Various Kinds of Stories

Various Kinds of Stories
Sacrifice of Love - MeyLing


__ADS_3

“Arghh ... arghh ... arghh ... hentikan kumohon hentikan Tuan Norman. Aku berjanji tidak akan melarikan diri lagi. Aku sudah tidak kuat. Bukankah kau tahu bahwa aku mencintaimu? Mengapa kau memperlakukanku seperti ini?” jerit Rosie memohon ampun kepada Norman agar berhenti memberinya hukuman cambuk.


Tangis dan rintihan kesakitan terdengar menggema memenuhi ruangan tempat dimana tangan dan kaki Rosie diikat pada sebuah tiang. Ruangan yang ukurannya tidak terlalu besar dan hanya diterangi oleh sebuah lampu remang remang. Bulir-bulir darah mulai menetes dari lengan dan kaki Rosie. Bau busuk bercampur bau darah tercium sangat menyengat, sungguh menyesakkan napas.


Napas Rosie mulai tersengal-sengal, matanya sembab akibat tidak henti-hentinya menangis memohon ampun, dan suaranya pun ikut menjadi parau setelah berteriak tanpa henti. Norman hanya berdiri di ujung ruangan dekat pintu masuk, menatap Rosie tanpa ekspresi dan terdiam seribu bahasa. Selama ini pelayan pribadi Normanlah yang selalu diperintahkan oleh Norman untuk menyiksa Rosie jika Rosie didapati sedang mencoba melarikan diri atau tidak menuruti apa yang diinginkan oleh Norman, dia tidak pernah memukuli Rosie secara langsung.


Biasanya setelah selesai disiksa, Rosie akan dibawa keluar dari ruang penyiksaan dan dimasukkan ke dalam kamar tidur pribadinya. Di dalam kamar dengan interior mewah layaknya sebuah kamar untuk seorang ratu tersebut, terbaringlah tubuh ramping Rosie yang kesakitan dan kedinginan. Bajunya yang sudah terkoyak, wajahnya yang pucat pasi, badannya yang menggigil serta luka bekas cambukan memenuhi seluruh tubuh Rosie yang malang. Entah salah apa yang telah diperbuatnya hingga menyebabkan Norman memperlakukannya seperti itu. Selama ini tidak pernah terbersit dalam pikiran Rosie jika semua hal buruk ini akan terjadi kepadanya secara beruntun.


Norman memerintahkan pelayannya keluar dan menutup pintu kamar. Sekarang Rosie tinggal berduaan saja dengan Norman di dalam kamar. Norman berjalan mendekati Rosie yang terbaring lemas dan kesakitan di atas tempat tidur. Diambilnyalah air hangat beserta obat yang telah tersedia di atas meja di samping tempat tidur untuk membersihkan dan mengobati bekas cambukan di tubuh Rosie. Rosie yang malang hanya bisa pasrah menerima setiap perlakuan dari pria tampan tersebut kepadanya, meski pikirannya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan namun Rosie terlalu takut untuk bertanya pada pria yang dicintainya tersebut. Bahkan untuk menatapnya saja Rosie tidak memiliki keberanian. Sebenarnya Norman adalah seorang pria yang tampan dan berkharisma dan seorang yang memiliki darah bangsawan, hanya saja kehidupannya dipenuhi oleh misteri.


Setelah selesai mengoleskan obat ke tubuh Rosie, Norman memakaikan Rosie baju tidur yang baru dan memakaikan selimut kepadanya hingga menutupi seluruh tubuh Rosie. Lalu Norman mematikan lampu kamar Rosie dan berjalan keluar. Rosie yang sedari tadi diam dan berpura pura tertidur, kini mulai membuka matanya dan mengamati dengan seksama ke arah pintu keluar. Setelah dipastikan bahwa Norman telah keluar dari kamar, Rosie mulai menangis meratapi nasibnya.


Dia rindu Norman yang dulu sangat lembut kepadanya. Kini pria yang sangat dicintainya itu telah berubah menjadi seorang makhluk mengerikan yang menyukai kegelapan. Makhluk yang tidak pernah Rosie lihat ataupun dengar tentang ceritanya selama ini. Rosie telah melihat sosok makhluk dalam diri Norman beberapa kali. Hal mengerikan tersebut membuat Rosie sangat ketakutan dan menderita, hingga Rosie sering mengalami mimpi buruk karenanya.


