VILLA

VILLA
BAB 9


__ADS_3

Malam itu Radit sedang rebah-rebahan di dalam kamarnya sambil bermain game. Namun seketika itu ada beberapa helai rambut putih yang jatuh menimpa kepalanya.


“Rambut?" Radit terus memandangi langit-langit dengan penuh kebingungan. Dalam kebingungannya. Tiba-tiba, kaca jendela kamarnya yang berada tepat di sampingnya pecah dengan sendirinya


”Kok, bisa pecah, sih?” Tanya Radit heran. Saat itu juga handphone miliknya berdering.


“Iya, Sil. Ada apa?”


“Jadi gak, kerumah si Rendi?”


“Jadi. Tunggu sebentar, Sil. Nanti gue kerumah loe” jawab Radit. Telepon di matikan. Radit segera siap-siap untuk pergi kerumah Silvi. Tak membutuhkan waktu lama. Radit pun sampai di rumah Silvi.


“Wajah loe pucat banget, Dit?”


“Gue habis ngalamin kejadian aneh, Sil"


“Kejadian aneh apa?”


“Tadi, tiba-tiba kaca jendela kamar gue pecah tanpa sebab”


“Kok bisa, Dit? Atau mungkin kerjaan orang iseng yang nimpuk jendela kamar loe?”


“Kalau memang di timpuk, gue pasti nemuin batu atau semacamnya. Tapi, saat itu gue gak nemuin batu sama sekali, Sil"


“Aneh juga ya, Dit?”


“Yaudahlah, Sil. Kita berangkat sekarang aja!” ujar Radit.


Di tengah perjalanan menuju rumah Rendi, mereka berdua sempat mengalami kejadian aneh.


“Loe kenapa, Dit?” Tanya Silvi.


“Kayaknya tadi gue nabrak kucing, Sil" jawab Radit.


“Loe serius?” tanya Silvi memastikan.


“Serius, Sil!” jawab Radit. Radit pun keluar dari dalam mobil untuk memeriksanya. Namun setelah di periksa, ternyata tak ada seekor kucing pun yang dia tabrak.


Setelah melalui perjalanan yang membuat jantung selalu berdegup kencang akhirnya mereka pun sampai di kediaman Rendi.


“Ada acara apa nih, tumben malam-malam kerumah gue?” Tanya Rendi. Rendi pun mempersilahkan mereka masuk.


“Ren, gue rasa ritual yang kita lakukan di villa itu benar-benar terjadi deh,” jelas Silvi membuka obrolan.


“Benar, Ren!” sahut Radit.

__ADS_1


“Maksud loe berdua, Kuntilanak itu benar-benar ada?”


“Gue rasa gitu. Semenjak ritual itu, gue mulai ngalamin yang aneh-aneh,” jawab Radit.


“Gue juga, Ren. Kemarin malam gue mimpi buruk. Gue mati di tangan Kuntilanak. Hal itu membuat gue takut, Ren”


“Itu cuma bunga tidur, Sil. Loe gak perlu khawatir. Lagi pula, itu cuma buku bualan aja"


“Tuh kan, gue bilang juga apa, Sil. Dia pasti gak percaya!” ujar Radit.


“Ini serius, Ren. Si David kemarin bilang ke gue. Katanya Kuntilanak yang dia ceritakan itu di segel di cermin tua yang sempat kita pakai untuk ritual itu, Ren"


“Ah ! Itu cuma bualan dia aja, Sil" ucap Rendi tak percaya.


“Tapi, Ren. Semenjak kita melakukan ritual itu, hari-hari gue selalu di penuhi dengan keanehan,” ujar Radit mencoba meyakinkan.


“Loe berdua kenapa sih. Kok, omongannya mulai ngelantur?”


“Gue gak ngelantur, Ren. Tapi gue serius!”


“Kan loe pernah bilang, Sil. Sekarang zaman modern. Kenapa harus percaya sama gitu-gituan,”


“Dari dulu loe emang gak pernah berubah, Ren. Tetap aja keras kepala!”


“Gue numpang ke kamar mandi ya Ren, Perut gue sakit banget” ujar Silvi.


“Loe lurus aja, Sil" jelas Rendi. Dengan perasaan tak menentu, Silvi langsung bergegas menuju kamar mandi.


Sesampainya di dalam kamar mandi. Silvi sekilas melihat bayangan hitam berambut putih dari pantulan cermin yang berada tepat di hadapannya.


Silvi benar-benar ketakutan. Baru saja Silvi hendak mau keluar dari dalam kamar mandi. Tiba-tiba, cermin yang berada di hadapannya retak. Yang awalnya retakan itu kecil, lama kelamaan semakin menjalar dan seketika cermin itu pun pecah.


Silvi bergegas meninggalkan kamar mandi dengan perasaan cemas.


“Dit, kita balik sekarang yuk!” pinta Silvi dengan nafas tak beraturan.


“Loe kenapa, Sil?” Tanya Radit.


“Baru juga nyampe, Sil. Udah mau balik aja" ucap Rendi.


“Perasaan gue gak enak, Ren" jelas Silvi.


“Kalau gitu, kerumah gue aja, Sil. Temenin gue tidur” ujar Radit bercanda.


“Terserah loe aja deh, Dit!”

__ADS_1


“Serius loe, Sil?” Tanya Radit.


Malam itu Silvi dan Radit pun meninggalkan kediaman Rendi.


Menit demi menit pun berlalu.


Saat itu Rendi hendak mau bermain game di ruang tamu. Baru beberapa menit Rendi bermain game, dia pun di kejutkan oleh seseorang.


“Si Radit kemana, Ren?” tanya seseorang, setelah Rendi menoleh, ternyata yang berada tepat di hadapannya Silvi. Rendi begitu sangat terkejut dan benar-benar heran.


“Silvi, bukannya loe udah balik sama si Radit?” tanya Rendi cemas.


"Maksud loe apa, Ren. Gue kan dari tadi masih di dalam kamar mandi”


"5 menitan yang lalu itu, loe keluar dari dalam kamar mandi dan ngajak si Radit balik!"


"Serius loe, Ren?"


“Gue serius, kalau loe disini, berarti yang pergi sama si Radit siapa?” tanya Rendi cemas. Silvi pun langsung menelepon Radit.


“Nomornya gak aktif, Ren"


“Telepon si David aja, Sil” ujar Rendi. Tak lama menunggu akhirnya telepon pun ada jawaban.


“Hallo, Vid, loe lagi dimana?”


“Gue lagi di rumah si Bella, Sil"


“Loe berdua, bisa gak kerumah si Rendi sekarang..?” ujar Silvi cemas.


“Emang kenapa, Sil?”


“Yaudah pokoknya loe kerumah si Rendi, gue tunggu..” tega Silvi khawatir.


Menit demi menit pun berlalu, David dan Bella sampai di kediamannya Rendi dengan hati yang penuh tanda tanya.


“Kenapa, Sil. Kok cemas gitu?” tanya Bella heran.


“Pokoknya sekarang kita harus kerumah si Radit, firasat gue gak enak"


“Gak enak kenapa, Sil?”


“Benar kata si Silvi, Vid. Kita harus kerumah si Radit, secepatnya”


Malam itu terasa begitu mencemaskan, dengan penuh keresahan mereka pun langsung bergegas pergi menuju ke kediaman Radit menggunakan mobil miliknya David.

__ADS_1


__ADS_2