Various Kinds of Stories

Various Kinds of Stories
Bebas - FathirFairush


__ADS_3

Aku terkadang iri, melihat anak anak yang lain seperti ku bermain dengan bebas tanpa memikirkan pelajaran sedikit pun. Aku terkadang iri melihat teman sebaya ku, jika dia mendapatkan nilai jelek dia tidak dapat caci maki dari orang tuanya sedikit pun. Aku terkadang kesal dengan Tuhan, mengapa aku terlahir dari keluarga ini. Rasanya ingin bunuh diri saja.


Namun hatiku berkata, “kau pasti bisa Melawati semua ini dengan rasa Percaya dirimu”.


Perkenalkan,nama Saya Dimas putra Anggara biasanya saya dipanggil Dimas oleh teman sebaya ku, sekarang aku duduk dibangku 1 SMP,aku dari SD sudah diajarkan oleh orangtuaku,untuk disiplin.Dari pulang sekolah aku harus mengikuti Les, setelah selesai Les aku harus Belajar lagi untuk pelajaran besok,dan malamnya aku harus mengisi Pr ku,tidak ada sedikitpun waktu untuk Bermain, orang tua ku bilang Bermain itu hanya membuang-buang waktu saja.


Setiap harinya aku hanya diperbolehkan untuk belajar, belajar dan belajar tidak ada waktu untuk bermain sedikitpun,aku bermain jika orang tua ku sedang tidak ada di rumah saja,pernah sekali waktu itu aku sedang bermain bola dengan anak-anak komplek di dekat Rumah ku,ketika aku sedang Bermain tiba tiba saja Ayahku datang dan menarik telinga ku,di sepanjang jalan Ayah ku memarahi ku Habis habisan tanpa Melihat sedikit pun di sekelilingnya,aku waktu itu hanya bisa menundukkan kepala sambil menahan Rasa malu ku.


Waktu terus Berjalan,dan perlakuan orang tua ku masih saja seperti dulu,tidak ada waktu bermain,tidak ada waktu nonton yang ada hanya belajar, belajar dan belajar.aku pun mulai merasa jenuh dengan perlakuan orang tua ku,akupun mulai berpikir bagaimana aku bisa bebas,dari sini? Apa aku harus pergi dari rumah?, sepertinya kalo Rencana seperti itu, aku belum siap melakukan nya.


Hari demi Hari waktu terus Berjalan,tak terasa waktu Pembagian Rapot di Semester 1 telah tiba inilah yang aku takutkan di sepanjang hidupku, menerima rapot disinilah semua murid akan menerima pidato secara dadakan oleh orang tuanya,termasuk aku memang aku tidak selalu mendapat kan nya walaupun pernah pasti selalu di Di Marahi Habis Habisan ,Pernah waktu itu,pada saat aku duduk di bangku kelas 4 pada saat semester 1 aku meraih juara 2 dikelasku,pikirku pada saat itu orang tua ku tidak akan marah kepadaku karena aku masih mendapat juara di kelas,namun tidak sesampainya dirumah aku langsung dimarahi habis-habisan oleh Ayahku sampai aku diancam jika aku tidak juara 1 di Semester dua nya maka aku tidak akan diakui sebagai anaknya lagi.


Maka sejak kejadian itu aku pun mulai belajar giat dan berhasil membuktikan nya,pada Saat semester dua nya aku berhasil meraih juara 1 di kelas,Namun mengapa saat ini Perasaan ku tidak enak dengan nilai ku Di SMP semester satu ini,Dan benar saja ketika Nama ku disebut di Urutan Ketiga Hati ku sangat Kacau, Jantung ku mulai Bergerak sangat Cepat dan keringat dingin mulai menjalar di seluruh tubuh,apakah kejadian itu Terulang lagi?,aku pun mulai maju kedepan dan memberikan senyuman tipis kepada orang-orang disekitarku,dan aku pun mulai melihat ekspresi ayahku yang sudah memerah menahan amarah.


Ketika aku memberikan rapot kepada ayahku langsung mengajakku masuk ke mobil dan pulang.


