
5 tahun sudah kami pacaran, dari mulai kami sma hingga kuliah di di tempat yang sama.
Kami memilih untuk kuliah di swasta, agar kami selalu bersama sama hingga akhir.
Kiko namaku dan pacar saya Keisya.
saya termasuk orang yang pintar dari mulai sma hingga saat ini, walau pun saya kuliah di perkuliahan swasta.
Saya dan teman teman saya mampu bersaing dengan kampus kampus negeri di indonesia, bersaing dalam pembuatan robot. Iya sihh, tidak mengungguli mereka tapi kami adalah lawan yang kuat. Karena pada Olimpiade Robot Pro Seindonesia kemaren, kami berada pada posisi ke 3.
Jabatan ketua tim membuat aku populer di kampus . Banyak cewe cewek cantik yang tertarik bahkan ingin menjadikan aku pacar mereka.
Tapi, aku tetap pada pilihanku, pacar yang paling ku banggakan Keisya. Dia cantik, baik, imut, dan di tambah gingsul yang memperindah senyumannya.
Hari-hari kami jalani dengan canda dan tawa, sesekali berantam karena masalah kecil. Dunia serasa milik berdua saat bersamaan dan seperti mau kiamat jika pisah walau satu hari.
Hal yang paling berkesan bagi saya itu ketika kami menghabiskan malam berdua.
Di dalam tenda, di kaki gunung, di tepi danau.
Malam itu udaranya dingin, kami menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh. Berbincang bincang tentang apa yang akan dilakukan besoknya, berangan angan setinggi bintang di langit, dan saling curhat masalah keluarga. Hingga stop ditngah tawa kami yang bahagaia. Kami tiba tiba saling diam saat mata kami saling bertemu.
Entah apa yang ada di bola matanya tapi itu membuat saya tertarik, dinginnya udara tak berasa lagi di badanku. Detak jantungku menambah kecepatan hingga otot terasa lemas tak berdaya.
Tampa sadar,tangan saya sudah menyentuh lehernya yang halus dan . . . ( skip ) he he he.
"Idihhh pengen dengar kelanjutannya yaa, gak boleh".
3 bulan setelah olimpiade selesai, tim kami yang merupakan juara 3 pada saat olimpeade mendapat undangan dari salah satu universitas ternama di Singapura. Undangan untuk ikut serta dalam seminar dan pelatihan pembuatan robot sedunia. Seminar dan pelatihan ini diadakan selama 6 bulan.
Sorakan dan tepuk tangan dari seluruh mahasiswa yang terdengar gembira saat undangan itu di umumkan. Karna baru kali ini kampus kami ditunjuk jadi perwakilan dari indonesia.
Sahabat dan para dosen sangat bangga pada tim kami. Seluruh mahasiswa dan dosen begitu senang dengan undangan itu, tapi tidak denga saya dan Keisya.
Menjadi salah satu perwakilan dari Indoneseia memang suatu prestasi yang luar biasa. Tapi karna waktu seminar yang 6 bulan itu yang membuat sesak di dada. 6 bulan harus dipisah jarak pada sang kekasih. Tak bisa kubayangkan, sehari tampa dia aja sudah terasa kiamat. Ini enam bulan.
Ingin rasanya aku menolak undangan ini tapi, menolaknya akan membuat banyak orang kecewa dan berpengaruh juga dengan masa depanku nantinya.
Tidak berpikir egois, aku memilih untuk ikut ke Singapur.
Kami di beri waktu selama 7 hari untuk siap siap. Mulai dari perlengkapan pakaian dan berkas berkas yang di butuhkan.
Sumpah sesudah pengumuman aku belum berani menjumpai si Keisya. Takut kena semprot, terlebih lagi aku tidak komfirmasi dulu tentang pengambilan keputusanku ini.
Sehari sebelum berangkat ke singapur, aku memberanikan diri untuk menjumpai si Keisya.
"Yank ? ketemuan yuk tempat biasa." pesan singkatku ke Keisya.
"Iya jam 6 sore, awas gak datang." Balas Keisya disertakan dengan emoticon marah.
Teng ..., jam 6 sore sudah, dan aku sudah berada di tempat 10 mnit sebelum jam 6 sore.
Dan akhirnya Keisya datang membawa pisau di tangannya. Hahaha gak ahk bercanda.
Matanya berkaca kaca dan pas kutanya, " kamu kenapa yank ? "
"Gak tau! Kamu jahat." Balasnya sambil mukul aku.
"Beberapa hari ini kamu di mana ? gak ada kabar." lanjudnya
"Aku takut kamu marah yank."
"Gak aku gak marah kok, itu kan demi masa depan kita juga. Aku marah karna kamu hilang, di kabari kek atau ksih penjelasan gitu?"
"Gak marah yank ? wess baguslah. yaudah maaf dehh gak kasi kabar, lagian aku sibuk ngurus berkas yank."
"Yaudah skarang kamu milikku, hari ini kita harus habiskan malam sebelum kamu berangkat besok." ucap Keisya penuh arti.
