
Kurang lebih sudah tiga tahun lamanya aku dan dia tak bertemu, sejak insiden yang terjadi beberapa tahun yang lalu.
Dia yang ingin ku ceritakan bukan seorang perempuan, melainkan seorang teman yang sudah menyelamatkan hidupku dari kehancuran. Ah tidak, dia bukan sekedar teman, melainkan seorang sahabat yang sudah seperti saudaraku sendiri.
Namun karena aku, dia malah mengalami hal buruk. Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah persahabatan kami terputus karena kesalahpahaman yang aku buat.
Tiga tahun lalu...
Saat itu aku dan dia masih duduk di kelas dua SMA. Namanya adalah Aaron, sahabat laki-laki yang selalu bersikap manis dan baik terhadapku. Tapi selalu bersikap dingin pada orang lain. Alasannya apa? Aku juga tidak tahu. Yang ku tahu, aku dan dia berteman sangat baik. Aaron pindah saat ia kelas dua di pertengahan semester. Dan kebetulan waktu itu ia diminta guruku untuk duduk satu bangku denganku.
Awalnya dia pendiam namun lama-kelamaan kami memiliki banyak kecocokan. Seperti suka main ke warnet misalnya. Pergi ke warnet berdua, bermain game di sana sampai larut, hingga membuat orang tua kami khawatir karena tidak pernah mengangkat telepon dari mereka.
Lalu ... karena sebuah kejadian. Aku baru mengetahui jika dia adalah mantan dari anak geng di sekolahnya yang dulu.
"Nggak apa-apa nih ke warnet lagi?!" tanyaku padanya yang sudah men-starter motor maticnya.
"Nggak apa-apa, yang penting udah ijin." Aaron memberikan kode padaku agar lekas naik ke atas motornya.
Dan tak lama kemudian aku dan dia bergegas menuju warnet langganan kami.
***
Segerombolan anak SMA lain tiba-tiba berdiri di depan menghalangi jalan Aaron. Kira-kira ada empat orang, nampaknya mereka mengenalinya.
Aaron mematikan motornya kemudian menghampiri mereka. Aku melihat perlakuan kasar mereka seperti preman. Kerah Aaron ditarik dan diseret paksa entah ke mana. Aku ditinggalkan sendirian di sana.
Kakiku hendak melangkah namun Aaron mengatakan jika ia akan kembali lagi. Ia menyuruhku untuk menjaga motornya, karena jika sampai hilang ia bisa di coret dari kartu keluarga oleh ibunya.
Aku kemudian meminggirkan motornya dengan hati-hati. Selagi menunggu Aaron aku membeli cilok yang sepertinya selalu berjualan di daerah itu.
"Bang, kenal sama anak-anak SMA tadi nggak?!" tanyaku sambil memakan cilok.
"Wah nggak tahu tuh. Baru juga lihat tadi. Kayaknya sih anak-anak nakal. Hati-hati aja bang, apalagi tadi temennya dibawa ke mana tuh?!" jelasnya malah seperti menakutiku.
"Iya juga sih." Aku hanya manggut-manggut.
Setelah setengah jam menunggu dan cilok yang ada di tanganku sudah habis. Akhirnya aku mencari Aaron. Tak tahu ke mana, tapi aku mulai mencari ke arah dia dibawa tadi.
Aku celingukan dan tak ada tanda-tanda dari Aaron dan anak-anak SMA yang membawanya beberapa waktu yang lalu.
"Dek, lihat kakak-kakak SMA nggak lewat sini tadi," tanyaku pada anak kecil perempuan, mungkin dia masih kelas tiga SD.
"Ganteng nggak kak?!"
"Yang satu ganteng, tapi yang lainnya nggak jelas."
"Nggak jelas gimana kak?! Ngeblur gitu apa gimana?"
Aku melongo mendengar pertanyaan dari anak kecil tersebut. Karena tak ada jawaban yang aku temukan dari anak kecil itu, akhirnya aku memutuskan kembali lagi mencari Aaron.