Sesampainya dirumah pintu rumah langsung dibanting nya dengan keras, kakak ku mulai keluar dari kamarnya dan melihat apa yang terjadi.


“Dasar anak Bodoh,Bagaimana Bisa kamu mendapatkan juara 3,apakah kamu tidak takut dengan ancaman ku waktu itu?.”bentak ayah Dimas.


“Maafkan aku yah,Dimas Tidak bisa mewujudkan keinginan ayah.”jawab Dimas.


“Buat apa,kamu Selama ini Ayah masukin kamu ke tempat les yang mewah yang lengkap fasilitasnya tapi kamu malah tidak juara satu,buat apa?.”tanya ayah kepada Dimas.


“Tapi Dimas gak pernah sedikitpun meminta ayah, untuk masukin Dimas ketempat les tersebut, itu hanya kemauan ayah bukan kemauan Dimas.”jawab Dimas sambil menahan marahnya.


Tiba-tiba saja tangan Ayah,melayang dan berhasil mengenai pipi Dimas dan langsung meninggalkan bekas telapak tangan di pipi tersebut.


Ayahnya pun langsung pergi dan masuk ke kamarnya.


Dimas pun hanya bisa menahan rasa sakit dari tamparan ayahnya tersebut.


Dimas pun naik ke lantai 2 dan masuk ke kamar dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat, di dalam kamar nya Dimas pun mengeluarkan air matanya sebanyak mungkin, dia meluapkan semua kesedihan nya yang selama ini dia pendam,atas perlakuan orang tuanya kepadanya.


Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB namun,Dimas sama sekali belum bisa tidur dia masih teringat perlakuan kasar ayahnya terhadap dirinya,dia mulai berpikir untuk pergi dari rumahnya,dia ingin hidup bebas,bebas untuk bergerak, berekspresi melakukan apa saja yang ia mau,tanpa harus dikendalikan oleh siapapun.


Dia pun sudah optimis dengan keinginan untuk kabur dari rumah,dia pun membereskan baju nya termasuk baju seragam SMP dan juga membawa uang tabungannya,yang ia sudah kumpulkan bertahun-tahun,dan juga ia tak lupa sebelum dia pergi meninggalkan rumahnya ia menitipkan surat kecil untuk Ayahnya.


Dimas pun keluar kamar secara diam-diam, dia mulai menuruni anak tangga tanpa mengahasilkan suara sedikitpun,lalu dia berhasil mencapai pintu utama,dia pun mulai membuka kunci secara perlahan lahan.dan dia berhasil membuka pintu tersebut tanpa menghasilkan suara sedikitpun,dan dia pun pergi menuju gerbang,dia melihat pak Rio sedang tertidur pulas di pos keamanan, akhirnya Dimas pun berhasil keluar dari Rumahnya.


Diperjalanan,Dimas bingung dia harus kemana,tinggal dimana?karena dia sudah terlalu jauh berjalan akhirnya Dimas pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di trotoar,dia pun melihat seorang ibu yang menjual kue di dekatnya,karena dia lapar,dia pun memutuskan membeli kue ditempat ibu tersebut.


“ibu,kue lapis ini berapa Harganya?.”tanya Dimas kepada ibu penjual kue tersebut.


“Owh,ini harga nya seribu rupiah saja nak.”jawab ibu penjual kue tersebut.


“Owh,kalau begitu saya Beli tiga ya Bu kuenya.”jawab Dimas.


Dimas pun menyodorkan uangnya kepada ibu penjual kue tersebut,sambil menamakan kue tersebut Dimas pun bertanya kepada ibu penjual kue tersebut,mengapa dia belum pulang kerumahnya padahal sudah malam.


“Ibu kenapa belum pulang?.”tanya Dimas kepada ibu penjual kue tersebut.


“Dagangan ibu belum habis nak.”jawab ibu Penjual kue tersebut.


“Kenapa,ibu masih berjualan?,kenapa tidak dilanjutkan besok saja?.”


“Bagaimana ibu bisa pulang nak,ibu saja harus membeli obat untuk anak ibu yang lagi sakit.”jawab ibu penjual kue tersebut,sambil menahan air matanya keluar.


