
Disisi lain.
Didalam perjalanan, Radit sangat merasa heran dengan tingkah laku Silvi. Silvi hanya diam membisu dan pandangannya terlihat kosong.
"Loe kenapa, Sil. Lagi ada masalah?" Tanya Radit. Tapi, saat itu Silvi hanya diam seribu bahasa.
Setelah melewati perjalanan yang lumayan melelahkan. Akhirnya mereka pun sampai di rumah Radit.
"Loe duluan aja, Sil. Gue mau markirin mobil dulu!"
Tanpa sepatah kata, Silvi langsung pergi menuju ke dalam rumah tepatnya kelantai dua menuju kamarnya Radit.
"Si Silvi aneh banget!" Celetuk Radit. Dan saat itu Radit sama sekali tak curiga dengan tingkah laku Silvi.
Setelah mengunci pintu rumah, Radit pun langsung pergi menyusul Silvi yang terlebih dahulu sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Hoki bener gue, rumah sepi. Si Silvi mampir. Waktunya mantap-mantap!" Ujar Radit dengan senangnya.
Namun, sesampainya di dalam kamar, lagi-lagi keanehan pun terjadi.
“Sil, loe dimana? Apa dia ke kamar mandi dulu ya” tanya Radit. Radit benar-benar heran, karena Silvi sudah hilang entah kemana. Dengan santainya Radit terus menunggu. Tapi, keberadaan Silvi masih misterius.
"Mending gue susul aja, siapa tahu dia udah siap buat tempur!" Ujar Radit. Dan seketika, tiba-tiba pintu kamar yang terbuka lebar langsung tertutup dengan sendirinya.
Radit benar-benar kaget, dengan penuh kekhawatiran, dia langsung menghampiri pintu kamarnya. Tapi sayang, ternyata pintunya sudah terkunci dengan sendirinya.
Radit merasakan ada hal yang ganjil.
"Kok terkunci!" Ujar Radit. Radit terus mencoba untuk membuka pintu kamarnya. Namun, tetap saja sulit untuk di buka.
"Sil, jangan bercanda dong. Bercandanya gak lucu!" Teriak Radit. Dan seketika itu juga Radit merasakan hawa yang panas, tubuhnya seperti terbakar, kepalanya pun terasa sakit dan yang lebih aneh lagi, darah segar keluar dari lubang hidungnya.
“Darah?” ujar Radit cemas, Radit teringat akan kejadian di Villa itu.
Malam itu Radit benar-benar merasakan kesakitan yang sangat luar biasa.
Dalam kesakitanya, Radit sempat melihat bayangan hitam yang bergerak secepat kilat. Bayangan itu sedang merambat di dinding kamarnya. Seketika Radit mendapatkan luka cakar yang menjalar di lengan hingga lehernya.
Malam itu Radit hanya bisa merintih sambil mendekap kepalanya dengan kedua tangannya.
"Gue harus keluar!" Tegas Radit. Radit langsung bergegas menghampiri pintu kamarnya. Namun, di saat dia mau menghampiri pintu kamarnya, hal yang mengerikan pun terjadi. Tiba-tiba, muncul di hadapannya sesosok kuntilanak yang dahulu pernah dia bebaskan dari dalam cermin tua itu.
"Kamu siapa? Apa yang kamu ingin kan dari saya?" Tanya Radit gemetar.
Radit benar-benar takut, gelisah, cemas dan resah, seluruh tubuhnya menjadi kaku dan tidak bisa bergerak. Keringat dingin mulai bercucuran.
Dalam ketidakberdayaannya, sosok kuntilanak yang berada di tepat hadapannya langsung mencekiknya, menghempaskan tubuhnya ke arah dinding kamar dengan keras. Radit tak mampu berbuat apa-apa dan perasaannya pun mulai di landa ketakutan yang mendalam.
__ADS_1
Sosok kuntilanak itu mulai mendekatinya lalu mencekiknya dan lagi-lagi menghempaskan tubuhnya. Namun bukan kearah dinding kamar, melainkan kearah jendela. Radit pun langsung terjatuh dari lantai dua rumahnya dengan penuh luka memar.
Disisi lain.
Sesampainya Bella, Silvi, Rendi dan David di kediamannya Radit, mereka di kejutkan dengan seseorang yang terjatuh dari lantai dua rumah.
