
Angin berhembus membuka beberapa halaman buku sihir, Afra gadis manis bermata bulat sedang duduk bermalas-malasan tertarik, akhirnya mencuri-curi pandang pada buku sihir yang tergeletak diatas bangku disamping Afra duduk. Afra lalu menyalin tulisan dari halaman yang terbuka ke selembar daun kering.
Bukan maksudku untuk mencuri mantra, Ini pemberian dari sang angin. Terima kasih atas anugrahmu angin. Afra menyeringai memasukan daun kering ke saku jubahnya.
Afra merapalkan mantra, ternyata mantra yang ia saling adalah mantra attack berguna untuk menyerang lawan. Saat mantra diucapkan cahaya putih kebiruan mulai keluar perlahan dari telapak tangan Afra. Mulut Afra masih komat-kamit belum selesai merapalkan matra tapi cahaya kebiruan sudah sempurna terbentuk di tangan Afra seperti gumpalan bola cahaya yang besar.
Afra berhenti merapalkan mantra, tangan Afra gemetar sudah tidak kuat menahan energi yang keluar dari tangannya. Afra mulai panik matanya berkaca-kaca takut dengan kekuatan yang ia miliki bisa menyakiti teman-temannya.
Tapi Afra tidak bisa mengendalikan energi yang terus keluar meski dirinya sudah tidak merapalkan matra, tidak ada jalan selain meminta bantuan kepada teman-teman.
"Bagaimana ini ? Teman-teman tolong aku!"
Afra berjalan perlahan mendekati teman-temannya.
Teman-teman Afra terbelalak wajah mereka pucat pasi melihat Afta menghampiri mereka dengan membawa gumpalan besar energi di tangannya.
Afra melangkah menuju teman-temannya meminta bantuan mengendalikan kekuatan itu. Afra tersentak kaget bukan bantuan yang ia dapatkan, melainkan teman-temannya berjalan mundur lalu berlari kocar-kacir mencari tempat persembunyian untuk berlindung dari Afra.
Afra hanya bisa terdiam membeku sambil tetap menguatkan diri agar tidak menangis. Jika Afra menangis bisa saja gumpalan cahaya kebiruan itu meledak membuat dirinya dan teman-teman terluka.
Afra memang mempunyai kelebihan dari teman-teman yang lain. Mantra akan mudah bereaksi ditubuh Afra, penyebabnya karena Afra keturunan murni penyihir putih dan peri pelindung. Sayang karena sifat Arfa yang ceroboh kekuatan itu menjadi kutukan bagi dirinya membuat teman-teman dan penyihir lain menghindari Afra karena sudah beberapa kali Arfa membuat kekacauan sampai teman-temannya hampir kehilangan nyawa akibat ulah Arfa.
Tear menepis tangan Arfa membuat gumpalan cahaya putih kebiruan terlempar jauh ke tengah hutan.
Sudah kubilang jangan main-main dengan kekutanmu. Tear mengomeli Afra.
Afra terdiam memeluk Tear sambil terisak, Afra merasa bersyukur ada Tear yang menolong dirinya kalau tidak ada Tear mungkin Afra sudah jadi abu. Memang hanya pria ini yang selalu ada disampingnya.
BUMMMMMM..
Terdengar suara ledakan besar bersamaan dengan Cahaya yang menyilaukan mata dari arah hutan disusul getaran yang hembat sampai ke tempat Afra berada.
Para Penyihir senior menghampiri Arfa memperingatkan supaya Afra tidak mempelajari mantra yang berbahaya. Penyihir Senior membubarkan acara berlatih semua kembali ke rumah mereka menyisakan Afra dan Tear.
Ayah Tear kepala penyihir senior memberi hukuman pada Afra yang sudah ceroboh dan menghukum Tear juga karena sudah lalai mengawasi Afra hingga hampir terjadi tragedi. Mereka harus mengecek kerusakan dari hasil kecerobohan Afra dan memperbaiki semuanya.
Sejak kecil Tear sudah mendapatkan tugas untuk mengawasi Afra. Bila bukan karena mendapat tugas langsung dari Ayahnya Tear mungkin seperti teman-teman yang lain menghidar dan menjauh dari biang kehancuran yang bernama Afra.
