
Semua manusia punya porsi hidup yang sama, semua memiliki keberuntungan dan kesialan yang sama. Tidak berbeda, hanya saja waktu mendapatkannya yang membuat tak lagi sama. Ada yang lebih cepat, namun ada pula yang begitu lambat. Ada yang diketahui dan ada yang tidak disadari.
Begitu pula dengan diriku.
Belum genap seminggu ayahku pergi meninggalkanku. Sebelumnya, ayah memang sudah melawan penyakitnya bertahun-tahun. Membiarkan dirinya hidup tanpa bantuan obat. Itu semua terjadi dengan murni karena memang kemauan ayahku.
"Jika sakit selalu dibantu dengan obat, maka kapan kita bisa percaya bahwa kuasa Tuhan itu nyata?" begitu ucapnya setiap kali bundaku memberikan obat.
Ayahku memang termasuk orang yang tidak neko-neko. Untuk urusan apapun, kalau bisa semuanya serba dikerjakan dengan simpel namun selesai dan sesuai. Begitu pula jika aku memaksanya untuk minum obat. Ada jawaban lagi darinya.
"Minum obat hanya akan membuat organ tubuh menjadi manja. Lalu ginjal akan semakin bekerja keras untuk mencerna semua obat yang kau makan."
Hanya itu ucapannya, namun jika dipikirkan lagi, semua itu logis. Hanya kitanya saja yang selalu membuatnya ribet dan rempong.
Penyakit itu adalah gangguan saluran pernapasan. Memang sudah terlalu kronis. Ya wajar saja, dulu ayah seorang perokok aktif. Bunda pernah bercerita, jika dulu saat masih pacaran dengan ayah, mereka pernah berpisah cuman gara-gara hal sepele, yaitu rokok.
Bunda membeci asap rokok. Karena setiap kali sehabis pulang berkencan dengan ayah, bunda selalu dimarahi oleh oma dan opa. Mengapa? Karena pakaian bunda selalu bau asap rokok. Hingga akhirnya bunda sampai tak tega, menyuruh ayah memilih, antara dirinya atau selinting tembakau itu.
Tapi tentu saja ayah lebih memilih tembakaunya. Mereka berpisah cukup lama, hingga akhirnya dipertemukan lagi saat mereka sudah sama-sama memiliki pekerjaan. Kemudian mereka saling berjanji, untuk membantu ayah agar bisa terlepas dari tumbuhan yang mematikan dengan perlahan itu.
Hingga akhirnya aku lahir. Perlahan ayah mengurangi konsumsi rokoknya untuk menjagaku. Agar aku dapat menghirup segarnya udara dunia ini. Kemudian tiba-tiba saja ayah sakit, setelah dilakukan pemeriksaan, ayah di vonis memiliki penyakit saluran pernafasan yang sudah kronis, ISPA namanya. Sejak saat itu, bunda menerapkan pola hidup sehat pada kami, hingga sekarang.
Hari-hari kami lewati tanpa ayah, membuat hubunganku dengan bunda menjadi semakin menjauh. Bunda menjadi lebih sering berada didalam kamarnya. Terkadang ku dengar suaranya menangis, terkadang ku dengar sepi dari balik pintu kokoh buatan ayah.
Ya, ayahku memang suka membuat sesuatu dari bahan dasar kayu. Tidak hanya pintu kamar, ayah bahkan membuat sendiri lemari kecil untuk pajangan keramik mini di dalam kamar mandi. Banyak tamu yang berkunjung dan selalu mengagumi itu saat mereka permisi meminjam kamar mandi.
Tak hanya itu, taman-taman di sekeliling rumah pun dikerjakan sendiri oleh ayah. Ia merapikannya setiap hari. Bahkan terkadang aku pernah melihatnya berbicara dengan beberapa tanamannya.
"Kau tumbuhlah yang sehat, hasilkan bunga-bunga yang indah bermekaran. Dan kau pohon mangga, hasilkan buah yang berlimpah, agar seluruh tetanggaku dapat merasakan buahmu." Begitu kira-kira ucapan ayah jika sudah mulai menyirami atau menyentuh tanamannya.