BUK!! BUK!! BUK!!!
Aku mendengar suara pukulan dari sebuah rumah kosong yang aku lewati. Rumah kosong tersebut berada di ujung jalan. Sekelilingnya hanya ada kebun yang tidak terurus.
Setelah mematikan motor dan mengunci stang, aku pergi menuju rumah tersebut dengan berjingkat agar tidak menimbulkan suara.
Aku mengintip dari balik pintu yang sudah rusak untuk mendengar pembicaraan mereka.
"Lo serius mau keluar dari geng ini?! Patahin dulu tangan lo?!"
Tunggu dulu ... Semoga saja aku salah mendengar ucapan mereka. Geng? Mematahkan tangan?! Omong kosong apa yang sedang mereka bicarakan.
Aku mengintip sebisaku. Wajah Aaron sudah babak belur oleh mereka berempat. Dasar pengecut! Mereka hanya berani main keroyokan.
"Hey! Kalian!!" seruku pada mereka.
Mereka langsung menatap ke arahku begitupun Aaron. Aaron menggelengkan kepalanya, seakan menyuruhku cepat kabur dari sana.
Tapi aku tidak dapat meninggalkannya begitu saja. Jika tidak, bisa-bisa dia mati oleh berandalan itu.
"Lepasin dia!" seruku mengulang kalimatku.
"Ah banyak omong lo ini?!" seorang dari mereka berjalan ke arahku dan bersiap melayangkan tinjunya ke arahku.
Mungkin dipikirnya aku tak bisa berkelahi. Aaron tidak pernah tahu, jika aku pernah berlatih taekwondo, namun aku berhenti karena cidera.
Tanpa banyak omong, aku memutar tangan laki-laki yang menantangku. Aku mendengarnya mengaduh kesakitan. Sudah ku duga jika mereka hanya berani keroyokan.
"Lari aja dulu!! Kayaknya temen si kunyuk bisa berantem!" seru laki-laki yang ada di depan Aaron.
Mereka berlari, aku tak percaya jika kemampuan mereka hanya sebatas itu.
"Liat aja besok. Bakal mampus kalian berdua!" Ancam mereka, tapi aku tidak takut.
Aku menghampiri Aaron yang sudah mengeluarkan darah di sudut bibirnya dan juga bagian pelipisnya. Seragamnya juga nampak kotor. Entah apa yang sudah dilakukan anak-anak tadi padanya. Tapi yang jelas mereka menang karena Aaron tidak melawan.
"Kenapa sih sok-sokan bisa ngatasin sendiri. Lo nganggep gue apa?!" aku mengomelinya sambil memapahnya menuju motor.
"Lo nggak boleh kena masalah gara-gara gue Niel?!" Suaranya serak membuatku semakin marah pada mereka, "Lagian gue juga udah janji sama orang tua gue kalo nggak bakal nyari ribut lagi," lanjutnya.
"Ke klinik dulu ya."
"Nggak usah," sambarnya cepat.
"Kenapa emang? Takut disuntik?"
"Kita kan nggak punya duit," ucapnya sambil tertawa sedikit.
Aku terkekeh dan menarik nafas lega dia masih bisa tersenyum.
"Ke Indomaret aja bentar. Di sana kan jualan obat luka."
"Iya udah, sekalian makan pop mie di sana."
Aaron kemudian mengangguk, "Sama teh pucuk ya."
"Iya."
***
Kami akhirnya ngobrol dan makan pop mie di meja yang sudah di sediakan oleh Indomaret. Rencana untuk bermain game di warnet batal karena ulah anak-anak tadi. Namun berkat mereka aku menjadi tahu masa lalu Aaron yang tak pernah di ketahui oleh orang lain.
"Geng apa sih?!" tanyaku sambil menyeruput kopi yang baru saja ku seduh.