Rupanya tadi malam Rosie tertidur tatkala sedang menangis, hingga tanpa Rosie sadari Norman ikut tidur di samping Rosie hingga keesokan paginya. Saat tersadar dari tidurnya dan membuka mata, Rosie terhenyak dan ketakutan mendapati Norman tertidur dengan lelap di sisinya.


Rosie yang tidak mau membangunkan Norman berinisiatif untuk beranjak pergi secepatnya dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi. Saat Rosie baru menurunkan kaki kirinya, tiba tiba tubuh Rosie dipeluk dan direngkuh dari belakang oleh Norman.


“Rosieku, apakah kau berniat meninggalkanku lagi?” tanyanya lembut, Rosie hampir dibuatnya tidak percaya jika yang memeluknya adalah Norman yang kemarin malam baru saja menyiksanya.


“Ya Tuan, aku tidak pergi kemana-mana, aku hanya hendak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku,” jawab Rosie ketakutan. Rosie tidak berani beradu pandang dengan Norman.


“Aku sudah membersihkan tubuhmu kemarin malam. Aku juga telah mengobati semua lukamu. Sekarang berbaringlah di sampingku.” Rosie segera menuruti perintahnya, saat itu wajah Rosie dan Norman saling bepandang-pandangan.


Sedetik kemudian Norman telah mencium mesra bibir Rosie. Entah kenapa Rosie mulai menikmati setiap kelembutan dan sentuhan yang diberikan oleh Norman. Mungkin karena cinta Rosie kepada Norman masih teramat besar sehingga Rosie masih menerima kelembutan darinya. Tanpa Rosie sadari Norman berniat untuk menyetubuhinya. Rosie berontak dengan sekuat tenaga namun tentu saja tenaga Rosie kalah jauh dari Norman.


“Norman, ah .. Tuan hentikan, kau menyakitiku. Kumohon jangan sentuh aku,” Rosie menangis terisak dan tidak berdaya untuk melawan Norman.

__ADS_1


“Rosie, jangan menolakku! Kau hanya akan membuatku bertindak kasar padamu.” Dengan terpaksa dan tidak berdaya Rosie pasrah saat dirinya disetubuhi oleh Norman berkali-kali, meski sekujur tubuhnya terasa sakit akibat hukuman cambuk kemarin malam.


Air mata mengalir membasahi pipi Rosie. Rosie memenjamkan matanya selama disetubuhi oleh pria tampan tersebut. Setelah selesai menyetubuhi Rosie, Norman pergi meninggalkan Rosie terbaring kesakitan seorang diri di atas tempat tidur. Hampir saja Rosie dibuat percaya jika Norman yang dulu sangat ia cintai telah kembali menjadi sosok pria yang lembut dan penyayang, rupanya semua hanya ilusi. Norman tidak pernah berubah. Rosie meringkukkan tubuhnya diatas tempat tidur dan menangis sekencang-kencangnya.


Setiap hari Rosie hanya menghabiskan harinya di dalam kastil, Norman melarangnya keluar, bahkan untuk pergi ke taman saja, Rosie harus mendapat ijin dari Norman. Hidup Rosie bagaikan burung dalam sangkar emas. Semua kebutuhan Rosie memang telah tersedia di dalam kastil, namun kebebasan Rosie terenggut dari sejak ia disekap oleh Norman. Entah sudah berapa lama Rosie tidak melihat dunia luar karena kastil Norman terletak di atas bukit. Kastil ini berdiri tersendiri, terpisah dari pemukiman penduduk yang lainnya. Hal ini membuat Rosie kesulitan saat sedang mencoba untuk melarikan diri.


Hari itu tepat 30 hari sudah Rosie dipisahkan dari keluarga dan kehidupan normalnya. Dan jika Rosie tidak salah ingat malam ini adalah malam yang sama dangan malam di hari pertama saat Rosie disekap oleh pelayan pribadi Norman. Malam itu Rosie melihat wujud Norman dalam bentuk sesosok makhluk yang mengerikan, Norman memang berbadan manusia namun wajahnya menyerupai serigala dengan taring yang tajam di sisi kiri dan kanan mulutnya, sorot matanya yang tajam dan tampak mengerikan. Hembusan nafasnya yang berat seperti mengisyaratkan jika orang yang ada di hadapannya bukanlah kawan melainkan lawan.


