
Hari ini turun hujan, tanah yang kemerahan menjadi basah, aku terpaku diam di derasnya air hujan yang mengguyur, tanpa kusadari air mataku mengalir. Seolah hujan pun, ikut menangis bersamaku, karena aku tak percaya, dengan apa yang kulihat barusan.
“Mengapa?? Selalu saja bermasalah dengan kehidupan cinta ku Tuhan?? Apa kau membenci ku Tuhan??” Sambil menengadah ke atas langit yang gelap keabuan.
Aku melihat sesuatu hal, yang tak pernah sekalipun terlintas di benakku, bahwa orang yang ku cintai, bermain api di belakang ku.
“Apa yang harus kulakukan?? Aku bahkan tak tahu, bagaimana untuk mengakhiri ini?? “ ucapku pada diriku sendiri.
Sampai bus pun tiba dan berhenti di depan ku. Lalu aku menaikinya, tetapi tak ada tempat duduk untuk ku, karena suasana di dalam bus penuh. Aku pun berdiri, lalu memegang gantungan pegangan, yang berada diatas dalam bus. Sambil melihat ke arah kaca, dengan pandangan kosong, aku pun mengingat kejadian tadi.
Ingatan ku melayang, ketika hari ini ku temui pacarku di rumah pribadinya, karena hari ini adalah, hari jadi kami. Aku pun bermaksud untuk membuat kejutan untuk nya. Tetapi, setelah sampai didepan pintu rumahnya, aku membuka pintu dan memijit tombol sandi pintu. Karena aku telah terbiasa pulang pergi mengunjungi pacarku.
Hingga sesuatu hal yang, tak mungkin akan terpikirkan oleh ku, terjadi didepan mataku. Aku pun masuk kedalam rumahnya.
“Hmm, mungkin ia masih sibuk dengan pekerjaanya. Aku akan meletakan ini di meja makan saja” seruku.
Lalu, aku pun pergi berjalan menuju meja makan, untuk meletakan makan serta cake perayaan, hari jadi kami. Kemudian, saat aku akan membereskan seisi rumahnya, aku berjalan melewati kamar tidurnya, karena ku dengar samar, suara seseorang.
Perlahan, aku berjalan menuju kamar itu, dan membuka pintu kamar pelan. Hingga, aku di buat kaget dengan apa yang ku lihat, saat itu pacarku sedang merangkul seseorang dan menciumnya.
“Astaga..” ucap ku kaget, sambil menutup mulut ku, dengan kedua tangan ku.
Segera aku menutup pintu itu kembali, dan berbalik untuk pergi keluar rumah.
“Apa yang dia pikirkan?? Mengapa ia merangkul dan mencium sahabatnya sendiri, yang seorang pria??” tanya ku bingung.
Aku pun berjalan keluar rumah, dan menuju halte bus terdekat. Pikiran ku kacau, karena aku tak mempercayai apa yang aku lihat, sejenak aku berfikir bahwa, apa yang temanku katakan benar adanya.
“ Dia seorang biseksual” Celetuk ku.
Hingga, aku pun tersadar dari lamunanku, karena bus tiba-tiba berhenti mendadak, dan membuat tubuhku bergoyang ke depan, untung saja, aku memegang pegangan atas. Tetapi, tangan seseorang di belakangku memegang tangan ku, yang menggantung di atas pegangan.
Sontak, aku pun kaget dan berbalik melihat ke arah orang itu. Seseorang dengan tubuh tinggi dan pakaian yang rapi menatap ke arahku dengan tatapan kaget.
“Ma-maaf” ucapnya padaku, sambil melepaskan pegangannya, dari tangan ku.
Aku hanya tersenyum, dengan wajah yang masih terkaget. Dan kemudian, menuruni tangga bus untuk keluar.
Dari luar, kulihat dari kaca jendela bus. Pria itu, masih menatap ke arah ku. Sampai bus berjalan pergi kembali.
Sesampainya di halte, aku pun duduk di kursi, aku tak bisa berfikir bahkan perasaan ku masih kacau.
Hingga, suara dering ponsel ku berbunyi. Kulihat nama pacarku tertera di layar ponsel.
(My honey Samuel)
'Aku tak lantas mengangkatnya, karena aku tak tahu harus berkata apa padanya, dan harus bagaimana untuk memahami
semua ini?' pikir ku.
“Hmm...hah..” menarik nafas panjang.
Dering ponsel pun telah berhenti, kemudian, bunyi pesan masuk pada ponsel ku. Ku buka pesan masuk di ponselku dan ku baca.
(My Honey Samuel)
“Apa kau barusan ke rumah ku? Kulihat ada sebuah cake diatas meja makan. Apa kau melihat semuanya?”
Aku hanya terdiam dan tak langsung membalasnya.
(My honey Samuel)
“Aku harus menjelaskan semuanya, kita harus bertemu”
Seketika petir menyambar hati ku, aku ragu dengan apa yang akan dia katakan padaku, entah aku harus menemuinya atau
+aku harus menghindarinya. Hatiku kacau saat ini, aku tak siap dengan apa yang akan di katakan pacarku.
“Hmmm..hah.. Ini begitu sulit!! Bahkan lebih sulit, ketika aku kehilangan mantan pacarku terdahulu” gumam ku.
Akhirnya, hujan pun mulai reda, aku berjalan pergi, meninggalkan halteu bus. Saat ini dipikiran ku, aku ingin lari dari kenyataan pahit ini. Setelah sekian tahun lamanya, akhirnya semua yang ku cintai kembali meninggalkan ku, sendirian lagi.
