicaraan mereka.
Laras : “Menurut kamu, gimana?”
Cowok : “Kamu tenang aja, kamu harus yakin. Kamu percaya kan sama aku?”
Laras : “Kamu perhatian banget sih.”
Cowok : “Ya udah kalo gitu aku pamit dulu, salam buat ayah sama ibu. Assalamualaikum.”
Laras : ”Waalaikumsalam. Hati hati!”
Pas cowok itu pergi, Laras langsung nyamperin gue.
“Kok lo nggak bilang, kalau mau ke rumah?”
“Oh jadi sekarang, gue harus ngabarin kalo gue mau main ke rumah sabahat sendiri?”
“Ya nggak juga sih.”
“Ya terus? Itu Evan kan?”
“Kok lo tau nama dia?”
“Gampanglah itu.”
“Terus lo tau apalagi tentang dia?”
“Namanya Evan, anak Surabaya, tinggalnya di Bandung.”
“Terus apalagi?”
“Ya udah sih, itu aja.”
__ADS_1
“Jadi, itu aja informasi yang lo dapet?”
“Gue cuma nggak mau lo salah pilih aja, Ras. Nikah itu keputusan yang besar. Dan lagi lo juga baru kenal kan sama dia? Lo belum tau sifat aslinya kayak gimana. Lo nggak mau kenal dia lebih lama gitu?”
“Emangnya gue butuh waktu berapa lama huat kenal sama orang, 6 bulan? 9 bulan? Atau setahun kayak kita? Hah?”
“Kok lo jadi banding bandinginnya sama kita sih?”
“Ya terus? Gue harus bandingin sama siapa lagi?”
“Lo nggak ngerti, Ras!”
“Gue nggak ngerti, karena lo nggak pernah mau buat gue mengerti, Yan!”
“Ras, gue sayang sama lo, Ras! Tapi lo yang nggak perah sadar akan itu!”
“Telat, Yan! Harusnya lo ngomong gitu dari kemarin kemarin. Mending lo simpen omongan lo barusan! Siapa tau ada yang mau denger!” ucap Laras sambil berlalu masuk ke rumahnya.
Keesokan paginya, di rumah gue lagi sarapan sama ibu dan om gue.
“Bu, ibu senin besok mau kemana?”
“Ya biasa, Ibu pergi ke masjid. Pengajian.”
“Kalau om? Pergi ngantor ya?”
“Ya, iya! Emang kenapa?”
“Kalau selasa? Ibu sama om ada acara nggak?”
“Selasa ya? Ibu mau ikut jengukin Bu RT, yqng katanya masuk rumah sakit.”
“Kalo om sih, sebenarnya ada aja waktu luang. Emang kenapa sih?”
“Riyan mau nglamar!”
“Haha kamu mau melamar? Wan, keponakanmu ini mau melamar, mau nikah. Kamu yakin?”
“Haha, enggak mbk.”
“Serius Buk, Om. Riyan mau nglamar!”
“Kapan?”
“Secepatnya!”
“Secepatnya? Kenapa harus buru buru? Kamu nggak itu kan?” tanya Ibuku sambil memperagakan orang yang sedang hamil.
“Ya nggaklah, Bu! Riyan nggak berani juga kalau sampai harus nghamilin anak orang.”
“Kirain! Emang kamu mau nglamar siapa?”
“Riyan mau melamar Laras, Bu.”
“Lah bukannya Laras itu sahabat kamu? Lagian dia kan udah punya pasangan. Mungkin juga dia udah di lamar.”
“Nah! Justru karena itu!”
“Oh jadi, ceritanya kita mau nikung toh?” Tanya Om ku.
“Ya, nggak nikung juga, Om!”
“Kenapa harus buru buru?”
“Karena besok hari kamis, Laras bakal di lamar sama orang, Bu. Jadi, Riyan Cuma punya kesempatan kalau nggak senin, selasa ya rabu.”