Saat itu Rosie mengintip dari celah pintu kamar dimana ia disekap dan Norman berubah wujud tepat di depan mata Rosie. Wajah Norman berubah mengerikan, suaranya sungguh membuat Rosie bergidik. Tubuh ramping Rosie menggigil dan nafasnya menjadi berat. Rupanya hembusan nafas berat dari Rosie memancing naluri Norman untuk mendekatinya. Norman langsung mendobrak pintu dan menatap Rosie dengan tatapan tajam dan seringai yang menakutkan. Rosie langsung berlari ke sudut ruangan, meringkukkan badannya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Tolong jangan sakiti aku! Aku Rosie kekasihmu,” Rosie terus menerus berteriak seperti itu dengan tujuan agar Norman sadar bahwa wanita yang di hadapannya adalah Rosie dan bukan orang asing.


Norman yang sekarang berwajah menyerupai serigala terus berjalan mendekati Rosie yang menggigil ketakutan di pojok ruangan. Sesampainya di hadapan Rosie, pria tampan yang telah berubah rupa tersebut membungkuk dan menyeringai, lalu menarik tangan Rosie menjauh dari matanya, sehingga dengan spontan membuat Rosie membuka mata dan menatap wajah Norman dalam wujud yang berbeda.


“Arghhhhhh ... Norman sadarlah ini aku Rosie.” Air mata mulai keluar dari pelupuk mata Rosie. Rosie berpikir inilah akhir dari hidupnya di tangan kekasih yang sangat ia cintai. Namun rupanya Norman belum menyadari jika wanita yang berlutut di hadapannya saat ini ialah Rosie kecil yang selama ini ia cintai diam diam.


Norman menggenggam erat tangan Rosie dan menyeret tubuhnya keluar dari ruangan tempat Rosie disekap. Rosie menangis, berteriak dan berontak namun semua usaha itu sia sia belaka. Seringai dan tawa jahat serta menakutkan keluar dari mulut Norman. Rosie hanya bisa pasrah saat tubuhnya diseret paksa oleh Norman. Rosie berteriak kesakitan saat tubuhnya bersentuhan dengan lantai kayu yang kasar. Ternyata Norman membawa Rosie ke ruang penyiksaan. Bau pengap, busuk dan juga bau amis darah langsung tercium sangat menyengat semenjak Rosie memasuki ruangan tersebut.


“Norman, kumohon jangan. Ini aku Rosie. Jangan sakiti aku!” teriak Rosie putus asa.


Namun Norman tak mengindahkan jeritan Rosie, Norman merobek pakaian Rosie dan menyetubuhinya. Rosie menjerit kesakitan sekaligus merasa jijik. Lengkingan kesakitan yang keluar dari mulut Rosie terdengar menggema dalam ruangan tersebut.


“Norman, ini aku Rosie, sadarlah. Berhenti, kau menyakitiku. Ah .. arghh.” Teriakan demi teriakan keluar dari mulut mungil Rosie.


Namun semua teriakan tersebut hanyalah sia sia belaka. Malam itu lengkap sudah penderitaan Rosie. Setelah diculik paksa, ia juga harus kehilangan kegadisannya setelah disetubuhi secara paksa oleh Norman yang berwajah menyerupai sesosok makhluk mengerikan. Entah karena apa tiba tiba Norman berhenti menyetubuhi Rosie, memandang wajahnya lalu sedetik kemudian Norman mengelus lembut wajah Rosie. Hal ini membuat Rosie kaget dan juga ketakutan. Setelahnya Norman langsung beranjak berdiri dan berlari meninggalkan Rosie sendirian di daalm ruang penyiksaan tanpa memakai pakaian dan kesakitan.


Sejak malam itu, hampir setiap hari Rosie mengalami hal mengerikan yang membuatnya kerap bermimpi buruk. Sudah 30 hari berlalu, Rosie masih tidak tahu bagaimana caranya lepas dari semua penderitaan ini. Ia mencintai Norman, namun Rosie sudah tidak kuat dengan semua hal ini, hal yang ia inginkan ialah kehidupan normal layaknya pasangan pada umumnya.

__ADS_1


Dalam lamunannya tiba tiba Rosie dikagetkan oleh suara pelayan pribadi Norman yang mengantarkan makan malam. Rosie berpikir inilah kesempatan baginya untuk mencari tahu segala sesuatunya mengenai Norman. Pelayan tersebut bernama Fred.


“Fred, maukah kau membantuku?” Tanya Rosie penuh harap sambil memandang wajah Fred. Fred terdiam sejenak dan berpikir, kemudian karena rasa iba pada Rosie akhirnya Fred bertanya pada Rosie apa yang dapat ia bantu?