Berbeda dengan bunda, ia hanya mengagumi betapa indahnya bunga yang ada di taman sekitar rumahnya, tanpa mau merawatnya. Mengapa? Karena bunda bekerja. Tapi jangan salah, ayahku juga bekerja, seorang Kurator. Pekerjaan ayah lebih fleksibel, hingga ayah memiliki banyak waktu untuk berada di rumah. Sampai akhirnya ayah terkena serangan jantung.
Malam itu...
Hanya ada aku dan ayah dirumah. Setelah kami selesai makan malam, aku membantu ayah untuk mencuci semua peralatan makan yang tadi kami gunakan. Sedangkan ayah, membuat seteko kopi hitam panas, kemudian membawanya ke ruang kerjanya. Lengkap dengan dua buah cangkir di tangannya yang satunya lagi.
Selesai sudah pekerjaanku, dapur dan meja makan sudah juga ku bersihkan, "Kinclong!!" seru ku dengan bangga, melihat semua telah kembali rapi.
Aku segera menyusul ayah ke ruang kerjanya. Biasanya ayah akan sangat sibuk disana dan aku hanya bisa duduk dikursi kerajaanku. Kursi yang dibuatkan ayah, khusus untukku.
"Ayah, malam ini apa lagi yang akan diteliti?" tanyaku seraya duduk di kursiku sambil meraih sebuah buku dari raknya.
"Sebuah galeri ingin Ayah memilih beberapa lukisan yang bagus untuk mereka pajang saat pagelaran," ucapnya yang sudah mulai melakukan pekerjaannya.
Aku mengangguk dan kembali duduk manis sambil membaca sebuah buku novel favoriteku. Aku terhanyut akan kisah dalam buku itu hingga aku tidak menyadari lagi jika suasana ruangan itu telah menjadi hening. Tak ada lagi suara berisik kecil yang ayah hasilkan. Dengan rasa penasaran dan dengan buku novel yang masih ku pegang, aku segera menoleh dari balik sandaran kursiku yang begitu besar.
__ADS_1
Aku tersentak!!
Setengah tubuh ayah tergeletak diatas meja. Antara takut dan panik, aku berdiri mendekati perlahan sambil memanggilnya.
"A-ayah? Yaah?" Ku sentuh pundaknya, tak ada jawaban.
Apa mungkin ayah tertidur?
Tapi masa tertidur dengan pipi menempel lukisan?
Apa sebegitu cintanya dia dengan lukisan ini?
Kali ini ku coba untuk menggoncang bahu ayah sambil memanggilnya, namun nihil. Segera aku berlari keluar, menuju ke ruang keluarga, meraih telepon yang berada di atas buffet, mendial nomer ponsel bunda.
"Bunda!! Ayah tidak mau bangun, aku sudah memanggilnya berkali-kali," teriakku panik saat bunda menjawab teleponku.
Ku ikuti arahan bunda untuk segera melakukan pertolongan pertama pada ayah, setelah kami selesai berbicara. Sedangkan bunda akan menelpon pihak emergency, serta menelponkan tetangga kami untuk segera membantuku, sementara bunda menyusul untuk segera pulang.
Aku kembali berlari menuju ruang kerja ayah. Dengan segenap kekuatan, ku coba untuk menarik tubuh ayah agar tersandar pada sandaran kursi. Kemudian ku peluk tubuh ayah, ku angkat, lalu ku dorong kursi kerja berodanya agar terlepas dari bokongnya. Perlahan ku bungkukkan tubuh ayah dengan kaki ku sebagai tumpuan. Ayah sudah dalam posisi duduk di lantai, lalu ku rebahkan tubuhnya dengan sempurna.
Kata bunda posisi rebahan ini akan membantu penapasan ayah. Berkali-kali aku memanggilnya, tapi tetap saja tidak aja tanda-tanda bahwa ayah akan segera membuka matanya. Ku lihat bagian dadanya, masih naik-turun dengan perlahan, tandanya ayah masih bernapas!