Tear dan Afra berjalan menuju hutan hendak memeriksa separah apa hasil dari kecerobohan gadis ini. Tear merapalkan mantra cahaya, mantra selesai dirapalkan muncul cahaya kecil melayang di udara menyinari perjalanan mereka.
Malam sudah makin larut binatang malam keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Afra terus memegangi jubah Tear karena ketakutan sesekali Afra menyembunyikan wajahnya ke punggung Tear saat ada suara gemerisik padahal itu hanya suara daun yang diterpa angin.
Mereka sampai di lokasi anehnya tidak ada kerusakan dihutan padahal ledakan sangat dahsyat.
"Ahhhhhhhh."
Afra berteriak ada sesuatu yang menarik jubahnya. Afra berbalik ada sesosok pria yang berbaring memakai jirah yang sudah terkoyak berlumuran darah. Tear memeriksa tanda kehidupan pada pria itu.
"Pria ini masih hidup. Lihat betapa dahsyat kekuatanmu, untung pria ini memakai jirah bila tidak sudah ku pastikan pria ini sudah ada di alam baka. Afra aku sudah bilang beberapa kali belajar mantra pengendali dan mantra pengikat saja jangan belajar mantra lainnya. Apa kamu anggap ucapanku hanya kumur-kumur?"
Tear geram dengan gadis ini, selalu membuatnya ada dalam kesulitan karena sikap ceroboh nya.
"Aku sudah menguasai semua mantra pengikat, tapi untuk mantra pengendali itu masih sulit. Aku bosan, Aku juga ingin seperti yang lain belajar mantra attack dan mantra pelindung. Kenapa ayah dan ibu harus tiada sebelum aku dewasa. Bila mereka masih ada Aku pasti di ajari cara mengendalikan kekuatan sialan ini."
Afra cemberut sambil mengoceh mengeluarkan semua keluh kesahnya. Senyum Tear tertahan menyisakan sedikit gerakan di bibirnya. Tear merasa gemas dengan Afra melihatnya berbicara sendiri mengoceh tiada henti menjadi penghibur saat kesulitan bagi Tear. Andai saja Afra lebih pendiam dan mengurangi sedikit saja kecerobohannya mungkin Tear sudah mengungkapkan perasaannya kepada Afra yang sudah lama Tear pendam di hati.
Tear membopong pria yang terluka membawanya ke rumah Afra. Tear tidak mungkin membawa ke rumahnya urusan akan panjang bila ketahuan Ayah Tear. Rumah Afra sangat aman karena jauh dari rumah penyihir yang lain ditambah Afra hanya tinggal sendiri.
Tear mengobati luka-luka pria tidak dikenal itu, Afra hanya mamandangi wajah Tear yang tampan, sikapnya yang baik dan cekatan membuat Afra terpesona. Ingin rasanya menjadikan Tear miliknya, tapi itu hanya mimpi Afra, dirinya sadar siapa Tear dan siapa Afra. Tear tidak mungkin menyukai Afra yang ceroboh. Mencintai dalam diam sudah cukup bagi Afra.
Hati Afra perih bila mengingat pandangan orang-orang memandangnya seperti moster pembawa sial. Mengacuhkan dan menghindari Afra secara terang-terangan seperti Afra wabah penyakit menular. Afra tidak mau membuat Tear lebih kesulitan karena dirinya.
Tear pamit pulang meninggalkan Afra berdua saja dengan pria yang tidak dikenal. Tanpa sadar Afra yang kelelahan tertidur disofa.
Cahaya mentari masuk melewati jendela rumah menyinari wajah Afra mengusik tidurnya, Afra terbangun mengucek-ngucek matanya memfokuskan penglihatan. Afra terperanjat bangun sosok pria yang tidak dikenal menghilang.
Afra mencarinya ke seluruh ruangan yang ada dirumah, pria itu tidak ada, Afra berlari ke luar rumah sampai di tepi danau matanya mengenali sosok yang sedang berdiri didalam air dengan baju yang transfran karena basah hingga otot dada dan perutnya terlihat dengan jelas sedang membasahi lukanya.