“Beri tahu padaku apa yang sebenarnya terjadi disini? Mengapa Norman berubah? Mangapa ia menyekapku?” Rosie mendekati Fred dan menggenggam tangan Fred, memandang mata Fred, berusaha untuk mencari kebenaran. Fred akhirnya menceritakan semuanya.


Sebenarnya Norman adalah mahkluk setengah abadi keturunan King of Hell yang bernama William. Ibu Norman seorang manusia biasa. Ketika Norman beanjak dewasa, dia jatuh cinta pada seorang gadis manusia. Namun gadis itu kemudian mengkhianati cinta Norman lalu meninggalkannya dalam keputusasaan dan kesendirian. Cinta dalam hati Norman akhirnya berubah menjadi benci. Norman bersumpah untuk membalas dendam.


Seiring berjalannya waktu, suatu ketika Norman mendapati kenyataan jika gadis yang dulu pernah ia cintai telah menikah dengan orang lain dan mempunayi seorang anak perempuan. Karena rasa benci yang terlampau besar membuat Norman tidak menghiraukan hal tersebut. Hingga beberapa tahun kemudian pada suatu malam anak dari gadis tersebut membantu Norman melepaskan diri dari kejaran para tentara kerajaan.


Sejak malam itu Norman mencari tahu tentang identitas dari anak perempuan tersebut dan ternyata anak perempuan itu adalah anak dari gadis yang dulu pernah Norman cintai. Gadis itu yang sekarang menjadi ibu dari Rosie, dan Rosie adalah anak perempuan yang dulu pernah menyelamatkan Norman.


Terkadang wajah Norman memang berubah wujud menjadi sosok menyeramkan. Namun jauh di lubuk hatinya Norman telah jatuh cinta pada Rosie semenjak Rosie remaja. Tindakan Norman yang seperti ini sekarang tidak lain karena rasa posesifnya terhadap Rosie. Akhirnya Rosie mengetahui semuanya.


Hari hari setelahnya Rosie berubah menjadi lebih penurut dan berusaha untuk mengerti apa yang sebenarnya menjadi keinginan Norman. Niat untuk melarikan diri sudah tidak ada lagi di dalam diri Rosie. Kini Rosie mulai menerima kehadiran Norman, begitu pun sebaliknya. Kebahagiaan mulai nampak terjalin di antara keduanya. Namun masalah datang menghampiri kebahagiaan mereka.


Sekelompok tentara datang mengepung kastil Norman, mereka telah bersepakat untuk membunuh Norman dan membakar kastil. Karena mereka telah mengetahui jika Norman bukanlah manusia biasa meski ia seorang bangsawan. Suara riuh dari para tentara memenuhi ruang pertemuan di lantai pertama kastil Norman. Semua pelayan lari berhamburan, sementara sebagian lagi berusaha untuk memberitahukan hal ini kepada Norman.


Norman memerintahkan Fred untuk membawa pergi Rosie. Norman turun ke lantai satu, berusaha untuk bermegosiasi dengan mereka namun semuanya sia – sia. Puncaknya ketika salah seorang tentara menembakkan peluru ke arah Norman. Rosie yang mendengar suara tembakan tersebut berpikir jika Norman dalam bahaya. Rosie lari dari ruang persembunyian menuju ke lantai pertama. Dalam pikirannya hanya ada satu yaitu Norman harus selamat.


Benar saja tembakan pertama itu memang meleset. Rosie berlari dan berteriak memanggil nama Norman. Norman berpaling ke arah Rosie. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh salah satu tentara untuk menghabisi Norman. Peluru selanjutnya mulai ditembakkan ke arah Norman. Rosie yang menyadari hal tersebut langsung menghalagi terjangan peluru itu menggunakan tubuhnya sendiri.


Darah mengalir keluar dari tubuh Rosie. Nafas Rosie mulai tersengal sengal. Pandanganya mulai kabur. Norman berlari menghampiri tubuh Rosie dan memeluknya.


Dalam keadaan sekarat Rosie menyentuh wajah Norman dan berkata, “Aku mencintaimu Norman dan kau berutang padaku cinta untuk 1.000 tahun lamanya.”


Setelah mengucapkan hal tersebut, Rosie meninggal. Para prajurit melihat Norman berubah wujud, mereka ketakutan dan segera berlari meninggalkan kastil. Norman menangis dan menggendong tubuh Rosie keluar dari kastil membawanya pergi entah kemana.

__ADS_1


Cinta sejati tidaklah harus berjalan bahagia, dan tidak pula harus berakhir dengan bahagia.


End.


__ADS_2