Sedangkan aku, napasku tersengal, aku mencoba mengatur ritme napasku. Kini sekujur tubuhku telah bermandikan dengan keringatku sendiri. Dipipi ku, air keringat dan air mata telah menjadi satu kesatuan, menetes di ujung dagu ku. Aku ketakutan. Terduduk lemas tak berdaya, melihat kondisi ayah seperti itu.
Baru beberapa menit ayah ditangani oleh Dokter. Tiba-tiba seorang lelaki paruh baya, keluar dari balik pintu yang memisahkanku dengan ayah.
"Maaf, keluarganya mana?" tanya lelaki yang menurutku dia adalah Dokter, dilihat dari pakaiannya.
"Bunda sedang di jalan. Ayahku kenapa, Dok?"
Dokter itu hanya tersenyum mendengar pertanyaanku. Kemudian dia berbicara dengan kedua tetangga yang sedari tadi memang membantu dan menemaniku. Mereka sepasang suami istri. Sang Dokter memberitahukan, jika ayahku telah tiada. Kemudian tiba-tiba saja mereka saling berpelukan, sang istri menangis sendu dipelukan sang suami.
Aku tercengang. Air mata ku seakan habis, aku tidak mampu lagi untuk menangis. Napasku memburu, semakin tak beraturan. Sang Dokter masih saja berbicara pada kedua tetanggaku itu, namun pemikiranku telah kacau. Tidak dapat lagi ku dengar apa yang dikatakan oleh Dokter itu.
Duniaku serasa hancur. Hanya ayah yang selama ini menemaniku di rumah selepas aku pulang kuliah. Banyak hal yang belum ayah ajarkan padaku. Banyak kata yang belum sempat aku ucapkan pada ayah. Bahkan untuk mengatakan 'aku mencintainya' pun, aku belum sempat..
Kemudian sepasang tetanggaku itu pergi untuk membawa ku pulang, agar semua proses pemakaman ayah dapat di persiapkan. Mereka juga menelpon bunda untuk memberitahukan itu. Sedangkan aku hanya bisa termenung duduk di kursi belakang mobil mereka.
Pemakaman telah rampung.
Para tamu satu persatu telah berpamitan untuk pulang. Aku bahkan tidak bisa mengingat siapa saja mereka yang telah tersenyun denganku serta membungkukkan tubuhnya, hanya untuk sekedar mengucapkan rasa bela sungkawanya.
Bunda pun saat itu ada. Namun ada sesuatu yang kurasa aneh. Dia seakan menjauhiku. Semakin hari semakin menjauh, bahkan untuk sekedar makan semeja denganku saja ia enggan.
Setelah ayah meninggal, aku hanya berdua dengan bundaku di rumah ini. Sejak pagi hingga siang hari, ku habiskan waktu untuk kuliah. Sorenya, aku sengaja mengambil mata kuliah tambahan atau hanya sekedar duduk di kampus hingga petang. Di perpustakaan membaca buku.
__ADS_1
Sedangkan bunda, juga melakukan hal yang sama, pagi pergi ke kantor hingga malam hari. Bertemu denganku di dapur hanya untuk mengambil minum, kemudian ia segera masuk ke kamarnya. Tanpa menatapku, tanpa menyapaku atau bahkan tanpa tersenyum kepada ku.
Sepertinya aku menjadi wanita paling sial di dunia ini. Kehilangan satu-satunya ayah dan kini bunda pun menjauhiku. Entah apa penyebabnya, aku tidak tahu. Sulit sekali untuk ku, mencari timing yang pas hanya untuk sekedar mengobrol dengan bunda. Setiap ku sapa, bunda mengacuhkanku. Bahkan terkesan tak mau tahu dengan ku lagi.
Hingga saat dimana tante Nia datang berkunjung. Ia menangis memeluk bunda malam ini di ruang televisi, duduk di atas sofa. Karena saat pemakaman ayah beberapa hari kemarin, hanya dia yang tidak hadir. Kemudian, ia meminta bunda untuk menceritakan apa yang telah terjadi..