“Aku tak bisa pulang sekarang, karena dia akan menghampiri ku disana, dan jika ke tempat teman ku, ia pun akan mencari
ku kesana. Bagaimana ini?? Aku tak punya tempat untuk pergi?? Aku harus kemana??” tanyaku bingung.
Lalu seseorang menepuk punggungku, dan menyodorkan sebuah dompet berwarna hijau.
“Ini, punya mu kan??” kata pria itu.
Aku pun mengambil dompet yang ia berikan. Kemudian membukanya, dan ternyata, memang ini dompet ku.
“Ah, terimakasih” jawab ku padanya.
“Tadi kau menjatuhkannya, sewaktu turun dari bus” jelasnya.
Aku pun menunduk, untuk memasukan dompet ku, kedalam tas.
“Ini, kau pakailah” ucap nya.
Aku pun melihat ke arahnya, karena aku sedang duduk, jadi aku sedikit menengadah, untuk melihat wajahnya.
Samar kulihat wajahnya, garis tegas senyumnya, bahkan cahaya pun menyinari seluruh tubuhnya.
Ia tersenyum ke arah ku, dengan memberikan sebuah payung kehadapan ku.
Aku menggelengkan kepala ku, karena aku tak ingin pulang saat ini.
“Kenapa? Apa kau ingin sakit karena terkena air hujan??” Celetuknya padaku.
“ Tidak, tapi hari ini aku tak ingin pulang” jawab ku.
Ia menatap ku bingung.
“Bolehkah aku ikut dengan mu, aku tak punya tempat untuk pulang saat ini” ucap ku padanya.
Dengan wajah kaget, bercampur bingung ia menatap ku penuh tanya, dan kemudian ia pun berkata, “Apa kau tak tahu?? Jika seorang pria akan berbeda, ketika satu atap bersama seorang wanita asing dan hanya berdua”
“Aku tahu, bahkan hal itu, tak akan membuat ku takut” ucap ku tegas.
“Hanya untuk malam ini!! Aku akan membayar mu, untuk menginap di tempat mu” kataku.
Ia berfikir, dan kemudian menghela nafas panjang, lalu menatap ku kembali.
“Baiklah, hanya untuk malam ini. Aku berbaik hati padamu, tidak untuk mengambil kesempatan padamu” tegasnya pada ku.
Aku mengangguk mengerti, kemudian kami pun berjalan, di bawah payung yang sama.
Sampai, kami tiba di sebuah rumah, yang tak jau dari halteu bus tadi. Hanya melewati satu gang saja, rumah ini bergaya vintage, dengan desain interior yang artistik, menurut ku karena ku lihat rumah itu berbeda dengan rumah lainnya.
Ia pun membuka pintu, kemudian menyuruh ku masuk. Aku pun mengikutinya, dan ia menunjukan, dimana runang tidur
untukku.
“Ini, kamarmu. Karena aku suka tempat yang sunyi jadi aku tinggal sendirian di sini.” Tegasnya.
Aku pun mengangguk mengerti, bahwa ia tak suka keramaian, lalu aku memperkenal kan diri ku padanya,
“Aku, Brigita. Maaf telah merepotkan mu!” sambil mengulurkan tangan padanya.
“Saya Davin, kau istirahatlah. Oh ya, jika kau ingin makan dan minum, kau boleh mengambilnya di bawah.” Sambil pergi
meninggalkan ku.
Dan ponsel ku, tiba tiba berdering, kulihat layar ponsel ku, dan itu dari pacar ku. Aku melihat, puluhan panggilannya yang ku abaikan. Akhirnya, ku putuskan untuk mejawabnya kali ini.
“Ya, kenapa” tanyaku datar.
“Aku, mencarimu kemana pun. Kita harus bicara. Besok ditaman kota pukul 3 sore, aku tunggu” jelasnya.
Aku pun, segera mematikan ponsel ku, dan kemudian pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, kucium harum masakan dari arah luar. Lalu aku pun, berjalan menuruni anak tangga, lalu pergi ke ruang
makan, yang berada di bawah.
Ku lihat, kak Davin sedang memasak disana, kemudian aku pun menghampirinya.
“Hmm.. Wangi sekali!! Kau sedang memasak apa?? Ada yang bisa ku membantu?” tanya ku.
“Tak usah, kau duduklah disana. Aku sudah selesai membuatnya!!” Jawab nya.
Kemudian, kak Davin pun menyiapkan makanan diatas meja, ia memberikan ku piring serta sendok. Lalu, ia
mengambilkan makanan itu, untuk ku.
Kami pun makan bersama, tanpa ada suara, atau pembicaraan diantara kami. Setelah selesai, aku pun membantu
membersihkan peralatan makan.
Hari pun berganti malam, aku yang sedang berbaring untuk mencoba tidur, tetapi malam ini, aku tak bisa untuk
memejamkan mata ku. Hingga, aku pun memutuskan untuk pergi keluar, mencari udara segar.
Aku pun, berjalan mengelilingi rumah ini, lalu berhenti di sebuah taman, yang terletak dibelakang rumah ini. Kulihat dari kejauhan, kak Davin yang sedang duduk, sambil memandang ke arah langit malam.
Aku pun menghampirinya, dan kemudian duduk di sampingnya.
“Aku tak bisa tidur, boleh aku duduk disini bersama mu?” tanya ku padanya.
Ia pun menganguk, dan memberiku sekaleng minuman dingin, tanpa berkata apa pun, ia terus memandangi langit malam,
yang bertabur bintang.
“Apa kau suka bintang bintang?? Tanya ku.
“Ya, aku suka sekali bintang” Jawabnya.
