
By JimMine.
Sudah sekitar tiga jam aku menunggunya di sini. Di bangku barisan pertama yang seperti ia katakan pada pesan teksnya.
Ini mungkin adalah pertemuan keduaku dengannya. Setelah mengenal melalui salah satu teman kami.
Aku akui dia adalah sosok ramah dan mudah bergaul. Hanya saja, aku melihat dirinya seperti menyimpan suatu hal dalam hidupnya.
Mungkin sebuah rahasia...
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, ini berarti aku sudah menunggunya tepat empat jam.
Sepertinya aku mulai gelisah, sejak dia tak memberiku kabar. Hingga terbesit dalam benakku jika dia hanya mempermainkan ku.
Aku menoleh ke arah pintu kafe yang terbuka. Ah, ternyata bukan. Sepertinya hanya angin yang meniupnya.
Namun tiba-tiba aku merasakan hawa dingin di sekujur tubuhku. Terutama tengkuk leherku. Bahkan bulu yang ada di tanganku berdiri seperti ada sesuatu yang menyentuhku.
Lupakan, ini sepertinya hanya khayalanku. Aku terlalu berpikir horor gara-gara film yang aku tonton semalam.
Aku menunggunya lagi dan lagi. Hingga pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Apakah aku terlalu menyukainya? Hingga rela menunggu seperti orang bodoh.
Suara ponselku mengejutkanku, nama Aira muncul memanggilku. Aku mengangkatnya sembari menahan setengah emosiku yang ingin meledak.
"Tar, lu di mana sekarang?" tanyanya dengan suara yang bergetar, sepertinya ada sesuatu yang menimpanya.
"Di kafe, nungguin Bagas," jawabku santai dan terulang lagi, tengkuk pada leherku kembali merinding.
"Mendingan lu cepet balik."
"Kenapa emang?!"
"Bagas meninggal pas lagi mau jalan ke kafe nemuin lu."
__ADS_1
--------------------------------
By Jayanti.
Aku tersenyum menahan tangis yang hampir pecah karenanya. Berusaha tetap terlihat baik-baik saja meski aku hampir luruh tak bersisa. Menolak percaya pada apa yang terlihat di depan mata.
Langkahku sedikit goyah ketika mereka tersenyum tanpa dosa ke arahku, kubalas senyum dengan lambaian tangan pada keduanya.
"Selamat ya!" tanganku masih bergetar ketika menyentuh tangannya.
Senyum manis di wajahku tak bisa menutupi sendu yang terlukis di mataku. Dia tahu itu! tangannya menggenggam tanganku lebih erat lagi. Tak ingin terlalu lama larut dalam perasaan, aku berpindah menyalami pengantin wanita di sebelahnya.
Namun, belum juga aku melangkah pergi, dia menarikku dalam pelukan. Sungguh aku bisa berpura-pura tadi, tapi ketika berada dalam dekapannya lagi, aku luruh, aku jatuh, aku kalah.
Tangisku pecah di atas pelaminan dan disaksikan oleh banyak orang. Terisak menahan sesak yang ku tahan cukup lama. Kemarin ia masih tunanganku, tapi kini ia sudah menjadi suami dari sahabatku.
"Kau tau perasaanku hanya milikmu!" bisiknya pelan dengan nada cukup memilukan.
"Tapi nyatanya aku tak pernah memilikimu!" balasku kesal di sela isakan.
"Terimakasih, luka ini sangat dalam kau torehkan!" aku berlari turun dari panggung mengacuhkan panggilannya.
Aku mengambil ponsel di tasku, mencari nomor bernamakan Galang. Ku kirimkan video ke nomor itu, lalu melangkah meninggalkan tempat resepsi pernikahan.
Aku penasaran, apakah nanti ia akan terkejut ketika melihat video itu. Video yang menggambarkan istri yang baru saja di nikahinya, sedang berhubungan intim dengan sahabatnya, Liam.
Tunanganku memilih sahabatku, maka aku bukan lagi sahabatnya. Raisa Kita impas!
------------------------------
By Nyun.
Kedua tanganku semakin erat memeluknya di dalam pelukan tubuhku yang hangat. Sangat erat hingga kedua telapak tanganku dapat menyentuh siku bagian kiri dan kananku secara berlawanan.
__ADS_1
Aku tunjukkan keegoisan dalam diri. Tak aku hiraukan rasa sesak yang mungkin ia rasakan. Sungguh, aku begitu posesif memeluknya dalam pelukanku. Seakan terlepas jika aku tak melakukannya.
kurasakan ketegangannya yang sudah sejak awal terjadi. Ketegangan yang tak bisa dipungkiri setiap kali aku memeluknya. Begitu kaku dan keras. Namun masih ada sedikit kelembutan aku rasakan.
"Aku udah kangen banget sama kamu, sayangku. Malam ini jangan lepas sedetik pun dari pelukanku."
Aku mengulas senyuman manis di paras cantikku yang telah bersih dari polesan make-up yang seharian menempel di permukaan kulit wajahku.
Aku menarik diri sejenak darinya. Merenggangkan sejenak pelukanku darinya yang membuat aku tak nyaman. Kedua lubang hidungku menghirup aroma yang tak biasa. Aroma yang berbeda dari malam-malam panjang yang biasa kami berdua lewatkan.
Kedua mataku memicing menatapnya. Tatapan tajam dengan kilatan pada kedua sudut mataku. Aku bahkan enggan mengedipkan kedua kelopak mataku.
"Kamu tadi dipeluk sama siapa?"
Aku tak segan langsung mengintrogasinya dengan luapan emosi dalam diri yang berapi-api. Luapan emosi yang tak bisa akun pendam atas penghianatan yang baru saja aku dapatkan.
"Kamu tahu, kan? Aku itu sayang banget sama kamu. Tega banget kamu memperlakukan aku seperti ini. Terus apa arti pelukan aku setiap malam yang selalu setia memelukmu?"
Kedua mataku panas. Ada genangan airmata yang siap keluar untuk membasahi kulit wajahku yang polos.
Apa yang aku takutkan selama ini menjadi kenyataan. Ada orang lain yang memeluknya selama aku tak di dekatnya.
Genangan air mata yang tak tertahankan jatuh membasahi paras cantikku. Tak bisa aku tahan akan goresan luka baru yang menyayat hati.
Bukan kali ini saja ia menghianatiku dengan cara yang sama. Ia telah berulang kali melakukannya tanpa ada sepatah katapun yang keluar darinya. Jangankan sebuah pernyataan, meminta maaf saja ia tak pernah.
Mungkin aku sudah terlalu cinta dan jatuh hati padanya.
Tatapan tajam dengan deraian airmata berubah seketika. Aku menatapnya lembut dan memberi kesempatan yang sama seperti malam-malam kemarin.
"Jangan diulangi lagi, ya? Aku maafin, deh."
Aku kembali mengulas senyuman manis di wajah sembabku. Setelah berlapang dada menyadari ia yang bisa saja dipeluk oleh orang lain selama aku tak berada di dekatnya.
__ADS_1
Kedua tanganku kembali memeluk ia yang menegang dengan sisi kelembutannya. Ia, bantal guling kesayanganku.