
Rose baru pindah ke rumah baru yang ia sewa dengan harga yang terbilang sangat murah. Di kompleks perumahan yang terbilang cukup elit dan terletak di pinggiran kota A yang di kelilingi
pohon pinus di sekelilingnya menambah keindahan dan ketenangan yang sangat nyaman.
Rose menata kembali semua barang yang ia bawa dari rumah lamanya, ia menyusun satu
persatu barangnya dengan rapi. Setelah selesai ia pun beranjak membersihkan tubuhnya yang
sudah terasa sangat lengket oleh keringat.
Rose mengguyur tubuhnya dengan air shower, ia menikmati setiap air yang mengalir ke
seluruh tubuhnya. Setelah selesai Rose keluar dan memakai jubah mandinya.
📞🎵🎵🎵
Rose meraih ponselnya yang ada di atas nakas, matanya sedikit terbelalak ketika melihat nama
yang tertera di layar ponselnya. Seperti tidak ingin menjawab panggilan itu, Rose membiarkan
ponselnya berdering hingga panggilan kedua pun masuk.
Bip...
“Ada apa?” tanya Rose kecut.
“Aku mohon, kembalilah!” ucap pria itu sedikit serak.
“David, kita sudah selesai! Please... Jangan ganggu aku lagi..!” setelah mengucapkan itu Rose
memutuskan sepihak panggilan itu.
Rose mendudukkan pantatnya di pinggir sisi ranjangnya. Ia menatap nanar pada langit-langit
kamarnya, sebelum ia meneteskan air mata. Perasaannya kacau dipenuhi oleh amarah yang
meluap, Rose masih tidak bisa melupakan pengkhianatan yang di lakukan oleh David. Pria
yang sangat ia cintai berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, Erin. Hal itu membuat Rose
sangat kecewa dan sakit hati pada kedua orang yang ia sayangi dan cintai itu.
Hati Rose sangat sakit ketika memikirkan itu semua, tidak ingin terus tenggelam pada masa
lalunya, ia pun kembali turun ke lantai satu untuk membereskan barang yang belum ia rapikan.
*
Sudah seminggu Rose tinggal di rumah barunya ini, ia cukup nyaman dengan suasana yang
sangat damai di sekitarnya. Seperti biasa Rose selalu membersihkan rumahnya sangat rapi,
tapi hari itu ia tidak sengaja menemukan sebuah buku catatan yang cukup usang di
gudangnya. Merasa penasaran Rose membuka dan membaca beberapa paragraf yang tertera.
Seketika air matanya mengalir, ia seperti masuk ke dalam isi buku itu. Pikirnya mungkin ini
adalah buku peninggalan pemilik rumah terdahulu. Rose seperti bisa merasakan penderitaan dari pemilik buku catatan ini.
Rose melanjutkan membaca buku itu di kamar, ia membaringkan tubuhnya atas kasur.
Matanya bergerak ke sana ke mari mengikuti setip bait dari catatan itu. Tanpa sadar air
matanya terus mengalir dengan leluasa di pipi tirusnya.
Kegelapan
*Gadis itu telah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Matany yang hitam bulat, senyumnya yang manis membuatku selalu teringat padanya setiap saat. Aku sangat
menyukainya, tapi aku tidak tahu siapa dirinya, namanya, hobinya, apa kesukaannya dan
semua tentang dirinya!
Seperti biasa, gadis itu akan menikmati secangkir kopi di cafe favoritnya. Entah apa yang
sudah aku lakukan, aku selalu mengikuti semua kegiatannya, tapi aku bukan penguntit! Aku
manusia normal saat itu. Sampai semua yang aku lakukan itu menjadi candu yang amat
sangat. Aku menikmatinya, aku memotret dirinya setiap ada kesempatan.
Jane
Akhirnya aku tahu nama gadis itu, Jane. Cantik sekali seperti orangnya. Malam itu aku
mengikutinya sampai ke rumahnya tanpa Jane sadari.
Kenapa? Senyum yang manis itu hilang ketika Jane sendirian. Aku bisa melihat dengan jelas
wajahnya sangat sedih. Hatiku juga ikut sedih ketika melihatnya begitu. Saat itu aku
memutuskan akan selalu membuatnya bahagia.