“Emang anak ibu sakit apa?.”tanya Dimas kepada ibu penjual tersebut sambil mengusap bahu ibu tersebut agar tetap tegar.


“Anak ibu sakit demam nak,sudah tiga hari demam nya tidak turun-turun.”jawab ibu Penjual kue.


“Owh,kalo begitu pake uang saya aja dulu Bu,buat bayar rumah sakit anak ibu.”jawab Dimas.


“Masya Allah,makasih ya nak sudah mau membantu ibu membayar uang berobat anak ibu.”jawab ibu tersebut sambil memeluk Dimas.


“Oh,ya nak kok kamu tidak pulang kerumah?,apa kamu tidak dicariin oleh orang tua mu?.”tanya ibu penjual kue tersebut ke Dimas.


“Orang tua saya,sudah tak menginginkan saya lagi Bu,cuman karena saya kurang Sempurna Dimata mereka.”jawab,Dimas sambil menahan air matanya keluar.


“Sudah, hapus air mata nya jangan dikeluarkan sekarang, sekarang kamu mau kemana nak?.”tanya ibu tersebut kepada Dimas.


“Aku gak tau Bu Harus kemana sekarang,aku tidak punya Rumah lagi?.”jawab Dimas sambil menghapus air matanya.


“Yaudah, sekarang kamu ikut ibu aja kerumah ibu.”jawab ibu penjual kue tersebut.


Dimas pun akhirnya memilih tinggal dengan ibu penjual kue tersebut.


Paginya......


Ayahnya masih saja marah dengan Dimas,dia membuka pintu kamar nya dan membanting dengan sekeras nya.Namun dia malah tidak melihat anak tersebut di dalam melainkan hanya sebuah kertas diatas meja belajarnya, dia pun membuka surat tersebut dan mulai membacanya.


Teruntuk ayah


Maafkan Dimas ya,yah jika Dimas membuat ayah kecewa.


Maafkan Dimas ya,yah jika Dimas membuat ayah malu.


Dimas sadar,Dimas bukanlah anak yang sempurna Dimata ayah.

__ADS_1


Dimas sadar, Dimas tak sempurna kak Rega yang selalu mendapat kan juara kelas.


Dimas sayang kok sama ayah,Dimas gak pernah membenci ayah sedikitpun.


Walau ayah membenci Dimas,tapi tidak dengan Dimas.


Yah,aku pamit dulu ya untuk beberapa hari,mungkin beberapa tahun sampai luka ini sembuh dan pulih kembali.


Yah,jangan cari Dimas ya,Dimas baik-baik aja di luar sini,jangan khawatirkan Dimas, Dimas hanya butuh waktu sebentar saja.. untuk menemui ayah kembali.


Salam sayang,Dimas.


Surat itu,Bagaikan Anak panah Yang menancap kuat di dalam Hatinya,dan anak panah tersebut berhasil memecahkan keegoisan lelaki paruh baya tersebut, sehingga dia tak kuasa menahan air matanya keluar dan membasahi kedua pipinya,dan dia sadar bahwa keegoisan nya selama ini hanya dapat membuat orang lain sakit hati terhadap perlakuan nya.


Dimas pun Bangun dari tidur nya yang nyenyak,dia melihat jam sudah menunjukkan jam 05.30 WIB. Dia pun segera Mandi dan melaksanakan sholat subuh, setelah sholat Dimas membantu ibu penjual kue,untuk membuat kue yang akan di jual nantinya.


“Ibu mau buat kue apa untuk jualan hari ini?.”tanya Dimas kepada ibu penjual kue tersebut.


“jangan panggil ibu terus dong,ibu kan punya nama.”


“Nama ibu, Bu Sinta”jawab Bu Sinta sambil membuat adonan kue ditangannya.


“owh,maaf Bu saya kan belum kenalan bu,dari semalam.”ucap Dimas sambil menahan tawa.


Mereka saling cerita tentang kisah lucu mereka masing-masing sambil membuat adonan kue.


