Various Kinds of Stories

Various Kinds of Stories
Apa Itu Cinta - JAl


__ADS_3

Satu rasa yang pernah kudekap penuh tercantum pada ungkapan tak bersebut. Pernah aku sebut sebuah nama pelan-pelan tak berjejak, hanya Tuhan dan aku yang tahu bagaimana sekat ceritanya. Diam merangkak menggapai tak pernah menyentuh, langkah sunyi yang disembunyikan bertahan bersemayam tanpa pernah tersampaikan. Hanya senyumku yang menyiratkan perasaan, tanpa kata-kata, tanpa kalimat pasti, tak sekali pun kuuntai dalam gerak bibir mengulum kata.


Apa itu cinta?


Sebuah kata yang pernah kurenungkan sebelumnya. Renung senja berbalut rentak menjelang malam, di tengah semburat cahaya mentari redup sayup-sayup membelai dahiku. Hangatnya bercampur dengan bau tengik wangi tembakau cengkeh yang dihisap perlahan. Kopi hitam berbicara dalam pahitnya, hidup tak semanis yang kau kira. Hanya lekat pada langit-langit mulut yang bermain, namun aku senang itu.


Renung itu tak menemukan titik mengapa setiap orang ingin memeluk cinta.


Bukankah itu sederhana? Mencintai seseorang begitu tulus dengan segudang cerita yang pernah terjadi. Bermadu kasih pada Sabtu malam yang suci itu, seduduk berdua di bawah pangkuan kursi panjang di alun-alun kota ramai. Lalu, bercerita mengenai mimpi-mimpi masa depan untuk selalu bersama.


Omong kosong!


Aku beritahu kau kawan. Cinta itu hal paling munafik yang pernah aku dengar. Semua defenisi dari para filosof tentang bunga hati itu hanya berujung pada titik di mana aku merengkuh sunyi tanpa siapa-siapa. Diam duduk dengan semua kenangan yang bermula pada senyumnya yang manis itu, lalu berakhir ketika pertemuan itu tak berbicara semestinya.


Aku kembali berbalik diri untuk merenungi, apa itu cinta?


Ballroom hotel sejuk dengan pendingin udara besar yang terpasang pada setiap sudut. Orang-orang berbincang satu sama lain mengenai satu cerita masa lampau yang patut untuk dipergunjingkan kembali. Sebagian tempat kosong, orang mulai berdiri di satu titik kumpul yang mesra. Bagi orang yang gak peduli masih setia dengan makanan yang ditambah berkali-kali, masa bodoh dengan formalitas.


Aku berdiri di sudut ballroom sembari memegang gelas piala berisikan anggur nikmat yang menyegarkan pikiran. Jika jiwa bebasku bergejolak, ingin kubakar tembakau pada acara formal seperti ini. Sudah aku bilang, masa bodoh dengan formalitas. Aku tidak peduli, namun aku berusaha ingin menghargai. Standar etikku yang rendah itu sebisa mungkin aku pagar dari ambang estetik yang ingin sekali aku keluarkan.


Seorang wanita menghampiriku. Kacamata bergagang hitam itu semakin kukenal tatkala ia memicing. Gaunnya menyentuh lantai, rambutnya tergerai mesra memikat mata. Aku seketika bergeming, kenangan itu mengingatkanku dengannya.


"Hai, Ariq," ucapnya. "Bagaimana kabarmu?"


"Masih seperti biasanya, membosankan tanpamu." Aku tersenyum.


"Sudah pandai menggoda? Dari mana belajar?" tanya Freya.


Aku meletakkan gelas piala itu. "Dari masa laluku yang diam."


"Sok puitis! Sudahlah, aku benci jika kau mengatakan hal yang seperti itu."


Ia berdiri bersandar di dinding ballroom bersamaku sembari melihat orang-orang yang bergerombol di sana.


"Kau sekarang bekerja di mana?" Ia menoleh.


"Hmm ... 5 tahun sudah kira-kira ya."


"Aku seorang konsultan di sebuah perusahaan," balasku.


"Wah, pekerjaanmu bagus. Hmm ... hidupmu sudah pasti menyenangkan."