“Ibu nggak bisa, Yan. Ibu udah terlanjur ada janji sama ibu ibu yang lain.”
“Kalo om sih terserah sama mbak aja sih, Yan.”
Hari rabu sore, setelah melalui perdebatan panjang dengan ibu. Akhirnya kami bersiap untuk melamar Laras.
Tok tok tok
Aku mengetuk pintu rumah Laras. Dan kebetulan yang buka pintu ibunya Laras. Ibunya Laras bingung melihat penampilanku yang memang agak berubah.
“Loh, Riyan! Tumben banget kamu rapi banget. Mau ada acara apa?”
“Jeng Kania!” teriak ibuku yang langsung cipika cipiki sama Tante Kania.
“Kok tumben sekali Riyan dateng sampai bawa rombongan segala, ada apa, Jeng?”
“oh iya mari silahkan masuk dulu.”
Kamipun dipersilahkan untuk masuk. Diruang keluarga aku agak tegang karena mau melamar Laras.
Nggak lama Ayahnya Laras, masuk ke dalam rumah, habis pulang dari masjid ku rasa.
“Loh, ada tamu? Riyan? Kok tumben dateng kesini rapi kaya gitu biasanya juga Cuma pakai celana sobek sobek sama kaos, sekarang kok ngajak pasukan segala?”
“Jadi begini, Pak. To the point aja, emmm kami datang kesini untuk mengutarakan niat baik kami.”
Ujar om ku, mrmulqi pembicaraan.
“Oh begitu, kok Riyan nggak pernah bilang kalau selama ini ada hubungan serius sama Laras? Tapi ya,kalau ada yang mau berniat baik kepada anak saya ya saya juga seneng. Tapi balik lagi, kalau untuk jawaban semuanya saya serahkan kepada Laras, karena nantinya kan yang akan menjalani itu Laras.”
“Coba buk, panggil Larasnya kesini.”
Ku lihat Laras hanya memperhatikan dan mengintip kami lewat pintu kamarnya.
“Larasnya diem aja, Pak.”
“Kalau diam itu biasanya iya. Jadi langsung saja, untuk niat baiknya keluarga Riyan kami terima.”
“Alhamdulillah!”
“Tapi om, sebentar. Saya mau tanya, apa sebelum ini Laras pernah ada yang melamar?”
“Sepertinya enggak, ya kan, Bu?”
“Iya, Pak.”
Aku langsung diam, dan melihat kearah dimana Laras mengintip kami dan menatapnya dengan tajam.
“Awas ya lo!” ucapku tanpa suara.
Laras hanya menjulurkan lidahnya sebagai tanda ejekan. Dan ku lihat dia menulis pesan untuk seseorang, nggak tau untuk siapa.
#Riyan POV End
#Laras POV
Akhirnya hari yang ku tunggu datang juga. Hari ini Riyan dan keluarganya datang melamarku. Ku dengar dia sempat bertanya kepada ayah tentang perihal aku pernah di lamar atau tidak, dan setelah mendapatkan jawaban dari ayah. Riyan lalu memelototiku dan aku hanya mengejeknya.
Ku tuliskan pesan singkat untuk orang yang sudah berjasa membantuku mendapatkan kepastian hubunganku dan Riyan.
Me :
Thank you! Cousin.
Ya orang itu adalah sepupuku, Evan. Aku sudah banyak bercerita tentang hubunganku dengan Riyan kepada Evan. Dan dia jugalah yang memberiku saran untuk membuat skenario ini untuk menjebak Riyan, tak ku sangka ternyata hasilnya sangat memuaskan.
I LOVE YOU RIYAN! Calon imamku.
Quote by author :
Laki laki adalah makhluk kurang peka, sedangkan wanita adalah pembicara yang penuh dengan teka teki.
Jika keduanya tak mau saling memahami, maka tidak akan pernah ada titik temu bahagia diantara keduany.
__ADS_1
End.