Afra tersadar kembali dari pikiran mesumnya menutup hidungnya yang mimisan. "Tuan bisakah anda keluar dari air, Luka tuan belum kering tidak boleh kena air!" Afra memberi peringatan kepada pria yang baru dikenalnya.
Pria itu menuruti Afra keluar perlahan dari air menghampiri Afra.
Deg.. Deg.. Deg..
Jantung Afra berpacu lebih cepat sampai suaranya bisa terdengar melihat pria itu menghampirinya. Pria itu mengusap sisa darah diatas bibir Afra lalu merengkuh wajah Afra. Afra hanya terpaku dengan apa yang dilakukan pria itu. Tiba-tiba wajah Afra terasa panas bersamaan dengan perubahan iris mata pria itu yang tadinya hitam pekat menjadi merah darah.
"Panggil Aku Fawwaz." Titah pria itu.
"Fawwaz". Afra menuruti titah pria itu.
Afra seperti terhipnotis saat mata coklat Afra bertemu dengan mata merah Fawwaz. Kabut pekat menyelubungi mereka berdua, Fawwaz menyerap energi Afra untuk menyembuhkan lukanya. Perlahan luka di tubuh fawwaz menghilang tanpa bekas sedikitpun seperti luka-luka itu memang tidak pernah ada.
"Siapa nama mu penyihir ?"
__ADS_1
Afra tersadar mendengar suara barito Fawwaz yang berat tapi halus. Mendengar suaranya saja Afra sudah terkesima seperti memang suara itu yang selama ini Afra rindukan.
"Afra Naila." Jawab Afra singkat
"Siapa yang memberimu nama itu ? Bila kamu bertemu dengan sesuatu yang sepertiku lagi jangan pernah menyebutkan nama mu !". Fawwas memperingati Afra.
"Memang kenapa dengan namaku? Kenapa tidak boleh diucapkan? Kenapa fawwaz menyebut sesuatu bukan seseorang?"
Afra melontarkan beberapa pertanyaan pada Fawwaz sambil terus mengekori Fawaaz dari belakang masuk ke dalam hutan.
"Bangsaku menginginkan manusia yang lahir di malam 13 bulan purnama. Itu arti dari namamu sepertinya seseorang sudah memberimu tanda, agar memudahkan bangsaku menemukan mu. Bangsaku bukan manusia tidak bisa dipanggil seseorang. Demon itu julukan yang manusia berikan pada bangsaku." Jelas Fawwaz.
Afra tidak mudah mencerna penjelasan dari Fawwaz termenung memikirkan apa yang diucapkan Fawwaz. Afra tidak percaya dengan penjelasan Fawwaz karena nama itu diberikan oleh ketua penyihir secara langsung. Tidak mungkin ayah Tear punya maksud buruk pada dirinya.
"Sial.. Aku tidak bisa kembali ! Pelindungnya retak karena ledakan semalam." Fawwaz mendengus kesal.
Afra kebingungan kenapa Fawwaz menyentuh udara dan sepertinya kesal karena sesuatu tidak berjalan dengan keinginannya.
"Bawa aku pada penyihir putih Edora !" Fawwaz memutar arah menuju kota Penyihir.
"Penyihir putih Edora. Jangan bercanda untuk apa bertemu dengan ibuku. Ibuku sudah lama meninggal." Afra menepuk punggung Fawwaz.
Fawwaz hanya terdiam pikirannya melayang “bagaimana Edora bisa meninggal harusnya dia makhluk abadi. “
Penyihir putih murni sama seperti bangsa demon mereka abadi dan memiliki energi spesial yang tersimpan dalam tubuhnya.
Penyihir putih tidak seperti penyihir pada umumnya harus merapalkan mantra dan membuat ramuan obat-obatan. Penyihir putih sudah memiliki bakat itu semenjak mereka dilahirkan.
Fawwaz terdiam memandangi Afra dari atas sampai bawah. Wajah Afra memang mirip Edora tapi Fawwaz tidak merasakan energi yang seharusnya dimiliki oleh penyihir putih.