Satu hari ini kami bersenang senang bersama. Mulai dari makan bersama, jalan jalan, hinga berkhir di kamar hotel.
Bangun tidur dikamar hotel Keisya masih ada di pangkuanku masih belum berpakaian.
__ADS_1
"Yank? bangun yank. Aku harus berangkat jam 10 pagi."
"Iya yank, pergi aja. Aku gak usa ikut ke bandara, gak mampu liat kamu pergi." Jawab Keisya tampa beranjak dari tidurnya.
" Bangun aja dulu, aku ingin memelukmu."
Ucapku sambil menarik Keisya untuk duduk.
"Yank? 6 bulan bukan waktu yang lama, aku akan kembali kok. Tunggu aja," ucapku pada mentari yang telah hanyut di pelukanku.
"Kamu janji ?" jawabnya manja.
"Awas kalo kamu liat cewe cewe bule di sana, aku akan tarik telingamu sampai putus." Lanjudnya sambil melepas pelukanku.
"Ya udah, kamu berangkat gih. Sesampai di sana, kabari aku ya yank!" lanjud Keisya lagi sambil menyuruhku pergi.
"Iya dehk, aku berangkat ya. Tenang aja aku kan selalu ada untukmu meski jauh."
" Daah yank, sayang kamu" lanjudku sambil mencium kening sang kekasih.
(。◕‿◕。)➜ 6 bulan kemudian.
Tidak sesuai ekspektasi, selama enam bulan menjalani seminar. kami dilarang berhubungan kepada siapapun, teman, pacar, bahkan keluarga. semua komunikasi ditutup. Selama 6 bulan, kami hanya harus fokus pada seminar dan praktek pembuatan robot. Kami harus mampu menguasai semua ilmu ilmu tentang robot. Bagaikan mesin disel, otak kami dipaksa bekerja 2 kali lipat. Tapi syukur kami mampu, semua illmu yang di berikan sangat bermanfaat bagi saya dan tim saya.
Hanya saja sekarang aku sudah sangat rindu pada sang kekasih.
Besok kami akan kembali ke indonesia bertemu keluarga dan dan sang kekasih.
aku tak sabar lagi, karna aku sudah sangat rindu.
Saya sengaja tidak mengabari Keisya bahwa besok kami akan pulang. Saya ingin beri dia kejutan yang super indah. Selan kejutan kehadiranku yang tiba tiba, aku juga akan melamarnya.
Sesuai dengan jurusanku, aku membuatkan mentari sebuah kacamata.
Dengan kacamata ini mentari akan melihat suatu pemandangan yang belum pernah dia lihat.
Kacamata ini di buat menyerupai kaca mata 3D dimana saat kitam menggunakannya kita serasa ikut serta dalam film yg kita tonton.
Bedanya, kacamata lebih canggih karna dapat secara otomatis menyesuaikan setiap pixel poxel yang telah ku tanam sebelumnya pada kacamata dengan objek yang di lihat.
Dan di dalamnya, aku menyertakan diriku yang sedang bernyanyi dan akan melamar Keisya.
Dari sekarang saya sudah membayangkan bagai mana ekspresi Keisya saat ku lamar nanti.
Semua sudah beres, dari berkas berkas dan pakaian beres. Tinggal berangkat ke kampung halaman.
Sekitar 8 jam perjalanan hingga sampai ke rumah terasa sangat melelahkan. Tapi aku sangat bersemangat.
"Yank ...? Jangan banyak tanya, ntar malam kita bertemu di tempat biasa." Mengirim pesan ke pada Keisya.
Tidak di balas Keisya, aku memutuskan untuk menelpon.
Tuunnnn tunnnn tunnn suara getar handphonku yang yang belum di angkat Keisya.
Satu kali lagi,
dan akhirnya. "Halo bg apa kbar ?".
Sempat terdiam sekejap, kenapa dia bilang abang? Dan dia gak marah gitu? Aku gak kasih kabar kemaren, biasanya udah kena semprot aku.
"Are you ok, sayang?" jawabku.
"Iya aku sudah baca pesanmu bang, nanti saya akan kesana." jawab Keysia dan langsung menutup telpon.
Sepertinya mentari marah pada aku tapi cara marahnya sudah berbeda, tidak seperti 6 bulan yang lalu. Yang kalo marah bisa menggetarkan bumi dengan suaranya.
Tapi aku tidak ambil pusing dengan itu, saya mencoba untuk tetap positif thinking.
Sore telah lewat dan malam telah hadir, tiba saatnya aku akan melamar Keisya malam ini.
19:30, aku sudah berada di tempat biasa kami di atas gedung apartemen di tepi gedung,berdiri menikmati indahnya pemandangan kota dan udara dingin yang sejuk.
Sekitar setengah jam mengunggu akhirnya Keisya datang dangan sebuah kotak kado di tangannya.
"Sayang, i miss you." Sambil memeluk Keisya.