"Ya geng gitu deh." Sepertinya dia tak mau mengungkit masalah lamanya.
Aku hanya meliriknya, dia yang menyadari lirikan dariku lalu mengalihkan pandangannya.
"Iya ... Iya gue bakal cerita," ucapnya menyerah.
"Terus?"
"Dulu gue sama mereka satu geng buat malak murid lain. Terus ada murid korban palak lapor sama orang tuanya. Dan ternyata orang tua dia itu polisi," jelasnya, ia menghembuskan napas kasarnya.
Aku mengangguk mengerti dan penasaran apa yang terjadi setelahnya.
"Gara-gara anak itu lapor, semuanya kena dan di skors selama sebulan. Karena nggak terima akhirnya salah satu anggota geng gue, nyerang itu anak sampai di rawat di rumah sakit."
"Hah?! Mainan mereka kayak gitu!!" Aku tersentak kaget, tak menyangka kalau mereka akan seberani itu.
"Karena prinsip mereka kalau mau ngelakuin nggak usah nanggung-nanggung." Aaron menatapku sedih, sepertinya dia susah untuk lepas dari mereka. "Makanya gue bilang jangan ikut campur, kalau lo kena sama mereka kan yang rugi itu elo Niel!!! Lo pinter, kesayangan guru. Kalau gue sih udah nyerah. Karena gue sekolah cuma buat dapetin ijazah doang."
Sebenarnya Aaron itu pintar, hanya saja dia terlalu malas untuk mengikuti pelajaran. Pernah aku melihat buku catatannya sangat rapi. Tapi sebatas itu, ia tak pernah mau belajar.
"Jangan bilang gitu dong?! Lo tuh juga pinter kalau mau belajar." Aku menepuk pundaknya dan berusaha menyemangatinya.
"Lo pengen jadi apa Niel?" tanya Aaron, matanya mengawang jauh.
__ADS_1
"Gue?! Gue pengen jadi dokter hewan."
Aaron terkekeh mendengar jawaban dariku.
"Kalau lo sendiri?! Lo punya cita-cita kan?!"
Aaron mengangguk.
"Apa?"
"Membahagiakan kedua orang tua."
Kami saling bertatapan hingga akhirnya tawa kami meledak. Aku tak tahu jika selera humor Aaron bagus juga. Tapi kenapa dia lebih memilih menjadi diam jika di sekolah? Aku belum bisa menanyakannya.
"Mas.. Mas.. Maaf toko sudah mau tutup," ucap kasir Indomaret yang sudah bersiap menutup folding gate.
"Oh iya mbak. Maaf ya kita jadi keasikan." Aku berdiri dan membersihkan sampah yang berserakan di meja.
"Langsung pulang kan?" tanyaku.
Aaron mengangguk. Aku memandangnya dari samping. Sepertinya dia takut jika orang tuanya tahu jika ia habis berkelahi. Karena Aaron sudah berjanji pada orang tuanya jika tak akan berkelahi lagi.
"Mau nginep di tempat gue nggak?! Jam segini orang tua gue udah tidur."
Aaron mengangguk senang, karena setidaknya malam ini ia tak usah bertemu dengan orang tuanya dengan wajah seperti itu.
"Gue ada seragam satu lagi. Bisa lo pake besok. Jadi tenang aja."
Aaron kemudian menggeser layar gawainya dan mengirimkan pesan pada orang tuanya jika ia tak pulang malam ini. Ibu Aaron sudah mengenalku karena pernah bertemu sebelumnya jadi dia dengan mudah mengijinkan anaknya untuk menginap di tempatku.
***
Beberapa hari kemudian. Aaron tidak masuk sekolah tanpa ijin. Pesan dariku tak dia baca, telepon pun tak diangkat olehnya.Temanku yang melihatku sedang mencari-cari Aaron mengatakan jika kemarin sore ia bertemu dengan anak sekolah lain.
"Kemarin ada yang jemput Aaron, Niel?!" ucap Linlin padaku.