"Bawa Aku ke penyihir putih selain dirimu." Fawwaz memerintahkan kembali.
Afra hanya tertawa mendengar keinginan Fawwaz yang seperti datang dari masa lalu sampai ketinggalan bayak Informasi.
"Sayang sekali aku satu-satunya penyihir putih yang ada didunia ini. Setelah pembantaian penyihir putih oleh raja Demon tidak ada yang tersisa lagi kecuali Aku."
Fawwaz sangat terkejut mendengar penjelasan dari Afra. "Sebenarnya berapa lama Aku tertidur.. Apa yang telah dilakukan kakakku sampai membantai penyihir putih.. Apa ini ada hubungannya dengan serangan yang semalam terjadi saat kebangkitanku.." Fawwas tergelam dalam pikirannya.
Sudah sampai didepan balai penyihir Afra menutup kepala Fawwaz dengan hodi dari jubah yang Fawwaz pakai. Afra juga meminta agar fawwaz mengembalikan iris matanya menjadi hitam saat ini para penyihir menjadikan bangsa demon sebagai musuh. Bila ada yang melihat Fawwaz dalam mode demonnya bisa-bisa terjadi pertumpahan darah.
Fawwaz menuruti permintaan Afra, seketika iris mata merahnya berubah menjadi hitam pekat kembali. Tanpa diduga kehadiran Fawwaz sudah disambut oleh para penyihir senior yang sudah berkumpul di balai.
Para penyihir membungkuk dihadapan Fawwaz. Arfa dan Fawwaz saling bertatapan bingung dengan apa yang terjadi.
Wajah Afra pucat tangannya bergetar mendengar perkataan ayah Tear. Bagaimana kalau para penyihir mengetahui kalau yang ada dihadapannya demon bukan Yang Mulia Caos. Saat para penyihir senior masih membungkuk Afra menarik sedikit jubah Fawwaz supaya mendekatkan telinganya, Afra ingin membisikan sesuatu.
"Sepertinya mereka salah orang, mengira kamu sebagai Penyihir Menara. Bagaimana ini?" Afra berbisik pelan.
"Kalau mereka mengira seperti itu Aku bisa menjadi Penyihir Menata untuk mereka." Fawwaz berbisik ke telinga Afra.
Afra mundur tiga langkah menghindari Fawwaz. Para penyihir akan curiga bila Afra terlihat akrab dengan Fawwaz sekarang Fawwaz menjadi Yang Mulia Caos sang Penyihir Menara.
"Bangkitlah." Fawwaz menyuruh Para penyihir untuk menghentikan salam penghormatan pada dirinya.
Fawwaz langsung dibawa ke dalam oleh Para penyihir sedangkan Afra tidak bisa ikut masuk ke dalam karena tempat itu tempat terlarang baginya. Tear langsung menghampiri Afra.
"ulah apalagi yang kamu lakukan sekarang ?"
Tear langsung mengenali Fawwaz tadi, tapi Tear tidak bisa membantah ucapan Ayahnya.
Afra hanya menggaruk lehernya sambil tertawa lalu menceritakan bahwa pria yang di tolong oleh mereka semalam ternyata bangsa demon. Fawwaz tidak bisa kembali ke tempat dia berasal karena pelindungnya retak jadi sekarang Fawwaz berada disini hanya untuk mencari tahu bagaimana caranya agar Fawwaz bisa kembali ke tempat asalnya.
Sudah beberapa hari berlalu seperti biasa Afra hanya bisa duduk bermalas-malasan sambil asik berbincang dengan Tear sembari menyaksikan para penyihir lain belajar beberapa mantra pelindung.
"Sudah lihat Yang Mulia Caos. Yang Mulia Caos benar-benar tampan, Penyihir Menara memang berbeda. Saat melihat iris matanya yang hitam pekat saja sudah membuatku mabuk kepayang apalagi kalau bisa berbicara dengannya Ahhhh.. Aku benar-benar jatuh cinta pada Yang Mulia Caos."
Para perempuan berbisik-bisik membicarakan Fawwaz, Afra yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka hanya mengangguk setuju dengan apa yang dibicarakan mereka.