Mereka berempat benar-benar terkejut. Ternyata yang terjatuh Radit dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan.
“Dit, loe kenapa?” tanya Bella cemas. Dengan hati yang penuh dengan tanda tanya, mereka langsung membawa Radit kerumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit.
“Gimana, Dok. Keadaan teman saya?” tanya Bella.
“Keadaannya stabil. Untung kalian membawanya tepat waktu. Kalau tidak, mungkin dia sudah meninggal.” ucap Dokter yang baru saja memeriksanya.
Keesokan harinya.
Siang itu Silvi dan Rendi sedang berbincang-bincang di kantin mengenai masalah keanehan yang semalam mereka alami.
“Gue gak habis pikir deh, kenapa si Radit bisa jatuh dan tubuhnya juga banyak banget luka cakar” Ujar Silvi.
“Mungkin, dia habis berantem sama keluarganya, Sil"
“Dia cuma sendiri, Ren. Keluarganya lagi ke luar kota”
“Jangan-jangan bener ini ulah kuntilanak itu, Ren”
"Jangan berfikir yang aneh-aneh, Sil!"
“Tapi, aneh banget, Ren. Loe gak curiga sama luka memar dan luka cakaran di seluruh tubuhnya itu" tegas Silvi resah.
“Curiga sih, tapi gue belum yakin banget kalau itu ulah kuntilanak itu"
Di saat mereka sedang berbincang dengan seriusnya Bella dan David datang menghampiri mereka berdua.
“Gimana, Bell. Keadaan si Radit?”
“Gue belum ngejenguk lagi, Bell”
“Yaudah nanti malam kita jenguk aja. Mudah-mudahan kondisinya membaik"
“Oh ya, Sil. Loe tahu gak kenapa si Radit bisa kayak gitu?”
“Gue gak tahu, Vid. Semenjak keluar dari villa milik loe, gue sama si Radit selalu ngalamin hal yang aneh terus”
“Maksudnya?”
__ADS_1
“Gue juga gak tahu kenapa, tapi rasanya ada yang ngawasin gerak-gerik gue”
“Mungkin itu firasat loe aja, Sil"
“Tapi, Ren” papar Silvi cemas.
“Sebenernya ada apa sih, Sil. Kayaknya loe nutup-nutupin sesuatu dari kita?”
“Gak ada yang gue tutup-tutupin kok, Bell"
“Yaudah nanti malam kita jenguk si Radit aja, gue khawatir banget” tegas Silvi. Namun, Bella benar-benar curiga dan merasa ada yang di tutup-tutupi oleh rekannya itu.
***
Malam pun tiba.
Malam itu Bella, Silvi, David dan Rendi memutuskan untuk menjenguk Radit di rumah sakit.
Sesampainya mereka di rumah sakit.
“Tumben ya, kok rumah sakit sepi banget" ujar Bella heran.
“Iya, Bell. Udah kayak kuburan aja, sekarang jam berapa sih..?”
“Baru jam sepuluh, Ren”
“Aneh banget”
Mereka berempat terus menelusuri lorong lorong jalan rumah sakit itu menuju ruangan di mana Radit sedang dirawat. Sebelum sampai di ruangan yang di maksud, mereka sempat melihat kursi roda sedang berjalan dengan sendirinya menghampiri mereka.
“Bell, gue takut!
“Tenang aja, Sil”
“Paling itu cuma orang iseng" papar Rendi, Rendi menghampiri kursi roda itu. Tapi.
“Kenapa, Ren?”
“Gak tahu, Vid. Kursi rodanya berat banget, gak bisa gue dorong"
“Firasat gue ga enak banget...”
“Yaudah, Ren. Tinggalin aja kursi roda itu, sekarang kita keruangan si Radit di rawat aja” tegas Bella cemas.
Sesampainya di ruangan yang di maksud. Dengan penuh kekhawatiran mereka langsung menghampiri Radit yang sedang terbaring lemah.
Saat itu Radit seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi, karena suaranya terlalu lemah, tak ada satu pun yang mengerti apa yang di ucapkan oleh Radit.
__ADS_1
Bella, David, Silvi dan Rendi begitu cemas melihat kondis Radit.