“Aku pun begitu, karena dulu aku selalu percaya bahwa di alam sana, terdapat mahluk hidup seperti kita. Mungkin
kehidupan disana, lebih indah daripada disini.” Ucap ku.
Sesaat ia menoleh ke arahku dengan wajah datarnya.
“Apa kau tak bertanya, mengapa aku tak ingin pulang?” tanya ku.
“Itu bukan urusan ku, dan aku hanya menolong mu!! Jawabnya singkat.
“Seandainya semua pria seperti mu, mungkin aku tak akan banyak menderita” ucap ku.
Kami pun hanyut dalam pikiran kami masing-masing, sampai aku pun terlelap dalam keheningan malam, yang bertabur
bintang.
Pagi ini aku bangun, karena udara di luar begitu dingin aku pun terkena flu dan bersin bersin. Hingga suara kak Davin yang mengetuk pintu kamar, dan kemudian ia masuk membawakan sarapan serta obat untuk ku.
“Apa kau masih demam?? Tanya nya pada ku” sambil meletakan telapak tangannya di kening ku.
“Ah, kau masih demam. Mungkin karena semalam kau tertidur diluar, lalu aku menggendongmu kekamar.” Ucapnya pada
ku.
Ia memberikan nampan yang berisi bubur dan obat untuk ku.
“Kau makan lah dan istirahat dulu disini. Sampai kau benar benar sembuh baru kau bisa pergi dari sini” tegas davin.
Aku hanya menganggukan kepalaku dan kemudian memakan bubur serta obatnya.
Ia pamit pada ku, untuk pergi bekerja. Dan meminta ku, untuk beristirahat. juga jangan lupa, untuk mengunci pintu
rumahnya.
Setelah itu, aku pun mengantuk, dan tertidur karena pengaruh obatnya.
Beberapa jam kemudian, aku terbangun dengan suara berisik dari arah dapur. Aku pun turun berjalan perlahan, karena aku
takut bahwa datang adalah, pencuri yang masuk ke rumah ini.
Ternyata, suara itu datangnya dari arah dapur, dan aku mencoba untuk menangkap basah pencuri itu. Lalu setelah aku
sampai ternyata, itu adalah kak Davin yang sedang memasak.
Ia pun melihat ke arah ku.
“Apa kau sudah baikan?? Oh, apa suara berisik ku menggangu mu??” tanya nya.
Aku menggelengkan kepala padanya dan mendekati meja makan.
“Aku sudah baikan, terimakasih!! dan maaf telah merepotkan mu” ucap ku.
Ia hanya fokus memasak dan mengambil peralatan makan, kemudian memberikannya pada ku.
“Ini, kau harus banyak makan agar tubuhmu kembali pulih” ucapnya.
Kemudian, aku pun makan dengan lahapnya dan setelah selesai, aku memberikan kartu nama ku padanya. Agar aku bisa
membalas budi kepadanya nanti.
“ Bolehkah, aku meminta kartu namamu juga!” tanya ku.
Ia pun memberikan kartu namanya, dan tertulis di kertas itu,
__ADS_1
'Davin Alamander, CEO DNGroup.'
“Ah, ternyata ia adalah CEO dari perusahaan penerbitan buku DNgroup” pikir ku.
Setelah selesai, aku pun bergegas pergi ke kamarku, untuk membawa tas kemudian, aku pun pamit pergi dari rumah ini.
“Terina kasih atas semuanya, dan maaf aku, karena telah banyak merepotkan mu. Juga nanti aku akan menghubungimu!” ucap ku pada Davin.
Aku pun, berjalan pergi dari rumah itu. Dan bergegas, menuju halteu bus terdekat. Karena hari ini aku punya janji, bertemu pacarku Samuel, di taman kota.
Sesampainya di taman kota, aku melihat Samuel yang sedang duduk, di kursi taman. Kemudian aku pun menghampirinya,
dan kami berbicara serius.
“Aku, tau apa yang ingin kau katakan. Jadi, mari kita akhiri sekarang” ucap ku.
“Baiklah jika kau tahu!! Oh.. Satu lagi, sebetulnya selama ini kau hanya sebagai tamengku dari tuduhan orang- orang
bahwa aku memang seorang biseksual” ucapny tegas.
Seperti petir, yang menyambar diriku di siang hari, hati ku mulai terluka, aku kecewa, perasaan ku kacau.
Aku yang mulai emosi, kemudian mengepal kan tangan, saat itu ingin rasanya aku memukul dia, tapi semua orang akan
menatap ku curiga. Aku pun hanya terdiam, dengan perasaan marah yang membuncah.
Hingga tiba tiba, pandangan mataku kabur, kemudian kepala ku pusing dan penglihatan ku mulai kabur.
“Brakkkkkk...” suara yang begitu keras, membuat semua orang kaget, melihat ke arah Brigita yang terjatuh ke tanah,
karena pingsan.
Kemudian, seseorang berlari dan mendekati Brigita.
“Brigita.. apa kau baik baik saja??” tanya Davin sambil menepuk pipi merahnya Brigita.
Ia pun menggendongnya, dan berjalan meninggalkan Samuel, pacarnya Brigita. Davin membawanya masuk ke dalam
mobil, dan pergi meninggalkan taman kota.
Flashback ON
POV Davin
Setelah dia pergi dan pamit kepadaku, aku pun membereskan semuanya peralatan makan, kemudian pergi menuju kamar
tamuz karena aku harus mengganti seprai dengan yang baru. Saat itu aku membereskan ranjang, dan kemudian sesuatu
terjatuh. Ku lihat sebuah ponsel, dan ini pasti ponselnya Brigita.
“Ah, astaga!! Bagaimana bisa, seseorang selalu meninggalkan barang barangnya??” ucap ku bingung.