Fawwaz berjalan mendekati Afra terdengar riuh penyihir yang lain membicarakan Afra.
"Kenapa tidak mengunjungiku ?"
Fawwaz menarik tangan Afra membawanya masuk ke balai penyihir. Afra menahan sekuat tenaga dan menarik jubah Fawwaz agar menoleh kebelakang dan menghentikan langkah kaki Fawwaz membawa Afra menuju balai Penyihir.
"Afra bagaimana Kamu bisa tidak sopan pada Yang Mulia Caos. Bisa-bisanya kamu menarik jubah Yang Mulia Caos." Bentak Matador salah satu penyihir senior.
Afra menarik paksa tangannya dari genggaman Fawwaz sampai tangan Afra terluka tergores kuku Fawwaz. Afra langsung bersujud minta ampun atas ketidak sopanan dirinya lalu bergerak mundur dan berlari tunggang langgang menjauh dari Fawwaz.
"Anak itu benar-benar tidak punya sopan santun. Yang Mulia Caos sebaiknya menghindari Afra karen gadis itu akan mendatangkan kesialan bagi Yang Mulia Caos bila berada didekatnya." Matador memberi penjelasan pada Fawwaz.
"Aku ingin tahu kesialan apa yang akan Afra bawa padaku. Mulai sekarang Aku tidak perlu dikawal dan jangan pernah mencampuri urusan pribadiku Matador." Fawwaz berlalu meninggalkan Matador mengejar Afra.
Afra sedang menggambar lingkaran sihir di tanah dengan santai nya Fawwaz berdiri didepan Afra.
__ADS_1
"Yang Mulia Caos tolong bergeser saya sedang menggambar !"
Afra mendorong kaki Fawwaz agar bergeser dari tempatnya namun Fawwaz tidak bergerak sedikitpun, Fawwaz menghentakkan kakiny ke tanah muncul lingkaran sihir di udara.
"Tidak perlu bersusah payah menggambarnya cukup pikirkan di kepalamu lingkaran sihir akan muncul dengan sendirinya jangan membuat sulit hal yang mudah."
Afra terkagum-kagum dengan kemampuan Fawwaz. Afra memohon agar Fawwaz mau mengajarinya, Fawwaz mengabulkan permohonan Afra. Afra meloncat kegirangan permohonannya dikabulkan Fawwaz.
Hari-hari Afra disibukan dengan berguru pada Fawwaz sampai lupa pada Tear. Tear juga merasa lebih santai dan tenang apalagi ayahnya sudah membebaskan tugasnya mengawasi Afra karena Afra akan diawasi langsung oleh Yang mulia Caos.
Tear lebih memilih menghabiskan harinya membaca beberapa buku sihir diperpustakaan. Tear tidak menyadari posisinya dihati Afra perlahan terganti oleh Fawwaz. Afra dan Fawwaz menjadi lebih dekat, Fawwaz menunjukan sifat alinya didepan Afra ternyata Fawwaz tidak semisterius penampilannya bahkan Fawwaz lebih cerewet dari pada Afra.
Afra merasa sangat terbantu dengan adanya Fawwaz setiap Afra melakukan hal ceroboh Fawwaz hanya terkekeh, seperti itu hal yag sangat lucu padahal kecerobohan Afra membuat Fawwaz terluka beberapa kali.
"Hey Afra kenapa berhenti cepat lanjutkan latihannya!".
Fawwaz menepuk-nepuk kepala Afra sambil memamerkan seringai sensualnya. Air mata Afra bercucuran terharu dengan sikap Fawwaz yang lembut, Afra belum pernah diperhatikan seperti itu oleh seseorang.
“Aku tidak mau latihan lagi.. Aku membuat Fawwaz terluka. Afra menunduk sedih.
“Ini tidak seberapa bahkan kecerobohan Ayahmu lebih parah. Amparo membuatku tertidur beberapa tahun karena ulahnya. Fawwaz berjongkok menyeka air mata Afra.
Kamu kenal Ayahku juga ? Ayo ceritakan bagaimana kalian bisa saling mengenal? Afra memasang wajah memohonnya.