Tapi dia tidak menjawab dan berkata, " Ko ?- "
__ADS_1
"Gak, jangan ngomong apa apa dulu. Ni pake ini."
Aku mengenakan kacamata pada Keisya dan mengaktifkannya.
Dan ternyata Keisya meneteskan air mata, dia terlihat terharu melihat karyaku.
Yeee
Dia mungkin akan semakin sedih setelah melihat menit ke5 sebelum menit ke7 aku melamarnya.
pada menit ke 5, aku menaruh sebuah kenangan manis awal kami bertemu.
Dima pada saat berumur 17 tahun di stadiun bola, aku menendang bola dengan kuat kearah si Keisya dan mengenai hindung mungilnya sehingga mengeluarkan banyak darah.
Dalam kacamata itu aku mengilustrasikannya dengan bentuk animasi.
Dan see again.
Dia mengangis sambil tertawa, entah ekspresi apa itu.
dan tiba pada saat aku melamar.
Tiba tiba dia terdiam dan membuka kacamata, lalu menatapku.
ini tidak sesuai ekspektasi saya, dia datang padaku dan.
"Pyarrr." Suara tamparan yang kuat ke pipiku.
"Dari mana saja kamu 6 bulan ini, tak bisah kah kamu menitipkan sedikit pesan kepadaku setiap bulannya!
Adakah niatmu sedikit aja untuk menanyakan kabarku ? Apakah kamu peduli ?
Setiap malam aku menuliskan rasa rinduku kepadamu, menceritakan semua kegiatanku dalam satu hari. Tapi aku tidak tau mau mengirim kemana semua surat ini. Tak ada yang tau keberadaanmu, kamu menghilang di telan bumi." Ucap Keisya dengan airmata yang membasahi pipinya.
" Yank, maafkan aku. Aku - ." Ingin menjelaskan semuanya pada Keisya.
"Sudah lah, jangan panggil aku sayang lagi. Semua sudah berakhir." Potong Keisya
" 3 bulan setelah kamu pergi, aku sangat kesepian di tambah lagi aku kehilangan ibu." Lanjud Keisya.
"Aku hancur, kehilangan ibu membuat aku sangat sakit. Aku butuh seseorang untuk tempatku bersandar, dan saat aku sangat membutuhkanmu. Entah di mana dirimu berada. Bastian, dia lah yang saat itu ada untukku, dan sampai sekarang, aku telah bersamanya." Lanjud Keisya lagi dengan air bata yang kian banyak.
Aku menjauh, menjaga jarak dengan Keisya. Aku mencoba menutupi air mata yang telah menetes tampa disadari ini.
"Bagaikan kota ini, yang terlihat indah dari puncak apartemen tidak terlihat sedikitpun sampah yang berceceran di tepi jalan.
Ini kah yang kau namakan cinta ? Ini kah bukti dari ucapan ucapan sayang ku terima ? "
"Ko ?- ." Mencoba memotong perkataanku.
"Sshiit, jangan bicara lagi. Cukup ! setiap hari aku jadi bahan bulian kawan kawan ku di Singapura karna hanya membahas dirimu kerjaku. Aku rindu kamu, aku rindu kamu Keisya ! tapi kami di larang untuk megang handphone." Ucapku penuh emosi
" 6 bulan ? secepat itu kah kamu berpaling dari ku. Secepat itu kah kamu membuangku dari hatimu ? " ucapku lagi sambil menunjuk ke arah Keisya.
" Ko ? - ." ucap Keisya lagi mencoba memotong perkataanku.
" Cukup ! jangan bicara lagi, aku muak.
Aku turut berdukacita akan kepergian ibumu. Semoga kamu kuat menghadapi dunia tampa seorang ibu."
"Hari ini, hari yang ku inginkan menjadi hari paling luar biasa dalam hidupku. Kita selesaikan hubungan kita. Bahagialah dengan pilihanmu, byee." Lanjudku sambil membuang cincin yang ingin ku beri pada Keisya.
Dengan perasaan yang hancur, aku pergi tanpa menghiraukan Keisya yang lagi menangis.
Entah siapa yang salah antara kami, aku tidak tahu. Tapi perbuatan Keisya yang dengan mudahnya menggantikan aku di hatinya, membuat aku sangat marah dan mengakhiri semua ini.
"Saya tau saya salah karena tidak memberi kabar sedikitpun pada Keisya. Tapi ini hanya 6 bulan, dan jika memang Keisya butuh seseorang untuk tempat bersandar.
Haruskah aku di gantikan dengan mudah nya !. Jika cinta yang ada di hati Keisya ? dia akan tetap menungguku walau 6 tahun lamanya." batinku.
Di dekat apartemen , di tepi jalan, di atas jembatan. Aku akan menganguskan semua rasa sakit ini.
"Tampa ragu aku melompat."
Sesungguhnya aku tidak akan mati hanya karna melompat masuk ke sungai. Biar terlihat keren aja, foto terakhirku sedang melayang di udara.
T.a.m.a.t.
__ADS_1