Aku pun, bergegas pergi berjalan keluar, untuk menyusulnya. Tetapi, ia telah pergi jauh. Kemudian, aku mengambil mobil ku, untuk mengikutinya.
“Ia bilang, akan menghubungi ku!! Tetapi l, ponselnya saja tertinggal di rumah ku!!” Sambil menyetir mobilnya.
Kemudian, aku melihat Brigita menaiki bus, dan aku mulai mengikutinya. Hingga, Brigita turun di depan taman kota. Aku
pun memarkirkan mobilku, dan berjalan menghampiri Brigita.
Namun dari kejauhan, kulihat Brigita sedang berbicara pada seorang pria, dengan wajah yang masam, ia berbicara pada pria itu. Sampai ia beranjak berdiri kemudian, Brigita pun jatuh dan pingsan.
Aku pun berlari dan berjalan ke arahnya kemudian aku berkata, “Brigita.. apa kau baik baik saja??” tanya Davin sambil menepuk pipi merahnya Brigita.
Aku pun menggendongnya dan berjalan menuju ke mobil ku.
Flashback END.
Kemudian Brigita pun terbangun, ia melihat di sekelilingnya asing baginya.
“Apa kau baik baik saja” tanya Davin.
Aku mengangguk dan, kemudian kepalaku terasa masih pusing.
“Aku dimana?” tanya ku.
“Kau berada di rumah sakit, tadi kau pingsan di taman, kemudian aku membawamu ke sini!” ucapnya cepat.
Aku pun memejamkan mata ku karena kepalaku masih sangat pusing.
“ Bagaimana kau tau bahwa aku berada di taman?” tanya ku.
“Ini, kau meninggalkannya di rumah ku, lalu aku menyusulmu dan kemudian aku mengikutimu sampai ditaman” jelas
Davin.
Setelah aku merasa baikan aku pun pulang dari runah sakit dengan diantar oleh Davin. Ia mengantarku tepat di depan rumah ku. Karena aku tinggal bersama temanku, ia menanyakan keadaan ku dan kemudian ia melihat Davin.
“Loh, Kakak sepupu ada disini?? Tanya Lani teman ku.
“Eh, Lani kau tinggal disini?” tanya Davin.
“Apa kakak yang mengantarkan Brigita pulang?? Ucap Lani.
“Ya, karena kemarin ia pingsan dan aku membantunya pergi ke rumah sakit” jawab Davin
“Ah,, aku tahu sekarang!! Kalian bersama kan? Apa kalian jadian??” tanya Lani lantang
Kami pun menggeleng kan kepala bersama karena memang bukan begitu keadaannya.
“Dia, banyak menolongku, dan aku berhutang budi padanya” jawab ku singkat.
“Hmm... Aku rasa kalian menyembunyikan sesuatu dari ku!!” Goda Lani pada ku.
“Tidak, ada hal itu!! Apa kemarin Samuel mencarimu??” tanya ku.
Lani pun menjelaskan padaku, dan ia telah mengetahui keadaanya karena pacarnya Samuel mendatangi Lani dan berbicara dengannya.
“Aku sudah bilang, ia itu orang yang tak baik untuk mu. Dan orang disekitarnya telah mengetahui itu” sambil mengusap
punggungku.
Kami pun berjalan masuk ke dalam rumah, tak lupa aku mempersilahkan kak Davin, untuk masuk ke rumah sewa kami.
Aku pun membuatkan minuman untuknya, dan Lani berbincang bincang dengan kak Davin di ruang tamu.
“Lan, aku mau mandi dulu ya” ucap ku.
“Ya, aku temani kak Davin” jawabnya.
Kemudian setelah badan ku segar, aku pun pergi ke depan dan ternyata kak Davin sudah pulang dahulu, karena ia mempunyai urusan mendadak.
“Cie.. yang di tinggal!! Mukanya kok asem banget ya??” goda Lani.
Aku pun menceritakan seluruh kejadian, mengenai Samuel pacarku dari awal.
“Aku rasa, ini diluar nalar ku!! Aku terbiasa diselingkuhi oleh mantan-mantan pacar ku tapi, ini hal yang berbeda!!
Karena ia berselingkuh demi seorang laki-laki. Itu membuat ku syok sekaligus heran.” Ucap ku.
“Yah, kau tak usah memikirkannya lagi, karena memang selama bertahun tahun ini, ia hanya memanfaatkanmu untuk menghindari gosip bahwa dia seorang biseksual” ucapnya tegas.
“Ini menang sulit untuk ku, karena kami sudah 7 tahun lamanya berpacaran, bahkan kami merencanakan untuk pernikahan” lirih ku.
“Sudahlah, jangan pernah kau ingat lagi, seseorang yang hanya memanfaatkan mu, juga kau itu berhak untuk bahagia!!
"Jadi ayo kejar kebahagiaan mu, Brie” ucap nya menghiburku.
***
2 tahun kemudian.
Hari hari pun berlalu, aku yang sudah terbiasa sendiri, dan sudah melupakan cerita cinta kelam ku dulu. Kini aku lebih bahagia, dengan diriku sendiri. Dan melakukan apa pun, yang ku inginkan.
Sampai, seseorang yang telah ku lupakan, hadir kembali di hidupku. Dan menggangu kehidupan ku. Ia adalah Samuel, mantan ku yang orientasi sexualnya, berbeda dengan orang pada umumnya.
Ia mencoba mendekatiku kembali, karena ia dipaksa menikah, oleh orang tuanya. Setelah orang tuanya mengetahui, bahwa Samuel menyukai seorang pria. Aku yang telah tenang tanpa kehadirannya, kini hidupku mulai terusik kembali.