“Bu sinta,di daerah sini ada sekolah SMP gak Bu?.”tanya Dimas kepada Bu Sinta.


“ada ndok,tapi sekolah nya biasa,gak semewah sekolahan kamu dulu.”jawab Bu Sinta.


“Aku mah cari ilmunya Bu,bukan cari bagus bangunan sekolah nya.”jawab Dimas sambil tersenyum tipis.


“Wah gak nyangka ibu,anak seumuran kamu malah semangat belajar,waktu zaman ibu mah anak sebesar kamu cuman bisa bermain, maklumlah uang dulu susah dicari.”jawab Bu Sinta sambil menatap kagum Dimas.


Tak terasa adonan kue yang mereka buat, akhirnya selesai di buat tinggal digoreng mas pun membantu Bu Sinta menggoreng donat,lalu menaburkan gula halus diatas donat dan dimasukkan didalam kemasannya lalu dijual keliling oleh Bu sint,tak lupa Dimas pun membantu Bu Sinta menjual donatnya di sekitar perkampungan dimana tempat Bu Sinta tinggal.


Selesai menjual donat,Dimas pun bermain bola dengan anak-anak di lapangan dekat dengan tempat Bu Sinta tinggal, Akhirnya setelah sekian lama ia menantikan momen ini yaitu bebas bermain kapan saja tanpa harus takut ketahuan lagi dengan Ayahnya.


Beberapa Tahun kemudian...


Dimas sekarang sudah menduduki kelas 3 SMP, sekarang dia sudah nyaman dengan keadaan nya hidup dengan bebas tanpa di atur lagi oleh ayahnya,dia juga selama sekolah mendapatkan beasiswa.jadi dia tak khawatir untuk membayar spp, seperti biasa selepas pulang sekolah dia membantu Bu sinta untuk berjualan kue keliling di sekitar kampung, inilah hidup yang diinginkan kan selama ini hidup secara bebas,tak berbani dengan pelajaran,karena dimas tahu kapan dia waktunya belajar kapan waktunya bersantai dan bermain dengan teman temannya.


Sekarang pembagian raport di semester pun tiba,Dimas memberi tahu Bu Sinta untuk memintanya mengambil raport miliknya sebagai ganti wali dari orang tuanya Dimas,Bu Sinta pun bahagia melihat Dimas tersenyum lebar tanpa ada rasa takut sedikitpun didalam dirinya.


Dimas pun meraih juara satu di kelasnya,dia pun melihat Bu Sinta dan memberikannya senyuman yang sangat lebar,Bu Sinta pun membalas dengan senyuman juga,Dimas pun datang menghampiri Bu sinta.


“Bu,makasih ya sudah mengizinkan Dimas tinggal dengan ibu”jawab Dimas sambil memegang raport dan memeluk Bu Sinta.


“Ndok,kamu gak rindu dengan ayah mu.”tanya Bu Sinta kepada Dimas.dan Dimas tiba tiba melepaskan pelukannya dari Bu Sinta.


“Aku tak tahu Bu,apakah ayah masih marah padaku,mungkin suatu saat nanti aku akan mengunjungi ayah lagi,mungkin hati ini belum pulih dengan sempurna atas luka itu yang masih membekas di dalam hati.”jawab Dimas sambil menahan air matanya keluar.


“itu terserah kepada dirimu sendiri nak,ibu hanya mengusulkannya,ibu takut ayahmu menunggu terlalu lama.”jawab Bu Sinta sambil tersenyum kepada Dimas.


Dimas pun hanya menggangguk dan membalas senyum kepada Bu Sinta.


Tak terasa waktu liburan semester 1 telah usai,Dimas pun belajar dengan giat agar dia bisa mendapat nilai UN yang tinggi agar dia bisa masuk SMA terfavorit dengan gratis,Dimas pun memakai sepatu dan mengambil tas nya dan pergi ke sekolah,tak lupa dia pamitan dulu dengan Bu Sinta.