"Serius lo?!" Aku sudah bisa menebak jika mereka adalah anak-anak SMA yang sudah mengancamku beberapa hari yang lalu.
Mereka benar-benar melakukannya. Ku pikir ucapan mereka hanyalah omong kosong hingga aku tak begitu mempedulikan perkataan mereka. Dan sekarang aku tidak tahu apa yang akan diperbuat anak-anak itu pada Aaron yang sendirian menghadapi mereka.
Drrrt...Drrrrt..
Ponselku bergetar dan muncul nama Aaron di layar. Aku mengangkatnya dan berpikir itu adalah Aaron. Namun ternyata bukan.
"Temen lo sama gue sekarang. Kalau lo mau dia selamet lo harus datang sendiri." Dia mulai mengancam lagi.
Aku sempat mendengar suara beberapa orang di sana. Aku yakin jika jumlah mereka tidak sedikit.
"Daniel!!! Gue nggak apa-apa!! Nggak usah datang!!" seru Aaron kemudian aku mendengar sebuah pukulan.
"Apa sih lo banyak bacot." Suara pukulan itu terdengar jelas, seperti sengaja untuk diperdengarkan padaku.
"Iya gue bakal datang. Kasih aja alamatnya ke gue. Tapi jangan jadi pengecut. Mukulin satu orang tapi bawa anak buah satu kampung," ucapku datar.
Aku sangat marah karena hal itu. Aaron yang benar-benar ingin berubah harus berhadapan dengan anak-anak berandalan itu lagi.
Setelah dikirimi alamat aku akhirnya mengambil tasku dan bergegas pergi.
"Mau kemana lo Niel?!" teriak Linlin.
"Gue mau bolos hari ini! Bilang aja sama Pak Bagas kalau gue sakit dan ijin pulang!!!"
Aku yakin dia akan percaya padaku karena aku tidak pernah membolos seperti ini sebelumnya.
Setelah sampai di depan gerbang sekolah. Ojek online yang sudah ku pesan akhirnya datang untuk mengantarku ke alamat yang akan aku tuju.
"Sesuai aplikasi ya bang alamatnya," ucapku saat memakai helm.
"Oke siap," ucapnya, "Pasti bolos ya?" tanyanya, aku hanya mengiyakan agar ia lekas membawaku ke tempat Aaron di sekap.
***
"Ayo bang lanjut aja!!" seruku padanya.
"Nggak berani dek, ntar ditilang polisi besok nggak bisa nyari duit lagi," ucapnya sambil santai.
Aku memutar mataku dan menarik napas dalam-dalam. Aku akan mencoba bersabar kali ini. Karena ada benarnya dia mengatakan hal itu.
Lalu empat puluh menit kemudian aku sudah sampai di alamat yang diberikan oleh salah satu anak itu.
Sebuah gedung yang terbengkalai. Gedung yang belum sempat jadi pembangunannya karena masalah uang di dalamnya. Sepertinya gedung ini dibuat markas oleh mereka.
Aku masuk dan mengintip, rupanya mereka sudah menungguku. Aku langsung "disambut" oleh anak laki-laki yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang, setelah mereka menyadari kedatanganku.
Oh mereka mau balas dendam rupanya. Mereka masih belum terima dengan apa yang aku perbuat pada salah satu temannya waktu itu.
Aaron menatapku dan menyuruhku untuk kabur dari sana.
"Lo ngapain ke sini!! Ini nggak ada urusannya sama lo!!" seru Aaron.
Aku tahu dia mencemaskan ku. Tapi ini bukan saatnya dia mengkhawatirkanku.
"Gue jauh-jauh kesini naik ojek online abis empat puluh ribu, masa iya lo nyuruh gue balik gitu aja! Kalo mau ayo balik berdua nanti lo yang bayar ojeknya," seruku juga seakan mengejek orang-orang yang sudah bersiap memukulku karena terlalu banyak omong.