Ia berkata padaku, bahwa ia telah berubah dan sekarang ia hanya mencintai ku. Tapi saat ini, perasaan ku padanya sudah terkubur dalam, dan bertahun tahun lamanya. Sampai Samuel mengancam, akan terus mengikutiku setiap hari, bahkan setiap detik, agar aku kembali padanya.
Aku benar benar muak padanya, dan ia adalah, orang yang teguh dengan pendiriannya, lalu aku pun mengatakan, bahwa aku sudah benar benar tak ingin dengannya. Dan benar benar sudah melupakannya, tetapi ia tetap saja mendekatiku, dengan segala cara dan usahanya.
Aku pun menceritakan ini, pada sahabat sekaligus teman serumah ku yaitu Lani, ia mencoba menyelesaikan masalahku.
“Satu-satunya cara agar ia terlepas dari mu adalah, kau harus memiliki seorang pacar” tegasnya padaku.
“Lan, tapi aku sedang tak bercanda!! Dan lagi, aku sudah senang dengan diriku sendiri, aku tak butuh seorang pacar!!” ucap ku.
“Kalau kau seperti ini, ia tak akan menyerah!! Coba kau pikir, jika ia tau kau mempunyai pacar, atau kau mempunyai tunangan. Pasti dia akan menyerah, karena artinya kau sudah melupakan dia!! Benar bukan?? Coba kau pikirkan??” tanyanya padaku.
Kemudian, aku pun berpikir bahwa, benar apa yang di katakan Lani, tetapi bagaimana bisa, aku mencari seorang pacar dalam waktu singkat?
“Hmm, aku tahu seseorang yang mengenalmu, dan orang yang bisa menolongmu saat ini!” ucapnya pada ku.
“Siapa??” tanya ku bingung.
“Dia adalah kakak sepupu ku!! Kak Davin. Dan karena dia sudah mengenalmu, jadi pasti ia akan mengerti situasimu sekarang!" Jawabnya.
“Apa?? Kamu gila ya?? Nggak, aku tak mau, bila harus berurusan dengan nya!! Aku gak bisa memanfaatkan kebaikannya, dulu saja sewaktu dia menolongku, aku belum membalaskan budi ku pada nya!! Lalu sekarang, aku datang kembali hanya untuk, meminta tolong padanya LAGI??” Tegas ku pada Lani.
Lani pun meyakinkanku, bahwa kak Davin itu orang nya benar benar baik, dan dia itu selalu tulus untuk menolong orang lain, meskipun dia tak banyak bicara tetapi hatinya benar benar tulus.
Akhirnya, aku menyetujui saran dari Lani. Kemudian, Lani mencoba berbicara pada kak Davin, lewat panggilan ponselnya, namun kak Davin tak langsung menyetujui permintaan kami, tetapi ia ingin bertemu langsung dengan ku. Aku
pun menyetujui, untuk bertemu dengannya dan berbicara empat mata dengan kak Davin.
Keesokan harinya, aku pun bertemu kak Davin, di tempan yang telah di janjikan. Kemudian, aku memceritakan masalahku padanya, dan meminta sarannya, yang lebih baik untuk ku, karena saran dari Lani membuatku sangat beresiko,
tetapi itu akan membuat Samuel untuk menyerah padaku.
“Ah.. baiklah!! Aku menyetujuinya, namun kau harus membantuku juga!! Ucapnya.
Ia pun berbicara padaku, bahwa ke dua orang tuanya menjodohkan dia, dengan seorang wanita. Karena menurut orang tuanya kak Davin, bahwa ia sudah melewati umur, untuk pernikahan di usianya.
“Jika, aku harus berpura pura di depan orang tuamu, aku pun akan membantumu, karena kakak selalu menolongku dulu,
bahkan sekarang pun kau mau menolongku lagi” ucap ku pada kak Davin.
“Ok, baiklah! Karena kita menyetujui satu sama lain, jadi mulai hari ini, kita harus terlihat sebagai pasangan” tegasnya pada ku.
Aku hanya mengangguk, meyakinkan apa yang diucapkannya benar. Kami pun resmi, menjadi sebagai pasangan palsu,
untuk mengelabui mantan pacar ku, serta kedua orang tuanya kak Davin.
Hingga kami pun melewatkan hari hari, sebagai pasangan palsu. Dari mulai aku menemui Samuel, untuk berbicara serius
dengan nya.
“Sam, hari ini aku ingin mengenalkan pacarku sekaligus tunangan ku, ini adalah kak Davin” ucapku.
“Salam kenal, saya Davin tunangannya Brigita!! Sambil mengulurkan tangan pada Samuel.
“Saya, Samuel temannya Brigita” ucapnya ketus pada kak Davin.
Kami pun berbincang bincang, dan memamerkan kemesraan kami, pada Samuel. Hingga hari hari berikutnya, Samuel pun tak menggangu ku lagi.
Lalu hari berikutnya, aku pergi ke rumahnya kak Davin, karena hari ini adalah hari Anniversary orang tuanya kak Davin.
Maka dari itu, hari ini adalah saat yang tepat, untuk memberi tahu mereka, jika kami adalah pasangan.
Aku pun tiba di rumah besar, dengan banyak jendela, dan interior rumah vintage, seperti rumah rumah di daerah kerajaan Inggris. Aku bertemu dengan kedua orang tuanya kak Davin.
“Mom, dad!! Ini adalah pacarku Brigita” sambil melihat ke arahku.
“Selamat siang Tante, om. Perkenalkan saya Brigita” Sapaku pada kedua orang tuanya kak Davin.