Fawwaz bercerita beberapa puluh tahun yang lalu saat dirinya dilantik oleh ayahnya menjadi kesatia penjaga perbatasan Fawwaz bertemu dengan Amparo seorang peri pelindung.
Fawwaz menjadikan Amparo murid pertama dan membuat benteng pelindung agar bangsa demon yang berhati jahat tidak bisa masuk ke wilayah penyirih begitu sebaliknya dengan penyihir yang hatinya tidak bersih tidak bisa masuk kewilayah demon. Tapi akibat kecerobohan Amparo saat membuat lingkaran sihir mengakibatkan Jiwa Fawwaz terkunci dibenteng pelindung dan tubuhnya tertidur.
Berkat kecerobohanmu yang merusak benteng pelindung aku terbebas jiwaku kembali masuk ke tubuhku tetapi saat Aku terbangun ada pasukan demon yang langsung menyerangku hingga diriku terluka, aku berlari sampai tidak sadarkan diri di tengah hutan.
Saat mereka sedang asik bercerita terdengar bunyi terompet, Matador menghampiri Fawwaz melapor bahwa bangsa demon sudah berhasil menghancurkan benteng pelindung. Raja Demon sudah membawa pasukan naganya bersiap menyerang para penyirih diperbatasan. Fawwaz bergegas pergi meuju perbatasan Afra membuntuti dari belakang.
Diperbatasan kobaran api dimana-mana Para Penyihir Senior sedang bertarung dengan pasukan Demon. Afra bisa melihat Tear sedang kesusahan dikepung pasukan naga, Afra mergegas membantu Tear.
Afra bantu aku kendalikan naganya!. Teriak Tear.
Afra berkonsentrasi merapalkan mantra pengendali dan mempraktekkan yang di ajarkan Fawwaz mengeluarkan energi dari tubuhmya mengunci pandangan naga dan mengendalikannya. Afra berhasil satu naga berhasil ia kendaklikan.
Di sisi lain pandangan Fawwaz langsung tertuju pada pemimpin pasukan demon. Ternyata pemimpin pasukan demon Ghadi kakak kandung Fawwaz mode demon fawwaz aktif. Iris mata Fawwaz berubah merah, sayap hitam keluar dari punggungnya. Fawwaz terbang ke arah Ghadi, menghantamkan pedang berkobar aura api hitam, Ghadi menahan hantaman pedang Fawwaz dengan pedang beraura api merah miliknya. Terjadi pertarungan sengit diudara antara Fawwaz dan Ghadi.
Apa yang kakak inginkan ? Teriak Fawwaz sambil mengayunkan pedang ke arah Ghadi.
“Aku menginginkan Kekuasaan, Jangan halangi aku Fawwaz ! atau Aku akan membinasakanmu seperti ayah kita dan para Penyihir Putih yang berani menghalangi jalanku.
Ghadi mengunci gerakan Fawwaz sulur api merah menyelubungi tubuhnya , Fawwaz meronta mencoba melepaskan diri dari kurungan kakaknya. Ghadi mendekatkan dirinya, menempelkan keningnya ke kening Fawwaz.
Fawwaz bisa melihat bayangan bagaimana kakaknya melakukan pemberontakan dengan terlebih dahulu melenyapkan para penyihir putih dan merebut kekuatan api suci dari Edora. Dan bagaimana pengorbanan Edora dan Amparo melindungi jiwa Fawwaz yang masih terkunci di benteng dari Ghadi sampai mengorbankan keabadian mereka dan gugur. Ghadi menggunakan kekuatan api suci untuk menggulingkan ayahnya dan membunuhnya saat Fawwaz masih tertidur serta melenyapkan Yang Mulia Caos dan saat ini mengincar Afra Naila penyihir putih yang terlahir saat 13 purnama.
Ghadi membangkitkan kekuatan demon yang terkubur dalam diri Fawwaz, kekuatan Fawwaz yang sesungguhnya. Kesadaran Fawwaz tiba-tiba menghilang saat kekuatan demonnya bangkit dan menguasai dirinya.