Aku menggeleng. "Kau kira kesenangan itu hanya berupa uang?"


"Hmm ... Maksud aku bukan itu. Tentu saja hidupmu lebih bahagia dari sebagian orang di sini."


"Kalau kau? Sudah bahagia?" tanyaku.


Kepalanya turun ke bawah. Bibirnya tetap mempertahankan senyum.


"Aku belum bahagia sebelum petualangan ini berakhir. Masih belum aku temukan titik itu."


"Hey, sudahlah ... untung saja keluargamu kaya. Mau berapa tempat lagi yang kau kunjungi?"


"Petualangan belum berakhir kawan, aku masih ingin mengunjungi banyak tempat, hingga aku sampai di suatu titik akhir. Aku akan berhenti dari semuanya karena aku sudah bahagia."


Entahlah, dari dulu anak itu memang bebas. Bahkan, lebih bebas dariku yang sangat memberontak di tengah pengekangan keluarga saat itu. Wajahnya tak berubah sedikit pun, tetap cerah walaupun berpanas-panasan di bawah terik mentari menanti jawaban. Langkahnya tentu sudah jauh dariku berkat hobinya mengunjungi banyak tempat. Bukan masalah baginya untuk pergi sendirian, yang penting ia bebas walaupun di tengah hutan sekali pun.


Ingin aku beritahu kepada kalian bahwa semua yang terjadi ini merupakan serangkaian cerita yang saling berkaitan. Tepat di mana aku masih sendiri dan hingga sekarang aku masih tetap ingin dipeluk oleh kesendirian. Masa lalu yang sempat membuatku dibuai oleh cerita cinta, hingga masa kini tempat di mana aku berada.


Jauh rangka waktu aku jalankan untuk kalian, berlalu lima tahun ke belakang dari hembusan napas paling terakhir ini. Di mana aku menginjakkan kaki fakultas ekonomi bersama seorang wanita tercantik di masanya. Lekuk senyum yang menyatu pada setiap lawan bicara, menunduk malu ketika ia dipuji, hingga tutur lembut tatkala ia berkata. Langkahnya lambat laksana putri keraton yang berjalan, setiap pria menyapa untuk sekadar berbagi perhatian palsu.


Masih lekat dalam ingatan pada masa-masa itu. Segudang tugas kuliah yang acap kali membuatku termenung. Padahal, renungan tak bisa menyelesaikan masalah jika tangan ini tak mengayun untuk mengerjakannya. Berbagai teori dari dosen gendut berkacamata itu tak pernah membuatku mengerti, penyampaian sok dialektis dari pikirannya yang idealis sering kali menjadi candaanku bersamanya.


"Aku ingin suatu saat bahagia." Ia berhenti di ujung koridor tempat biasanya para mahasiswa berkumpul.

__ADS_1


"Emang kau sekarang tak bahagia?" tanyaku.


"Sudah bahagia, kau selalu ada. Namun itu tak cukup. Bahagia itu flukluatif, kawan," balas Aulia.


"Jangan kau sebut perkataan bapak itu. Flukluatif terlalu tinggi untuk otakku." Aku menarik dua buah bangku untuknya.


Ia menyambut bangku yang kuberikan. Mata kami mengarah pada diskusi mahasiswa yang tengah membahas materi di dekat kami.


"Bahagia itu tak pernah dinamis. Akan naik turun seperti moneter. Hahaha...." Ia tertawa.


"Kau terlalu memerhatikan bapak itu."


"Aulia," ucapku. Aku membuka tas yang kusandang. Sebuah sketsa wajah dirinya yang tersenyum setelah melakukan seminar hasil skripsi beberapa hari yang lalu. Ada suatu yang aku sesalkan, langkahku terlalu jauh untuk mengejar dirinya yang akan lulus. "Selamat ... aku akan menyusul."


Ia menutup mulut tak percaya. Sejauh ini kami berteman dekat, tak pernah aku hadiahkan hal semacam ini padanya. Bibiku yang terpendam, kupaksa untuk keluar demi dirinya.


"Terima kasih sekali!" Ia menyambut hadiahku.