Mereka pun menyambut ku ramah, dan kami pun berbincang satu sama lain, seperti telah mengenal satu sama lain
lamanya.
Aku senang, bahwa kedua orang tuanya kak Davin begitu ramah, mereka tak seperti kak Davin, yang tak banyak bicara, dan terkesan jutek. tetapi menurutku, mereka orang tua yang selalu mendukung anaknya, apa pun itu dan sekalu peduli, dengan hal apa pun pilihan kak Davin.
Setelah aku bercengkrama, dengan kelurganya kak Davin. Aku pun pamit pulang, pada orang tuanya. Kemudian kak
Davin mengantarku pulang, sampai depan rumah.
Sesampainya di depan rumah, aku pamit pada kak Davin, lalu masuk membuka pintu, aku pun bercerita pada Lani bahwa orangtua kak Davin, sangat ramah padaku, dan mereka percaya bahwa aku adalah pacarnya kak Davin.
Hari hari pun berlalu, aku dan kak Davin pun tak pernah berhubungan kembali, karena masalah kami telah selesai.
6 bulan kemudian.
Tiba tiba kak Davin menelpon ku, aku pun menjawabnya.
“Ya, ada apa kak? Gimana kabar kakak baik??” tanya ku pada kak Davin.
“Hmm, Aku baik. Kalo kamu bagaimana??” Tanya kak Davin.
“Aku pun baik baik saja.” Jawab ku.
“Hmm, begini apa besok kau senggang??” ucap kak Davin.
__ADS_1
“Oh, ya besok aku tak ada acara, karena besok kan weekend!” jelas ku.
“Kalau begitu, apa kau bisa pergi bersama ku!!” tanya kak Davin.
“ Ya, boleh! Diamana kita akan bertemu??” Tanya ku.
“ Besok, aku akan menjemputmu pukul 11 pagi.” Jawabnya.
“Ok, baiklah!!" Jawabku singkat.
Kami pun mengakhiri percakapan kami.
Keesokannya, aku bersiap sedari pagi, memilih pakaian yang sesuai dan merias wajahku.
Tanpa ku sadari, sedari tadi Lani memperhatikan ku, kemudian menggoda ku, bahwa aku akan pergi berkencan dengan
kakak sepupunya.
“Astaga!! Anak ini, pikirannya gak bener!! Aku cuman akan bertemu kak Davin saja!!” jelas ku.
“ Kan kak Davin pun laki laki!! Dan tak akan pernah ada kata teman, jika seorang pria dan seorang wanita saling bersama!” Godanya pada ku.
“Euh... Pikiran kamu tuh yang ngaco!! Kejauhan. Pikir aja, dia tuh seorang CEO, dan aku tuh cuman wanita biasa, yang kerjanya pun gak jelas.” Sahut ku.
“Kamu gak tau saja!! Bahwa selama ini, rumor tentang mu di keluarga besarku, sudah menyebar.” Ucap Lani.
“Memang nya, aku kenapa?? Apa dulu aku melakukan kesalah, sewaktu bertemu orang tuanya kak Davin??” Tanya ku.
“Tidak, tetapi lebih dari itu!! Kamu sudah membuat orang tuanya kak Davin, setuju untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih jauh.” Jelasnya.
“Apa maksud mu? ?Aku tak mengerti maksud dari perkataan mu??” Tanya ku.
Lani pun menjelaskan pada ku, bahwa orang tuanya kak Davin, ingin aku dan kak Davin melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.
Aku pun sontak kaget, dengan ucapnya Lani. Karena hubungan kami hanya pacar palsu saja. Lalu aku pun menanyakan kelanjutan cerita nya Lani.
“Kamu bahkan tak tahu, kak Davin itu pernah di campakan oleh seorang wanita, saat mereka memutuskan untuk menikah,
Dan dari situ kak Davin tak pernah sekali pun, berpacaran atau membawa seorang wanita, untuk di perkenalkan pada orang tuanya. Hingga rumor pun menyebar, bahwa ia sekarang menyukai seorang Pria alias Gay. Tetapi, karena aku lebih tau kakak sepupu ku itu, jadi aku tak percaya bahwa ia seorang Gay.“ lanjutnya.
“Lalu apa aku harus percaya padamu?? Aku harus menanyakan ini langsung padanya.” Jawab ku tegas.
Aku pun selesai berpakaian rapi, kemudian kak Davin menjemputmu dengan mobilnya.
Ia menyunggingkan senyuman, ke arah ku. Melihat itu, aku pun terpana olehnya, karena baru kali ini, ia tersenyum dengan raut wajah tulus padaku. Tiba tiba, hatiku berdebar melihat pesonanya.
“Kenapa aku ini?? Astaga yang benar saja, hati ku berdebar, melihat kak Davin.” Dalam benak ku.
Kemudian, aku pun naik ke dalam mobilnya, dan kami pun pergi meninggalkan Lani.
Sesampainya di tempat tujuan, aku pun turun dari mobilnya, dan kulihat kami berada, di sebuah taman hiburan. Aku bertanya tanya dalam benakku, ‘Mengapa ia mengajak ku kesini?? Apa ia akan bertemu seseorang disini??’ pikir ku.
Aku pun mengikuti kak Davin masuk ke taman hiburan ini.
“Aku mengajakmu kesini karena, Lani pernah berbicara padaku. Bahwa, kau tak pernah pergi bersenang senang, untuk menjernihkan pikiran mu.” Ucapnya jelas padaku.
Aku pun tersenyum lebar padanya, dengan menahan tawa, karena aku tak ingin kak Davin tersinggung, lalu aku pun
kemudian berkata,
“Apa, Lani juga yang menyarankan pada kakak, untuk ke tempat ini??” Tanya ku pada kak Davin.