Aku masih tetap sembunyi di lemarinya dan itu hampir membuatku ketahuan oleh Jane, tapi
entah keberuntungan apa yang aku miliki, saat Jane hendak membuka lemarinya, pintu kamar
apartemennya di ketuk oleh seseorang. Sangat jelas aku melihat Jane menghembuskan napas
berat ketika mendengar itu, langkahnya sedikit berat seperti tidak ingin membuka pintu itu.
Semakin lama ketukan pintu itu semakin kuat dan di dobrak dari luar. Jane berlari ke arah
pintu, ia buka pintu kamarnya dengan cepat. Aku lihat seorang pria masuk dengan keadaan
mabuk dan jatuh di pelukan Jane, aku cemburu pada pria itu, rasanya ingin sekali aku
menghabisi pria itu*.
Tanpa sadar terdengar suara bel dari luar yang menyadarkan Rose yang masih larut pada
catatan itu, ia menyeka bersih bekas air matanya dan buru-buru turun untuk melihat siapa yang
telah datang berkunjung ke rumahnya. Setahunya ia tidak merasa memberitahu siapa pun
tentang alamat rumah barunya. Rose cukup terkejut dengan seseorang menekan bel
rumahnya.
Rose membuka pintunya, ia terkejut melihat seorang pria tengah berdiri membelakanginya, ia
tidak mengenali pria itu.
“Cari siapa yah?” tanya Rose hati-hati.
Pria itu membalikkan badannya dan menghadap Rose sambil memberikan sedikit senyum
menawan pada Rose.
“Hai, aku tetangga barumu yang baru pindah hari ini.” Ucap pria itu sambil menunjuk rumah
yang bersebelahan dengan rumah Rose.
__ADS_1
“Owh...hai..” Rose sedikit tersenyum.
“ini..” pria itu memberikan sebuah kotak kue untuk Rose.
“Apa ini?” Rose memandang kotak persegi itu.
“ini kue buatan ibu saya, saya harap kamu mau menerimanya pertanda dari perkenalan
tetangga barumu..” ucap Pria itu sambil menyerahkan kotak kue itu ke tangan Rose.
“Terima kasih..” Rose menerima kue itu.
Rose meletakan kotak kue itu di atas meja dapur, kemudian ia melanjutkan kembali ke
kamarnya untuk membaca buku catatan yang ia temukan di gudangnya.
Rose membuka beberapa lembar isi buku itu, tapi ia tidak bisa konsentrasi untuk melanjutkan
membaca, karena ponsel sedari tadi terus bergetar karena ada panggilan masuk.
“Kenapa kau terus menghubungiku, David? Kita sudah tidak ada hubungan lagi!” ucap Rose
kecut, ia kesal dengan David yang masih saja terus mengganggunya.
“Rose, maafkan aku! Kembalilah padaku.”
“No David! Jangan terus menggangguku.” Rose sedikit meninggikan suaranya dan membuat
David terdiam sesaat.
Rose membanting ponselnya ke atas kasur empuknya, ia kesal dengan David yang terus
menghubunginya. Rose sangat kecewa dengan David, pria yang sangat ia cintai melukai
hatinya dan itu tidak bisa memaafkannya. Jujur saja, Rose memang orang yang berwatak
kucup keras. Jika ia sudah mengambil sebuah keputusan ia tidak akan menyesalinya.
Tidak ingin terganggu, Rose mematikan ponselnya dan menyimpannya di atas nakas sebelah
sisi ranjangnya. Kini ia siap kembali melanjutkan membaca catatan itu.
Pria ********
Pria itu menyakiti Jane! Aku marah sekali! Tapi aku tidak bisa menolongnya, aku menyalahkan
diriku sendiri sekarang. Andaikan saja aku bisa keluar dari lemari ini dan menghajar pria itu,
tapi jika itu aku lakukan maka selanjutnya aku tidak akan bisa bertemu dengan Jane lagi, hatiku
sedih jika memikirkan itu semua!
Janeku yang sabar masih berusaha membantu pria mabuk itu menuju ke kamar. Jiwaku terasa
terbakar saat menyaksikan pria itu dengan kasar memperlakukan Jane.
Aku tidak bisa tinggal diam saja! Pria itu akan merasakan akibatnya. Aku tidak akan
melepaskannya!
Rose meletakan catatan itu di atas kasur sebelahnya. Ia menghentikan membaca catatan itu
karena perutnya sudah sedari tadi kelaparan karena sejak tadi pagi Rose belum makan apa
pun.
Ia ingat dengan tetangga barunya yang memberinya kue, Rose pun turun dan memakan
sehingga membuat rasa kue itu begitu nikmat.