"Tunggulah aku, Aulia. Satu hal yang tak pernah kau ketahui, aku tutup sejak lama," ucapku. "Aku menyukaimu."


Kata cinta tergantung lama tak pernah dijawab. Hanya secercah simbol-simbol membingungkan yang aku nalar darinya. Tak pernah aku katakan cinta, aku takut ia menolakku dengan lembut. Tak pernah aku katakan jika aku sangat ingin memilikinya, aku takut ia akan menggeleng olehku. Satu hal yang aku aku senangi darinya, wanita itu tak pernah menjauhiku yang hina ini. Terhina oleh kerendahan cinta yang tak pernah menyentuhku sama sekali.


"Aku akan menunggumu hingga masa itu tiba." Mata Aulia berkaca-kaca. Ia mengusap air matanya sesaat "Terima kasih sudah bersamaku hingga saat ini."


Hatiku tak bisa berkata-kata. Janji yang terucap akan aku ingat dalam lembaran memori. Kata yang selama bersemayam terucap begitu saja menyiratkan sebuah takdir abu-abu mengenai masa depan. Akankah ia akan menjadi milikku? Atau kepemilikan tak akan pernah menghampiriku. Tulisan hati akan aku kunci dalam janji. Namanya telah lama terukir, tak akan pernah pudar beserta semua kata-kata yang pernah ia ucap. Janji itu, janji itu selalu aku ingat sampai kapan pun.


Janji yang terucap masih ia pegang walaupun ia tak sepenuhnya menjadi milikku. Tatap matanya selalu meninggalkan arti yang berlebih. Senyumnya tak seperti biasa menggetarkan hati ini. Sentuh tangannya yang lembut, sering kali menghampiri pada sela-sela bincang ringan yang kami lakukan. Kebahagiaan sementara ini pun terjadi, aku menikmati apa saja yang terjadi.


Komitmen masing-masing kami genggam dan dijaga untuk tidak dilanggar. Tak menjalin hubungan spesial dengan orang yang begitu spesial, tanpa ada hak memilki satu sama lain. Kami berjalan dengan langkah masing-masing dengan mata yang saling menyorot pada jalan yang berbeda. Sebisa mungkin kami menolak cinta yang datang untuk disisakan pada janji yang pernah diucap.


Sekali lagi yang aku ucapkan padamu kawan. Aku tak sepenuhnya memiliki wanita itu, lebih tepatnya belum memilikinya, walaupun aku berharap suatu saat kami akan saling memiliki. Perlahan defenisi cinta aku dapatkan dari renungan senjaku.


_Cinta tak harus memiliki_.


Adakah cinta yang tak memiliki? Hal itu terjadi padaku dengan dia. Hanya komitmen yang menjaga kami untuk tetap dalam koridor semestinya. Aku tak menganggapnya sebagai kekasih, begitu pula dengannya. Kami saling menunggu satu sama lain, tanpa harus menuntut untuk cinta yang dipaksakan.


Bahagia sekali melihatnya wisuda, sementara aku harus menunggu setahun lagi untuk melakukan itu. Bahagia sekali mendengar berita ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi, sementara aku masih terkatung dengan berbagai hal menyakitkan yang disebut sebagai revisi.


Suatu hari ia membawaku dan teman-teman dekatnya berlibur di sebuah kota dengan garis pantai yang luas. Bertamasya bersamanya cukup untuk menghiburku yang tengah berjuang menyelesaikan studi. Pemikiran yang terhambat oleh pena dosen yang tebal itu, perlahan bisa aku lupakan berkat derap senyum Aulia yang tengah berbahagia. Ia akan melanjutkan studinya ke luar negeri.


"Sebentar lagi kita akan berpisah," ucapku di kamar hotelnya.


"Setiap pertemuan akan selalu ada perpisahan, Ariq." Ia duduk di ranjang. Kakinya melipat ke atas kaki yang lain. "Kita hanya bisa menerima. Aku juga tidak menjamin jika kita akan selalu bertemu seperti ini. Akan ada waktunya kita akan saling berpisah."


"Kau akan menjaga komitmen itu, kan?" ucapku. "Sebentar lagi, tunggulah aku. Aku janji suatu saat akan membuatmu sepenuhnya jadi milikku."