“Ya..” jawabnya singkat.
Aku pun, tak kuasa menahan tawa ku, lalu aku tertawa, di depan kak Davin. Sambil memegang perutku, karena aku tak tahan, dengan sikapnya kak Davin yang polos menurut ku. Ia pun, tersenyum lebar padaku, dengan wajah bingungnya menatapku,
“ Mengapa kau tertawa??” Tanya nya.
“Hahahaha.. maaf, hanya saja aku tak menyangka kakak bisa sepolos itu!! Sambil menutup mulut ku untuk berhenti.
Kemudian, aku pun mengajaknya untuk segera bermain, ku tarik tangannya agar ia berjalan lebih cepat. Karena bila tidak
cepat, kami akan mengantri begitu panjang, untuk menaiki wahana itu.
Kami pun, bersenang senang hari ini. Kak Davin mengajak ku, makan siang bersama, bahkan aku membeli sovenir yang
sama, dengan kak Davin.
Keesokan paginya, aku bersiap untuk bekerja. Karena aku pun harus kuliah, dan mengambil kelas karyawan, jadi aku bisa
membiayai kuliah ku sendiri.
Mulai hari itu, setiap hari kak Davin mengirimi pesan padaku, meskipun hanya menanyakan kabarku.
Hingga Setiap hari ku, hanya di isi dengan kegiatan ku, dan kak Davin yang selalu mengantar jemput ku, untuk pergi bekerja, atau ke tempat kuliah ku.
Semakin hari, kami pun semakin akrab. Walau pun, kak Davin tak banyak bicara, malah sebaliknya aku yang selalu bertanya, atau bercerita tentang ku. Kak Davin selalu menyimak dan mendengarkan keluh kesah, bahkan kebahagiaan ku.
Hari itu, turun hujan. Kak Davin sibuk dengan pekerjaanya, hari ini ia berkata bahwa, ia tak bisa mengantar ku pulang.
Aku pun menaiki bus, dan kemudian, aku mengingat kembali pertemuan pertama, dengan kak Davin.
Flash back
Saat itu di dalam bus, ia tak sengaja memegang tanganku, di atas gantungan pegngan. Karena saat itu, bus yang mendadak berhenti. Setelah itu aku pun turun, dan menjatuhkan dompetku. Melihat dompetku terjatuh, kak Davin pun bermaksud untuk, mengembalikannya padaku. Kemudian setelah itu, aku memintanya, untuk pulang bersamanya dan menginap di tempatnya.
********
Aku pun tersenyum, mengingat kejadian pertemuan pertama kami, yang sangat aneh. Karena, menurutku tak ada orang yang sebaik kak Davin, ia tak pernah sekalipun, memanfaatkan keadaan ku, yang sedang kacau saat itu.
“Mungkin kalau itu orang lain, aku tak akan baik baik saja, sampai sekarang” gumam ku.
Bus pun berhenti, kemudian aku turun, dari di halte bus terdekat dengan rumah ku.
“Ah, aku meninggal kan payung ku. Astaga!! Sekarang aku harus menunggu hujannya reda.” Ucap ku sambil menengadah ke atas langit.
Aku pun, menunggu hujan reda di halteu bus. Sambil berkirim pesan, dengan Lani.
Beberapa saat kemudian, tiba tiba seseorang menepuk punggung ku. Dan dia adalah kak Davin.
“Oh, kakak. Sedang apa disini?” tanya ku
“ Ayo, aku menjemputmu.” Sambil menarik ku untuk berdiri.
Selama perjalanan kami pun berbincan-bincang,
“ Kakak tau darimana aku berada di halteu dan tak membawa payung!"
“Aku telah menunggu mu di rumah, namun Lani memberitahu ku bahwa, kau tak membawa payung mu. Dan itu lah,
dirimu yang ku kenal, selalu tertinggal hal yang penting” ucapnya
Aku pun tertawa, karena hal yang di ucapkan kak Davin, benar adanya. Kemudian, tak terasa aku telah sampai di rumahku. Aku mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Namun, kak Davin harus pergi karena, urusan pekerjaanya. Ia pun pamit kepada ku dan Lani.
“Menurutku,Kak Davin berubah!! Ucap Lani.
“Memangnya dia superhero berubah!! Memang berubah bagaimana maksudmu??” Tanya ku pada Lani
“ Ya, semenjak dia mengajak mu bertemu orang tuanya, dia tak lagi banyak bergaul dengan teman laki lakinya, dan dia
lebih terbuka pada orang tuanya, itu pun yang di katakan ibunya pada ku.” Jelas Lani.
“Oh, ya?? Aku tak merasa begitu?? Tetapi yang ku rasakan sekarang, ia selalu menyempatkan untuk menjemput ku, dan
menyempatkan untuk memberi kabar pada ku lebih dulu!!” Tegas ku.
“ Menurut ku, ini adalah kekuatan cinta!!” Ucap Lani.
“Astaga anak ini, kau kuamt lagi dengan pikiran liar mu??” tanya ku.
“ Tetapi, wajah mu tampak jelas, bahwa kau menyukainya, tuh merah muka nya!!” goda Lani.
“Ya Ampun.. udah deh Lan!! kamu tuh goda terus deh!! Sambil menutup kedua pipi ku.
“Brie, Aku tahu kakak sepupu ku itu suka sama kamu!! Soalnya ketika, aku ke rumahnya, untuk makan malam keluarga
besar, lalu dia pergi ke toilet dan ponselnya aku ambil, terus aku cek dan ternyata!! Foto kalian berdua di taman hiburan
itu, ia jadikan Wallpaper ponselnya!!” Jelasnya.