Dimas pun pergi sekolah dengan semangat,tidak lupa dia memberikan senyuman kepada orang-orang di sekitar, setelah beberapa menit kemudian dia pun sampai sekolah dia pun menaruh tas nya di duduk di bangku sambil menunggu gurunya datang,Dimas pun membuka buku pelajaran yang dia bawa dari rumah.


“Selamat pagi anak-anak.”pak Rudi yang merupakan guru Bahasa Indonesia memberikan salam kepada anak anak di kelas.


“Pagi pak.”jawab semua murid.


“Bapak punya info penting,bapak akan memberi tahu Bahwa ada lomba olimpiade Ipa yang akan diselenggarakan di SMA Nusa Bangsa,dan Hadiah nya beasiswa selama 3 tahun beserta uang senilai 50juta apakah ada yang berminat.”tanya pak Rudi kepada semua murid.


Dari semua murid yang ada di kelas tersebut, hanya Dimas yang bersedia mengikuti olimpiade ipa tersebut.


“Ok dimas, setelah pelajaran Bapak, kamu ikut bapak ke kantor untuk mengambil mengisi formulir terlebih dahulu dan mengisinya.” jawab pak Rudi.


Jam pelajaran Bahasa Indonesia pun selesai, sesuai dengan Arahan pak Rudi, setelah Pelajaran pak Rudi Dimas pun ikut Pak Rudi ke kantor untuk mengisi formulir perlombaan Olimpiade di SMA Nusa bangsa.


Dimas pun belajar sangat giat,agar dia bisa memenangkan perlombaan tersebut,dan mendapat beasiswa dan uang senilai 50juta,Bu Sinta yang mendengar berita tersebut sangat bahagia.Sampai akhirnya hari itu pun tiba,Dimas pun berangkat bersama pak Rudi dengan mobilnya.


Beberapa menit kemudian, Akhirnya mereka pun sampai di tujuan,Dimas pun turun dari mobil beserta Pak Rudi,dan menuju meja panitia untuk melakukan pendaftaran ulang, setelah pendaftaran ulang Dimas pun masuk ke dalam ruang perlombaan,disana banyak sekali perserta lomba,Namun dia sama sekali tidak pesimis Dengan keyakinannya,Dimas pun duduk di kursi sesuai dengan nomor perlombaan.


Perlombaan pun dimulai,Dimas pun mengerjakan nya sangat teliti,dia mulai membaca soal secaraa teliti agar jawaban yang ia jawab tidak salah.


Beberapa jam telah berlalu,dan Dimas pun selesai mengerjakan semua soal tersebut, tanpa sedikitpun khawatir atas jawabannya, karena dia yakin bahwa jawaban yang dia isi adalah jawaban yang benar, waktu pengoreksian pun berakhir, ini yang ditunggu-tunggu oleh Dimas, dia pun tak sabar menerima hasilnya.


“pengumuman,pemenang perlombaan agar segera dibacakan, diharapkan Bagi siswa yang namanya disebutkan harap maju keatas Panggung.” Pembawa acara meminta perhatian sebentar kepada seluruh peserta lomba.


“Juara 3 olimpiade ipa tingkat SMP adalah,Raihan dari SMP 1 cimerak,Juara 2 olimpiade ipa tingkat SMP adalah,Putri dari SMP 2 taduh Payung,dan juara 1 olimpiade ipa tingkat SMP adalah... Dimas dari SMP 5 Cipanas, diharapkan pada pemenang lomba naik keatas panggung.” Pembawa acara tersebut meminta kepada para peserta yang sudah disebut agar naik keatas panggung.


Dimas pun sangat bahagia,ketika namanya disebut dalam urutan pertama,dia pun bersujud ketika sampai diatas Panggung,dia tahu disetiap ada cobaan yang sangat berat,pasti akan ada hikmahnya.


Selesai Perlombaan Dimas pun pulang kerumah,dan menunjukannya kepada Bu Sinta.


“Ibu.. aku menang nih.”seru Dimas ketika sampai dirumah.

__ADS_1


“alhamdulilah nak,kamu menang tetap rendah hati ya ndok.”jawab Bu Sinta sambil tersenyum bahagia ke Dimas.