Adikku Fawwaz Putra Demon, Aku Ghadi Putra Demon Sang Penguasa Kerajaan Demon membuka pengunci kekuatan demon yang ada dalam dirimu dengarkan perintahku jadilah abdiku yang setia bunuh Afra Naila sebagai bukti kesetianmu padaku.
Ghadi berteriak merapalkan mantra kabut hitam menyelubungi medan pertempuran. Fawwaz yang sudah dikendalikan kekuatan demon membungkuk pada Ghadi memberi hormat lalu terbang ke arah Afra.
Fawwaz mengayunkan pedang ke arah Afra, pedang Fawwaz ditahan kekuatan Tear. Fawwaz dan Tear beradu kekuatan.
Kendalikan Fawwaz Afra. Teriak Tear masih sibuk menahan kekuatan Fawwaz.
Afra merapalkan mantra pengendali dan mengeluarkan energi dari tubuhnya, Afra menatap mata Fawwaz tapi tidak berpengaruh mantra pengendali tidak berhasil pada Fawwaz. Fawwaz masih membabi buta menyerang Tear dan para Penyihir senior yang lain. Tear dan para Penyihir Senior kewalahan menghadapi kekuatan Fawwaz mereka terpelanting jauh akibat hembusan Pedang Fawwaz. Fawwaz berjalan santai ke arah Afra yang gemetar ketakutan.
Gunakan Mantra Pengunci, Ikat dia dengan Jantungmu. Teriak ayah Tear.
Aku tidak Izinkan kamu melakukan itu. Teriak Tear lalu memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Afra melihat Tear memuntahkan banyak darah tidak punya pilihan lain selain melakukan hal yang diperintahkan ayah Tear untuk melindungi Tear. Afra merapalkan mantra pengunci lingkaran sihir muncul di udara di atas Fawwaz.
Aku Afra Naila Penyihir Putih mengunci Fawwaz Putra Demon, Mulai saat ini Jantungku terhubung dengan jantungmu tidak ada yang bisa memisahkan ikatan ini selain kematian.
Afra selesai mengucapkan Ikrar lingkaran sihir mengunci Fawwaz, keluar cahaya yang menyilaukan mata dari lingkangkaran sihir menerjang Fawwaz, Fawwaz tersungkur begitu juga Afra. Mantra pengikat berhasil, Afra sekarang bisa merasakan detak jantung Fawwaz. Afra bisa melihat pikiran Fawwaz kilasan bayangan saat pertama meraka bertemu, senyuman bahagia Fawwaz melihat kecerobohan Afra sampai rasa cinta yang mulai tumbuh dihati Fawwaz.
Rasa sakit tiba-tiba menerpa, Afra tersadar pedang Fawwaz sudah bersarang didadanya. Afra merengkuh wajah Fawwaz.
Sadarlah Fawwaz.. Ini Aku Afra orang kamu cintai. Afra menitikan air mata kemudian matanya terpejam.
Air mata Afra menetes bukan karena sakit dadanya terhunus pedang melainkan sakit karena baru mengetahui Fawwaz juga mencintai Afra disaat terakhir kehidupannya. Air mata Afra menyadarkan Fawwaz.
Fawwaz tersadar menarik pedang yang menancap didada Afra kemudian mengumpulkan Kekuatan terakhir yang dimiliki Fawwaz untuk mengunci pasukan demon lalu mengayunkan pedang hingga pasukkan demon terhempas ke balik benteng pelindung yang retak.
Fawwaz berjongkok mengelus lembut wajah gadis yang sangat dicintainya, Fawwaz bersedih sampai air mata Fawwaz menetes. Perlahan tubuh Fawwaz berguguran menjadi ribuan kupu-kupu hitam, terbang kemudian hinggap diretakan benteng pelindung. Menjelma menjadi benteng pelindung yang baru lebih kokoh dari sebelumnya sampai para demon tidak bisa melewatinya bahkan terpelanting saat mencoba mendekati benteng pelindung.
Tear berlari menghampiri tubuh Afra yang sudah tidak bernyawa mendekapnya erat kepelukannya. Tear hanya bisa menangis menyesali kesalahannya tidak bisa melindungi Afra dengan segenap jiwanya.
The End.
__ADS_1