“Ih.. kamu tuh yah kebangetan usilnya!! Sampe ponsel kakak sepupu kamu pun di embat. Gak baik tau Lan!!” Tegas ku
padanya.
“Tetapi, dari situ aku tau kalo kak Davin suka sama kamu Brie!! Aku sih setuju kalo kak Davin sama kamu, karena kamu tuh teman ku, dan kalian sama sama cocok, jadi tuh saling melengkapi menurut ku!!” Godanya.
Aku pun menyudahi percakapan kami, karena hari sudah petang. Jam dinding pun menunjukan pukul 9 malam.
Lalu aku berjalan ke kamarku, kemudian aku pun merangkak naik, ke atas kasur dan berbaring di atasnya.
Tiba tiba ponsel ku berbunyi tanda pesan masuk.
(Kak Davin)
“Brie, kamu sudah tidur? Jangan lupa untuk, mengeringkan rambutmu dan memakai selimut. Karena suhu udara sedang
dingin.”
(Brigita)
“Oh, ya. Terima kasih sudah menjemput dan mengantarku tadi. Dan kakak pun, jangan lupa untuk memakai selimut pula
agar tak terkena flu.”
(Kak Davin)
“Hmm... Maaf sepertinya, besok pekerjaan ku sedang sibuk sibuknya, aku tak bisa mengantarmu pergi bekerja.”
(Brigita)
“Ah, tak apa. Aku bisa menaiki bus. kakak tak perlu meminta maaf, dan tak usah sungkan pada ku.”
(Kak Davin)
“Kalau begitu, cepatlah tidur. Kau bisa terlambat untuk pergi bekerja besok. Selamat malam.”
(Brigita)
“Ya, selamat malam juga kak.”
Setelah mengakhiri percakapan kami, tiba tiba wajah ku memerah, dan hati ku berdebar kencang. Aku merasa perasaan ini, akan membuncah keluar. Aku tersenyum, mengingat semua kenangan, bersama kak Davin.
“Oh, Astaga!! Perasaan ku tak terkendali!! Bagaimana ini?? Aku rasa... Aku- aku jatuh cinta pada kak Davin” gumam ku.
Aku berusaha menutup kedua mataku, untuk mencoba tertidur. Terapi mataku tetap enggan untuk tertidur.
Keesokan paginya, aku bersiap untuk pergi bekerja, dan kemudian aku berjalan menuju halte bus. Karena hari ini, kak
Davin tak bisa mengantarku untuk pergi bekerja.
Sesaat kemudian, aku menunggu datangnya bus. Akhirnya, bus pun datang, dan berhenti tepat di depan ku. Aku pun naik
ke dalam bus, dan bus pun berjalan pergi. Didalam bus hanya ada aku sendiri.
“Oh, mengapa aku sendiri?? Apa mungkin aku datang lebih awal dari pada orang- orang!!” Gumam ku.
“Tetapi, ini sudah pukul 7 pagi. Seharusnya orang orang sudah banyak, yang menaiki bus untuk bekerja??” tanya ku bingung.
Kemudian, dihalteu bus berikutnya, bus pun berhenti. Aku yang sedang melihat ke layar ponsel ku, dan menunduk tak melihat keadaan sekitar hingga, seseorang di depan ku memberikan ku sebuket bunga kehadapan ku.
Lalu, aku pun menoleh ke atas, ke arah orang yang sedang berdiri di depan ku, dan ternyata orang itu adalah Kak Davin.
Ia pun tersenyum ke arah ku, sambil berkata,
“Ambil lah, itu untuk mu” sambil memberikan buket bunga kepada ku.
Kemudian, ia berdehem dan wajahnya tampak tegang, lalu ia menarik nafas panjang.
“Di bus ini, kita pertama kali bertemu, dan di bus ini juga aku akan mengatakan sesuatu hal, yang penting padamu” jelasnya pada ku.
Aku pun berdiri, dan berhadapan dengan kak Davin, karena bus berhenti. Aku pun melihat ke arah sekitar, kulihat di luar jendela, orang orang mengerumuni bus ini, dan mereka semua memandang ke arah kami.
“Aku, menyukaimu sejak pertama kita bertemu di bus ini, dan aku ingin hubungan kita ke arah yang lebih serius. Jadi, apa
kah kau mau menjadi kekasih ku?? “ tanya kak Davin pada ku.
Saat itu, serasa petir menyambar tubuhku, dan di susul dengan debaran jantungku, perasaan ku senang bercampur bingung. Karena tiba tiba kak Davin, menyatakan perasaannya pada ku.
“Hmm, Brigita!! Apa kau mau menjadi kekasih ku??” Tanya nya lagi.
Aku memandang kak Davin, wajahnya tergambar sangat jelas ia gugup dan menunggu dengan khawatir, jawaban dari ku.
Hati ku berkata bahwa, ia orang yang tulus, bahwa dia orang yang membuat ku terpana, membuatku ingin selalu berada di dekatnya, orang yang membantuku di saat aku terpuruk.
Kemudian, setelah aku berpikir beberapa saat, aku pun mengangguk dan tersenyum lebar padanya.
“Ya, aku ingin menjadi kekasih mu!!” jawab ku tegas.
Senyumnya mengembang, wajahnya tampak gembira, tergambar jelas di wajahnya segala kekawatiran dan kegugupannya, menghilang seketika, dengan jawaban ku.
__ADS_1
Kemudian, Kak Davin memegang kedua tangan ku, sambil tersenyum lebar pada ku, aku pun membalas senyum padanya.
TAMAT.