Dari yang ku perhatikan mereka sama sekali tidak ada kemampuan bela diri. Mereka hanya mengandalkan ilmu keroyokan dan banyak mulut.
Dan benar kataku, ketika salah satu dari mereka mengambil sebuah tongkat yang sudah disiapkan dan akan dilayangkan padaku.
Aku hanya menangkis semua pukulan mereka satu persatu, belum mengeluarkan semua jurusku.
BUKK!!!
Ah sial!! Mereka memukul kakiku yang terkena cidera beberapa tahun yang lalu. Ku rasakan rasa sakit pada kaki kananku. Aku meringis kesakitan dan Aaron sempat melihatku.
Kesepuluh orang tadi lalu mengeroyokku dan mengetahui kelemahanku sebelum aku menghajar mereka satu persatu. Mereka benar-benar hanya bisa main keroyokan.
Kakiku ditendang bertubi-tubi oleh mereka. Aku hampir tak bisa merasakan kakiku sekarang. Lalu Aaron berteriak seperti orang gila. Suaranya memenuhi gedung kosong itu. Mereka berhenti dan tersenyum sinis pada Aaron.
Ia sudah membawa sebuah balok kayu ditangannya. Dengan kalap dia melayangkan ke hadapan mereka satu persatu.
Mereka mundur menjauhiku, hingga ada satu orang yang tak disadari oleh Aaron membawa sebuah tongkat baseball yang sudah siap memukul Aaron.
BUKKK!!!!
Ia memukul tepat di punggung Aaron. Mataku membulat melihat pemandangan itu. Balok kayu yang dibawa Aaron terjatuh tepat di depanku.
"Brengsek kalian semua!!!!" Aku berdiri dengan sisa tenagaku dan menghampiri mereka satu persatu.
Aku tak peduli apa yang akan terjadi sebentar lagi. Yang aku pikirkan hanyalah bagaimana caranya aku bisa keluar dari gedung ini hidup-hidup dengan Aaron.
Aku memukul mereka satu persatu dengan balok kayu tersebut. Ku arahkan pukulanku tepat pada tengkuk leher agar mereka langsung roboh hanya dalam sekali pukulan.
Aaron menarik kakiku. Aku melihatnya dia memelas agar menghentikan aksiku. Namun aku tak bisa tiap kali melihat sahabatku yang sudah setengah mati untuk berhenti berkelahi tersebut terus di ikuti oleh mereka.
"Daniel!!" seru Aaron.
Aku melirik ke arahnya lalu menghampirinya. Kesepuluh orang itu sudah pingsan di tempat. Aku sengaja tidak memukul ke arah vital mereka.
"Iya, gue bakal berhenti kok," ucapku seraya tersenyum padanya.
***
Keesokan harinya polisi datang ke rumahku. Aku yang sedang asik bermain game dengan Aaron terkejut melihat kedatangan mereka.
Ibuku tak kalah kaget. Dia menatapku dan Aaron bergantian.
"Apakah ada yang bernama Aaron disini?!" tanya polisi itu pada ibuku.
__ADS_1
Ibuku melirik ke arah Aaron. Aku dan Aaron saling berpandangan.
"Itu pak yang pakai kaos warna kuning." Ibuku menunjuk Aaron dan menarik lenganku.
"Dia akan saya bawa ke kantor polisi karena kasus perkelahian antar pelajar kemarin pagi," ujarnya lalu membawa Aaron pergi dari rumahku.
Aku terpaku melihat Aaron. Ia pergi setelah sesaat melirikku. Itu semua bukan Aaron yang melakukannya melainkan aku.
"Ma, Aaron nggak salah. Itu aku yang..."
"Saat!!! Diam kamu!!!"sambarnya memotong ucapan ku.
Aku berjalan menuju depan rumah dengan kaki ku yang masih pincang dan melihat Aaron dibawa pergi oleh mobil polisi. Aku merasa sangat bersalah padanya karena kejadian kemarin adalah murni kesalahanku. Dia tidak melakukan apapun, tapi aku yang memukul mereka hingga tidak sadarkan diri.