"Malam itu, aku mendapatkan telepon dari Danisya. Ia bilang jika ayahnya seperti tertidur di atas meja. Berkali-kali ia memanggil ayahnya, namun tidak ada jawaban. Hingga aku menyarankannya untuk merebahkan tubuh ayahnya ke lantai, agar pernapasannya kembali lancar. Kemudian aku menelpon Leon dan Anna, tetanggaku. Aku meminta mereka untuk membantu Danisya menyelamatkan James," ucap bunda diawal, sambil mulai terisak.
Aku duduk manis di sofa satunya, mendengarkan bunda menceritakan semuanya pada tante Nia. Sebenarnya aku tidak ingin mendengar cerita bunda ini, karena itu hanya akan membuatku kembali bersedih. Namun aku juga tidak ingin memperlihatkan pada tante Nia, jika hubunganku dengan bunda menjadi menjauh, selepas kepergian ayah ini.
"Tapi siapa sangka, mereka malah menemukan Danisya yang juga ikut terbaring lemas di lantai, tak jauh dari ayahnya. Leon mencoba membantu James, sedangkan Anna sudah mengangkat Danisya untuk masuk ke ambulance. Tapi ternyata nyawa mereka berdua tidak dapat diselamatkan," -bunda kembali terisak- "mengapa aku harus kehilangan mereka berdua?" Tangis itu akhirnya meledak.
Aku? Terperanjat!
Otakku masih mencoba memahami kalimat demi kalimat terakhir yang bunda ucapkan tadi. Mencoba mencerna setiap kata yang bunda lafalkan. Napasku bergemuruh, hidungku mulai kembali sesak.
"Bunda, aku masih disini, aku tidak meninggalkanmu sendiri," ucapku sambil berdiri lalu mendekati bunda yang masih memeluk tante Nia.
Ku raih pundaknya.
Wuzzh!! Aku tidak dapat menyentuhnya.
Ku coba sekali lagi dengan kedua tanganku.
Wuzzh!! Tangan ku tidak bisa menyentuhnya sama sekali. Aku panik.
"Tante Nia, aku disini! Tante bisa lihat aku kan?" seruku.
Namun tante Nia hanya asik menenangkan bunda, seolah-olah aku tidak ada di sini. Tunggu dulu!! Tidak ada di sini?! Apa aku juga ikut meninggal?
Aku memundurkan langkah kaki ku perlahan, otak ku serasa tidak mampu memikirkan semua ini.
Air mata ku perlahan mengalir di kedua sudut mataku, yang kemudian membasahi kedua pipiku. Tidak mungkin jika aku sudah tiada!
"Padahal aku tahu mereka berdua memiliki penyakit pernapasan yang sama. Seharusnya aku tidak meninggalkan mereka hanya berdua saja di rumah setiap malamnya. Seharusnya aku lebih merawat mereka dari pada sibuk mencari uang. Seharusnya aku lebih mementingkan mereka!" raung bunda semakin menyalahkan dirinya sendiri.
Otakku benar-benar tidak mampu mencerna semuanya. Bunyi petir diluar sana tidak membuatku gentar. Kilatan demi kilatan petir menyambut suram suasana malam ini. Aku keluar dari rumah, kemudian setengah berlari menembus hujan, menuju pemakaman dimana ayahku di makamkan. Air mata dipipiku sudah terhapus, tenggelam akan lebatnya air hujan yang kini membasahi seluruh tubuhku. Hujan bukan suatu halangan bagiku untuk mencari kebenaran.
Tinggal sedikit lagi, aku sampai didepan makam ayah.
Aku kembali tersentak!!
Begitu ku lihat ada namaku terukir jelas diatas batu nisan yang sama di sebelah makam ayah. Hatiku terasa remuk, jantungku terasa berhenti berdetak. Tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
Apa benar aku telah tiada?
__ADS_1