"Ariq," ucapnya. Wajahnya menunduk. "Kau selalu ada di sampingku. Namun, aku juga tidak menjamin jika kita akan bersama suatu hari nanti. Kau berhak mendapatkan orang yang lebih baik dariku."


"Sampai detik ini, kaulah yang terbaik."


Ia menggeleng. "Ariq, bisakah menilai takdir hanya dengan detik terakhir yang kau jalani? Begitu pula aku. Bisa jadi suatu saat aku juga menemukan yang lebih baik."


"Maksudmu, aku bukanlah yang terbaik?" tanyaku. Pertanyaan terdengar ambigu.


"Bukan begitu, mengertilah Ariq ... kita akan menjalani hidup masing-masing. Tidak menutup kemungkinan kau menemukan orang lain di luar sana."


"Aku selalu menjaga komitmen itu. Itulah yang membuatku bertahan hingga saat ini. Seberapa banyak wanita yang mendekatiku berakhir sia-sia. Aku tak pernah menatap mereka demi dirimu."


"Itu karena kau bodoh, Ariq. Kau tak pernah ingin menilai orang lain. Kenapa harus aku?"


Aku terdiam. Kalimatnya tak sampai dinalar oleh pikiranku atas suatu maksud. Dirinyalah yang aku inginkan, bukan orang lain.


"Ada yang berbeda denganmu, Aulia," balasku. "Ada sesuatu yang terjadi?"


Ia menggeleng. Air matanya jatuh sesaat.

__ADS_1


"Aku merasa nyaman denganmu. Kau selalu baik padaku setiap saat. Tak pernah kau mengucapkan kata bohong, selalu jujur padaku. Begitu pula selanjutnya. Entahlah...." Ia berdiri menatap kaca dan mengusap air matanya yang jatuh. "Aku tak merasakan cinta denganmu. Sebuah hubungan harusnya dibangun atas rasa cinta. Ingin aku tarik rasanya komitmen itu."


Aku terdiam dengan segurat raut wajah yang kuanggap sebagai pengkhianatan. Semua momen yang kami lalui selama ini seketika hancur berderai tak bersisa. Senyum yang aku sampaikan padanya, ingin sekali aku tarik karena aku merasa tak sudi tersenyum setelah mendengar kalimat itu. Aku selalu mengedepankan dirinya, namun aku tak tahu jika dirinya tak merasakan hal yang sama. Aku bodoh, aku terlalu naif.


Satu hal yang kini aku simpulkan, ia tak pernah mencintaiku.


Garis pantai lurus bergelimang cahaya redup mentari di sebelah barat. Burung-burung menarik diri dari udara, pulang ke darat menemui keluarganya yang menunggu. Wangi laut kontras kucium beserta suara ombak yang berkali-kali membuatku terisak. Begitu keras, seperti badai yang aku rasakan. Ia menolakku dengan tegas.


Koper aku genggam, sebelah tanganku tertuang segelas anggur untuk melupakan hal yang terjadi. Malam ini tepatnya, aku pulang tanpa sepengetahuannya. Sebuah surat hanya kutinggalkan tepat di depan pintu hotel Aulia yang mengatakan bahwa aku bahagia pernah memilikinya, disertai doa selamat karena ia akan pergi jauh ke negeri orang.


Di balik suara ombak yang berseru, terlihat seorang wanita dengan basah kuyup melangkah ke arahku. Wajahnya merupakan wajah yang kukenal. Ia merupakan salah satu teman yang dibawa oleh Aulia. Sebuah ember ia bawa ke arahku dengan wajah redup membelakangi matahari.


"Wah, kau Ariq temannya Aulia, kan?" tanya wanita itu. Ia menatap aneh sembari menunjuk hotel yang tak jauh dari garis pantai. "Kau ingin pulang sekarang?"


"Aku ingin berkelana," ucapku.


"Wah, seleramu bagus sekali." Ia melangkah jauh ke belakangku dan mengambil sebuah tas besar yang tergeletak di sana. Tidak lama kemudian, ia kembali untuk duduk di sampingku. "Aku suka berkelana."