Sudah seminggu sejak Rose pindah ke rumah barunya, dan selama itu juga ia selalu di rumah
dan tidak keluar. Mungkin karena Rose memang ingin sendiri tanpa ada gangguan dari orangorang atau pun sahabatnya. Tunggu dulu, sahabat? Sahabat yang mana, Rose sudah
menganggap mati sahabatnya itu karena berselingkuh dengan kekasihnya.
Rose yang tengah asyik menikmati kuenya terganggu dengan suara bel pintunya. Dirinya
cukup kesal karena terganggu dengan orang yang terus menekan bel rumahnya.
Ting tong..... Ting tong....
Rose tidak langsung membuka pintunya, ia mengintip dari lubang pintu siapa yang tengah
malam menekan bel rumahnya.
Shitt...pria tadi sore itu lagi! Guman Rose.
Karena memang sudah tengah malam Rose tidak membuka pintunya untuk sembarang orang
termasuk pria ini.
“Kenapa?” tanya Rose dari balik pintunya.
“sorry miss, sudah mengganggu di tengah malam. Bisa pinjamkan saya kunci ingris? Karena
pipa air di rumah saya rusak?” jelas pria itu jujur.
Rose memang terganggu, tapi ia juga tidak setega itu membiarkan pria itu kesusahan apalagi
pria itu sudah meminta tolong padanya.
“Tunggu sebentar...” kemudian Rose menuju gudang untuk mencari kunci ingris yang di minta
pria itu.
Beberapa menit pria itu menunggu Rose dengan sabar. Sebenarnya pria ini sangat tampan,
tinggi dan ucapannya yang sopan pasti membuat orang yang berbicara dengannya akan
terbuai. Tapi tidak dengan Rose, ia tidak melihat itu.
Pintu terbuka.
“Ini..” Rose menyerahkan kunci ingris yang di inginkan pria itu.
“Saya benar-benar merasa bersalah, karena telah mengganggu miss di tengah malam ini.” Ucap pria itu sambil memasang raut wajah sedih dan itu membuat Rose sedikit tidak enak hati.
“Tidak apa-apa, sebagai tetangga memang sudah seharusnya saling membantu.” Ucap Rose
sedikit memelankan suaranya.
“Terima kasih miss, jika miss ada kesusahan, miss boleh datang dan meminta tolong pada
saya. Saya akan selalu membantu miss.” Memberikan senyuman.
“Tidak perlu, terima kasih!” Rose sedikit merasa ragu dengan tawaran pria ini.
“Kalau boleh tahu, saya harus memanggil miss dengan apa?” tanya pria itu sambil berharap.
“Roseralina, panggil Rose saja.” Rose memang ingat, ia dan pria itu belum berkenalan dengan
benar.
__ADS_1
“Nama yang indah, saya Josh. Kalau begitu saya permisi dulu Rose, maaf sudah
merepotkanmu malam-malam begini!” ucap pria itu.
Rose hanya tersenyum kemudian pria itu pun pergi menuju rumahnya. Rose menutup pintu
rumahnya dan ia menyandarkan punggungnya di pintu sambil sedikit menghembuskan napas
yang cukup berat. Mungkin karena sudah tengah malam dan Rose sudah mulai mengantuk, ia pun kembali ke
kamarnya.
Sesampainya di kamar, Rose meletakan catatan itu di atas nakas sebelah sisi ranjangnya.
Kepalanya sedikit merasa pusing dan pandangannya mulai buram, Rose hanya merasa
mungkin karena dirinya terlalu lelah akhir-akhir ini, tak berapa lama Rose mulai terlelap ke alam
mimpinya.
Di dalam mimpinya, ia melihat ada seorang pria yang tengah terikat di hadapannya dengan
mulut tersumpal oleh kain. Sekujur tubuh pria itu luka-luka dan banyak meninggalkan bekas
darah.
Ini adalah mimpi yang sangat nyata bagi Rose, ia sudah beberapa kali memukul dan mencubit
pipinya, tapi tidak merasa sakit.
Ini mimpi, kenapa terasa sangat nyata?
Tak beberapa lama Rose melihat seorang pria tampan dengan mata berwarna biru laut datang
sambil memegang pisau di tangannya dan langsung menusukkan di perut pria tak berdaya itu.
Saat itu juga Rose menjerit dan terbangun dari tidurnya. Ia masih ketakutan dengan mimpi
yang ia lihat tadi, bahkan sekujur tubuhnya basah oleh keringat.