“Alhamdulillah Bu.. aku dapat beasiswa selama tiga tahun loh.”Dimas pun menunjukan hadiahnya ke Bu Sinta.


“Tapi..”


“tapi kenapa nak?.”tanya Bu Sinta kepada Dimas.


“Tapi Dimas,harus menginap di Asrama Bu,jadi Dimas hanya boleh pulang kerumah setiap hari Minggu saja.”jawab Dimas sedih.


“Gak papa ndok,asalkan demi masa depan mu ibu rela melepaskan mu.”jawab Bu Sinta sambil menahan air matanya.


“Makasih ya Bu,sudah menerima saya menjadi anak angkat ibu sendiri.”jawab Dimas sambil memeluk erat tubuh Bu Sinta.


Tidak terasa waktu terus berjalan,UN pun tiba Dimas pun telah mempersiapkan semuanya,dia telah belajar semalaman agar dapat nilai maksimal ketika ujian Nanti.


Ujian pun tiba,Dimas pun masuk kedalam ruangan ujian dia pun membaca soal dengan teliti,agar jawaban yang dia jawab benar,ujian pun berlangsung selama 3 hari,Dimas tak sabar dengan hasil ujian yang sudah dia kerjakan selama 3 hari berturut-turut.


Hasil ujian pun di tempel di mading Sekolah,Dimas pun melihat Hasil ujiannya,dia pun bersorak gembira ketika nilai ujiannya rata-rata 100 dia pun pulang dan memberi tahu hasil ujiannya kepada Bu Sinta,Bu Sinta pun memeluk Dimas untuk sekian kalinya dia pun menangis bahagia di pelukan Dimas, entah mengapa Bu Sinta memeluk Dimas sampai menangis di pundaknya,dia merasa Dimas adalah anak kandungnya sendiri.


“Udah Bu.. jangan nangis lagi.”pinta Dimas kepada Bu Sinta..


“Saya nangis,karena saya bahagia ketika melihat kamu telah berhasil menjadi anak yang sukses.”jawab Bu Sinta sambil menghapus air matanya.


“Iya ini juga berkat dukungan ibu selama ini,ke Dimas.”jawab Dimas sambil mengusap punggung Bu Sinta secara pelan.


Bu Sinta pun hanya mengangguk.


Liburan pun tiba.., Dimas pun tak mau mengsia-siakan masa liburan nya dia pun membantu Bu sinta membuat kue dan jualan kue,untuk terakhir kalinya dia ingin membalas jasa kepada Bu Sinta karena dia sudah merawat Dimas dengan baik.Dimas pun bersorak kepada orang-orang agar membeli dagangan kue nya Bu Sinta,Bu Sinta pun hanya tersenyum melihat tingkah semangat laki-laki itu.


“Sudah,nak jangan terlalu sering menggunakan suara mu,nanti tenggorokan mu bisa sakit.”pinta Bu Sinta sambil tersenyum kearah Dimas.


“Tidak apa-apa suara Dimas habis,asalkan Dagangan kue ibu habis terjual Habis.”jawab dia sambil tertawa.


Waktu terus berjalan,hari demi hari,waktu liburan pun telah usai,kini Dimas harus berangkat ke Asrama dan harus meninggalkan Bu Sinta dan Sri anak perempuan satu-satunya Bu Sinta,Dimas pun sedih harus meninggalkan Bu Sinta,yang sudah merawatnya selama ini dengan baik.


“Bu, Dimas pergi Dimas janji,kalo Dimas udah sukses nanti Dimas akan mengajak ibu sama Sri untuk tinggal bersama Dimas lagi.”sambil memeluk erat Bu Sinta.


“Iya ndok,ibu tunggu kamu ya sampai sukses.”jawab Bu sinta sambil mengusap punggung Dimas.


Dimas pun melepaskan pelukannya dan segera berpamitan kepada Bu Sinta.


Hari demi hari,waktu terus berjalan tidak terasa Dimas pun sudah lulus SMA dan dia sekarang sudah bekerja di perusahaan multinasional,dia pun tidak sabar ingin menunjukkan kesuksesan kepada Bu Sinta, orang selama ini sudah merawat dia dengan baik.