Aku lihat ember hitam yang berisikan kulit kerang serta beberapa kepiting hidup. Anak ini terlihat aneh, walaupun wajahnya cukup manis.


"Namaku Freya." Ia menjulurkan tangan untuk bersalaman. "Aku teman Aulia dari fakultas lain."


Aku sambut tangannya untuk bersalaman. "Kau sudah tahu namaku, kan?"


"Iya, kau Ariq. Sepertinya kau suka dengan Aulia. Aku melihatnya dari matamu."


"Setidaknya tidak untuk saat ini."


"Wah, kau cukup jujur dengan orang baru. Seharusnya kau mengelak." Ia mengambil alih botol anggur itu, lalu menuangkannya ke mulutnya. Wajahnya kecut dengan pahit rasa air itu. "Anggur? Kau pasti sedang berkelahi dengan Aulia."


"Ia menolakku."


"Hmm ... Aku tidak mengerti soal cinta. Namun, asal kau tahu ... hidup itu tak sekadar cinta. Dunia ini luas, cinta hanya sebagian kecil saja."


Aku melihat kepiting yang bergerak-gerak di dalam ember. "Kau apakan kepiting-kepiting itu?"


Ia mengeluarkan sebuah panci kecil dan kompor mini khas anak-anak pendaki gunung. "Kau lapar? Ayo kita goreng kepiting kecil ini."


"Boleh, tambahkan anggur ini mungkin lezat."


Ia terdiam melihat wajahku. "Sudahlah, kawan ... Kau itu masih muda. Cinta terlalu dini untuk membuatmu terpuruk. Wajah macam apa itu. Pantang sekali orang berbicara padaku dengan wajah murung sepertimu."


Kepiting kecil ia belah dua, lalu dicuci menggunakan air laut. Beberapa kepiting itu direbus lima belas menit sembari menikmati mentari yang mulai tenggelam di barat. Wajan penggorengan mendidih, menimbulkan gemericik yang memancar tatkala kepiting itu digoreng bersamaan. Tangan wanita itu lihai membolak-balikkan menggunakan tangannya yang mungil. Tatkala semuanya sudah selesai, ia memberikan satu padaku untuk dicicipi.


Senyum kami saling beradu dalam redup malam yang sunyi. Wajahnya memandang ke langit setelah mencicipi segelas anggur.


"Kau jadi pergi sekarang?" tanya Freya.


Aku mengangguk. Tidak ada lagi alasan aku untuk bertahan. Habis sudah terburai dalam satu senja.


"Sampaikan salamku pada Aulia." Aku berdiri.


"Oke, itu hakmu." Ia mengangkut barang-barangnya. "Semoga kita berjumpa kembali dengan pilihan masing-masing."


Kami mengakhiri pertemuan dengan sebuah genggaman tangan.


Perpisahan itu meninggalkan jejak memanjang pada hatiku. Berselang lima tahun yang panjang ini, tak pernah terjadi hal menakjubkan selain bekerja secara monoton di kantor. Jejak rasa dalam ungkap rasa kini kubuang jauh-jauh. Benar apa yang dikatakan Freya lima tahun yang lalu, dunia ini terlalu sempit untuk memikirkan cinta. Namun, aku belum menemukan hal besar selain itu, walaupun kuarungi seluruh dunia.


Lima tahun berselang, wajah Freya bertambah dewasa. Kulitnya sedikit coklat berkat berlama-lama di pantai. Tiba-tiba tangannya bertepuk mendengar kumpulan orang tersebut menyambut bucket bunga yang dilemparkan oleh pasangan yang tengah bergenggam tangan di sana.


Aulia tengah berbahagia di sini. Mimpinya untuk bahagia akhirnya terwujud. Ia berada di titik akhir penemuan cintamu. Senyum mereka bermandikan perayaan pernikahan yang bahagia. Sudahlah, aku tak ingin berlarut dalam suasana ini. Orang yang pernah hidup dalam kisahku, kini telah menemukan seseorang yang tepat.


Aku pergi melangkah untuk keluar. Namun, tangan Freya menahanku.


"Ingin mengakhiri petualanganku?"

__ADS_1


Wajahnya menatap dengan harap.


***


__ADS_2