Rose duduk melingkup kakinya dengan kedua tangannya, tak sadar air matanya mengalir dari
kedua sudut.
Setelah merasa sedikit lega, Rose melemparkan pandangannya pada jam bekernya yang
sudah menunjukkan pukul enam pagi.
“Sudah pagi? Rasanya aku baru tidur sebentar!” guman Rose pelan sambil meraih buku
catatan itu.
“Buku ini terlalu misterius untuk tidak di baca!” Rose pun kembali membaca buku itu di pagi ini.
Aku sudah tidak tahan dengan pria itu yang sangat kasar pada Janeku yang manis. Malam ini dia harus mati!
“Astaga! Apa pemilik buku ini benar-benar membunuh pria itu?” tanya Rose pada dirinya sendiri
kemudian ia pun melanjutkan membaca.
Malam ini begitu sempurna untuk menghabisi pria ******** itu! Dan aku sudah membeli
beberapa alat yang akan di gunakan untuk menghabisinya, seperti palu dan gergaji, tak lupa
juga dengan kunci ingris! Aku suka sekali dengan benda-benda itu, terutama kunci ingris! Itu
akan menjadi alat yang sangat sempurna untuk menyiksa pria itu sebelum menghabisinya!
“Kunci ingris? Apa aku melupakan sesuatu?” Rose sedikit merasa ada yang janggal dengan
sesuatu tapi ia sendiri juga melupakan itu.
Akhirnya aku menculik pria itu, pertama-tama aku memukul kepalanya dengan palu sehingga darah mengalir dengan leluasa, tapi itu tidak membuatnya mati waktu itu juga! Aku
mengikatnya di kursi besi. Untuk membuatnya sadar aku menyiramnya dengan seember air es
yang sangat dingin.
Oh tidak, sepertinya aku mulai menikmati semua kelakuan yang aku perbuat, rasa seperti ada
sensasi yang luar biasa.
Pria itu kesakitan dan memohon aku melepaskannya, tapi tentu saja aku tidak melakukan itu!
Aku mulai menyiksanya dengan cara memukul kakinya dengan palu kemudian aku menjepit
jari-jarinya hingga remuk menggunakan kunci ingris. Pasti sakit sekali! Hahaha.... Aku puas
sekali! Hingga pria itu mati aku masih terus menyiksanya.
“Ini terlalu sadis! Tapi kenapa aku bisa merasakan kesedihan dari pemilik buku ini?”
*Setelah membunuh pria itu, aku mendatangi Jane tercinta dan mengatakan semuanya, tapi
Jane memandang jijik dan ketakutan padaku! Ia meronta dan berteriak meminta tolong, tapi
aku tidak sengaja memukulnya dengan keras sehingga Jane jatuh pingsan. Aku membawa
Jane pulang dan tak lupa aku mengikat tangannya sehingga ia tidak bisa leluasa bergerak! Aku
ingin Jane menjadi milikku seorang, tapi aku tidak ingin memaksanya langsung.
Sudah sebulan aku menculik Jane, sudah berbagai cara aku memaksanya makan tapi ia selalu
menolak dan itu membuatnya semakin kurus. Aku mulai frustrasi dengannya. Aku marah danpergi meninggalkannya selama seminggu, tapi itu kesalahan fatal yang pernah aku lakukan,
setelah aku pulang. Aku menemukan Jane telah meninggal.
Aku mencintaimu Jane...
Josh***.
Rose seperti pernah mendengar nama itu, omg setelah Rose ingat, ia buru-buru keluar
rumahnya. Ia teringat dengan tetangga barunya yang bernama Josh.
Rose ingin pergi dari rumah itu, ia mengambil kunci mobilnya dan buru-buru menuju pintu, tapi
dari arah belakang Rose di pukul tengkuk lehernya dan ia pun pingsan.
Setelah sadar Rose mendapati dirinya terikat dengan mulut tersumpal kain. Ia melihat Josh
tetangga barunya itu duduk di depannya sambil tersenyum.
“Kau mirip sekali dengan Janeku yang tercinta!” pria itu tersenyum seringai.
Kini pria itu menyandera Rose dan merawatnya selayak istrinya yang sakit!
Tapi, lama-kelamaan Rose merasa nyaman dengan Josh dan mulai menyukai semua
perbuatan yang di lakukan Josh padanya!
Selesai.
__ADS_1