Aku ambil helm dan motor yang diparkir di halaman rumah. Aku menarik gas dan pergi menuju kantor polisi.
"Daniel mau kemana kamu!!!" teriak ibuku, namun aku mengabaikannya.
'Maafin Daniel Ma, tapi Aaron nggak salah," ucapku dalam hati.
***
Di kantor polisi sudah ramai sesak oleh puluhan orang tua yang mengaku jika anaknya di pukuli oleh Aaron. Mereka menunjuk ke arah Aaron dan menyebutnya preman. Tapi mereka tidak menyadari bagaimana perilaku anak mereka yang sebenarnya.
"Aaron!!" Panggilku, yang memiliki namapun langsung menoleh ke arahku.
Semua ibu-ibu yang ada disana menatap ka arahku tajam dan berbisik-bisik. Aku berjalan melewati mereka semua satu persatu.
"Udah sana lo pulang aja. Biar gue aja yang disini," ucap Aaron dia tersenyum pasrah.
Aaron mengatakan jika anak-anak mereka mengaku jika semua perbuatan itu dia yang melakukannya.
"Pak, ini saya ada bukti kalau mereka nyuruh saya ke alamat ini buat jemput Aaron." Aku menunjukkan pesan itu pada polisi.
Namun polisi tersebut tidak percaya dan mengira jika itu sudah di rencanakan olehku dan Aaron.
"Penjara saja dia pak! Gimana masa depan negara ini mau maju kalau masih sekolah saja sudah berani berantem!" seru salah satu ibu.
Aku meliriknya dengan tajam. Dia tidak tahu saja bagaimana perbuatan anaknya yang sebenarnya.
"Udah lo pulang aja," bisik Aaron, "Tar gue kabarin kalau gue udah selesai dari sini."
Aku benar-benar merasa sangat bersalah pada Aaron. Bagaimana bisa dia mau menanggung kesalahan yang aku buat. Karena Aaron memaksa, akhirnya aku keluar dari kantor polisi dengan perasaan yang bercampur aduk.
***
Dan aku mendengar jika Aaron akan dipenjara selama beberapa hari disana. Ibuku melarangku untuk menemuinya di penjara. Tapi aku tetap saja nekat.
Aku melihat Aaron tersenyum padaku, tapi aku malu untuk menghadapinya.
"Kenapa lo mau disalahin sih?!" protesku.
"Katanya lo mau jadi dokter hewan?!"
"Ya, terus?"
"Ya, nggak apa-apa sih."
"Bentar lagi bebas kan?!" tanyaku.
Dia mengangguk, "Abis bebas kita ke warnet ya. Lo yang bayar."
"Gampang."
Aaron mengatakan jika kedua orangtuanya mengamuk karena melihat anaknya dipenjara. Mereka berdua juga sempat memukul Aaron karena ia tidak bisa memegang janjinya untuk tidak berkelahi lagi di tempat barunya.
Jika bisa aku mengatakan pada mereka. Sebenarnya Aaron sudah mau menepati janjinya. Dia tidak berkelahi, Aaron hanya terus dipancing oleh para berandalan tu. Tapi Aaron melarangku untuk mengatakannya.
***
Tepat sehari sebelum Aaron bebas. Ibuku memberiku kabar jika aku harus pindah sekolah karena pekerjaan ayahku. Aku harus pindah keluar kota hari itu. Tanpa persiapan dan tanpa pemberitahuan dari ibuku. Aku langsung pergi di hari itu juga. Semuanya sudah diurus oleh orangtuaku. Hingga aku hanya perlu mengikuti mereka saja.
Bahkan aku tidak sempat pamit pada teman-teman sekelas ku. Aku juga tidak bisa pamit pada Aaron. Padahal aku sudah berjanji padanya akan menjemputnya saat dia bebas dari penjara.