Diperjalanan menuju rumah Bu sinta, Dimas pun tidak sengaja bertemu pengemis tua dipinggir jalan,Dimas pun ingin menghampiri pengemis dan memberikannya dua bungkus roti yang tadi dia beli di mini market di pinggir jalan.


Betapa kagetnya dia ketika melihat wajah pengemis tua tersebut, ternyata pengemis tersebut adalah ayahnya sendiri, ayahnya sendiri juga juga kaget ketika melihat wajah orang yang memberikan roti tersebut, adalah anaknya sendiri yang pernah ia tampar tujuh tahun yang lalu,dia pun ingin pergi dani menjauh dari Dimas namun,Dimas menahan tangan pengemis tua tersebut.


“Ayah,kenapa bisa begini.”tanya Dimas kepada ayahnya sambil menahan air matanya keluar.


“Cerita panjang nak, tiga tahun yang lalu rumah ayah kebakaran dan perusahaan ayah bangkrut.”jawab ayah sambil menghapus air matanya dari pipi.


“Lalu dimana kak Rega yah.”


“Kak Rega sudah meninggal ketika kejadian kebakaran dirumah nak.”kali ini ayah tak bisa menahan deras air matanya yang jatuh ke pipinya.


“Nak,maafkan ayah ya sudah egois ke kamu,ayah sudah menampar kamu waktu itu.”ucap Ayah sambil memeluk erat tubuh Dimas.


“Iya yah, Dimas sudah lama memaafkan ayah, sekarang ayah ikut tinggal bersama Dimas ya.”jawab Dimas


Dimas pun mengantarkan ayahnya masuk ke dalam mobil miliknya dan segera menjemput Bu Sinta dan Sri ke Rumahnya.


Beberapa menit kemudian dia pun sampai di rumah Bu sinta,dia pun turun dari mobilnya dan juga ayahnya,dia pun mulai mengetuk pintu rumahnya.


“Assalamualaikum.”dimas pun mengetuk pintu.


“waalaikumsallam.”seorang gadis cantik sambil membuka perlahan pintu tersebut.


“Wah,ada kak Dimas Bu,dia sudah sukses bu.”jawab Sri anaknya Bu Sinta yang kini sudah tumbuh besar.


“Masya Allah nak Dimas,sudah sukses ya sekarang.”jawab Bu Sinta sambil tersenyum kearah Dimas.


“Iya bu, Alhamdulillah ini juga berkat juga.”jawab Dimas sambil mencium tangan Bu sinta.


“Oh,ya nak itu di belakang kamu siapa ya?.”tanya Bu sinta kepada Dimas.


“Oh,perkenalkan ini ayah saya.”jawab Dimas sambil mempersilahkan ayahnya untuk berjabat dengan Bu Sinta.


“bu, terima kasih ya sudah merawat anak saya selama ini.”ucap Ayah kepada Bu sinta,sambil menangis dihadapan Bu Sinta.


“Iya pak sama-sama,saya juga senang bisa bertemu dengan anak bapak,saya kagum dengan anak bapak,dia adalah anak yang baik,ramah,gigih dan pantang menyerah.” jawab Bu Sinta sambil tersenyum kearah Dimas.


“ah,ibu bisa saja memuji ku.”jawab Dimas sambil tertawa.


“Oh,ya nak kamu kenapa datang tiba-tiba kesini?.”tanya heran Bu Sinta kepada Dimas.


“Kan Dimas sudah janji Bu,jika Dimas sudah sukses Dimas akan mengajak Ibu dan Sri tinggal dengan dimas.”jawab dimas.


“Ayo sekarang bereskan pakaian ibu dan Sri dan setelah itu kita pergi ke Rumah Dimas.” ucap Dimas sambil mengajak Bu Sinta.

__ADS_1


Setelah membereskan pakaian,Bu Sinta pun masuk ke dalam mobil dan pergi ke rumah Dimas bersama dengan Ayahnya Dimas,dan akhirnya mereka pun tinggal bersama.


Selesai.


__ADS_2