"Ma, aku ke kantor polisi ya. Pamit sama Aaron."
"Nggak usah! Kamu ngapain sih masih pelajar bolak-balik kesana terus!"
"Ma, Daniel kan udah pernah bilang kalau Aaron itu nggak salah apa-apa. Dia malah yang nutupin perbuatan Daniel. Mama nggak malu sama dia?"
Ibuku terdiam. Namun tetap saja aku tidak diijinkan untuk menemui Aaron.
Dan hari itu aku benar-benar pergi tanpa pamit pada Aaron.
***
Indomaret tempat dimana aku dan Aaron dulu pernah disini.
Setelah tiga tahun aku kembali lagi kesini. Menunggu seseorang yang siapa tahu aku bisa menemukannya di tempat ini.
Ku buka pop mie yang sudah ku seduh selama beberapa menit. Sambil makan aku mengedarkan pandanganku di sekitar. Tempat yang sudah banyak berubah. Kebun yang terbengkalai kini sudah menjadi sebuah ruko. Dan rumah kosong tempat Aaron di pukul waktu itu, kini menjadi sebuah rumah makan Padang. Jalan yang dulu masih sepi kini sudah ramai dan banyak orang berlalu-lalang. Aku berharap, semoga tak ada Aaron lain disini.
Seorang pria duduk di sebelahku tiba-tiba. Sepertinya ada yang salah dengan mataku kali ini. Aku menangkap bayangan seseorang yang sudah lama tak aku temui.
"Aaron.." lirihku.
Dia cuek dan memakan pop mie sepertiku. Yah, aku tahu. Pasti dia sangat membenciku karena aku sudah mengingkari janjiku waktu itu, untuk menjemputnya dari penjara.
Akhirnya kami saling diam berkutat pada pikiran masing-masing. Sebelum pada akhirnya ia menyodorkan sebotol teh pucuk padaku.
"Sekarang sudah jadi mahasiswa ya?!"tanyanya, dia menyunggingkan senyum miringnya padaku.
"Hmmm," jawabku singkat, aku tak tahu harus menjawab apa lagi.
"Maaf waktu itu nggak bisa jemput."
Dia menoleh ke arahku.
"Gue nunggu sampai malem waktu itu. Pas gue ke rumah lo, tentangga bilang kalo lo pindah rumah. Gue kira cuma mau ngehindar dari gue. Tapi..."
"Bukan kayak gitu Ron! Serius! Gue mau ke kantor polisi waktu itu. Tapi waktu mepet banget. Jadi mama gue nggak ngijinin gue ke sana."
Dia menganggukkan kepalanya mengerti. Namun aku masih takut jika dia masih salah paham padaku.
"Gue telepon sama sms nggak ada balasan. Dari sana gue sadar diri, kalau gue bukan teman yang baik buat lo."
"Ponsel gue hilang Ron. Dan gue nggak hapal nomor lo."
Ponselku hilang saat dalam perjalanan pindah rumah. Entah terjatuh atau ada yang mengambilnya. Hingga aku tak tahu bagaimana harus menghubungi Aaron waktu itu.
"Iya gue percaya. Jangan panik gitu dong mukanya?!" Dia merangkul pundakku tiba-tiba.
"Lo nggak marah sama gue?!" tanyaku dan menatapnya penasaran.
"Kalau gue marah ngapain gue tiap sore nungguin lo disini kayak orang gila."
"Lo disini tiap hari?!"
Dia mengangguk, "Kali aja lo kesini, ternyata bener kan dugaan gue."
"Jadi kita masih temenan kan?!"
Terulas senyum diwajahnya hingga memperlihatkan lesung pipinya, "Tentu!"
Aku lega mendengar jawaban darinya. Ku pikir aku akan kehilangan seorang sahabat. Tapi ternyata, itu hanya pikiranku saja.
"Makasih ya Ron!!"
__ADS_1
END.